Namaku adalah Andika Mahardika. Aku sekarang sedang menempuh pendidikan ku di sebuah SMA swasta di Singapura, Aku tinggal bersama dengan nenek dan juga kakekku. Aku termasuk anak yang populer di sekolah, selain baik dan pintar aku juga termasuk anak yang ganteng, dan aku juga memiliki beberapa teman yang juga tak kalah gantengnya dari aku walaupun aku masih yang nomer satu, karena aku memiliki tatapan yang tajam dan juga jago dalam segala bidang olah raga gitu sih kata temen-temen sekolahku. Nama sahabat karib yang masuk dalam kelompokku adalah Aldy, Alga dan Arya.
Aldy itu orangnya baik, supel, kalau Alga dia ceria dan jail, dan mereka adalah saudara kembar. Sedangkan Arya selain dia baik juga ramah. Pokoknya semua sahabatku itu asyik semua lah orang-orangnya.
Aku sama Arya sahabatan udah sejak kami duduk di bangku SMP, sedangkan Aldi dan Alga baru ketemu saat kami masuk SMA.
Hingga suatu ketika aku pun jatuh cinta pada wanita yang diam-diam juga disukai oleh Arya. Ya, sebut saja dia Yurika. Yurika itu cewek tercantik di sekolahku, pokoknya semua lelaki ingin dekat dengannya, selain dia cantik, dia juga baik dan pintar.
Saat di kantin sekolah, aku tanpa sengaja nyenggol tangannya Yurika hingga mangkok mie yang ia pegang jatuh dan berserakan kelantai.
“Aduh, Kamu ini gimana sih!!!” ujar Yurika dengan nada yang sangat tinggi sampai seisi kantin merhatiin kami semua.
“I.. iyaa.. maaf aku nggak sengaja Yuri” jawabku dengan lembut.
“Mangkanya kalau jalan itu pakai mata dong!!” ketusnya padaku.
“iya aku minta maaf kan aku nggak sengaja” kataku lagi membela diri.
Aku langsung berlalu dari tempat itu meninggalkan Yurika. Dari jauh aku melihat wajah Yurika yang kini telah buyar.
Tak lama setelah aku beranjak dari tempat itu, ku lihat Arya pun datang menghampiri Yurika yang sedang berdiri ditempat mematung.
“Ehh Yuri, kamu kenapa kok berantakan gitu?” ucap Arya
“Itu pimpinan kelompokmu, dia udah numpain mie aku, jadi gini deh” jawab Yurika.
“Siapa? Andika maksud kamu?” tanya Arya memastikan.
“Iya, siapa lagi coba?” ketusnya dengan kesal.
“Hehehe, dimaklumi saja ya.. ” Arya
“Maklumi-maklumi” Yurika
“Yuri, udah dong jangan marah terus ntar cepet tua loh” Arya
“Hih kamu ya Ar, suka banget merayu gitu” Yurika
“Iya-iya, secara kan aku cowok Cool gitu” Arya
“Ahh, udah yok kita, ke kelas” Yurika
Sesampai di kelas aku melihat mereka berdua yang saling gandengan tangan. Hmm, ya sedikit hancur hati ini. Di satu sisi dia sahabatku, di satu sisi lagi dia wanita yang aku puja-puja siang dan malam. Semakin hari aku lihat dia dengan Yurika semakin dekat. Dan kedekatannya itu membuatku semakin hancur dan kepikiran.
Suatu ketika aku beranikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya. Dan aku ajak dia ketemuan di taman belakang sekolah. “Yuri ada waktu nggak nanti sebelum pulang sekolah” tanyaku dengan lembut pada Yurika.
“Iya ada apa?” tanyanya padaku dengan tatapan bingung.
“Hmmm.. Aku mau ketemu sama kamu nanti sepulang sekolah di tanam belakang, aku tunggu ya” ucapku kemudian.
“Oh gitu, iya deh nanti aku kesana” jawabnya kemudian dan dia keluar untuk istirahat.
“Oke beneran aku tunggu ya” suruh ku lagi dengan senang.
Sejam, dua jam aku tunggu-tunggu kedatangan Yurika, hingga akhirnya pun hujan turun membasahi seluruh tubuhku dan tanaman-tanaman bunga yang bermekaran disekitar ku. Sampai pada akhirnya pun aku putus asa bahwa dia tak kan datang untuk menemui aku.
Tak lama setelah itu Yurika pun akhirnya datang.
“Dika!!” aku mendengar suara Yurika.
“Yurika..” gumamku saat mau berbalik dan pergi.
“Maaf ya Ka aku telat” ucapnya sambil mengatur nafas.
“Nggak apa-apa kok Yuri, yang penting kamu datang” jawabku senang.
“Oiya, ada apa ya kamu ngajak aku ke sini?” tanya Yurika setelah dia bisa menguasai nafasnya.
“Sebenarnya.. Aku tuh suka sama kamu Yuri, Aku udah lama memendam perasaan ini tapi aku tahu kalau kamu dekat dengan sahabatku. Aku sayang sama kamu Yuri, Aku sungguh sangat mencintaimu” ucapku tanpa basah basih lagi.
Yurika pun terdiam sejenak. Hujan yang kian lebat menjadi saksi pernyataan cintaku pada Yurika.
“Jadi, gimana Yuri, kamu mau kan jadi pacar ku?” tanyaku lagi yang tak sabar.
“Iya, aku mau, tapi Ka…” Yurika menjawab dengan sedikit keraguan.
“Tapi apa Yuri?” aku semakin tak sabar.
“Tadi Arya udah duluan nyatain perasaannya sama aku” jawabnya kemudian.
Dengan perasaan yang kecewa aku pun berlari meninggalkan Yurika. Tak ku hiraukan dia yang tengah berhujan-hujanan itu. Dia terus memandangiku dari kejauhan tanpa berkata satu katapun.
Sejak kejadian itu, aku menjadi anak yang pemalas, pendiam, dan sangat tertutup. Hingga nilai raporku pun ikut terpuruk. Aku sangat nakal sekarang aku jarang masuk sekolah dan sering bolos. Hingga suatu hari Yurika dan Arya datang ke rumah, “Andika.. Andika..” suara mereka memanggilku.
“Iya ada apa cu, Andika-nya ada di dalam, mau nenek panggilkan cu?” ucap nenekku pada Yurika dan Arya.
“Iya nek, kami ini teman sekolahnya” jawab Arya kemudian.
“Oh, iya sebentar ya cu” nenekku masuk kedalam rumah.
Di rumah ku, samar-samar aku dengar Arya dan Yurika sempat berbincang tentang perubahan dari diriku.
“Sebenarnya gini Ar, Andika itu nembak aku di taman belakang sekolah 2 minggu yang lalu, tapi aku bilang sama dia kalau kamu udah nembak aku duluan” Yurika.
“Trus, gara-gara itu dia jadi begini?!" kesal Arya.
“Iya Ar..” Yurika
Tak lama aku pun keluar dari kamar ku dengan pura-pura bodoh dan tak tau apa pun, “Ehh kalian, ada apa ya?” tanyaku cuek
“Udah deh Ka, kamu jujur aja, kamu suka kan sama Yurika?” Arya langsung menanyakan hal itu kepadaku.
“hmmm, kamu tahu dari mana?” tanyaku dengan senyum yang ku buat-buat.
“udahlah, aku udah tahu semuanya kok” jawabnya santai
“Ka, jujur ya.. Aku memang suka sama Yurika tapi, aku ikhlas kok kalau dia jadian sama kamu” jawab Arya padaku.
“Tapi Ar, kamu kan juga suka sama Yurika?” tanyaku heran.
“iya, aku memang suka sama Yurika tapi demi sahabatku aku rela Ka” jawab Arya menatap aku.
“Makasih Ar, kamu memang sahabat terbaikku” jawabku.
Semenjak hari itu, Persahabatan kami jadi semakin kuat karena kami merasa tak ada yang perlu diperebutkan, dan cinta tak harus memiliki tapi saling melengkapi.
Semangatku pun kembali lagi dan aku mulai aktif dalam semua kegiatan ekskul dan nilai akademik ku pun mulai kembali lagi stabil serta peringkat kelas kembali lagi ku pegang.
"Nah, gitu dong. Kan enak lihatnya kalau tak ada lagi yang kurang dari kita." seru Alga
"Dika kamu jangan lupa ya kita akan ada pertandingan minggu depan." Aldi mengingatkan aku yang masuk dalam tim basket bersama dengan Aldi dan alga.
Setalah 2 tahun kami pun kini telah lulus SMA dan akan melanjutkan Study kami masing-masing. Arya yang berpisah dari kami dan ia melanjutkan kuliahnya di negeri pamannya di Amerika Serikat, Sedangkan Alga dan Aldi kembali ke Indonesia karena mereka ingin menggantikan usaha orang tua mereka. Sedangkan Yurika dan aku memilih untuk melanjutkan study kami tetap di Singapura karena memikirkan keadaan nenek ku yang kini sudah semakin tua renta sejak kepergian kakekku 1 tahun yang lalu.