"Hei bangun! Apa kau tidak capek tidur terus?"
Aku mendengar suara seorang pria, suara itu terdengar begitu jelas tapi sangatlah tidak familiar. Perlahan aku membuka mataku, dan aku melihat ada sesosok pria berdiri di hadapanku,dia berwajah tampan tapi terlihat jauh lebih tua dariku, yang membuatku lebih terkejut lagi...dia memiliki sepasang sayap di punggungnya. Sayap berbulu hitam pekat dan sangat kontras dengan kulitnya yang putih dan sehalus salju.
"Siapa?"
Setengah sadar aku bertanya padanya, tubuhku terasa begitu lemah sampai aku tidak sanggup untuk bangkit apalagi lari meskipun sebenarnya aku ketakutan saat ini.
"Aku datang untuk menjemputmu, waktumu sudah hampir habis, tapi karena kau gadis yang baik, aku akan mewujudkan satu permohonan terakhir mu, jadi cepat katakan apa yang paling ingin kau lakukan di sisa hidupmu?"
Pria bersayap itu tersenyum menyeringai sambil melipat kedua tangannya di dada, dia terlihat begitu bangga dengan dirinya sendiri.
"Heh? Apa yang... bukannya aku sedang dalam perjalanan pulang? Aku sedang duduk di dalam bus dan tertidur....dan.... kenapa sekarang aku ada disini?"
Bingung, heran dan aneh rasanya, aku memutar ingatanku dan yang muncul paling akhir hanya itu, aku tidak ingat apa-apa lagi, kenapa aku bisa berakhir disini? Dan ruangan apa ini? Sebuah kamar yang hanya berisi satu tempat tidur yang kini sedang aku tempati, tidak ada apapun di sekeliling ruangan ini, cat nya pun berwarna putih sangat putih tanpa ada noda sedikitpun, didalam ruangan ini hanya ada aku dan Si pria bersayap hitam.
"Tentu kau tidak akan ingat, bus yang kau tumpangi mengalami kecelakaan, dan kau langsung mengalami koma, dan...itu terjadi sudah tiga tahun yang lalu, sekarang waktumu sudah hampir habis."
Penjelasan dari Si Pria Bersayap itu membuat ku seakan terkena sengatan listrik, tubuhku mengejang, kaku, otakku tidak mampu mencerna apa yang dibicarakannya, omong kosong apa yang sedang diucapkannya? Aku koma? Dan itu sudah terjadi tiga tahun yang lalu? Aku baru selesai mengerjakan ujian akhir tahun waktu itu dan aku langsung pulang ke rumah, karena lelah aku tertidur di dalam bus, dan setelah itu....aku terbangun disini.
"Apa yang kau bicarakan itu benar? Jika iya, jelaskan tempat apa ini? Kemana orang tua ku? Jika itu memang sudah terjadi tiga tahun lalu,maka sekarang usiaku sudah 18 tahun?"
Aku memperhatikan sekujur tubuhku, tidak banyak perubahan selain rambutku yang kini panjangnya sudah melewati pinggang, aku tidak pernah memanjangkan rambutku sampai melewati bahu dan kini rambutku sudah sepanjang ini.
"Renata kau koma karena kecelakaan bus saat kau berusia 15 tahun, dan kini usiamu sudah 18 tahun, tempat ini adalah alam perbatasan antara dunia nyata dan alam baka, intinya kau sedang berada di alam bawah sadarmu sekarang, aku adalah malaikat maut yang diutus untuk menjemputmu, tapi karena kau gadis yang baik...aku diberi tugas lain untuk mewujudkan 1 permohonan terakhirmu."
Aku hanya terdiam mendengar penjelasan sang malaikat maut, "Renata" ya itu namaku, kenapa terasa begitu lama aku tidak mendengar seseorang memanggil namaku itu.
"Jadi ini semua bukan hanya sekedar mimpi? Aku baru selesai ujian sekolah menengah pertama dan baru akan masuk sekolah menengah atas, dan kau bilang waktuku sebentar lagi itu berarti aku akan mati bahkan sebelum aku merasakan rasanya sekolah di SMA? Tanpa mengenal teman-teman baru? Tanpa tahu rasanya berkencan?"
Aku sangat bersemangat untuk masuk sekolah menengah atas favoritku, aku sudah membeli seragamnya bersama ibuku dan sudah membayangkan akan bertemu teman-teman baru disana, dan juga sudah bertekad untuk mendapatkan pacar di SMA, tapi kini semua impian ku seakan akan hanyalah ilusi.
"Baiklah, aku anggap itu sebagai permintaan terakhirmu, aku akan mewujudkannya jadi sekarang bersiaplah untuk bangun dan lakukanlah apa yang ingin kau lakukan tanpa ada penyesalan lagi nanti, dan satu lagi, waktumu yang tersisa hanyalah satu bulan."
"Apa? Tu-tunggu dulu Paman Malaikat kenapa mendadak sekali, se-"
"Ssssstttttt"
Tanpa sempat menyelesaikan kalimatku tiba-tiba tubuhku terapung, di atap tiba-tiba muncul sebuah lubang hitam yang bersiap untuk menyedotku.
"Jangan banyak membuang waktumu, ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan untukmu agar kau bisa menjalani kehidupan yang kau inginkan sebelum kau mati, dan siapa yang kau panggil paman hah? Usiaku baru 1000 tahun, panggil aku Kakak!"
"O-oke Kakak!"
Tanpa aba-aba tubuhku langsung terhisap kedalam lubang hitam itu dan semuanya pun menjadi gelap.
.
.
.
.
.
"Nataaaaaa, bangun nak! Kau bisa kesiangan nanti"
Ibu..aku mendengar suaranya,suara teriakannya yang biasa kudengar setiap pagi untuk membangunkanku.
Aku membuka mataku dan kini sebuah ruangan yang sudah tak asing yang aku lihat, aku berada di kamarku, aku meraba rambutku dan aku terkejut karena panjangnya hanya sebatas pundak... seperti biasa. Aku bangun setengah meloncat dari tempat tidur dan langsung menatap wajahku dicermin. Masih wajah yang biasa aku lihat, tidak banyak perubahan kecuali kini ada kesan dewasa yang terlihat dari wajah itu, aku mengedarkan pandanganku dan berhenti pada sebuah kalender kecil yang menggantung di dinding kamarku. Juni 2022, tiga tahun sungguh telah berlalu begitu saja. Aku hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan ini, ucapan terakhir paman malaikat itu masih terdengar jelas.
"Baiklah tidak ada waktu untuk mengeluh, hanya 1 bulan...."
Aku pergi mandi, memakai seragam sekolah menengah atas favoritku yang sudah kubeli waktu itu,dan sarapan bersama kedua orang tuaku. Beruntung aku tidak tersedak saat makan, karena aku mencoba menahan air mataku agar tidak jatuh sambil mengunyah makananku, Ayah dan Ibu.... rasanya lama sekali aku baru melihat mereka lagi, aku sangat merindukan mereka tapi akan terasa aneh jika tiba-tiba aku menangis sambil memeluk mereka, jadi aku hanya bisa menahannya sendiri.
Sesampainya disekolah aku terkejut dengan satu fakta lagi, aku sudah berada dikelas 3 dan ini adalah akhir semester, sebentar lagi aku akan mengikuti ujian akhir dan setelah itu kelulusan, tepat 1 bulan dari sekarang.
"MATATAAAAA"
Seorang pria berteriak dari dalam kelas sambil melihat ke arahku yang baru saja sampai di pintu masuk. Anehnya aku merasa familiar dengan sekolah ini, aku tahu kelasku berada dikelas apa, dimana tempat dudukku, bahkan murid murid yang ada sekelas denganku,aku mengenal mereka....dan pria yang berteriak itu adalah salah satu teman dekatku, Aidan.
Aku melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum memasuki ruangan menuju tempat dudukku yang berbeda didepannya.
"Ada apa dengan wajahmu heh? kau sakit?"
Seperti biasa dia bisa melihat perbedaan raut sekecil apapun dari wajahku.
"Aku masih sehat, hanya kurang tidur." Jawabku sekenanya.
"Kau kurang tidur? Carilah alasan yang lebih logis, kau itu tukang tidur jadi sangat tidak mungkin kalau kau kurang tidur, cepat katakan kau kenapa?"
Yang benar saja, kenapa dia bisa sepeka ini, alasan apa yang harus aku katakan, haruskah aku bilang kalau waktuku didunia ini hanya tinggal 1 bulan lagi? Yang ada dia hanya akan semakin khawatir atau mungkin marah padaku karena dianggap bercanda kelewatan.
"Aku baik baik saja ok, biasalah masalah wanita, kau tahu mood ku kalau sedang pms kan?"
"Oh-"
Sukses, dia tidak bisa mendebat. Seperti biasa alasan itu selalu berhasil membungkamnya. Sampai datang teman sebangkuku dan merusak semuanya.
"Kau sedang pms? bukannya jadwal kita sama? kita kan baru selesai minggu depan, masa sudah datang lagi?"
Levina, teman sebangkuku yang bermulut cablak dengan tingkat kemesuman tingkat tingginya itu membuatku kehabisan kata. Aku menatapnya dengan tatapan tajam seakan ingin menerkamnya, Sialan.
"Ups- Sorry"
Dia menutup mulutnya yang setengah tersenyum itu dengan jari tangannya, seakan sadar bahwa dia sudah salah berbicara dan tidak seharusnya "membongkar rahasia".
"Matata!!"
Dan tatapan yang sama seperti yang kulakukan pada Levina ditujukan oleh Aidan kepadaku.
"Ha- haha... serius tidak apa-apa, aku cuma...cuma...cuma... kehabisan uang jajan untuk membeli kosmetik"
Alasan macam apa itu!! Ah entahlah yang penting aku bisa memberikan sebuah alasan atau dia akan terus menterorku untuk memberitahunya.
"Ok,katakan padaku jika kau butuh bantuan ku."
Eh, diluar dugaan,Aidan ternyata mau begitu saja percaya dengan alasanku, atau mungkin lebih tepatnya dia tidak mau memaksa ku dan memutuskan untuk menunggu ku mengatakannya sendiri.
"Aku salah ngomong ya Ren?"
Levina berbisik pelan di telingaku, aku menoleh kearahnya dan tersenyum sinis sambil menepuk pundaknya.
"Kau hanya...tidak peka nak"
"Ehehehe, lagian kau kenapa sih? gak biasanya kelihatan gak semangat kaya gini."
"Aku hanyalah manusia biasa~~"
Mendengar jawabanku yang lebih terdengar seperti senandung itu membuat Levina hanya memutar bola matanya mengisyaratkan kata "terserahlah".
Tak berselang lama seorang pria tampan memasuki kelas, badannya tinggi dan gagah dengan raut muka yang terkesan cool. Dia melihat kearah ku, senyum tipis tersirat di bibirnya, dia melangkah masuk melewati meja ku dan duduk tepat dibelakang ku di samping Adian.
"Morning babe"Bibirku Secara otomatis mengucapkan kalimat itu saat aku melihatnya.
"Morning" Dan sudah terasa biasa juga aku mendengar jawaban yang singkat darinya.
Keenan, bisa dibilang dia adalah pacarku, kenapa aku terdengar tidak yakin saat aku memanggilnya pacarku? Sebelumnya kami pernah pacaran secara resmi tapi kemudian memutuskan untuk putus dengan alasan yang tak jelas, seiring berjalannya waktu kami sadar kalau kami masih saling suka, dan beginilah akhirnya, kami bersama layaknya orang pacaran tapi saat orang lain bertanya apa kami pacaran, kami tidak menjawabnya, lebih nyaman seperti ini, sebuah hubungan tanpa adanya kata putus karena memang tidak ada awal mulanya, seperti itulah yang ada di memori otakku sekarang.
"Pasangan aneh" Gerutu Levina yang duduk di sampingku.
.
.
.
.
Waktu berlalu, pelajaran di kelas sudah usai dan waktu istirahat pun tiba, jujur aku sangat menyukai teman teman sekelasku, mereka semua sangat menyenangkan dan penuh dengan canda tawa, aku menatap wajah mereka satu persatu, teman teman berhargaku,aku tak menyangka waktuku bersama mereka tidaklah lama lagi.
Saat aku sedang asyik mendengarkan celotehan salah satu temanku tiba-tiba ada 3 orang siswa dari kelas lain yang mendobrak pintu kelas sambil berteriak.
"Senpaiiiii"
"Zenpaiiiii"
"Renananana"
Tiga orang itu adalah Leon,Hori dan Scarlet, mereka merupakan anggota kelas ekstra kulikuler yang kami ikuti disekolah dan aku lah ketuanya.
"Apa kalian tidak bisa masuk dengan damai? Ada apa? Kenapa teriak teriak?"
"Leon mengeluarkan beberapa anggota baru kita, padahal aku sudah capek-capek membujuk mereka untuk bergabung" Ucap Hori dengan nada penuh emosi.
"Betul betul betul, aku dan Hori capek-capek merekrut anak dari angkatan baru agar mau bergabung dengan ekskul kita, tapi Leonana seenaknya saja menolak mereka" Tambah Scarlett yang tak kalah emosi.
"Itu karena yang kalian rekrut itu orang orang payah, cari anggota itu yang IQ nya minimal 100" Ucap Leon sambil mengacungkan kesepuluh jarinya.
"Helloooo IQ you sendiri berapa hah?"
"Yuh yuh sok sok an nyari yang IQ nya minimal 100 sendirinya..."
Leon hanya bisa cemberut mendengar sindiran dari Hori dan Scarlett, sebelum emosi mereka meledak,aku putuskan untuk turun tangan.
"Ok ok cukup, Le atas dasar apa kau menolak mereka?"
"Senpai mereka gak ada yang becus menjawab kuisioner yang aku kasih"
"Apa isi kuisioner nya?"
"20 pertanyaan tentang apa apa saja yang merupakan favoritku." Jawab Leon dengan bangga dan tentu saja membuat semua yang mendengarnya di kelas hanya bisa melongo bahkan tidak sedikit yang tidak bisa menahan tawanya.
"Zenpai lihat sendiri kan? IQ nya sendiri dibawah rata-rata" *Hori*
"Owenjiiii" *Scar*
Sedangkan aku hanya bisa memijat kepalaku dan mendesah pasrah.
"Haaa...kau ini, temui lagi mereka dan tugasmu untuk membujuk mereka bergabung kembali, sekian dan terimakasih sekarang kalian bubar sebelum kepalaku meledak."
"BAHAHA ok Renana,aku dan Hori akan pastikan Leona mengerjakan tugasnya dengan baik, bye muah"
"Bye Zenpai."
"Tu-tunggu Senpai ini tidak adil, kenapa hanya aku?"
Hori dan Scarlett menyeret Leon yang masih menggerutu keluar kelas, dan aku hanya melambaikan tanganku mengiringi kepergian mereka.
.
.
.
.
.
Satu hari yang melelahkan di sekolah pun berlalu, waktunya pulang ke rumah,dan diluar kelas Keenan sudah menungguku.
"Honneehhh" Aku berlari kearahnya dan disambut senyuman tipisnya yang selalu sanggup membuat hatiku meleleh.
"Ayo pulang" Kami berjalan beriringan melewati koridor, disepanjang perjalanan aku berceloteh tentang banyak hal, dan hanya ditanggapi oleh kata kata singkat darinya, meskipun secara logika aku baru bertemu dengannya hari ini, tapi otak,tubuh bahkan hatiku seakan sudah terbiasa dengannya, dia memang terkesan dingin tapi sebenarnya dia pria yang perhatian,dia hanya tipikal orang yang tidak terbiasa berbicara banyak.
Ditengah perjalanan kami berpapasan dengan 2 teman Keenan yang pernah sekelas dengannya saat dikelas 2, dan tentunya aku juga akrab dengan mereka.
"Yo Keenan,Renata, kalian sudah mau pulang?"
"Kelihatannya?"
Pertanyaan Penélope hanya menghasilkan pertanyaan lain untuknya.
"Miss.Pen kau seharusnya bertanya padaku jika ingin mendapatkan jawaban yang lebih akurat."
Aku memandang Penelope dengan pandangan prihatin yang di buat-buat.
"Miss.Ren, lebih baik kau siapkan otakmu untuk ku goreng saja ya."
"Kau masih terobsesi dengan otakku? Miss.Pen Otakku sudah dicuri oleh Moon lebih baik kau goreng miliknya saja." Tunjukku pada seorang gadis yang berdiri di samping Penelope.
"Huh? Sorry aku gak tertarik sama otakmu ya, lebih baik aku menjual ginjalmu kalau nanti aku butuh uang."
Ucap Luna tapi aku dan yang lain terbiasa memanggilnya Moon, pembicaraan kami memang sedikit terkesan kasar atau terlihat seperti sedang bertengkar, tapi sebenarnya tidak, beginilah candaan kami, Pen ingin menjual otakku karena dia bilang aku pintar, sedangkan Moon ingin menjual ginjalku jika dia kehabisan uang atau sedang terpepet karena dia sangat terobsesi dengan kata kaya.
"Apa yang tersisa dari tubuhku kalau kalian jual hah? bahkan hatiku pun sudah ada yang mencuri"
"Kau memberikannya padaku,aku tidak mencurinya" Keenan membuat pernyataan itu karena dia tahu kalau yang dimaksud sebagai pencuri hati adalah dirinya.
Aku tersenyum dan berkata padanya "Tolong dijaga baik-baik ya!"
Keenan tidak menjawab,dia hanya melirik ke arahku dengan wajah datarnya.
"Blah, Penny ayo kita juga pulang atau kita bakal jadi nyamuk disini"
Moon menarik tangan Penelope dan mereka pun pergi meninggalkan aku dan Keenan.
"Apa?" Tanya Keenan yang melihatku seakan ingin mengucapkan sesuatu.
"Tidak, ayo kita juga pulang."
"Ok"
Kami berdua melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda oleh dua penjual organ tadi, tapi kini Keenan menggenggam tanganku disepanjang perjalanan, rasanya sangat hangat membuatku tidak mau melepaskan pegangannya.
.
.
.
.
.
Waktu tidak terasa berlalu dengan cepat, aku melewati hari hari ku dengan semaksimal mungkin, aku penuhi hari hariku dengan lebih banyak menghabiskan waktu bersama kedua orang tua ku, tertawa dan bersenda gurau dengan teman-temanku, dan setiap hari aku dan Keenan semakin dekat, bahkan terkadang dia juga ikut memanggilku dengan kata babe atau sejenisnya.
Tapi hari ini adalah hari terakhirku, bertepatan dengan acara kelulusan disekolahku.Masih ada satu orang lagi yang merupakan salah satu teman terdekatku, dia merupakan ketua OSIS dan cukup sibuk sehingga kami jarang bicara, dan sekarang kami sedang berbicara melalui telepon.
"Moomm aku punya pacar sekarang."
Ucap Jun setengah berteriak ditelepon, kami memerankan ibu dan anak karena sifatku yang terkesan lebih dewasa.
"Waaahhh selamat Son, siapa pacarmu,apa aku mengenalnya?"
"Yaa kau kenal tapi tidak begitu akrab sepertinya, lagipula ini hanya untuk bersenang-senang saja karena dia orangnya menyenangkan."
"Oohh ok ok, semoga dia bisa membuatmu senang terus sampai kau tidak mau melepaskannya haha."
"Haish terserahlah, kau sudah pergi ke sekolah? Jangan lupa nanti pulang sekolah kita ke studio foto dulu buat foto kenangan"
"Sebentar lagi aku berangkat, ok ok sampai jumpa disekolah."
Percakapan kami pun selesai dan aku bergegas pergi ke sekolah untuk menghadiri acara kelulusan. Sesampainya di sekolah teman-temanku sudah berkumpul dan sedang berselfie ria.
"Reennn."
"Senpaaiii."
"Zenpaaiii."
"Renananan."
"Matataaa."
Mereka hampir secara bersamaan memanggilku, dengan langkah ceria aku berjalan menghampiri mereka dan ikut berselfie bersama mereka, ditengah canda tawa kami, aku melihat sosok yang tak asing yang tidak mungkin aku lupakan meskipun kami hanya bertemu sekali.
"Paman Malaikat"
Dia melambaikan tangannya ke arahku,akupun pamit sebentar dari tempat teman-temanku berkumpul dan pergi kearahnya.
"Waktumu sudah habis!"
Jantungku seakan copot, kakiku mendadak mati rasa dan air mata tidak terasa mengalir dari mataku.
"Secepat inikah?"
"Ya, sudah tepat 1 bulan dari waktu yang aku janjikan, mmm masih kurang sepuluh menit lagi sepertinya."
"Tunggu,ada satu hal yang ingin aku lakukan."
"Ok, waktumu sepuluh menit lagi dari sekarang."
Aku langsung bergegas berlari sambil mataku mencari sosok yang ingin aku temui untuk terakhir kalinya, untungnya dia berdiri sendirian tidak jauh dari tempatku berada.
"Keenan"
"Renata, kenapa kau lari-lari?"
"Keenan.." Aku mengambil bunga kelulusan dari tangannya sambil setengah berjongkok aku mengarahkan bunga itu kehadapannya dan berkata.
"Will you marry me?"
"No."
Tanpa basa-basi dia menolak ku begitu saja.
"Haish tidak bisakah kau sedikit romantis dan berpura pura menerima lamaranku? Setidaknya aku ingin merasakan yang namanya lamaran." Setengah menghentak aku berdiri dari posisi jongkokku dan mengembalikan bunganya ketangan Keenan.
Keenan hanya tertawa geli dan sambil menarikku kedalam pelukannya dia berkata.
"Tunggu sampai aku punya pekerjaan dan bisa menghidupimu, biarkan aku yang melamar mu nanti."
Aku tidak sanggup berkata apapun, aku hanya mengeratkan pelukanku di pinggangnya,dan membisikkan satu kalimat.
"I love you"
"Ya aku tahu"
"Ya aku tahu kalau kau tahu."
"Ya aku tahu kalau kau tahu kalau aku juga tahu."
hahaha tawa kami pun pecah.
"Kiss me babe."
"Dengan senang hati."
Keenan meraup pipiku dan menempelkan bibir lembutnya di bibirku, kami berciuman... cukup lama dan dalam.
Air mataku meleleh, hatiku serasa tercabik,dan tiba-tiba aku tidak lagi merasakan bibir Keenan, dan saat kubuka mataku aku sudah berada ditempat dimana aku bertemu dengan Paman Malaikat tadi.
"Sudah saatnya kah?" Tanyaku pada Paman Malaikat.
"Ya..mari kita pergi sekarang."
"Paman boleh aku bertanya?"
"Panggil aku Kakak, dan ya apa yang ingin kau tanyakan."
"Apa mereka akan mengingatku?"
"Tidak, kau hanya selingan tidak nyata di kehidupan mereka, tujuannya hanyalah agar kau mendapat kenangan semasa SMA kan dan kau sudah mendapatkannya, kehidupanmu tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan mereka, jadi setelah kau pergi, mereka akan melupakanmu."
Oh kenapa terdengar begitu menyedihkan, tapi aku rasa itu memanglah yang terbaik.
"Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi ayo kita pergi."
Paman Malaikat itu membuat sebuah lubang dimensi dan kemudian berjalan kearahnya.
"Paman satu pertanyaan lagi."
Aku berjalan mengikutinya dari belakang, dan ikut memasuki lubang dimensi itu.
"Siapa nama Paman?"
"Sudah kubilang panggil aku kakak, dan namaku adalah....."
THE END