Ceplas! Ceplas! Ceplas!
Percikan lembut air laut terdengar di antara semilir angin yang berhasil menggelombangkan air di pesisir pantai dan suara burung-burung yang bersahut-sahutan di sepanjang langit pantai.
Terlihat seorang laki-laki, berjalan lemas dengan air yang masih menggenangi kaki-kakinya yang mengkerut di atas pasir di pesisir pantai. Sekujur tubuhnya basah kuyup, dia menyeret sebuah benda yang tidak diketahui, seperti potongan besar dari sesuatu yang dapat mengambang di atas air. Setelah kakinya mencapai pasir yang tidak dijangkau ombak, dia melemparkan benda itu sembarang dan langsung menjatuhkan dirinya di atas pasir.
Dia tidur terlentang, dada dan perutnya turun naik mengimbangi napasnya yang sangat tak karuan. Seperti sudah berlari melewati beberapa rukun warga tanpa adanya istirahat. Untungnya langit berawan, jadi pasir yang ia tiduri tidak terasa panas menyengat.
Ketika napasnya mulai teratur, ia baru menyadari langit yang dipandanginya terhalang sesuatu. Semakin lama semakin terlihat jelas ada sosok yang sedang menatapnya dari depan wajahnya. Dari bawah sini, rambut panjangnya yang berkilauan tertiup semilir angin. Wajahnya terlihat lembut namun sangat sembab. Sosok itu menatap terus ke mata laki-laki itu, begitu pun sebaliknya. Mereka saling pandang dalam keheningan.
Laki-laki itu berkerung, "Nona Malaikat...?" dia tanpa sadar bergumam. Sampai akhirnya wajah perempuan itu terlihat jelas. Tapi kok wajah malaikat itu familiar?
Dia tersentak setelah menyadari sesuatu dan langsung terbangun.
JEDUG! Kedua kepala orang-orang itu saling bertabrakan dengan keras hingga perempuan itu melambung jatuh ke belakang.
"Ah, maaf nona malaikat!" laki-laki itu berseru lalu mulai berdiri dan ragu untuk membantu perempuan bergaun putih panjang yang bagian bawahnya sudah robek compang-camping tersebut, "Tapi tolong beri aku waktu untuk hidup, aku sudah melakukan banyak sekali kesalahan dan dosa, aku tidak yakin kalau nyawaku diambil sekarang, apa aku akan lulus masuk ke Surga." bukannya membantu perempuan yang memegangi kepalanya pusing itu untuk berdiri, laki-laki itu malah berlutut dan memohon-mohon untuk memberi jeda waktu untuk kematiannya pada perempuan itu.
Perempuan itu terdengar menggerutu, "Aku bukan malaik-"
"Benar. Kamu bukan malaikat, aku bersyukur kamu bukan sang makhluk suci itu." potong laki-laki seketika. Suaranya yang tadi sedikit cempreng sekarang berubah menjadi berat, "Maaf tadi aku terlalu panik sehingga tidak bisa berpikir jernih," laki-laki itu menghampiri perempuan dan mengulurkan tangannya untuk membantu perempuan itu berdiri.
Perempuan itu hanya menatap tangan kasar yang penuh pasir menempel itu dengan sinis dan menepisnya, "Jauhkan tangan kotormu dariku," selalu seperti ini, laki-laki yang bertemu dengannya akan bersikap sok keren dan itu menjijikan baginya. Dia berdiri sambil menepuk-nepuk gaunnya yang ditempeli pasir.
Laki-laki itu tersenyum miring sekilas, "Ya sudah, namaku Yuda Agiro Zalman. Maaf sudah membentur kepalamu, apa kamu orang yang tinggal di sekitar sini?"
Perempuan itu berhenti menepuk gaunnya dan menatap berkerung pada Yuda. Sudah sok keren ditambah otaknya sepertinya ada di dengkul, "Apa aku terlihat seperti orang yang mendiami tempat antah berantah begini?" ketus perempuan itu. Dia mendengus kesal, "Akh! Aku harap managerku saja yang selamat daripada laki-laki konyol ini!" teriaknya menggebu. Frustasi melihat orang yang selamat seperti dirinya hanyalah orang bodoh.
Yuda terdiam sebelum akhirnya membuka mulut kembali, "Siapa saja yang selamat selain kita?"
Perempuan itu meliriknya sedikit, "Sejauh mata memandang, hanya kau dan aku, dan kepingan-kepingan sampah yang di bawa oleh ombak di sana," ia menunjuk arah pesisir pantai dengan dagunya.
"Bagaimana kamu bisa sampai ke sini? Pesawat kita jatuh di tengah laut dan kamu memakai rok yang ribet untuk dipakai berenang, "
Perempuan itu mendecak, "Aku terseret arus sampai kemari, oke? Sangat lama berada di sini sampai gaunku kering kembali. Kamu tahu? Aku menangis panik sendirian selama itu sampai kamu datang tadi!" entah kenapa perempuan itu masih merasa kesal, panik, takut, sedih yang bercampur aduk dan itu semua bertambah berkali-kali lipat setelah tahu yang bersamanya sekarang hanyalah orang semodel Yuda.
"Sudah berkeliling?"
"Hanya di sekitar pantai. Aku tidak mau meninggalkan jauh tempatku terdampar, agar tim SAR atau orang yang melewati pantai ini dengan kapal atau orang yang lebih berguna darimu dapat melihatku dan menyelamatkanku!" matahari mulai bersinar terik kembali dan perempuan itu segera mengangkat gaunnya dan berjalan menuju pepohonan rindang dengan sepatu hak tingginya, terlihat repot, meninggalkan Yuda tanpa berkata apa-apa.
"Apa kau terluka?" teriak Yuda memastikan, karena semakin lama semakin terlihat bahwa perempuan itu menutup kepanikannya dengan marah-marah padanya.
"Tidak! Urus urusanmu sendiri!" teriak perempuan itu yang hampir sampai pada rerindangan pohon.
Yuda menerawang sekelilingnya, dan terpaku ke arah laut. Deburan ombak yang sedikit demi sedikit meninggalkan serpihan sampah di pantai itu terlihat begitu sepi baginya. Tidak ada orang yang berenang sepertinya menuju kemari atau kapal yang melintas sejauh mata memandang. Dia terkejut menyadari sesuatu, menoleh ke arah keberadaan perempuan itu dan menoleh lagi ke arah laut dengan kebingungan dan wajah yang tidak percaya. Dia pun kemudian menghampiri di mana perempuan itu berada untuk memastikan sesuatu.
"Namamu siapa?" tanya Yuda.
Perempuan itu melirik malas sekilas, "Elora Valeria Kirana, "
Yuda sedikit tertawa, "Namamu mirip sekali dengan artis yang sedang naik daun sekarang."
Elora mendengus sebal, "Aku memang orang itu, dan jangan bicara kalau kau tak percaya artis itu adalah aku, moodku sedang hancur."
Yuda malah tertawa, "Tentu saja! Sudah kuduga, aku bertanya karena kamu mirip sekali dengannya, bahkan kelihatannya lebih bersinar bila dilihat langsung dibandingkan di layar," dia menjeda perkataannya, "tapi kita tidak akan bisa bertahan hidup kalau kamu panik seperti ini. Memang apa yang bisa kamu dapatkan dengan berdiam diri begitu?"
"Kalau begitu, jadikan dirimu berguna!" teriaknya.
Yuda menghembuskan napasnya dan kembali berkata, "Dengar, aku tidak bisa berjuang sendiri, supaya lebih cepat, sebaiknya kita saling membantu," dia melihat perempuan itu hanya terdiam sambil memegangi perutnya, "ya... tentu saja setelah kita makan sesuatu," mata Elora langsung bersinar menatap Yuda, kemudian buru-buru kembali seperti semula.
"Urus urusanmu sendiri." ketusnya.
Yuda tersenyum, "Aku akan masuk ke dalam hutan sekarang mencari makanan yang pantas kita makan, seandainya kamu masih punya tenaga, kumpulkan sampah-sampah yang tercecer di sekitar pantai dan bawa ke tempat ini, oke?"
"Sekarang kamu menyuruhku menjadi pemulung?" ujar Elora melotot tidak percaya sebodoh apa sebenarnya orang ini.
Yuda mulai berjalan masuk ke arah hutan, "Lakukan saja jika masih punya tenaga, aku malas berdebat. Jika dalam 2 jam aku tidak kembali, dan tim SAR belum datang, jangan mencariku, berarti hutan ini berbahaya." katanya dan menghilang di antara pepohonan di belakang Elora.
Elora yang kesal berteriak, "Di sini tidak ada jam! Dasar bodoh!" dia meratapi nasibnya, kehilangan benda-benda elektronik yang bisa menjadi pelacak keberadaannya, dia menyesal malah menyimpan itu semua di dalam bagasi dan tidak ada yang ia gunakan. Bahkan jam tangan digitalnya pun ia masukan ke sana. Karena percaya managernya akan selalu bersamanya dan membantu perlengkapan yang ia butuhkan.
Lalu sekarang ia malah terjebak di antah berantah bersama orang yang tidak berguna.
•••
Begitu lama Elora terdiam menatap laut hingga dirinya nyaris tertidur, tiba-tiba ada yang tertawa keras dari dalam hutan mengagetkan dirinya, dan keluarlah Yuda dengan tangan yang penuh ranting, rumput, serta beberapa buah yang bisa dimakan, "Belum dua jam kan? Dan kamu belum mati kelaparan kan?" candanya.
Ia menjatuhkan barang-barang yang ia bawa ke pasir dan menatap Elora yang memperhatikan barang-barang yang dia bawa. Elora hanya melihat barang yang dibawanya yang berguna hanyalah beberapa buah-buahan dan ranting. Sementara selain itu, Yuda juga membawa banyak sekali rumput dan sulur.
"Sudah mengumpulkan sampah?" celetuk Yuda sambil merenggangkan otot pinggangnya.
Elora menunjuk tumpukan barang-barang di samping depannya dengan dagu, "Tuh."
Yuda menoleh ke arah yang ditunjuk Elora dan menghampirinya. Bukan sampah, melainkan barang-barang yang masih utuh atau sedikit patah, "Aku bawa buah-buahan, makan duluan saja, dihabiskan juga tidak apa-apa, aku akan ke hutan lagi kalau masih kurang. " ujarnya kemudian, sambil memilah-milah barang yang dikumpulkan Elora.
Elora menatapnya, lalu menatap buah-buahan yang dibawa Yuda. Dia menelan air ludahnya. Menahan diri karena masih gengsi, "Jangan sungkan, makanlah." celetuk Yuda yang merasa Elora tidak menyentuh makanan yang ia bawa.
Elora akhirnya mulai makan. Dan Yuda tersenyum sambil memilah-milih barang. Hampir semua yang dikumpulkan Elora berguna.
'Ini lebih berguna dari sampah,' ujar Yuda dalam hati. Namun ia berpikir, ia tetap membutuhkan sampah, setelah melihat yang dikumpulkan Elora masih kurang.
"Rumput-rumput itu mau kamu makan?" tanya Elora sambil mengunyah. Melihat tumpukkan rumput yang lebih banyak dari ranting-ranting yang Yuda bawa.
Yuda kemudian berdiri, menghadap ke arah matahari, dan mengangkat kedua tangannya, "Ya, karena aku ruminansia, mbheeeek!" candanya kemudian tertawa, "Kupikir mungkin rumput lebih baik daripada benar-benar tidur di atas pasir nanti malam. Dan sekitar 2 jam lagi sebelum matahari terbenam, mungkin saat ini sekitar pukul 4 sore." lalu ia berjalan mendekati makanan yang ia bawa, lalu terduduk dan ikut makan bersama Elora.
Elora mengerungkan dahinya, dari mana Yuda tahu sekarang sekitar jam 4 sore? Dengan menatap arah matahari lalu mengangkat tangan seperti yang Yuda lakukan tadi? Tapi Elora tidak menemukan caranya menemukan waktu seperti Yuda.
"Dan hak itu terlalu tinggi untuk aktivitas di pantai ini, kamu bisa memakai sepatuku nanti, setelah aku membuat sendal dari rerumputan itu." ujarnya yang diikuti gidikan tiba-tiba bahu Elora.
"Aku tidak mau memakai sepatu kotormu itu dan juga tidak mau tidur di atas rumput itu! Badanku bisa gatal-gatal dan kotor! Aku sudah menemukan selimut di pesisir pantai tadi, lebih baik aku tidur di atas selimut saja," sungut Elora.
"Iya aku melihat selimut ditumpukkan barang tadi, kalau begitu, bawahnya pakai rumput, biar tubuhmu lebih hangat. Pantai di malam hari itu dinginnya menusuk. Beruntung, selimut itu juga sudah mengering. Aku juga melihat beberapa baju di dalam tas yang kamu temukan, pakailah, baju yang kamu pakai sekarang terlihat begitu terbuka sedangkan bawahnya begitu panjang berlebihan, baju yang dirancang bukan untuk melindungi diri dari panas ataupun dingin."
Perempuan itu hanya mendecak merasa disuruh-suruh, "Aku harus mandi sebelum ganti baju." celotehnya.
Yuda mulai berdiri dan mengambil kelapa yang tadi dibawanya, "Tanah di dalam hutan, semakin ke dalam semakin subur. Aku terus menyusurinya, namun tetap tidak menemukan sumber air tawar selain dari dalam sulur dan kelapa ini. " dia mengangkat kelapanya, "Kamu bisa mandi menggunakan air kelapa ini, dan kita akan mati karena dehidrasi. Atau kamu bisa mandi menggunakan air laut, dan tubuhmu akan gatal-gatal."
Elora terdiam mendengar Yuda yang serius seperti itu.
Wajah serius Yuda pun kembali luntur dan senyum di wajahnya terukir, "Jangan dianggap serius, aku hanya mau bilang, tahan dulu saja selama kita belum menemukan air tawar yang melimpah, langsung ganti bajumu saja untuk saat ini."
Malam hari pun tiba, Yuda membuat api unggun di tengah-tengah mereka menggunakan korek bensin yang ditemukan di dalam tas berisi baju tadi dengan ranting-ranting yang ia bawa. Mereka tidur terpisah, Yuda lebih mendekat pada pepohonan, sementara Elora lebih mendekat pada api unggun. Elora menurut tidur di atas rumput yang dilapisi selimut. Dan Yuda baru sadar, Elora menyembunyikan sebuah selimut, dan yang tadi Yuda temukan ditumpukkan barang adalah selimut lain yang sepertinya disediakan oleh Elora untuk Yuda.
Elora sudah tertidur pulas dengan memeluk dirinya sendiri. Yuda mengibaskan selimutnya sendiri dan meletakkannya di atas tubuh Elora, ia tak bisa tidur. Yuda berjalan mendekati pantai yang sudah pasang. Menajamkan penglihatan kalau-kalau ada kapal lewat atau senter-senter dari tim SAR yang terlihat dari ujung laut di sana. Namun nihil. Yang ia lihat hanyalah langit malam yang cerah menampakkan rembulan yang begitu terang. Bintang-bintang bertebaran di atas sana, begitu indah sampai menyadarkan Yuda, bahwa dirinya ternyata hanya sosok kecil di antara mereka semua yang begitu kecil bila dilihat dari sini, dan sangat besar jika seandainya ia bisa pergi ke salah satu bintang-bintang itu. Seandainya dia angkuh, betapa malunya dia yang hanya sosok kecil ini bisa lebih angkuh dari bintang-bintang yang besar itu.
•••
"GAK MAU! UEEEEE!" Yuda menangis histeris melihatnya di dorong-dorong oleh Elora menuju hutan.
"Ada apa denganmu?! Kamu yang menyusuri hutan itu kemarin, aku tidak tahu kamu sudah menyusurinya sampai mana, kalau aku yang masuk aku tidak tahu harus ke mana!" teriak Elora yang terus mendorong Yuda agar mau masuk ke hutan dan mencari air tawar serta makanan untuk mereka.
"Hutan itu gelap walau matahari sudah muncul, aku takut gelap! Lagipula jalannya tidak beraturan, bagaimana kalau aku tersesat?!" pekik Yuda tak mau kalah dan berusaha menahan tubuhnya agar tidak terdorong Elora.
Elora berhenti mendorong Yuda dan menjenggut rambutnya frustasi, "Baiklah baik! Aku akan mengumpulkan sampah yang kau sebutkan kemarin bahkan sampah bekas makanan ringan sekalipun! Tidak akan kupilih yang mana yang menurutku berguna atau tidak, lalu aku akan memakai sepatu kotormu itu sesuai katamu, dan tidak akan mandi sampai menemukan air tawar yang melimpah, apa kau puas?! Sekarang masuk ke sana dan kita mulai pekerjaan kita!"
"T-tidak! Yang kamu temukan kemarin banyak yang berguna, dan memang aku saja yang akan mengumpulkan sampah-sampah yang kumaksud. Jadi kamu saja yang masuk ke hutan itu ya? Aku akan membuat tulisan SOS yang besar di pantai ini. Atau kita berdua sama-sama masuk ke dalam hutan dan mencari makanan serta air bersama!" teriak Yuda tak terima dan mulai mundur dari hutan, "Aku juga akan berusaha menyuling air laut, oke? Jadi jangan buat aku masuk ke dalam tempat mengerikan itu!"
Elora menatapnya tidak percaya, "Kamu benar-benar tidak mau masuk ke sana karena takut gelap?"
"Tentu saja! Siapa yang menyukainya?"
"Kemarin kamu masuk ke hutan dengan gagah berani, padahal hutan itu lebih gelap dari saat ini. Dan saat ini, hutan itu terlihat seterang ini di bawah sinar mentari di siang bolong dan kamu bilang itu gelap?!"
Mereka terus berdebat, suara Yuda yang sedikit cempreng dan terus meninggi membuat kepala Elora semakin pusing, "Ke mana kamu yang kemarin?! Kamu yang berguna itu?!"
"Mana kutahu! Aku sendiri aneh kenapa kemarin bisa seberani itu masuk ke dalam hutan mengerikan ini sendirian!"
"Kamu sendiri tahu, kalau kita berdua mencari ke dalam hutan bersama, tidak akan ada yang menjaga pantai ini jika tim SAR datang! Mereka hanya akan melihat bekas api unggun dan tempat tidur rumput itu sambil berpikir tidak ada korban kecelakaan pesawat yang terdampar di sini dalam keadaan hidup karena kita tidak ada di sini, di depan mereka! Atau mungkin mereka akan berusaha mencari ke dalam hutan tanpa tujuan yang pasti sementara kita berdua terus berjalan memasuki hutan dan tanpa disadari terus menjauhi penyelamat kita! Apa otakmu mengerti apa yang sedang aku bicarakan?!" bentak Elora kesal harus meladeni pemikiran tak masuk akal orang yang jadi aneh di hadapannya itu, "Kita yang mati sekarat seratus kali lebih mengerikan daripada hutan yang terang ini!" imbuhnya.
Perdebatan yang malah memperkeruh suasana itu diakhiri dengan Elora yang pergi dari hadapan Yuda diselingi teriakan frustasinya. Yuda yang juga kesal mulai mencari sampah yang ia butuhkan.
Sambil berjalan dengan hak tingginya menyusuri pantai mencari makanan yang bisa ia temukan sebisanya, Elora tak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi pada Yuda, padahal baru kemarin Yuda terlihat bisa berpikir lebih logis dari sekarang. Rasanya jalan pikiran Yuda jadi berubah, jadi lebih dungu.
Waktu terus berputar, menuju sore hari. Tubuh Elora mulai lemas karena belum menemukan makanan sejak pagi, buah-buahan dari hutan kemarin pun sudah habis saat waktu itu juga. Elora kembali ke tempatnya semula, duduk menyandar pada pohon yang kemarin ia gunakan sebagai tempat berteduh. Matahari masih terik, namun angin sepoi-sepoi dan atmosfernya terasa seperti sudah sekitar jam 3 sore.
"Aku sedang menyuling air, " celetuk Yuda dengan suara beratnya, "Kalau aku tidak menemukan kelapa atau air tawar dari dalam hutan, ini menjadi air minum cadangan kita. Seperti kemarin, jika dalam 2 jam aku belum kembali, jangan mencariku sebelum ada orang lain bersamamu. " Yuda yang sedang berjongkok memperhatikan alat yang ia buat untuk menyuling air laut seadanya itu kemudian berdiri, berjalan menuju hutan dan memasukinya.
Elora samar melihat hasil karya Yuda, dia sedang menyuling air atau menumpuk sampah?
Lalu, melihat Yuda dengan 'lancarnya' masuk ke hutan yang terlihat lebih gelap dibandingkan saat Yuda merengek pagi tadi, membuat dahi Elora kembali berkerung, namun terlalu lapar untuk berpikir.
•••
Langit sore sudah berubah menjadi oranye, Elora semakin lemas tanpa tahu harus berbuat apa. Yuda pergi ke dalam hutan terasa lebih lama dari kemarin.
Gebruk!
Tiba-tiba ada tumpukan benda-benda terjatuh di pinggir Elora bersandar, tidak berhasil membuat Elora yang kelaparan itu terkejut.
Yuda menatap Elora dengan rasa bersalah, "... Maaf, aku tidak mengerti kenapa tadi aku begitu takut masuk ke dalam hutan, silakan dimakan, aku akan kembali masuk ke hutan, dan membuat sedikit atap di sini, kalau-kalau nanti ada hujan. Dan... aku belum menemukan air tawar yang melimpah." Yuda kembali berdiri memasuki hutan.
Sementara Elora tidak menjawabnya dan mulai memakan buah yang dibawa Yuda perlahan. Tidak lama kemudian Yuda menyeret sesuatu seperti sebatang pohon yang sudah tidak memiliki dahan ataupun akar, hanya batangnya saja. Terus bulak-balik membawa benda itu dari dalam hutan sampai dua tumpukan banyaknya. Terakhir, dia membawa banyak sulur dan buah di tangannya dan terduduk dengan napas yang tak teratur.
Ia kemudian menyandarkan membentuk segitiga siku-siku satu gundukkan dari mereka ke pohon di samping Elora bersandar, mengikatnya dengan sulur-sulur kuat, meletakkan rerumputan di bawah naungan batang-batang pohon itu. Kemudian membawa beberapa bebatuan untuk menahan batang pohon agar tidak bergeser.
Selanjutnya, segera membariskan tumpukan batang pohon yang satunya sejajar dan mengikatnya dengan sulur, "Kita akan mencoba memancing besok, tapi aku tidak begitu optimis kita akan mendapat ikan di sekitar pantai ini, karena airnya dangkal. Aku akan menyusuri pantai besok pagi, mungkin akan ada sisi yang menjorok ke laut dan banyak ikan yang bisa dipancing. Pisau kecil yang kamu temukan kemarin benar-benar banyak membantu kita, aku jadi lebih mudah mendapat sulur dan memotong sampah-sampah itu untuk membuat distilasi air sederhana." dia menoleh sebentar ke arah Elora, lalu kembali fokus mengikat sampan dari batang pohon tersebut, "Terima kasih."
"Kamu tidak makan?" tanya Elora yang sudah mendapat kembali sedikit tenaganya. Langit sudah gelap, dan sudah ada rembulan di ufuk timur sana, "Aku belum melihatmu makan sejak pagi, sama sepertiku." dia masih menyandar pada pohon dan mengunyah buah-buahan yang dibawa Yuda.
Yuda yang selesai dengan sampannya, menuju ke penyulingan air dan menuangkan hasilnya menggunakan dedaunan yang lebar, melipat ujungnya dan membawanya kepada Elora.
"Pegang ujung ini dan ini, dan minumlah. Jangan pikirkan aku. Aku tidak menemukan kelapa jatuh hari ini, jadi ini air tawar yang bisa aku tawarkan padamu." ujar Yuda yang fokus ke tangan Elora yang mulai memegang daun berisi beberapa teguk air itu.
Elora malah mengamati wajah Yuda yang terlihat sangat menenangkan baginya ketika Yuda sedang berbicara. Kantung mata yang tidak ia lihat saat pertama kali bertemu dengannya, menunjukkan bahwa selama dua hari ini Yuda sudah bekerja keras. Tanpa sadar jantungnya sedikit berdegup kencang. Ia terus memandangi wajah Yuda bahkan sampai Yuda selesai berbicara.
Tidak mendengar ada satu pun kata yang keluar dari mulut Elora, dan merasa Elora malah terdiam tidak segera meminum air yang Yuda tawarkan, membuat Yuda mengangkat wajahnya dan menatap balik Elora yang terus memandanginya. Yuda kemudian tersenyum teduh, "Sudah kubilang jangan khawatirkan aku, sambil dalam perjalanan mencari makanan, aku juga sedikit-sedikit makan buah dan molusk-akhrm, yah intinya makanan di dalam hutan tadi, " dia berdeham takut membuat Elora malah hilang selera. Karena pasti Elora tidak pernah dan tidak akan mau makan siput laut dan sejenis moluska dari pantai seperti yang Yuda lakukan, hidup-hidup.
Elora segera sadar dan mengangguk cepat lalu mulai meneguk air pada daun yang diberi oleh Yuda, Elora meneguknya sambil menutupi wajahnya yang mulai memerah. Yuda tersenyum lagi, segera berdiri dan menatap bulan.
Yuda kembali menatap Elora, "Nanti kamu tidur di tempat yang aku bangun itu," Yuda menunjuk belakangnya, Elora menoleh, "lapisi dengan selimut rerumputannya, tenang saja, tidak akan runtuh sampai waktunya nanti lapuk karena air hujan atau sulur yang membusuk, atau tsunami, tapi jangan sampai tsunami sebenarnya... intinya hanya untuk sementara. Oke?"
Elora terdiam mendengar kata-kata Yuda sembari menatap lurus ke arah laut, sementara Yuda akhirnya tersenyum dan mulai berjalan menuju sampannya, "Terima kasih..." ujar Elora pelan, masih sedikit ragu, mungkin karena Yuda tahu Elora seorang selebriti, Elora masih menilai mungkin Yuda ada maunya nanti setelah mereka selamat karena Yuda bisa-bisanya berlaku sangat baik seperti ini, padahal Elora berusaha untuk menjadi menyebalkan agar tidak ada yang mendekatinya hanya untuk memanfaatkannya. Ada yang janggal baginya. Dan ini baru dua hari bersama Yuda. Bisa jadi ada udang di balik batu kalau Elora terseret arus 'kebaikan' Yuda.
•••
"
AHH GILA! KAMU MAU MEMBUNUHKU, HA?!" teriak sedikit cempreng Yuda pada Elora yang mendorongnya menuju sampan yang sudah terapung-apung diikatkan pada pasak di air laut dekat mereka.
"Membunuhmu?! Segila apa kamu bisa berpikir sampai sana! Kamu sendiri kemarin bilang mau mencari ikan kan?! Bahkan semalaman kamu berusaha membuat pancingan dan dayung karena mau dipakai pagi-pagi sekali! Kamu kenapa dari kemarin tiba-tiba berubah jadi menyebalkan begini?! Sedang menggodaku, YA?!" bentak Elora mulai kesal atas kelakuan Yuda yang kembali seperti bocah tengil.
Yuda langsung menepis tangan Elora yang terus mendorongnya, "Menggodamu?! HAH! Jangan salah sangka! Aku tidak tertarik dengan artis atau selebriti, apalagi sepertimu! Naik daun karena apa? Karena skandal? Karena berani melakukan hal yang tidak senonoh?! Aku bahkan tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba banyak dibicarakan orang-orang di sekitarku! Masih banyak perempuan pemalu yang lucu dan manis di luar sana daripada perempuan manja penuh rengekan sepertimu di dunia ini!"
DEG! Jantung Elora tiba-tiba sakit, kemudian langsung berdegup dengan kencang menanggapi perkataan menyakitkan dari mulut Yuda. Ingin dia ikut berteriak membalas perkataan Yuda, namun ternggorokannya sudah tercekat duluan.
"Dengar ya, " ujar Yuda merendahkan suaranya agar didengar baik-baik oleh Elora yang sekarang pipi dan matanya mulai memerah menatap kesal pada Yuda, "satu-satunya alasanku membantumu adalah karena kamu, " Yuda menunjuk Elora dengan kesepuluh jari tangannya, "adalah perempuan dan aku, " tangan Yuda menyentuh dirinya sendiri, "adalah laki-laki. Aku merasa punya tanggung jawab untuk menolongmu agar bisa hidup di antah berantah seperti ini sampai penyelamat kita datang. Karena aku yakin, meskipun kamu tahu cara bertahan di alam liar namun kamu pasti setidaknya masih perlu bantuan laki-laki untuk mengangkat beban benda-benda yang beratnya di luar kesanggupan umum dari perempuan."
Elora tertawa sinis, matanya mulai berkaca-kata menatap Yuda, "Oh begitu, bilang saja nanti setelah kita selamat, kamu bakal meminta bayaran karena sudah membantuku hidup di pantai ini, tenang saja, berapapun yang kamu minta, aku akan langsung memberimu cek, tulis saja nominalnya setelah kita selamat. Aku akan membayarmu. Tidak perlu sampai kamu mengatakan hal yang berbelit-belit dan menyakitkan seperti tadi. Karena itu hanya akan mengotori mulutmu yang hina itu. Cukup bilang 'bayar aku'. Beres."
"Uang ya, " Yuda tersenyum sinis, "sudah kuduga, selebriti sombong papan atas yang sedang naik daun, akan menganggap orang di bawahnya seperti penjilat uang yang sangat kotor dan hina. Aku tidak butuh uangmu. Sejak awal kita bertemu, hidupku sudah dijamin keperluannya, aku juga tidak punya ambisi untuk memiliki barang-barang mewah yang pasti mengundang para penjahat. Tidak ada ambisi dan motif apa-apa. Jadi, hentikan prasangka burukmu dan ocehanmu, dan berhenti mendorongku ke laut!"
"Ya, ya, terserah." Elora segera pergi meninggalkan Yuda yang melihatnya sinis. Yuda pun pergi meninggalkan tempatnya berdiri dan mulai mencari bahan untuk membuat destilasi kecil untuk kedua kalinya.
•••
Siang menuju sore. Yuda tiba-tiba berjalan menghampiri Elora yang memeluk kakinya sendiri, melamun, merenung menatap pasir dalam diam. Yuda duduk di sampingnya, dalam perasaan yang bersalah ingin mencoba membuka suara, berulang kali, namun diurungkan kembali ketika melihat tatapan sayu milik Elora. Lama, Yuda dan Elora duduk berdampingan dalam keheningan. Deburan ombak menjadi pengiring ketenangan yang sedang berlangsung ini.
Yuda akhirnya berani berbicara. Ketika mengambil napas, Elora ternyata lebih dulu berkata dan membuat Yuda terdiam kembali, "Apa kamu benar-benar berpikir begitu tentangku?" katanya lesu sambil memainkan pasir di dekat kakinya.
Yuda terdiam sejenak, menatap laut, "Sebagian besar benar, sebagian kecil salah." ujarnya dengan suara berat yang selalu didengar Elora setiap sore menuju malam.
"Yang salah?" tanya Elora.
"Merengek, sombong, manja."
Elora tertawa sinis, "Jujur saja."
Yuda sedikit tersenyum, "Sedikit merengek, tidak sombong, dan tidak manja."
Elora tersenyum mengiyakan, masih menatap pasir yang ia mainkan, "Aku sadar, bertengkar tidak ada untungnya untuk kita berdua. Tapi, seandainya aku beban yang sangat bebal bagimu, " ia mulai berani menatap Yuda, "tolong jangan tinggalkan aku, bagaimana pun aku ingin tetap hidup, setidaknya sampai para penyelamat datang, tolong aku. Seperti katamu, perempuan yang tahu caranya survive saja masih perlu bantuan laki-laki, apalagi aku yang tidak tahu apa-apa. Tentu, tanpa diminta pun, aku akan tetap membayarmu atas kerja kerasmu menolongku selama ini." Elora kembali menatap pasir yang ia mainkan. Dia merasa malu harus berkata begitu untuk orang yang tadi pagi melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan untuknya. Rasanya lebih sakit dari cabikan para haters di media sosialnya. Tetapi, hanya Yuda yang bisa membantunya untuk saat ini.
Yuda tidak menatapnya walau tadi Elora menatapnya, dia masih menerawang langit terik di atas sana dan ombak yang berkilauan memantulkan cahaya matahari, "Tahu tidak? Padahal banyak serpihan kecil pesawat yang kita tumpangi dan serpihan barang-barang dari pesawat yang terdampar kemari, bahkan kamu berhasil terdampar di sini. Aku sendiri mencoba berenang susah payah kemari dan berhasil kurang dari 2 jam berenang. Tetapi sudah tiga hari, tidak ada satu pun tim penyelamat yang datang ke sini. Diukur dari aku yang bisa berenang ke sini, berarti lokasi jatuhnya pesawat tidak jauh dari pulau ini. Seharusnya di hari pertama investigasi lokasi kejadian, setelah selesai di TKP, mereka pasti otomatis mencari daratan terdekat dari lokasi jatuhnya pesawat. Menurutmu tiga hari atau mungkin lebih mencari pantai ini apakah wajar untuk orang-orang yang memiliki alat lengkap untuk mencari yang hilang, sementara aku bermodalkan tangan dan kaki untuk berenang sampai kemari kurang dari 2 jam, dan bahkan kamu sendiri, bermodalkan tidak sadarkan diri bisa sampai kemari, " Elora tertawa kecil menanggapi perkataan Yuda, "Bagiku ini sangat janggal."
Elora menggedikkan bahunya sambil tersenyum. Bingung harus menjawab apa.
"Ada empat kemungkinan. " Yuda mengangkat tangannya membentuk jumlah empat dengan jarinya, "Pertama yang tidak masuk akal, tempat ini disembunyikan oleh ghaib." Elora mulai melihat ke arah Yuda, masih memainkan pasir, "Kedua yang ngawur, kita terdampar di Segitiga Bermuda, dan berada di dunia paralel atau di masa depan, atau masa lalu, atau di dimensi yang berbeda dari dimensi yang kita kenal sebelumnya, " Elora berhenti memainkan pasir dan memperhatikan Yuda yang berceloteh riang, "Ketiga yang masuk akal, pesawat kita disadap jarak jauh, oleh entah siapa dan untuk apa, sehingga navigasi mati dan perkiraan jatuhnya pesawat jadi melenceng jauh dari Stasiun DVOR." alis Elora mengangkat dan tersenyum penasaran, "Dan yang keempat, yang dramatis, dari awal sudah direncanakan salah satu atau sebagian besar dari penumpang dalam pesawat untuk dibunuh, lagi-lagi oleh entah siapa dan kenapa. Dan sang pelaku sudah bekerja sama dengan tim penyelamat dan yang berhubungan dengan tim tersebut untuk memanipulasi investigasi dan menyatakan semua sudah selesai dengan kabar sedih, padahal mereka sama sekali tidak melakukan investigasi. Atau investigasi yang dilakukan hanya pura-pura, dan dilakukan di tempat yang salah. "
"Jadi?" pancing Elora agar Yuda melanjutkan pembicaraannya.
"Kemungkinan besar tim SAR sulit datang kemari dan kita bisa saja terdampar di sini selamanya. " Yuda melotot tersenyum menatap Elora yang tertawa melihatnya.
Elora berhenti tertawa, namun masih menampakkan gigi-giginya, "Yap, di telingaku yang paling masuk akal adalah kemungkinan yang paling dramatis. Karena dunia ini dan manusia di dalamnya penuh drama dan mendramatisir sesuatu."
Yuda tertawa ringan mendengarnya. Lalu berhenti dan menatap pasir-pasir yang berada di depannya, "Maafkan aku sudah berkata kejam tadi pagi." ia kemudian menatap Elora yang sedang menatapnya juga, "A-aku bingung bagaimana harus meminta maaf padamu, kata-kataku benar-benar menyakitkan dan pasti bagimu sulit untuk dilupakan." Yuda membuang mukanya menatap pasir lagi, tidak berani menatap Elora yang terus memandanginya, "Pukul dan tampar saja aku jika itu bisa mengurangi sedikit rasa sakit hatimu."
Elora terdiam, lalu tertawa dengan keras, melunturkan sikap anggunnya yang selama ini direkam di depan kamera, "Sudahlah, aku bukan perasa yang terlalu seperti itu, aku juga minta maaf padamu karena sudah memaksamu naik ke sampan untuk mencari ikan. "
Yuda sedikit tersenyum, "Itu bukan salahmu, memang dari kemarin aku berencana pergi menangkap ikan seperti yang kau tahu, kan. Lagipula kenapa aku bisa tiba-tiba takut ke laut, haha. Ada-ada saja aku ini."
•••
Hari demi hari dilewati. Total sudah 10 hari mereka hidup di sana. Ada gubug kecil di dekat pepohonan, baru setengah jadi, namun ada satu lagi tempat tidur berlantai rumput yang mirip dengan yang dibuat untuk Elora, Kali ini untuk Yuda tidur. Destilasi air sederhana sudah ada lima buah, dan semuanya dibuat oleh Yuda dari sampah-sampah yang tercecer terdampar di pantai ini. Mereka juga sudah mencoba membuat ikan bakar. Sumber protein yang bisa mereka temukan di sini, selain kaum moluska.
Semakin hari juga, perjalanan Yuda di dalam hutan semakin lama. Walau begitu, semakin lama semakin banyak juga Yuda membawa barang dan bahan makanan. Namun, karena waktunya pergi Yuda semakin bertambah, Elora jadi diajari cara mengukur waktu menggunakan matahari dan tangannya seperti yang Yuda lakukan.
•••
Sudah 15 hari, gubug selesai dibangun, destilasi air sederhana berjumlah 8. Sampan ada dua buah. Dan mereka pada akhirnya mandi 3 hari sekali sejak hari ke-6 menggunakan air laut, lalu dilap pakai air dari dalam sulur atau sulingan agar hasilnya tidak terlalu gatal. Dan Elora mulai terbiasa dengan kebiasaan buruk Yuda, pasti saat di pagi hari selalu menjadi Yuda yang handal dalam menjengkelkan orang.
Sekarang sudah senja, padahal tadi masih terik ketika Yuda memasuki hutan. Katanya sekarang batas waktu perginya jadi 4 jam lamanya. Dan sekarang, kepergiannya masih sekitar 3 jam 30 menit. Masih ada waktu untuk tidak khawatir.
"AKH!" tiba-tiba Yuda keluar dari hutan dengan pincang lalu terjatuh. Elora yang sedang memilah barang yang ia temukan hari ini segera menghampirinya. Betapa kagetnya dia melihat betis Yuda terluka vertikal panjang dan cukup dalam dan merembes darah keluar dari sana. Anggota badan yang lainnya pun ada luka-luka kecil.
"Aaa! A-apa yang sudah kamu lakukan?! Dari mana, kenapa?!" dia memandang lukanya ngeri dan menatap Yuda panik, bingung harus apa.
"Shh.." ujar Yuda menempelkan telunjuknya di depan bibirnya sambil menahan sakit, "Jangan panik... A-ada kain atau baju bersih?"
"Ada yang sudah aku bersihkan dengan air laut,"
Yuda sedikit meringis sebelum berbicara, "Kering? Kalau kering, tolong bawa ke sini... Ukh,"
Elora buru-buru masuk ke dalam gubuk dan segera keluar sambil membawa baju yang dia anggap bersih, berlari menuju Yuda.
"K-ketemu obat?" tanya Yuda sambil menerima baju.
Elora menggeleng sedih, segera Yuda mengeluarkan banyak daun yang tidak dikenal Elora dari dalam bajunya, lalu mengunyah semuanya dan menempelkannya pada baju yang bersih. Dia langsung menempelkan sisi baju berdaun itu ke luka di betisnya, dan mengikatnya kuat. Wajahnya tegang dan memerah, berkerut menahan sakit yang kelihatannya luar biasa. Diremasnya pasir kuat, Elora yang melihatnya terpaku bingung.
Setelah Yuda tenang, Elora mulai bertanya, "Kamu habis dari mana? Kenapa?"
"Aku," seketika Yuda menatap Elora yang berjongkok di sampingnya, "menemukan genangan air yang cukup besar di dalam hutan!"
"Eh, Benarkah?"
"Ya! Tapi sayangnya itu berada di sisi lain jurang, jurang itu memisahkan keberadaan kita dan keberadaan genangan besar air itu." sedih Yuda, " Aku mencoba menyusuri jurang untuk mencari jalan alternatif lain, namun karena kecerobohanku, aku terperosok ke jurang dan ada batu cadas di sisi atas jurang tempat aku terperosok. Dan sekarang aku berhasil keluar dengan luka-luka, haha.." kata Yuda, keringat di pelipisnya mulai mengucur.
"Dan kamu tahu? Aku menemukan gubuk yang berbeda dengan kita, ada peralatan lengkap di luar gubuk itu, aku rasa ada orang lain selain kita di sini. Aku belum sempat memeriksa lebih dekat ke sana, karena malah terperosok. Semoga kalau benar, orang itu bisa menolong kita." mata Yuda mulai memerah, "nanti besok aku akan beritahu caramu sampai sana kalau aku masih kesusahan jalan , jalan dari sini ke sana sekitar 15 menit, tidak begitu jauh atau begitu dekat, medannya mungkin hati-hati tersandung, walau kamu sudah memakai sepatuku."
Elora yang melihat mata Yuda mulai memerah, segera menyentuh dahinya, "Kamu demam!"
Yuda tersenyum, "Wajar, kakiku terluka, nanti juga sehat lagi."
"Terus kenapa menyuruhku sendirian ke gubuk sana?"
Yuda terdiam sejenak sebelum berbicara, "Yah kalau sama aku, nanti ribet haha"
Seketika Elora berdiri, "TIDAK MAU, AKU TIDAK AKAN MENINGGALKANMU!" teriak Elora.
Yuda tertawa renyah, "Ya balik lagi ke sini lah, gimana sih, hahaha-"
Tiba-tiba ada seseorang keluar dari hutan. Seorang pria memakai kemeja cokelat bertopi dan walkie-talkie, menoleh ke kanan dan ke kiri, mendapati Yuda dan Elora yang sedang mengobrol, "KAU YANG MENDEKATI POSKU TERNYATA DI SINI!" riang pria itu, lalu mengusap dadanya seperti lega.
"Untung aku mengikutimu, sepertinya kalian terdampar di sini. Baiklah, aku akan membantu kalian pulang, kebetulan sekali aku ditugaskan di sini." pria itu tersenyum riang dan mengangkat walkie-takienya.
x•••x
Tamat