Pagi itu begitu cerah, aku menunggu di pinggir jalan untuk mencegat angkot yang rutenya melalui Supermarket tempat aku bekerja.
Tadi, saat aku menelpon pacarku Mas Elang, dia bilang tidak bisa menjemput karena tiba-tiba di kantornya ada rapat dadakan dengan atasannya. Walaupun kecewa sedikit, namun Aku tidak manja. Aku segera menunggu angkot yang menuju arah kerjaku.
Butuh waktu 15 menit menunggu angkot, akhirnya datang juga. Aku segera menaiki angkot itu lalu menikmati lalu lalang jalanan yang mulai ramai.
Jam istirahat tiba, biasanya Aku bekal makanan dari rumah, namun karena tadi tidak dijemput pacarku, Aku sampai tidak keburu menyiapkan bekal. Akhirnya Aku jajan di samping Supermarket, yang berjajar tukang-tukang jualan makanan siap saji yang murah meriah sesuai kantong karyawan Supermarket.
Jam empat tiba, saatnya pulang. Biasanya tanpa ditelepon, Mas Elang sudah siap menjemput atau memberi tahu jika tidak bisa menjemput. Tapi sekarang dia benar-benar tidak ada kabar sama sekali. Aku mencoba nelpon, lama Aku tunggu namun tidak diangkat-angkat. Yang terakhir kalinya Aku mencoba telpon, namun sengaja dirijek. Aku kecewa lagi, seandainya tidak bisa, harusnya Mas Elang memberitahu.
Aku berjalan menuju halte yang jaraknya hanya 100 meter dari Supermarket tempat Aku bekerja. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Aku dikejutkan sebuah motor RX King yang tergelincir tepat di depanku. Aku terhenyak dengan jantung yang langsung deg-degan.
Pengemudi RX King itu bangkit dan mengangkat motornya, dia menatapku nyalang. Lalu mengumpatku.
"Jalannya yang benar dong jangan bikin orang gagal fokus!" umpatnya seraya berlalu.
Aku terdiam sejenak. Aku merasa tidak bersalah, tapi kenapa malah Aku yang disalahkan.
Benar-benar hari ini Aku merasa ketiban sial, entah kenapa dari sejak pagi dan pulang kerja, Aku merasa dilanda sedih.
Tiba di halte, Aku terduduk lemas seraya menunggu angkot yang akan mengantar menuju rumahku. Setengah jam, angkot yang ku cegat penuh semua. Wajar, sebab kepulanganku berbarengan dengan para karyawan lain.
Aku mendesah lelah. Hari ini benar-benar lelah dan penuh ujian bagiku.
Jam di tangan menunjukan pukul 17.00 sore. Ya ampun rupanya Aku sudah lama nunggu di halte.
Sambil berdoa, Aku berharap angkot yang di depan sana muat untuk Aku naiki. Aku segera melambai-lambai tanganku mencegat angkot itu.
Akhirnya, angkot yang Aku cegat berhenti. Sang sopir bilang bahwa di dalam muatan sudah penuh, jadi tidak muat. Aku bingung, sementara waktu makin sore. Sedangkan angkot yang jurusan ke arah rumahku, hanya beroperasi sampai pukul 18.00. Saat Aku diam berpikir, Pak Supir berkata.
"Ayo Neng, kalau mau, bergelantungan saja. Sebab angkot sudah mulai sepi, apalagi sebentar lagi jam 6 sore. Aku berpikir lama. Masa iya Aku naik angkot harus bergelantungan, sementara Aku memakai rok kerja?
Gimana Neng....?" ulang Pak Supir. Aku masih berpikir. "Kalau tidak mau ya tidak apa-apa, saya tidak memaksa," ujar Pak Supir seraya bersiap menjalankan angkotnya lagi.
"Tunggu Pak, saya naik saja. Maksud saya, saya mau bergelantungan," jawabku. Kalau tidak terpaksa tidak mungkin Aku menerima tawaran ini.
Untung saja, Aku menggunakan celana siot. Jadi seumpama rokku terbang, tidak akan kulit atau CDku terpampang nyata.
Sepanjang jalan angkot yang kulalui, Aku tidak lepas dari sorakan atau suitan bibir pengguna jalanan yang usil.
"Suit suwing... prikitiw... witwiw... " macam-macam bunyi siulan terlontar dari bibir-bibir jahil mereka yang melihat. Aku malu, namun mau gimana lagi. Aku tidak sanggup menatap mereka yang usil.
Rasanya angkot yang aku tumpangi sangat lambat berjalan, belum lagi dekat lampu merah terpaksa angkot berhenti dulu. Aku turun sejenak ke aspal sampai lampu kembali hijau.
Tiba-tiba ada pengamen menuju pintu angkot dan menggonjreng gitar sambil bernyanyi.
Satu menit kemudian lampu berubah hijau, lama banget lampu merah sampai 60 detik.
Aku segera naik angkot setelah para pengamen itu berhamburan ke tepi jalan.
Bersamaan dengan angkot yang mulai melaju, di belakang dan dipinggir kiri angkot ada beberapa mobil pribadi yang rupanya pengemudi mobil tersebut melihat ke arahku. Haduhhh bikin tengsin saja.
Mereka menyorakiku tanpa segan. Bahkan ada juga yang secara sengaja merekam aksi bergelantunganku sambil tertawa-tawa.
"Hahaha..... cantik-cantik tapi bergelantungan mirip yang di hutan," ejek yang di mobil Hondy Embrio.
"Awas dalamannya tersingkap, Pink apa merah marun?" ejek yang memakai mobil CeReVe. Ah macam-macamlah ejekannya.
"Keren nih.... buat konten KiuTub sama Tok Tok, hahahahah....., pasti viral," ujar mereka macam-macam.
untukAku begitu tengsin habis, rasanya lama banget sampai pinggir jalan dekat rumahku. Akhirnya jam 6 kurang 5 Aku sampai di tujuanku. Rasa pegal dan cape langsung menyerangku.
Aku langsung masuk ke dalam rumah tidak lupa mengucap salam. Namun kok sepi, kemana Ayah, Ibu dan Nadi adikku?
Aku segera memasuki kamarku dan menjatuhkan diri diatas dipan.
"Kriettt... " bunyi dipan menggema. Rasa lelah, ngantuk, dan pegal campur baur terasa. Sampai Aku merasa ngantuk, ingin rasanya memejamkan mata sejenak namun tiba-tiba kumandang Adzan menggema.
"Nada... baru pulang ya? segera mandi dan sholat Magrib," peringat Ibu. Aku segera beranjak ke 0 mandi dan bersih-bersih.
Setelah sholat Magrib, tiba-tiba lampu mati dan Aku tidak tahu kemana Ibu perginya? Tadi ada, sekarang entah kemana.
Aku, meraba-raba menuju lemari dengan maksud mencari lilin, namun tidak menemukan. Lalu Aku ke kamar ingat akan HPku. Bermaksud akan menyalakan senter HPku. Belum sampai Aku temukan HPku tiba-tiba terdengar suara sedikit berisik.
"Surprise....! Happy Birthday to you Nada Irama yang ke 21," bersamaan dengan itu tiba-tiba lampu menyala dan suasana terlihat meriah.
Nampak di sana Ibu, Ayah, Nadi adikku tersenyum bahagia melihat Aku terbengong-bengong tak percaya. Dan lebih terkejutnya lagi, tiba-tiba dari arah pintu luar muncul seseorang yang sejak tadi pagi tidak memberi kabar.
Mas Elang muncul dari pintu depan sambil menenteng kue ulang tahun dan sebuah buket bunga. Di belakangnya beriringan sahabat-sahabatku, Arin, Dara, Nela, dan Vita juga teman-teman Mas Elang. Aku menutup mulut dengan tangan rasa tak percaya. Rupanya lelaki yang sejak tadi menghilang tiada kabar ini, merencanakan surprise di hari ulang tahunku yang bahkan Aku sendiri lupa.
Mas Elang makin dekat padaku dan tersenyum manis, ohhh sangat tampan.
Tiba-tiba Nela dan Dara serta yang lainnya menarik Aku ke kamar dan menyuruhku mengganti baju tidur yang aku gunakan. Mereka preteli, lalu diganti dengan gaun selutut yang sangat indah dan elegan.
Giliran Nela, memberi make up tipis di wajah cantikku (kata orang-orang), sehingga wajahku terlihat lebih cantik dari biasanya. Arin memakaikanku high heel yang bling-bling senada dengan gaun warna hijau Sage yang Aku pakai.
"Waw www...sempurna...!" seru sahabat-sahabatku koor. Aku sejenak mematut diri di cermin, ya ampun benar kata mereka Aku nampak sangat cantik dari biasanya.
Senyumku merekah-rekah, hampir 15 menit Aku didandanin ke empat sahabatku. Dan hasilnya memuaskan. Aku dibawa keluar kamar dan disandingkan disisi Mas Elang. Alangkah berdebarnya jantungku berdekatan dengan Mas Elang pujaan hatiku.
Semua yang ada di ruangan itu bernyanyi lagu ulang tahun untukku, lalu saat memotong kue ulang tahun, kue pertama Aku berikan pada Ayah dan Ibu lalu Nadi adikku. Lantas potongan kedua, sesuai sorak sorai sahabat-sahabatku yang mengintruksi supaya potongan kedua diberikan pada Mas Elang.
Dengan malu-malu Aku menyuapkan kue ulang tahunku pada Mas Elang, dan tiba-tiba Mas Elang mencium keningku dan memelukku penuh kasih sayang. Lalu Mas Elang memberikan sebuah buket bunga Dahlia yang indah buatku. Indahnya, gumanku bahagia.
Tiba-tiba Mas Elang berjongkok seraya mengeluarkan kotak perhiasan berwarna merah dan berkata. "Nada Irama, maukah kamu menjadi istriku, untuk menemaniku sampai menua bersama, menjadi Ibu bagi anak-anak kita, menjadi makmumku sehidup sesurga!" ucap Mas Elang romantis.
Aku terharu dan bahagia sampai meneteskan air mata. Tidak kusangka, kesedihan yang sejak pagi kurasakan berakhir bahagia. Rupanya semua kejadian tadi tidak lepas campur tangan Mas Elang dan kawan-kawannya serta sahabat-sahabatku.
Aku tersenyum ke arah Mas Elang dan menatapnya dalam. Lelaki 25 tahun itu, telah membersamaiku selama setahun belakangan, dan kini dia melamarku dengan romantis.
"Terima, terima...," ucap teman-temanku menggema di ruangan tengah rumahku.
Aku menatap lekat wajah lelaki tampan itu, ada kesungguhan disana. Sehingga Aku Tak ragu berkata, "Aku menerima lamaranmu Mas Elang Perkasa." Ucapku lantang.
Mas Elang berdiri dan menciumku mesra, lalu membuka kotak perhiasannya dan menyematkan cincin di jari manisku. Alangkah bahagianya Aku saat ini, ternyata lelaki tampan di hadapanku sebentar lagi bakal benar-benar jadi imamku.
Rencananya pernikahan akan digelar sebulan lagi. Aku dan Mas Elang segera mempersiapkan semuanya perlahan-lahan. Sebulan kemudian, pernikahan kami berlangsung dan digelar dengan meriah. Semuapun berbahagia, terutaman Aku dan Mas Elang sebagai Raja dan Ratu sehari. Ciuman manis di bibirpun mendarat lama, bersamaan dengan buket bunga yang Aku lemparkan, dan bunganya jatuh tepat di tangan Dara sahabatku. Kami tertawa bahagia di hari pernikahanku. Mungkin besok giliranku menyaksikan pernikahan teman-temanku.