Hubungan terlarang antara Hengki dan Desy, sungguh telah terjalin lama. Keduanya sama sama menyadari hal itu bahkan sebelum mereka lulus kuliah. Namun, baik Hengki maupun Desy sangat pintar menutupi semuanya di belakang Ati.
Ati sadar jika Hengki dan Desy akrab. Tetapi, ia berprasangka baik saja terhadap kekasihnya Hengki dan sahabatnya Desi waktu itu. Mereka lebih seperti saudara bagi Ati yang memang jauh dari sanak saudara juga kerabat saat berkuliah di Malang.
Seujung kuku pun tak ia duga, jika Desy sahabatnya itu menaruh rasa cinta yang berlebihan untuk Hengki ayah dari kedua putrinya.
Hubungan Hengki dan Desy memang lama terjeda, saat keduanya fokus pada urusan dan membina rumah tangga masing-masing. Tetapi,itulah salahnya. Dan apapun alasannya, adalah salah jika seorang suami merasa lebih nyaman curhat pada wanita lain, walau itu adalah sahabat istrinya sendiri.
Otak bisa berpikir, hati boleh merasa. Tapi tubuh tak pandai menyimpan tanda, jika sangat menginginkan sesuatu.
Pekerjaan Hengki terlampau banyak. Ketika pulang ke rumah tak hanya sambutan hangat anak dan istri yang ia dapatkan, tapi juga keluhan yang bertubi tubi dari anak dan istrinya. Yang selalu merasa kesepian dan kurang perhatiannya. Padahal ia mencari nafkah pun untuk mereka.
Ati, memang tak ia ijinkan untuk terlalu merawat dan memoles dirinya. Dengan alasan Hengki suka dengan wanita yang natural dan alami. Dari bentuk alis hingga potongan rambut tak ia ijinkan di potong sesuai kehendak Ati. Bahkan Ati ia sarankan untuk berhijab, kalau perlu bercadar sekalipun agar hanya dia yang bisa menikmati kecantikan istrinya tersebut.
Ati istri shalehah, mana ada niatnya untuk melawan sang suami yang sangat ia puja dan hormati tersebut. Dan tampilan itu sungguh jauh berbeda dengan Desy yang selalu tampil modis dan trendy. Dan hal itu mengundang pesona yang lain di mata seorang Hengki. Saat mereka mengadakan reuni angkatan mereka yang kebetulan tidak di hadiri oleh Ati. Yang saat itu memang tidak berminat untuk ikut. Dengan alasan malu, sebab hanya dia yang menjadi ibu rumah tangga dan ijazahnya hanya di simpan dalam koper tak berguna.
“Kenapa terlihat gundah …?” tanya Hengki malam itu melihat tingkah Desy yang keluar masuk, sibuk dengan ponselnya.
“Oh.. tidak ada apa apa Ki.” Jawabnya berbohong.
“Sudahlah… aku sudah tau kamu luar dan dalam. Ga usah bohong, ada apa?” paksa Hengki pada Desy.
“Mas Yos… Ki.” Ujarnya sedikit manja.
“Ada apa dengannya?”
“Kebiasaan buruknya susah hilang.”
“Apa itu?”
“Judi.”
“Lalu..?”
“Aku ga tau, harta yang mana lagi yang bisa aku jual untuk menutupi semua tagihan para rentenir.” Cerita Desy tanpa ragu membagi beban hidupnya.
“Kalau tak punya harta… kamu masih punya tubuh kan untuk di jadikan uang.” Kata itu terdengar meleceh. Mestinya Desy marah pada Hengku, tapi ternyata tidak. Ia hanya memandang lurus menatap tajam ke netra Hengki.
“Apa kamu rela, aku menjual diriku demi Yos?” tanyanya pada Hengki.
Hengki menolah nolehkan kepalanya, memastikan taka da sepasang matapun melihat mereka berdua yang sedari tadi terlibat obrolan serius. Lalu berdiri, mendekat sebntar untuk menyerahkan kartu akses kamar hotelnya. Lalu kembali bergabung dengan teman lelaki lainnya. Sehingga taka da yang curiga jika diantara Desy dan hengki telah terjadfi konspirasi.
Suasana kamar Hengki berpijar temaram, sementara di dalamnya sudah ada Desy menunggunya dengan pakaian berbeda dari saat mereka di dalam acara tadi. Ia menggunakan gaun tipis dan sangat minim. Dengan warna merah menyala. Hengki kelabakan di buatnya. Sungguh pemandangan jang tak pernah ia lihat dalam kamar tidurnye bersama Ati. Dan terjadilah hubungan yang tak seharusnya terjadi antara dua insan yang telah terbakar hawa nafsu tersebut.
Hingga pagi hari, tubuh keduanya masih tergelung dalam selimut yang sama. Terbangun hanya karena cahaya matahari yang memaksa masuk di celah celah tirai di dalam kamar tersebut. Hengki menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka. Sekedar penasaran dengan tubuh yang semalam sangat dahsyat melawan setiap maneuver manuveryang ia gencarkan.
“Desy… kenapa tubuhmu banyak lebab begini?” kejutnya ketika kamar itu sudah terang. Ya, semalam Hengki tak jelas melihat tubuh itu dan segala goresan biru dan codet di tubuh Desy sebab sudah malam.
“Ini semua ulah Yos, Ki. Aku sering di tindas. Aku di pukul, di sulut dan lainnya.”
“Kenapa …? Kenapa ia melakukan ini terhadapmu?”
“Uang… ia ingin aku selalu mencarikan uang untuknya. Jika tidak beginilah hasilnya.”
“Tidak … aku tidak terima ia lakukan ini terhadapmu. Tak ada yang boleh menindasmu begini. Aku cinta kamu Sy. Dari dulu hingga hari ini. Hanya bayanganmu yang menari nari bahkan di setiap aku bercinta dengan Ati. Kenangan malam pertamamu dan aku di kost saat Ati libur ke kotanya, masih melekat dalam ingatanku. Aku tak bisa melupakan setiap lekuk tubuh dan wangimu. Menikahlah denganku, tinggalkan Yos.” Ungkap Hengki mengiba.
“Ki… perkara mudah bagiku untuk melepaskan Yos. Tapi bagaimana dengan Ati?” tanya Desy yang sejak dulu memang risau dan gundah. Sebab bagaimanapun, Ati adalah sahabatnya.
“Jadilah istri kedua ku untuk sementara. Bawa anakmu, dan pindah ke Kota Baru. Agar aku mudah membagi waktuku untukmu dan Ati.” Putus Hengki tanpa bantahan.
Maka sejak itu, Desy menetap di kota yang sama dengan Ati dan Hengki. Ia di fasilitasi rumah dan mobil oleh Hengki. Diam diam sudah melayangkan gugatan cerainya terhadap Yos. Dan tentang hak asuh anak yang Desy sampaikan pada Ati, itu hanya bualannya. Bahkan anak pertamanya saja yang anaknya bersama Yos. Sedangkan yang kedua sudah hasil hubungannya dengan Hengki.
Desy dan Yos pun telah lama resmi bercerai. Namun, sifat egois Desy muncul, saat kehamilannya yang ketiga ini. Ia ingin memiliki Hengki seutuhnya.
Tamat