Lagi-lagi hujan.Entah kenapa akhir-akhir ini hujan sering turun.Dan Raina sangat membenci hal itu.Ia takut satu-persatu orang di dekatnya meninggalkannya saat hujan tiba.
Nama Raina di ambil dari kata 'Rain' yg berarti hujan.Ayahnya memberikannya nama itu karena ia lahir pada saat hujan.Bukan itu saja ayahnya berharap ia bisa menjadi manusia yg bermanfaat sama seperti hujan.
Tapi bagi Raina hujan adalah petaka.Dia lahir pada saat hujan,dan di hari itu pula dia kehilangan sosok ibu yg bahkan belum ia lihat sekali pun wajahnya.Di tahun yg berbeda, ayahnya meninggalkannya untuk selama-lamanya saat hujan turun dgn derasnya.Di saat itu Raina melihat dgn mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya tertabrak berlumuran darah saat menjemputnya pulang sekolah.
Dan 5 bulan lalu.Lagi-lagi Reina harus kehilangan sosok kakak yg selalu ada untuknya, sosok pelindungnya dan sosok yg selalu menyayanginya.Di malam saat hujan turun dgn derasnya, Gilang kakak kandungnya yg tdk tega melihat adik kecilnya kesakitan memutuskan untuk pergi ke apotek guna membeli obat berharap adik nya bisa segera sembuh.Raina mencoba mencegahnya tapi sayang Gilang terlalu keras kepala dan tetap pergi dan berjanji akan cepat pulang.
Ya..Gilang memang pulang.Tapi bukan pulang ke rumah mereka,dia pulang kepada Pencipta-Nya menyusul kedua orang tuanya yg sudah terlebih dulu di sana dan meninggalkannya sendirian di dunia yg penuh kekejaman ini.Raina terpuruk,dia menyalahkan dirinya sendiri.Jika bukan karena dirinya orang-orang yg di sayangnya tdk akan pergi selamanya.Mengapa dia harus lahir di dunia ini?Mungkin jika ia tidak lahir semuanya tidak akan begini.Ibunya tdk akan meninggal saat melahirkannya, ayahnya tdk akan tertabrak mobil saat menjemputnya pulang sekolah dan kakaknya tdk akan menjadi korban tabrak lari jika dia tidak sakit saat itu.Bahkan hingga kini pelaku tabrak lari Gilang belum di temukan.Raina menyalahkan dirinya sendiri.Dia berjanji akan menemukan pelaku tabrak lari itu bagaimana pun caranya.
Hufftt....
Raina menghela nafasnya.Saat ini dia sedang berada di panti asuhan bersama seseorang seorang lelaki yg baru saja di kenalnya beberapa waktu lalu bernama Langit.Laki-laki jarang bicara dan tak tertebak itu tiba-tiba membawanya ke panti asuhan sesaat setelah mereka selesai mengerjakan tugas kelompok mereka.
Raina sungguh terkejut dan tdk menyangka akan hal ini.Bagaimana bisa lelaki penyuka balap liar itu bisa begitu akrab dgn anak² di sini.Langit memang tdk banyak bicara tapi sorot matanya sangat tulus saat berinteraksi dgn anak-anak itu.
"Kau kedinginan ya nak?"Suara wanita paruh baya di belakangnya membuyarkan lamunan Raina.Raina berbalik dan tersenyum tipis pada wanita paruh baya yg merupakan pemilik panti asuhan ini.
"Engga kok...emm bu"Raina sedikit bingung harus memanggil apa pada wanita pemilik panti ini.
"Panggil saja Bunda Rita sama seperti Langit dan yg lainnya"Bunda Rita tersenyum tipis saat mengatakan itu.Dia lalu menyuruh Raina duduk di sampingnya dan menawarkan Raina teh.
"Nama mu siapa?" Tanya Bunda Rita seraya menatap lembut Raina.
"Raina"Raina sedikit tersenyum saat mengatakan itu.Kemudian pandangannya beralih pada langit yg sedang menggambar bersama anak-anak tidak jauh dari tempat Raina duduk.
"Pacarnya nak Langit ya?"
Raina kembali menatap Bunda Asih dgn raut terkejut."Eh bukan...saya teman sekelasnya doang,kebetulan ada tugas kelompok bareng Langit"Jawabnya dgn kikuk.
Bunda Asih mengangguk paham lalu kembali berbicara."Kamu tau nak?Kamu orang pertama yg di bawa Langit ke sini jadi Bunda pikir kamu pacarnya."
Raina diam bingung menjawab apa.Dia membiarkan Bunda Asih melanjutkan ceritanya.Sejujurnya dia tertarik mendengar cerita tentang Langit,karena laki-laki itu sungguh di luar dugaan.Di luar dia terlihat seperti laki-laki liar yg jarang berbicara tapi ternyata dia memiliki hati lembut yg jarang di tunjukkan pada siapapun.
"Nak Langit itu sebenarnya baik dia cuma gak bisa mengungkapkan isi hatinya.Dia bawa kamu kesini berarti bagi dia kamu adalah orang spesial"
"Bunda seneng liat kedekatan kalian.Tolong jaga Langit ya nak?Dia banyak menderita setelah kepergian mamanya.Papanya menikah lagi padahal Langit tidak ingin ibu baru."
"Emm...kalo boleh tau mamanya meninggal kenapa?"Raina sebenarnya ragu menanyakan hal itu tapi dia terlanjur ingin tahu tentang kehidupan Langit.
"Bunda gak tahu pastinya kenapa.Tapi yang jelas keluarga besarnya menyalahkan Langit atas kematian mamanya.Dia di kucilkan oleh keluarganya sendiri padahal saat itu Langit juga merasa amat kehilangan mamanya"
Raina ingin mendengarkan cerita lebih banyak tentang Langit lagi.Tapi lelaki itu keburu mengajaknya pulang.Karena terlalu lama mengobrol bersama Bunda Asih,Raina sampai tdk sadar jika hujan sudah reda.
"Hujan sudah reda,kita pulang sekarang"Usai mengatakan itu dia berpamitan pada Bunda Asih,mencium telapak tangan wanita itu dan memeluknya.
Tapi tampaknya anak-anak panti tdk merelakan kepergian keduanya.Mereka mengerubungi Raina dan Langit seolah tdk ingin mereka pergi.Langit berlutut menyamakan tingginya dgn anak-anak panti,dia menatap teduh mereka dan mengulas senyum manisnya yg jarang terlihat.Baru kali ini Raina melihat Langit tersenyum dan dia tampak lebih tampan saat tersenyum.
"Kakak harus pulang sekarang...ini sudah sore.Lihat kak Raina pasti sudah kelelahan sekarang" Ujar Langit penuh kelembutan pada anak-anak di sana.
"Tapi kak Langit dan kak Raina akan berkunjung ke sini lagi kan?"Tanya salah satu anak lelaki di sana.Dia tampak berumur 8 tahunan.
"Tentu saja.Jika ada waktu luang Kak Langit dan Kak Raina akan ke sini.Nanti kakak akan membawakan makanan yg banyak untuk kalian.Tapi kalian harus belajar yang giat dan dengarkan ucapan Bunda asih ya?!." Kali ini Raina yg menjawab.Anak-anak panti mengangguk mengerti mendengar ucapan Raina.
Selepas itu Langit dan Raina meninggalkan panti.Anak-anak tampak melambaikan tangannya saat motor yg dinaiki keduanya melesat.Jalanan nampak licin akibat bekas air hujan tapi Langit tetap melajukan motornya dgn kecepatan tinggi.Raina mau tak mau melingkarkan tangannya di perut Langit agar tidak terjatuh.Langit diam tidak bereaksi apa pun malah pria itu menurunkan kecepatan motornya seolah mengerti ketakutannya.
........
Dua Minggu berlalu dgn cepat.Raina kini lebih sering bertemu Langit.Tidak ada perubahan pada Langit,dia msih jarang bicara dan sulit tertebak.Mereka dalam perjalanan pulang dari panti asuhan tapi tiba-tiba turun hujan,untung lokasi mereka dekat dengan rumah Langit.Sehingga Langit membawa Raina ke rumahnya.
Raina duduk di ruang tamu.Sementara Langit sedang mengganti bajunya yg kebasahan di kamarnya.Raina sendiri tidak kebasahan karena dia memakai jaket milik Langit.
Namun yang di tunggu tak kunjung turun.Padahal Langit mengatakan akan cepat turun tapi kenapa sampai sekarang Langit belum turun?Apa terjadi sesuatu padanya?
Karena gelisah Raina memutuskan mencari Langit di lantai atas.Banyak sekali pintu di lantai itu.Raina melewati satu-persatu pintu berharap bisa menemukan kamar yang ia cari.
Langkah Raina terhenti di depan sebuah pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.Ada sedikit celah untuk bisa melihat ke dalam.Senyumnya terbit saat melihat Langit berada di kamar itu.Tapi dia tidak sendiri,dia bersama seorang pria paruh baya yang sepertinya adalah ayah Langit.
Raina tidak bermaksud menguping pembicaraan kedua lelaki berbeda usia itu.Tapi hati kecilnya seakan menyuruhnya untuk tetap di sana.Karena sepertinya ada sesuatu yang akan dia ketahui.
"Kenapa kau dekat dengan gadis itu?Jauhi dia"
"Memangnya kenapa?Kenapa ayah melarang ku?Aku nyaman saat bersamanya"
"Turuti ucapan ayah!Jauhi gadis itu sebelum dia mengetahui semuanya tentang malam itu"
"Memang kenapa jika dia mengetahui tentang malam itu?Itu memang tujuanku.Cepat atau lambat dia akan tahu semuanya tentang malam itu.Aku sendiri yang akan memberitahukannya padanya"
Plak
"Dasar bodoh!Ayah telah susah-susah melenyapkan semua bukti pada malam itu.Tapi kamu malah ingin mengatakannya pada gadis itu jika kamu yang telah menewaskan kakaknya hah?"
Jantung Raina berdetak lebih kencang saat mendengar ucapan ayah Langit.Tidak mungkin!Dia pasti salah dengar kan?
"Aku tidak pernah meminta ayah untuk melakukan itu.Malah sebaliknya aku ingin menebus kesalahanku dengan menyerahkan diriku pada pihak kepolisian tapi ayah selalu menghalangiku"
"Dimana otak mu hah?Kau ingin hidup di balik jerusi besi di banding tinggal di rumah ini"
"Setidaknya itu lebih baik dari pada tinggal ini bersama orang egois yang tidak pernah menghargai siapapun.Termasuk istri dan putra kandungnya sendiri"
"Kau sangat naif Langit.Apa kau pikir gadis itu akan memaafkan orang yang telah membunuh kakaknya? Sebaliknya dia pasti akan sangat membencimu"
Raina tidak bisa mendengar ini lebih lanjut lagi.Semuanya sudah jelas jika Langit adalah pelaku korban tabrak lari kakaknya.Kenapa harus Langit?Kenapa harus dia?Dia sungguh tidak menyangka orang yang selama ini dia cari ternyata ada di sampingnya.
Raina merasa dibohongi,dadanya terasa sakit.Air mata bahkan sudah turun membasahi pipinya.Tanpa peduli hujan yang mengguyur,Raina berlari menerjang hujan.Naas Langit yang menyadarinya langsung mengejarnya.
"Raina tunggu!"Langit berteriak memanggil namanya.Tapi Raina tidak berhenti.Dia semakin mempercepat laju larinya di kala jarak dirinya dan Langit sudah semakin menipis.Sayangnya Raina tidak bisa lari secepat itu.Langit berhasil menangkapnya dan memeluknya erat.
Raina mencoba melepaskan dirinya dari jerat Langit tapi gagal karena Langit yang tidak memberinya cela untuk lepas.
"Lepaskan aku!"
"Maaf"
Perkataan Langit membuat tangisan Raina semakin pecah.Dia memukul dada Langit dengan membabi buta.
"Kau jahat!Kenapa harus kamu Langit?kenapa harus kamu?"
"Maafkan aku...malam itu aku tidak sengaja."
"Kau tau?tidak pernah terbayang olehku jika pelaku tabrak lari yang aku cari selama ini ternyata ada di sisiku.Dia bahkan hidup tenang seolah tidak pernah melakukan kesalahan."
"Maaf.Aku pernah mencoba menyerahkan diriku kepada pihak kepolisian tapi ayahku selalu menghalangiku"Langit memang beberapa kali mencoba menyerahkan dirinya sendiri pada pihak kepolisian tapi ayahnya selalu menghalanginya karena tidak mau nama perusahaannya tercoreng akibat putranya yang masuk penjara.
"Berhenti lah meminta maaf!Kamu pikir dengan maaf kakakku akan kembali?"
"Aku tau aku salah..aku lalai pada malam itu.Tapi sungguh aku berniat akan mengatakan semuanya padamu.Aku bahkan siap jika kau akan melaporkan ku sekarang"
"Kau pikir aku percaya ucapanmu?Tidak lagi Langit.Pergilah jangan pernah temui aku lagi.Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.Aku membenci mu.
"Tidak Ran,aku tidak ingin pergi.Kau boleh membenciku tapi jangan pernah meninggalkanku"
"Baiklah jika kau tidak ingin pergi biarkan aku yang pergi"
Langit ingin mengejar Raina tapi ancaman dari Raina membuatnya mengurungkan niatnya.Dia jatuh terduduk dan hanya bisa menatap Raina yang hilang di balik guyuran hujan.
Hujan saat ini menjadi saksi bagaimana Langit harus kehilangan Raina.Saksi bagaimana luka Raina yang bahkan belum sembuh harus kembali terbuka.Lagi-lagi di saat hujan.Raina tidak ingin menyalahkan hujan tapi kenapa lukanya selalu turun saat hujan tiba?