Begitu bangun tidur aku sadar telah bertransmigrasi kembali ke 10 tahun yang lalu ... uh, kalian tahu? Ini adalah pagi yang tidak ingin ku alami apalagi harus terulang lagi, pada awalnya.
Malam sebelumnya, aku ke apartemen Arifin -pacarku saat itu- bermaksus memberikan kejutan ulang tahunnya tapi malah aku yang dibuat terkejut, menemukan Arifin sedang asyik berduaan dengan wanita yang tidak kuketahui siapa.
"Gretta, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kau fikir," Arifin mencoba menahan langkahku.
"Tidak perlu dijelaskan. Kita putus!" Sahutku pada pria yang tanpa busana itu, pria yang selama ini kucintai dan berbagi banyak hal dengannya, hanya dengannya 3 tahun terakhir. Aku tidak sudi memyaksikan Arifin juga berbagi aktivitas intim yang semula kukira hanya dilakukannya denganku. Cih, menjijikkan.
Segera kulajukan mobilku menuju pantai, ya ... aku butuh tempat untuk meluapkan emosiku.
"Arifin brengsseeeeeek!" Umpatku berulang kali. Ya, ya ... kemudian aku merasa tenang, sakit hatiku terbang bersama angin pantai yang begitu keras menerpa rambutku beserta deburan ombak yang sesekali membasahi kakiku.
Puas, lega. Aku pun kembali ke mobilku, mengatur posisi yang enak untukku terlelap.
Pagi hari aku terbnagun saat mentari dengan hangatnya menyentuh wajahku. Aku mencari warung dan membeli air panas. Patah hati pun perlu energi, bukan? Haha ... aku menikmati secangkir kopi hitam bersama sebilah rokok sambil menatap mentari yang merangkak malu-malu dibalik bukit itu.
"Hei, bisa tolong fotokan?" Pintaku pada seorang pria yang berjalan mendekati mobilku. Lalu aku mengatur angle yang pas. Wajahku yang menatap bukit, tampak bersinar terkena bias mentari pagi, kopi dan rokok yang mengepulkan asap putih tipis tidak lupa kuabadikan sebagai temanku pagi ini. Seseorang itu juga tidak keberatan saat aku memintanya mengambil fotoku secara candid saat aku bermain-main di bibir pantai.
"Perfect," gumamku atas karya lelaki itu yang tampaknya sangat berpengalaman mengambil bukti kebahagiaanku meski sebenarnya hatiku dalam keadaan hancur tak berbentuk.
Masih berada di pantai, aku memposting foto pertamaku pagi ini ke salah satu aplikasi berbagi foto dan video nomor 1 di dunia, Sunygram.
'Hanya berteman hangat mentari, sebatang rokok dan secangkir kopi. Tidak ada lagi hangat senyumu, yang pernah begitu memberiku harapan tapi kau hancurkan kemudian' -tulisku. Tidak lupa aku menyertakan hastag #imsinglehappy #perempuanbahagia #tolakbucin #pagipertamatanpamu dan menandai nama mantan pacarku saat itu @arifintanujaya, setelah beres, langsung kuposting.
Aku kembali memperhatikan foto-fotoku yang diambil secara candid oleh pria tadi, satu yang terbaik bagiku saat ombak hampir menggulungmu namun aku malah tertawa dan menampilkan barisan gigi mutiaraku. "Cantiknya," gumamku memuji diri sendiri.
"Bahagiamu tidak tergantung pada orang lain. Temukan bahagiamu sendiri dan kau akan tahu betapa kau layak bahagia meski tanpa dia," tulisku sebagai keterangan foto. Tidak lupa aku menyertakan hastag yang sama dengan sebelumnya dan menambahkan penanda, @arifintanujaya, lelaki penghancur hatiku saat itu.
Aku memang bersedih dan sempat merasa tidak berharga sebagai perempuan namun aku tahu, hidup terus berjalan.
Jika aku terus saja menari diatas luka hatiku seraya meratap, lantas bagaimana nasib 2 adik dan 2 anjing yang jadi tanggungjawabku?
Papa yang seharusnya bahunya kupinjam sebagai sandaran, sudah berpulang 1 tahun lalu menyusul mamaku yang sakit kanker kelenjar getah bening, 2 tahun sebelumnya. Kemana aku mengadu? Gak ada, gak ada selain pada Allah saja.
Sejak aku mulai pacaran, umur 17 tahun hingga saat itu 27 tahun, ada 7 kali menjalin hubungan dan harus putus cinta -entah aku yang mutusin ataupun diputusin- aku hanya memberi waktu 1 x 24 jam buat berduka. Lepas itu, aku kembali 'normal' dan tidak akan menyediakan tempat bagi sedih tak berujung, termasuk saat aku putus dengan Arifin, meski ini hubungan pacaran paling lama dan paling serius yang kualami, aku gak mau kasih pengecualian. Cukup 1 x 24 jam dan beres.
Di hari ke dua aku mengirim fotoku saat masih bersama Arifin yang sudah kurobek tengahnya, disertai keterangan : Lupakan pahitnya, jangan lupakan pelajarannya, terima kasih pernah jadi bagian hidupku ... i'm done with you, Arifin. Yang banyak mendapat komentar simpati, termasuk Arifin sendiri yang bilang menyesal dan ingin memperbaiki semuanya dari awal, haha ... tapi yang ada dia malah dibully. Bodo amat dah, saat kubilang 'done', ya selesai semuanya, semua akses tertutup gak celah buat CLBK.
***
Aku kembali menekuni pekerjaanku sebagai arsitek sambil terus menekuni hobi baruku mengirim sejumlah foto ataupun video tentang aktivitasku, entah tentang desain rumah, berkebun, memelihara anabul, memasak, travelling ... hingga tanpa kusadari ternyata followerku sudah lebih 1 M aja, tahu-tahu aku dapat penghasilan dari endorsement dan kemudian namaku jadi tenar sebagai salah satu selebgram ter-hits di tanah air.
Daebak! Tuhan memang maha asyik dan maha segalanya, bisa-bisanya Tuhan izinkan postingan 'patah hati'ku jadi menyentuh banyak hati remuk lainnya menjadi followers setiaku hingga sekarang dan dan yang lebih keren lagi, lelaki 'tukang' foto yang kemudian kuketahui bernama Giandra itu nge-DM setelah melihat fotoku yang di-take olehnya.
Giandra : Hai salam kenal, aku Giandra. Lelaki yang kamu minta ambilin foto pagi itu.
Aku : Oh, hai Giandra. Aku Gretta. Terima kasih, berkat bidikanmu, fotoku jadi keren banget.
Giandra : Biasa aja kali, kamu-nya emang keren, kok. Cantik dna apa adanya. Oh iya, aku mau nawarin kamu sesuatu, nih."
Aku : Apaan?
Giandra : Mau gak berbagi hidup denganku mulai sekarang dan kedepannya.
Aku : Gimana? Aku gak ngerti.
Giandra : Maaf, aku tahu gak sopan ngomong seserius ini via DM. Kamu, mau gak jadi istriku?
Aku : Hah, istri? Gila kamu.
Giandra : Haha. Iya, emang gila, kok. Sebenarnya aku masih sepupuan sama Arifin, aku sengaja mengikutimu setelah kamu pergi dari apartemennya malam itu, untuk memastikan kamu baik-baik aja. Gretta, aku sudah lama suka sama kamu, makanya aku senang saat tahu kamu udah putus sama Arifin.
Aku : Bisa beri aku waktu buat mikir gak?
Giandra : Boleh dong, 5 menit dari sekarang ya cantik.
Aku : Busyeeet.
Giandra : Asal kamu mau aja dulu, urusan lain-lain menyusul secepatnya.
Aku : Ok.
Giandra : Jadi jawabanmu adalah apa Gretta?
Aku : Lho ... ya, ok tadi itu.
Giandra : Haha ... ternyata kamu sama gilanya dengan aku.
***
Well, well ya begitulah ... putus cinta yang mengubah hidupku, dalam waktu singkat jadi selebram dapat cuan gedhe juga ... dapat suami hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan setelah kejadian itu.
Oh, what a wonderful world.