Setelah aku mendengar pengakuan dari Arjun aku hanya bisa terdiam tak percaya. Bukan masalah Arjun udah kenal aku, tapi kemarin Arjun udah sengaja nyelakai dirinya sendiri dan bohong, cuma buat agar bisa ngomong sama aku.
“Jadi kamu membohongi aku ya” Risa
“Bukan gitu maksud aku Sa, dengerin aku dulu!” Arjun
“Tapi kamu bohong kan sama aku. Aku gak percaya kamu bisa melakukan itu. Hanya karena mau ngomong sama aku, kamu sampai membuat kebohongan itu, kalau mau ngomong ya tinggal ngomong aja, nggak perlu bohong segala, sampai harus bikin celaka diri sendiri” Risa
“Emang jadi masalah ya kalau aku bohong sama kamu?” Arjun
“Ya Iyalah, aku kan paling gak suka sama orang yang bohong. Meskipun Bohongnya cuma kecil, tapi kalau bohong tetaplah bohong. Apalagi bohongnya sampek nyelakain dirinya sendiri, kayak kamu!” Risa
“Kamu tuh lebay ya, cuma begitu saja sampai segitunya. Kayak anak kecil saja!” Arjun
“Kamu bilang apa, aku lebay, kayak anak kecil? Kamu tuh yang kayak anak kecil. Apa-apaan coba, pake bohong segala hanya karena ingin ngomong sama aku, aneh tau!” Risa
“Eh, kamu kok ngomongnya gitu sih. Aku kan cuma becanda, kenapa kamu malah ngata-ngatain aku begitu!” Arjun
“Yang mulai duluan siapa, kamu kan!” Risa
“Eh, kamu cewek nggak jelas… kamu tuh emang agak sinting ya! Nyesel aku ngomong sama kamu!” Arjun
“Ya udah, kalau nyesel pergi, kenapa masih di sini? Males tau ngeliat kamu, dasar aneh!” Risa
“Oke! Aku pergi. Jangan harap aku mau bicara lagi sama kamu!” Ajun berlalu. Dan sepertinya dia benar+benar sangat marah.
Pagi itu matahari bersinar dengan sangat hangatnya. Burung-burung terbang melintasi angkasa dengan nyanyian-nyanyian merdunya. Semua orang sudah pada bangun dari mimpi mereka, dan segera melakukan apa yang telah menjadi rutinitas mereka. Entah kenapa aku bangun kesiangan hari ini. Mungkin aku lelah. Atau terlalu memikirkan masalah Arjun kemarin.
“Aduh… ma, aku udah telat nih, kenapa mama gak bangunin aku. Aku nggak usah sarapan ma!” Risa
“Malah nyalain mama, makanya kalau tidur itu jangan sampai larut malam, jadi kesiangankan bangunnya!” mama Risa
“Siapa yang tidur larut sih ma. Aku tuh kemarin tidur jam 10 kok.” Risa
“Ya sudah, kamu bawa bekal aja nih!” mama Risa
“Nggak usah ma, aku langsung berangkat saja. Assalamuallaikum!” Risa
“Eh… ya nggak boleh gitu. Nih bawa, anak ini! Kalau nanti tiba-tiba kamu sakit atau pingsan gimana?” mama Risa mengulurkan sekotak sandwich pada Risa.
Dan dengan terpaksa aku menerimanya, karena kalau nggak diterima bisa panjang urusannya. Setelah itu aku dengan sigap langsung melajukan motorku kearah sekolah. Sesampainya di sana bel masuk sudah berbunyi. Turun dari motor aku langsung berlari. Berlari sangat cepat.
Tiba-tiba…
Brukkkk…
Jantungku seperti suara genderang yang sedang ditabuh dengan kerasnya, hingga ada peri-peri yang asyik berdansa dan menyanyi dengan lagu cinta nan bahagia. Senyum tawa menyertainya. Saat ku tatap matanya aku langsung sadar dan bangkit.
“Maaf, aku nggak sengaja. Aku nggak bermaksud nabrak kamu” ucapku tertunduk.
“Nggak papa, nggak masalah kok, cewek aneh” Arjun
Aku tak menganggapnya dan segera pergi meninggalkan arjun…
Waktu ku aku jalani seperti biasa. Pulang sekolah dan berangkat sekolah…
"Risa aku duluan ya. Bye!” pamit Sherli, saat aku masih merapikan buku-buku ku. Dan aku tersenyum kepadanya.
Kelas pun mulai sepi…
Tiba-tiba hanpon-ku bergetar, kulihat nomornya yang gak dikenal. Tapi aku tetap membacanya.
To: Raisa Larasati
‘Aku minta maaf ya! Sekarang aku tunggu di lapangan basket. Tolong jangan takut padaku karena aku bukan orang jahat. Aku mohon padamu. Plisss Sa!
Aku merasa bingung, tapi aku tetap saja menemuinya. Ku langkahkan kakiku ketempat janjian yang sudah ditentukan.
Aku berdiri di tepi lapangan basket. Lama sekali aku menunggu hingga aku tak sabar lagi.
“Sorry Sa, udah nunggu lama ya? Aku yang ngajak ketemuan malah jadi kamu yang nungguin aku.” Arjun
Aku berbalik ke sumber suara itu.
“Ajun!” ucapku lirih
“Aku minta maaf ya Sa soal yang kemarin, karena aku udah emosi dan marah sama kamu, dan aku udah ngata-ngatain kamu. Habisnya kamu juga sih! Ngata-ngatain aku, kan aku jadi kesal!” Arjun
Aku sedikit menatapnya tajam.
“Udahlah, lupain masalah itu!" Arjun tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.
”Sekarang yang mau aku omongin bukan masalah itu. Sebenarnya aku mau ngomong kalau aku… emm… itu… aku…” suara Arjun tiba-tiba saja jadi terbata dan terdengar gugup.
Aku tetap mendengarkannya meski kata-katanya tidak terlalu jelas dan putus-putus.
“Oke! Jujur, pertama kali aku ketemu kamu aku sudah tertarik sama kamu Sa. Dan aku… aku suka sama kamu Sa” Arjun
“Suka dalam arti apa ya?” Risa
“Aku… mencintai kamu Sa” ucap Arjun
Seketika suasana jadi hening.
“Kamu mau nggak, jadi… pacar aku!” tanya Arjun lagi
Aku tetap diam.
“Kamu nggak suka dengan perkataan aku ya?” Arjun
“Bukan! Bukannya gitu. Aku kaget aja, orang sebaik kamu, seganteng kamu, sepintar kamu, sepopuler kamu dan… seperfect kamu, bilang suka sama aku. Cewek yang gak jelas, yang nggak sesempurna dan banyak kekurangan ini.” Risa
“Liat orang jangan luarnya aja Sa, dan jangan cuma dilihat dari kelebihannya aja. Itu kan yang selama ini ada didalam pikiran kamu, dan aku suka cara berpikir kamu yang seperti itu.” Arjun
“Aduh, gimana ya. Aku jadi bingung” Risa
“Kalo kamu nggak mau nerima aku, juga gak apa kok Sa, tapi kamu tetep mau jadi temen aku kan.” Arjun
“Apa kamu serius?” Risa
“Iya aku serius!” Arjun
“Aku… nggak bisa” Risa
“Nggak apa, itu hak kamu!” Arjun
“Maksudnya bukan itu, tapi... aku nggak bisa nolak kamu!” Risa
“Apa beneran Sa? Kamu serius kan?” Arjun
Aku mengangguk dan tersenyum menatap bola mata Arjun. Dan mulai saat itu pun kami resmi berpacaran.
The End