Seorang juru bicara (jubir) suatu hari mendadak ngambek. Ia tidak mau lagi bercerita tentang manusia, karena manusia kini makin sensitif dan tidak tahan kritik. Di puncak kebingungannya, yang bisa ia lakukan hanyalah tidur dan tidur. Dalam tidur lelapnya itulah ia bermimpi di datangi iblis. Bukan main takutnya sang jubir melihat sosok iblis wanita yang seram; berbadan tinggi besar, dengan mata besar dan raut muka sangar. Ketakutan itu membuat ia gagal mengidentifikasi sosok yang ditemuinya. Tetapi semakin lama ia lihat sosok iblis itu menyerupai seorang wanita.
”Kamu jangan takut. Jelek-jelek begini aku juga makhluk Tuhan. Manusia biasa menyebutku iblis pemangsa,’ ujar Iblis itu.
Sang jubir semakin ketakutan. Tetapi, sang iblis yang ternyata ramah ini mencegahnya untuk takut. Ia berjanji tidak akan menggangu sang Jubir tersebut. Ia justru minta tolong. Katanya, sang iblis sudah lama memendam kejengkelan terhadap bangsa manusia. Hanya kepada sang Jubir itu ia mau menceritakan beban perasaan yang selama ini menindihnya. Beginilah pengakuannya: “Aku, atas nama Iblis, dengan ini menyatakan: mengundurkan diri sebagai penghasut dan penggoda manusia untuk berbuat dosa. Keputusan ini aku ambil dengan sesadar-sadarnya, tanpa tekanan atau intimidasi, apalagi disuap olah manusia.
“Perlu aku tegaskan bahwa Iblis tak mengenal suap atau korupsi. Jadi, apabila ditemukan oknum Iblis mengkorupsi uang negara, maka oknum Iblis itu akan langsung ku musnakan. Bahkan tidak jarang perilaku manusia itu lebih iblisistik dari pada Iblis itu sendiri. Sebab, manusia itu makhluk kemungkinan, artinya bisa buruk bisa juga sangat baik. Sedangkan Iblis dan Malaikat itu mahkluk kepastian. Iblis pasti buruk dan Malaikat pasti baik. Jika manusia gagal mengelola hidupnya, maka keberadaannya bisa lebih buruk dari Iblis. Sedangkan bagi manusia yang berhasil me-manage perilakunya, maka keberadaannya bisa lebih tinggi dari pada malaikat.
“Pada mulanya, jumlah pengikut aku hanya beberapa. Tetapi, setelah banyak manusia menjadi sukses karena setia mengikut petunjukku, jumlah pengikutku pun membengkak. Saking banyaknya, sampai-sampai bangsa manusia rela menyuap aku dengan harkat dan harga dirinya, sekaligus hari depan hidupnya. Aku benar-benat kewalahan. Formulir pendaftarannya selalu dicetak ulang menjadi bermilyar-milyar lembar demi memenuhi hasrat manusia untuk menjadi pengikutku. Jutaan manusia mengagumi aku, akku menjadi ilham, termasuk dalam sastra.
“Di setiap kota di bawah matahari, namaku adalah poros dari lingkaran pendidikan keagamaan, seni, dan filsafat. Bila bukan karena aku, tak ada kuil yang dibangun, tak ada menara arau istana didirikan. Aku adalah keberanian yang menciptakan gerak dalam diri manusia. Aku adalah sumber dari yang mengucapkan orisinalitas pikiran. Aku adalah tangan yang menggerakkan tangan-tangan manusia. Aku Iblis abadi. Aku adalah Iblis yang diperangi manusia agar mereka tetap hidup. Bila meraka berhenti memerangi aku, kelambanan dan kemalasan akan mematikan pikiran, hati, dan jiwa, sesuai dengan hukuman ranah dan mitologi dahsyat mereka.
“Tetapi itu dulu!"
“Bangsa manusia membutuhkan Iblis hanya untuk dicatat namanya, sehingga setiap tindakan penyimpangan menjadi sah dan legal. Tidakan korupsi, merampok memperk*sa, dan membunuh, serta menindas yang terang-terangan dilakukan secara murni dan konsekuen olah bangsa manusia, selalu dikatakan karena bisikan Iblis. (Enak aja…manusia makan depositonya, aku yang kena getahnya). Iblis selalu manjadi kambing hitam dan keranjang sampah kesalahan dari ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Ini sungguh tidak fair dan mencoreng citra korps Iblis.
“Bagaimana mungkin aku, sang Iblis yang celaka ini, bisa melakukan itu? Jadi sudah cukup lama aku ini menganggur. Pedoman teknis kerjaku, yang sengaja di buat untuk menggoda manusia agar tersesat, sudah lama aku simpan dalam laci. Segala hasutan, bisikan dan godaan aku sudah tidak mempan lagi menghasut manusia. Aku pun telah putus asa menjadi provokator dosa-dosa manusia, karena manusia kini makin pintar menjadi provokator bagi bangsanya sendiri. Hasut sana hasut sini agar terjadi ledakan permusuhan antar suku, antar agama, dan antar golongan demi kebanggaan picisan kelompok-kelompok tertentu itu sendiri.
“Sebagai Iblis yang masih punya hati nurani, aku menangis menyaksikan semua ini. Berliter-liter air mata menetes dan mengalir dari mataku (aku mendadak heran kok tiba-tiba Iblis macam aku ini jadi cengeng seperti sinetron Indonesia itu…)
“aku benar-benar sedih, bukan karena aku kehilangan job untuk menggoda manusia, tetapi ngeri melihat ulah manusia yang telah sukses besar melakukan transformasi budaya dengan mengadopsi nilai-nilai keiblisan secara sempurna. Bahkan, saking sempurnanya, mereka tidak lagi butuh mentor dan fasilitator kejahatan macam aku, Iblis yang celaka ini."
“Aku sangat sedih, bukan karena bangsa manusia itu meninggalkanku. Bukan, tetapi justru karena para manusia itu kini sudah tidak malu lagi membuka kursus-kursus, bimbingan-bimbingan belajar, dan sekolah kepribadian bagaimana menjadi Iblis yang baik. Dan, yang paling mencemaskan, nilai-nilai keiblisan itu sudah menjadi sistem budaya, sistem politik, sistem sosial, sistem ekonomi yang lengkap!"
“Tidak mengherankan jika sekarang kursus-kursus mengenai kepribadian Iblis telah menggeser dominasi sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi yang selalu menggembleng watak manusia berkepribadian unggul. Aku merasa kasihan kepada guru-guru, dosen-dosen, dan para profesor yang berdedikasi tinggi itu. Mereka kini menjadi kehilangan lahan untuk mendidik mengajarkan kemuliaan dan keluhuran.
“Manusia kini telah jauh melangkahi aku, iblis yang celaka ini. Otak mereka jauh lebih cemerlang. Segala tindak penyimpangan mereka jauh lebih sistematis. Itulah kenapa sekarang ini orang tidak perlu takut lagi kepada Iblis macam aku ini. Iblis sudah menjadi masa silam dalam sejarah peradaban dan sejarah kebiadaban manusia. Ia hanya sepotong makhluk yang tetap dipertahankan eksistensinya, agar lembaga-lembaga yang memeperjuangkan nilai kemanusiaan tetap eksis, tetap ada, meskipun semuanya makin terasa sia-sia bagi manusia Iblis.
“Itulah sebabnya, aku mengundurkan diri sebagai Iblis.”
Mendadak, sang Jubir bangun. Ia mengusap-usap pelupuk matanya. Ia bersyukur bahwa peristiwa yang mengenaskan itu hanyalah mimpi. “Untung masih ada Iblis yang bisa dijadikan kambing hitam olah manusia….,” ujarnya.
End.
***
Jangan lupa klik tanda ♥️ yah sebagai tanda dukungan dari kalian. Thanks for reading 🤗