Antara Ragu, Bimbang dan Kecewa
Hari ini aku mulai ragu akan masa depan yang akan ku tempuh. Pikiran kelabu akan pendidikanku selalu membuatku mengadu kepada Yang Kuasa dan bercerita pada dinding kamarku. Entahlah, mungkin jika mereka bisa berbicara mereka akan berkata kalau mereka bosan mendengar keluh kesahku, tangisku, dan harapan bodohku tentang jadi apa aku sepuluh tahun ke depan.
Selalu aku ingin mengulang masa merah putihku tanpa keraguan. Bermain sepanjang hari, bercanda ria bersama teman tanpa memikirkan aku akan menjadi generasi yang bagaimana?
Hallo aku Dewi, siswi kelas 12 disalah satu sekolah menengah atas negeri. Aku siswi dengan sejuta mimpi tanpa ada dukungan berarti, hanya tekad yang membawaku tetap memijakkan kaki di sekolah ini.
"Dewi, apa kamu ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi?" tanya wali kelas kepadaku.
Tentu saja aku ingin menjawab 'iya' namun, aku harus sadar akan posisiku. Aku adalah siswi miskin yang bermimpi menjadi seorang mahasiswa. Apakah itu mungkin untuk orang sepertiku? Apakah mudah jalanku? Namun akan segala keraguanku, aku hanya diam tak bergeming tanpa menjawab sepatah katapun.
Disaat bel istirahat berbunyi, aku segera melangkahkan kakiku ke kantin sekolah hanya untuk membeli sebuah gorengan dengan harga seribu rupiah. Setidaknya dengan gorengan yang seribu rupiah ini perutku tetap terisi.
Beberapa siswa melihatku dan mengucilkanku, mereka menjauhiku dan menganggap aku hanyalah patung tak berarti bahkan mereka tak pernah memperlakukanku layaknya seorang teman. Aku tidak berharap dijadikan teman terbaik, tetapi setidaknya perlakukan aku layaknya manusia. Itulah harapan kecilku di sekolah.
Jika harapan kecilku saja tidak terpenuhi, bagaimana dengan harapan besarku dengan semua mimpi tanpa ada perwujudan di dalamnya? Itu mustahil. Tapi tekadku berbanding terbalik dengan keadaan ini.
"Wi, setelah ini mau lanjut kemana? Mau jadi apa?" tanya teman-teman saat mereka melewatiku.
Aku hanya tersenyum kikuk. Aku tidak tau harus menjawab apa. Sialnya pertanyaan itu terus saja terngiang di kepala ini.
Kenapa dewasa serumit ini? Lalu aku harus apa? Antara bimbang dan kecewa, aku tak bisa menafsirkan keadaanku saat ini. Aku bimbang dengan masa depanku sekaligus aku kecewa dengan keadaan yang tak memungkinkan mimpiku terwujud.
Aku rindu bangun pagi menjadi bersemangat tentang sesuatu yang aku sukai, tentang mimpi yang ku kejar dan ku impikan. Kini hidupku bagaikan embun di daun talas, aku berdiri tanpa pendirian yang tetap.
Dulu dan sangat dulu, aku sempat berbincang dengan ayahku.
"Dewi anak ayah, kalau besar mau jadi apa?" tanya ayah dengan irama lagu susan.
"Dewi mau jadi dokter ayah," jawabku dengan cadelnya.
"Kalau begitu anak ayah harus rajin belajar yaa,"
Terputar lagi memori 15 tahun lalu yang sangat aku rindukan. Ya benar, aku sangat merindukan sosok ayah. Tidak hanya itu memori 10 tahun silam juga ikut terputar di kepalaku, dimana malam itu ayah mengajariku berhitung.
"Dua di tambah delapan hasilnya berapa?" tanya ayah mengajariku.
"Hmm... Delapan sembilan sepuluh," jawabku sambil menghitung dengan menggunakan jari-jari kecilku.
Ayah bangga padaku dan mengusap kepalaku lembut. Setelahnya ayah kembali bertanya kepadaku tentang apa mimpiku. Lagi dan lagi dengan mantapnya aku menjawab
"Dewi mau jadi dokter ayah,"
Jika saja ayah tidak pergi meninggalkanku lebih dulu, aku tak akan pernah merasakan kebimbangan ini. Aku akan sangat yakin dan percaya diri dengan segala mimpiku.
Lagi lagi dan lagi aku menangis di kamar kecil ini. Aku menangis merindukan sosok ayah yang sudah lama meninggalkanku. Ayahku meninggal 8 tahun silam, saat itu aku masih memakai seragam putih merahku.
8 tahun silam...
Jantungku nyaris tak berdetak ketika aku mendengar kabar ayahku pergi untuk selamanya. Aku tak pernah berfikir ayah pergi meninggalkanku dan ibu secepat ini. Aku takut hidup tanpa sosok seorang ayah. Ayah adalah laki-laki pertama yang mencintaiku dengan setulus hati.
"Dewi, apa yang kamu lakukan nak? Kenapa kamu duduk di situ?" ucap Ibu padaku.
Namun dengan tatapan kosong aku menjawab.
"Dewi kangen ayah bu, kenapa ayah pergi meninggalkan kita secepat ini? Apa ayah sudah tidak menyayangi Dewi lagi bu? Apa ayah lelah dengan Dewi bu? Apa salah Dewi bu, sehingga Tuhan mengambil orang yang Dewi sayang secepat ini?" tangisku pecah mengucapkan kata demi kata.
Mendengar ucapanku tadi ibu meneteskan air mata dan langsung pergi meninggalkanku. Aku pun berlarian menuju kamar hanya untuk kembali bercerita pada dinding kamarku.
Dari dalam kamar aku mendengar suara bibi memanggilku.
"Dewi... Dewi... Cepat bersiap sayang, kita akan mengantarkan ayahmu ke peristirahatan terakhirnya,"
Aku tidak membalas perkataan bibi, aku masih terus berfikir mengenai pertanyaanku kepada ibu tadi dan kenapa ibu tidak menjawab pertanyaanku. Air mataku terus menetes tiada henti apalagi saat aku membuka pintu kamar dan tak melihat seorang pun tetangga yang datang melayat ke rumahku.
Padahal ayah adalah orang yang aktif mengikuti kegiatan sosial di tempat tinggalku. Namun aku sangat sedih saat kepergiannya tidak ada seorang pun warga yang ikut mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya. Yang ada hanya aku, ibu, pak RT, bibi dan keluarga terdekat kita saja. Teman-teman ayah pun hanya turut mengucapkan belasungkawa melalui telfon saja.
Meski begitu aku dan ibu memakluminya, karena ayah meninggal disebabkan oleh virus yang melanda bumi ini yakni virus covid-19.
Pasti kalian berfikir ayahku adalah salah satu orang yang tidak mematuhi protokol kesehatan bukan? Salah. Ayahku adalah orang yang sangat mematuhi protokol kesehatan. Ayah selalu mencuci tangan setelah melakukan aktivitas, dan menjaga jarak saat berada di kerumunan. Lantas kenapa ayah bisa terpapar covid?
Itu karena ayahku adalah seorang pemandu wisata yang hampir setiap harinya berjumpa turis dari dalam maupun luar negeri. Meskipun dilarang berpergian jauh, masih saja ada orang-orang yang tidak mengindahkan larangan itu.
Ayah mulai merasa tubuhnya tidak sehat setelah memandu turis dari luar negeri. Setelah itu kondisi ayah semakin memburuk dan harus dilarikan ke rumah sakit hingga meninggal dalam keadaan covid.
Aku kira aku yang sayang pada ayah, ternyata Tuhan lebih sayang pada ayah. Tuhan tidak ingin ayah tersiksa lebih jauh lagi karena penyakit ini.
Back to now.
Aku hanya bisa menangis mengingat kepergian ayahku kala itu. Sejak saat itu tidak ada uluran tangan yang aku dan ibu terima. Ibu harus berjuang sendirian untuk membiayai hidup kami dan menyekolahkanku.
Aku sempat bertanya pada ibu,
"Bu, Dewi mau lanjut kuliah boleh?"
Namun ibu tak menjawab, ibu mencari kesibukannya dan tak berniat meresponku. Di beberapa kesempatan ku tanyakan lagi hal yang sama, namun ibu menjawab mengenai pinjaman uang di bank yang sudah menunggak.
Tidak, aku tidak memaksakan ibu untuk membiayai kuliahku. Aku hanya ingin ibu mendengarkan ceritaku dan mengizinkanku bekerja untuk membiayai sekolahku.
Aku sempat berfikir untuk tidak memaksakan mimpiku dulu, kini aku hanya ingin sukses meski tidak menjadi seorang dokter. Aku berniat kuliah dan bekerja untuk membiayai sekolahku. Aku hanya butuh dukungan ibu.
Tapi sayangnya ibu tidak mengerti maksud ku dan selalu saja mematahkan semangatku.
Hari berlalu, pertanyaan yang sama selalu menghampiriku.
Beberapa orang juga ada yang memberikanku usulan untuk mengurus bantuan beasiswa sekolah. Bukan aku tidak mau mengurusnya, aku sudah pernah mengurusnya beberapa kali namun tidak membuahkan hasil.
Tidak ada bantuan pemerintah yang aku terima, mungkin itu karena banyak pejabat korup yang sudah memotong bantuan kepada rakyat kecil sepertiku.
Tapi hal itu tidak membuatku lemah. Aku terus mencari cara agar aku bisa melanjutkan sekolahku.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat dan ternyata usahaku belum cukup untuk mencapai mimpi besarku itu. Saat ini aku hanya bisa berterima kasih kepada waktu karena sudah memberiku rasa ragu, kecewa, bimbang dan menyesal sekaligus.
Haruskah aku mengakhiri hidupku? Jika aku pergi bagaimana dengan ibu? Tetapi mentalku sedang tidak baik-baik saja menerima semua dari orang-orang di sekitar. Apa yang harus aku lakukan? Ayah, bisakah kau menjemputku? Aku ingin beristirahat sebentar saja. Aku lelah.