Sebagai pendatang, aku belum hafal tentang kota ini. Karena aku berada di sini untuk ikut orang tuaku yang berpindah tugas ke kota ini.
Kata orang tuaku, saat ini adalah waktu yang tepat untuk ikut pindah bersama mereka, karena saat itu aku baru saja diterima di salah satu kampus yang berada di kota itu.
Setiap hari aku pulang pergi kuliah selalu menggunakan angkutan umum.
Sampai suatu hari ada tugas kelompok yang beranggotakan 6 orang. Setiap mengerjakan tugas kami selalu pergi bersama dengan menggunakan motor dan berboncengan. Aku adalah salah satu anggota mereka yang tidak bisa mengendarai motor.
Setelah dibagi pasangan, aku berboncengan dengan Ardi. Setelah tugas kelompok selesai, Ardi masih mengantar jemput aku dari rumah ke kampus. Karena Ardi sering muncul di rumahku, dia menjadi dekat dengan keluargaku.
Dia orang yang baik, mudah bergaul dengan segala umur, wawasannya luas, memiliki sopan santun, dan tidak terlalu banyak bicara. Semua orang senang bergaul dengannya termasuk aku.
Bahkan tidak hanya urusan kampus, karena aku belum hafal jalan, dia juga sering bersedia mengantarku ke mana saja. Hubungan kami menjadi semakin dekat, sampai akhirnya kami sepakat untuk berpacaran.
Dia sering membawakan aneka makanan ke rumahku untuk dimakan bersama keluargaku. Sehingga ayahku mulai merestui hubungan kami.
“Pak, Ardi mau minta izin membawa Dita untuk Ardi perkenalkan kepada kedua orang tua Ardi. Boleh pak?” Tanya Ardi kepada ayah.
“Loh , kalian sudah saling mengenal selama 2 tahun, dan sudah 1 tahun pacaran. Memangnya Dita belum kenal orang tuamu?” tanya ayah.
“Sudah, Pak. Maksudnya Ardi memperkenalkan Dita ke orang tua dengan bertemu langsung. Karena selama ini hanya tahu lewat telepon.” Sahut Ardi malu-malu. Ayah mengangguk mengerti.
“Baiklah. Sewaktu-waktu bapak juga ingin berkenalan dengan orang tuamu. Kamu anak yang baik, orang tuamu pasti juga baik. Siapa nama orang tuamu?” tanya ayah kepada Ardi.
“mmm... Artha Wiguna, pak. " jawab Ardi agak ragu-ragu.
Ayahku mengerutkan dahinya. Biasanya jika ayah bereaksi seperti itu, pasti ayah pernah kenal atau pernah dengar namanya. Lalu kulihat ayah mengangguk-angguk.
Ah, lega rasanya. Artinya ayah tidak ada masalah dengan hal tersebut.
"Kapan Dita mau diperkenalkan?" Tanya ayah lagi.
"Jika bapak Izinkan, Ardi akan membawa Dita malam ini, untuk makan malam bersama dengan orang tua Ardi." sahut Ardi, pacarku.
Dag dig dug rasanya perasaanku ketika dia bicara seperti itu. Padahal dia cuma minta izin untuk membawaku berkenalan dengan orang tuanya, tapi kenapa rasanya seperti dia meminta izin untuk menikahiku.
“Sampai ketemu nanti malam ya, Dit. Nanti aku jemput. kamu berdandan yang cantik ya,” kata Ardi sewaktu akan pamit pulang.
Ketika Ardi pulang.
“Dita, ayah mau tanya. Apakah nama pacarmu adalah Ardi Wiguna?” Tanya ayah seperti sedang menyelidiki.
“Iya benar, ayah.” Sahutku.
“Wah tidak salah lagi dugaan ayah.” ayah bergumam.
“Memangnya kenapa ayah? Apakah ada yang salah?” Tanyaku cemas.
“Tidak kok, tidak ada yang salah.” Sahut ayah dengan cepat.
“Nama ayahnya saja ada wiguna-nya, ya tidak heran kalau namanya Ardi ada nama ayahnya juga,” sahut aku berlagak pintar.
“Dita, kamu yakin akan serius dengannya?” Tanya ayah lagi.
“Yakin dong ayah. Menurut ayah dia baik juga kan?” Kataku dengan mantap.
Namun Ayah malah terlihat ragu-ragu.
“Tapi ayah harap kalau kamu tidak sampai menikah dengannya, kamu jangan kecewa ya,” pesan ayah.
“Memangnya kenapa, ayah? Apakah ayah tahu sesuatu tentang Ardi?” Aku jadi penasaran.
“Kamu juga akan tahu sendiri nanti,” sahut ayah singkat.
Yah, namanya juga seorang ayah. Mungkin tidak ingin putri kesayangannya terluka. Aku menganggap pesan ayah itu wajar saja.
“Dita, itu ada Ardi. Dia sudah datang untuk menjemputmu. Apakah kamu sudah siap?” Kata ibu dari depan pintu kamarku.
“Sebentar, bu. Sebentar lagi Dita akan keluar. Tunggu ya, bu.” Kataku dengan semangat.
Ketika aku keluar dari kamar dan menemui Ardi. aku melihat Ardi sedang berbincang seperti biasanya dengan ayah, ibu dan adikku.
Setelah itu Ardi dan aku pamit kepada ayah dan ibu.
Aku cukup terkejut karena ternyata dia menjemput dengan menggunakan sebuah mobil.
“Mobil siapa ini? Pinjam ya?” Tanyaku ketika sudah berada di dalam mobil bersamanya.
Ardi tidak menjawab tapi dia hanya tersenyum. Dia begitu lihai mengemudikan mobilnya, itu artinya dia sudah terbiasa. Aku cukup merasa heran karenanya.
Sepanjang jalan Ardi tidak banyak bicara, bagiku sudah biasa. Tapi dia lebih banyak tersenyum. Aku sempat tidak percaya diri jadinya, karena aku pikir dia tersenyum karena aku.
“Kita mampir ke sini sebentar ya,” tiba-tiba Ardi membelokan mobilnya ke halaman luas sebuah rumah yang sangat besar.
“Ini rumah siapa?” bisikku pada Ardi. Namun sekali lagi, Ardi hanya menjawab dengan senyuman.
Ternyata Ardi menjemput orang tuanya yang sudah menunggu di teras rumah. Kemudian kami pergi ke sebuah restoran yang menurutku interiornya sangat mewah.
'Kenapa Ardi mengajak makan malam di sini? Sepertinya yang biasanya makan ke sini pasti orang kaya. Ini pemborosan, dia tidak perlu melakukan ini untukku,' pikirku.
Kami dilayani sangat baik. Apalagi para pelayan di sana sangat menghormati kedua orang tua Ardi. Aku semakin tidak percaya diri.
Saat makan malam, Ardi memperkenalkanku sebagai pacarnya di depan kedua orang tuanya. Aku di berikan kejutan sebuah cincin sebagai hadiah dari orang tuanya Ardi. Hal itu membuatku malu tapi senang.
Saat makan malam usai, kami langsung pulang dan aku tidak melihat Ardi membayar tagihannya. Aku merasa ada yang aneh dengan pacarku malam ini.
Sepanjang jalan, aku banyak mengobrol dengan orang tuanya Ardi. Semuanya tampak kembali normal, sampai …
“Kita antar ayah dan ibuku dulu ya,” kata Ardi padaku.
Ternyata Ardi mengantar kedua orang tuanya pulang ke rumah mewah tadi.
Aku sudah tidak tahan lagi untuk bertanya.
“Baiklah. Sekarang katakan padaku, kenapa kamu tidak membayar saat makan malam tadi? Apakah kamu member disana?” Tanyaku sambil melipat kedua tanganku di depan dada.
“Bukan, aku tidak bayar karena aku pemiliknya.” kata Ardi lembut sambil tersenyum padaku. Sejenak aku tertegun.
Setelah itu aku tertawa karena tidak percaya, aku menganggapnya sedang bercanda.
Namun perkiraanku salah, saat kulihat wajahnya, ternyata dia serius. Sepertinya dia tidak main-main dengan ucapannya.
“Eh maafkan aku, mungkin maksud kamu restoran itu milik orang tuamu?” tanyaku asal bicara, karena aku sudah merasa tidak enak dengan sikapku kepadanya sebelumnya.
“Bukan, bukan punya orang tuaku. Tapi punya aku sendiri.” Jawabnya.
Aku langsung terdiam dan berpikir tentang restoran itu, sepertinya dulu ayah pernah bercerita tentang hal tersebut sewaktu kami diundang makan malam oleh perusahaan tempat ayah bekerja. Kupikir pemiliknya sudah cukup berumur.
“Tapi setahuku restoran itu tidak hanya satu di kota ini, apakah itu semuanya punyamu?” tanya aku masih tidak percaya. Aku menguji kejujurannya.
Namun ternyata Ardi mengangguk!!!
“Setahuku restoran itu punya seseorang. Orang itu adalah anak dari pemilik seluruh hotel ternama dan pusat perbelanjaan di kota ini. “ Aku bergumam.
“Berarti orang tua kamu ... Ya Tuhan, Ardi. Maafkan aku, kalau aku tidak tahu tentang keluargamu,” kata aku merasa sangat bersalah.
Sekali lagi Ardi bukannya menjawab, tapi dia hanya tersenyum.
“Perkenalkan, inilah calon suami kamu. Sudah kenal kan sekarang?”. Katanya sambil tertawa.
Aku sangat tidak menyangka kalau aku sudah menjalin hubungan dengan orang terkaya di kota ini.
Aku jadi teringat perkataan ayah, “kamu akan tahu sendiri nanti,”
Mungkin ini maksudnya. Pantas saja ayah terkejut saat mendengar nama lengkap Ardi dan orang tuanya.
******
Note Author : Jangan lupa dukung Author ya.
Disclaimer : Jika ada persamaan nama, institusi dan peristiwa dalam cerita ini, itu adalah murni ketidaksengajaan.