Terlahir dari keluarga biasa namun memiliki mimpi yang luar biasa. Tamat SD aku melanjutkan sekolah dan memilih tinggal bersama kakek dan nenekku. Jarak tempuh ke sekolah yang lebih dekat menjadi salah satu pertimbangan untukku tinggal di sana. Alasan lain tentunya karena kakek dan nenekku bersedia membantu biaya sekolahku termasuk ongkos dan uang jajan. Pekerjaan ayahku dengan penghasilan tak menentu dan juga ibuku yang hanya guru honor dengan gaji yang jauh dari layak membuatku berpikir ingin melanjutkan sekolah tanpa terlalu membebani mereka. Apalagi aku pun memiliki tiga adik yang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Kelas dua SMP memilih tinggal di asrama agar biaya ongkos menjadi berkurang. Dengan potensi yang aku miliki aku aktif di berbagai kegiatan di sekolah hingga beberapa kali mendapat beasiswa sebagai siswa teraktif. Alhamdulillaah bisa sangat membantu biaya sekolahku sampai selesai SMP.
Keinginan untuk melanjutkan sekolah ke sekolah favorit lagi-lagi hanya sebatas angan, faktor biaya menjadi penyebab utamanya. Namun hal itu tidak membuatku menyerah. Seseorang yang baik hati yang tiada lain adalah guruku di SMP menawariku bersekolah dengan beasiswa sebagai anak asuh. Aku pun setuju, orang tuaku tentu sangat menyambut baik. Mereka mendukung keputusanku, mereka tahu apa yang menjadi cita-cita dan harapanku, namun hanya do'a yang mampu mereka berikan tanpa henti sehingga melalui perantara orang lainlah akhirnya aku bisa melanjutkan sekolah ke sekolah negeri yang tidak jauh dari asrama tempat aku tinggal.
Selesai menuntaskan pendidikan di SMA dengan segala perjuangannya dan lagi-lagi beasiswa siswa aktif menjadi andalanku dalam menunjang kebutuhan biaya sekolah aku memutuskan untuk mencari pekerjaan. Keinginanku untuk kuliah dikubur dalam-dalam karena lagi-lagi keterbatasan ekonomi.
Aku pun bekerja sebagai tenaga administrasi di salah satu sekolah swasta. Saat itu honorku pun tak seberapa, kualifikasi pendidikan setingkat SMA menjadi bahan pertimbangan dan penerimaan honor atau gaji. Aku pun terima dengan lapang dada, toh bisa tetap produktif tanpa melihat nominal itu sudah cukup untukku saat itu.
Saat usiaku menginjak belum genap dua puluh tahun, seseorang menyatakan cintanya untuk menjadi kekasihku.Aku bilang padanya jika aku tidak mencari pacar tapi calon suami. Ternyata tingkat kepercayaan diri dan keberanian lelaki itu patut diacungi jempol. Setelah kurang lebih kami saling mengenal sejak enam bulan yang lalu, tiba-tiba dia mengatakan akan menemui keluargaku dengan keluarganya.
Aku pun menerima pinangannya dan memutuskan untuk menikah saat usiaku belum genap dua puluh tahun. Setelah menikah aku masih bekerja di sekolah sebagai tenaga administrasi. Satu tahun setelah menikah aku diberi izin oleh suamiku untuk melanjutkan pendidikan. Bismillah, dengan tekad yang kuat dan niat yang tulus aku pun mendaftar menjadi salah satu mahasiswa perguruan tinggi swasta di daerahku dan di saat bersamaan aku pun dinyatakan positif hamil.
Selesai kuliah dengan segala suka dukanya aku pun resmi diangkat menjadi guru di sekolah tersebut. Potensiku yang menurut orang lain di atas yang lainnya membuat aku termotivasi untuk semakin memberikan yang terbaik yang aku bisa untuk sekolah dimana aku bekerja saat ini. Walau bagaimanapun sekolah itu menjadi perantara datangnya rezeki dari Allah untukku dan keluargaku. Di sekolah aku ditunjuk sebagai guru yang mendapat tugas tambahan sebagai bendahara sekolah.
Delapan tahun mengajar aku mengikuti uji kompetensi guru profesional dan aku pun lulus program latihan pendidikan guru (PLPG) dengan ditandai terbitnya sertifikat sebagai pendidik profesional dan aku pun berhak mendapat tunjangan. Hal itupun bertepatan dengan lahirnya anak keduaku.
Setahun sebelumnya suamiku yang juga seorang guru lulus PLPG dan berhak mendapat tunjangan profesi guru yang besarannya hampir lima dari gaji honor. Pengalaman menjadi guru dan bendahara di sekolah itu memberiku banyak kenangan, ilmu dan pelajaran berharga yang dapatkan. Hingga akhirnya aku pun dipilih untuk menjadi kepala sekolah di sana saat usiaku genap tiga puluh tahun.
Tidak mudah ternyata menjadi kepala sekolah, banyak tantangan yang tidak hanya datang dari pihak luar maupun dari pihak dalam sendiri. Keterampilan memimpinku, kemampuanku berkomunikasi dengan baik mempermudah aku menjalaninya. Perkembangan sekolah pun cukup signifikan, membuatku terharu. Kepercayaan masyarakat meningkat drastis terhadap sekolah yang aku pimpin, hal itu terbukti dengan pendaftar yang membludak. Dalam dua tahun kepemimpinanku di sekolah itu terjadi kenaikan jumlah peserta didik sampai delapan puluh persen. Hali itu jelas meningkatkan kredibilitas dan elektabilitas aku sebagai kepala sekolah.
Hingga suatu hari aku iseng mengikuti seleksi calon aparatur sipil negara (ASN). Untuk seorang pegawai honorer menjadi ASN adalah impian semua orang, dan tanpa di duga aku menjadi bagian dari mereka yang lulus, lagi-lagi Kun Fayakun-Nya yang aku andalkan. Lulus dari pendaftar yang mencapai ratusan riu namun di tugaskan di luar kota yang cukup jauh dari keluargaku, dan itu adalah sesuatu yang luar biasa. Kegalauan melandaku, tidak tega jika harus meninggalkan anak dan suamiku. Tetapi dengan izin dan dukungan suami aku pun menjalaninya.
Dan saat aku dinyatakan lulus ASN pun bertepatan dengan aku yang kembali dinyatakan positif hamil anak ketiga. Dengan berbagai pertimbangan dan bismillahirrahmanirrahim aku mengundurkan diri sebagai kepala sekolah dan memilih menjadi ASN.
Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) bukanlah hal mudah untuk saat ini, tidak semua orang berkesempatan lulus saat mengikuti seleksinya yang sangat ketat. Namun ternyata Allah mengamanahkannya padaku. Aku terima dan aku syukuri itu. Banyak orang yang mengucapkan selamat dan turut berbangga atas pencapaianku. Namun sungguh bukan hal yang mudah untukku mencapai titik itu.
Menjadi seorang istri, Ibu dari tiga anak dan wanita dengan status abdi negara dengan tugas di tempat yang jauh dari keluarga meninggalkan suami dan juga anak-anak adalah sesuatu yang tidak mudah namun aku berusaha menikmatinya. Jarak yang memisahkan membuat aku selalu terhukum rindu. Namun dengan dukungan dan ridha suami aku menjalaninya dengan baik. Karena bagiku ridhanya adalah kunci kelancaran segala urusanku. Setiap akhir pekan aku pun pulang ke rumahku dan berkumpul dengan suami dan anak-anakku. Menyiapkan quality time bersama keluarga berhasil menjadi penawar kerinduanku. Dan di saat cintaku direbut jarak, maka do'alah yang menjadi selingkuhan terbaikku.
Mengikuti setiap alur hidup yang sudah Allah tetapkan untukku, menikmati setiap prosesnya dengan baik, karena aku yakin Allah melihat proses bukan hasil. Dan mensyukuri nikmatNya adalah hal indah yang selalu berusaha aku lakukan.
Terus membumikan ikhtiyar dan tidak lelah melangitkan do'a. Dengan sejuta harapan semoga setiap yang aku lakukan menjadi berkah dan semua yang aku usahakan berbuah indah.
Harapanku kini semoga Aku bisa segera pindah tugas kembali ke tempat asalku dan dapat kembali berkumpul dengan suami dan anakku.
Semoga apa yang ditakdirkan selanjutnya sama seperti yang akuinginkan.
Jangan berhenti tumbuh!