Keysa Mahardika adalah seorang militer yang lahir dari keluarga militer juga, Ayah-nya adalah Perwira tertinggi yang sudah pensiun. Keysa seorang tentara yang cerdik dari luar negeri, dia adalah tentara dari sebuah kesatuan bela negara. Keysa ditugaskan oleh negaranya sebagai agen rahasia yang menyelidiki para pemberontak.
Suatu ketika, karena kecerdikannya Keysa berhasil menangkap dan berkali kali menggagalkan aksi pemberontakan serta berhasil menangkap pimpinan para pemberontak. Namun, dari salah satu anggota yang dipimpin oleh Keysa, ternyata ada seorang penghianat yang tergiur dengan iming-iming beberapa uang, sehingga dia membongkar dan membuka rahasia tentang Keysa.
Pada tahun ke tiga, tiba-tiba saja aksinya bocor dan berhasil digagalkan, dan negara tak bisa menyelamatkan keluarga Keysa yang telah dibantai dan dihabisi oleh anggota pemberontak, Keysa yang disembunyikan oleh negaranya terpaksa pergi meninggalkan negaranya dengan mengubah identitasnya menjadi pemuda biasa bernama Andika.
Keysa bekerja sebagai sekuriti di sebuah perusahaan disabilitas, dan dia ditugaskan selalu berjaga malam menggantikan pak Baron.
"Nak Dika, apa sudah makan? Kalau belum ayo makan tadi bapak dibawakan bekal oleh neng Yuri dan masih banyak sekali, kalau sampai nanti dia datang dan makanannya masih ada dia bisa sedih." ucap pak Baron saat dia melihat Keysa yang baru datang.
"Baik pak, biar nanti saya makan." ucap Keysa tanpa senyum.
Dikalangan cleaning service dan juga sekuriti Keysa atau Andika adalah orang yang dingin dan kaku, Keysa tak pernah sekalipun senyum atau menyapa orang. Dan yang dekat dengan Keysa hanya pak Baron saja.
Srak
Keysa yang lagi berjaga itu melihat seorang gadis yang baru keluar dari gedung perusahaan saat sudah malam sekali, gadis itu berjalan tanpa melihat pembatas yang mau menutup sehingga dengan cepat Keysa berlari dan menyeret gadis itu agar tak menabrak pembatas.
"Apa kau tak punya mata, berjalan tanpa melihat!" kesal Keysa berkata degan nada kasar.
"Apa kau gila, tak bisa melihat. Kalau aku punya mata aku tak mungkin menggunakan tongkat!" teriak gadis itu balik memarahi Keysa.
"Oh, kau buta." gumam Keysa yang bisa didengar oleh gadis itu.
"Iya, aku buta, puas!" jawab gadis itu dengan kesal lalu berlalu pergi meninggalkan Keysa begitu saja.
"Gadis yang aneh, ditolong bukannya terima kasih malah ngomel." gumam Keysa dan balik masuk kedalam pos jaga lagi.
Keesokan malam, saat Keysa sedang menyaksikan sepak bola di televisi dalam pos tiba-tiba saja ada seorang gadis yang datang menghampirinya.
"Siapa!" Keysa bersikap waspada.
"Maaf, apa aku mengagetkanmu, kau orang yang kemarin membantuku kan? Apa aku boleh masuk." tanya wanita itu.
"Masuklah." jawab Keysa dan memberikan kursi pada gadis itu.
"Terima kasih, aku adalah Yuri. Biasanya aku selalu nonton sama pak Baron. Tapi, kemaren aku ketemu sama pak Baron katanya beliau sekarang hanya jaga pagi saja, dan yang jaga malam adalah kamu, Andika. Namamu Andika kan? Karena aku bertanya sama pak Baron." ucap Yuri menatap kosong pada Keysa.
Keysa melambai lambaikan tangannya didepan mata Yuri dan Yuri tak bereaksi, "kau benar benar buta?" tanya Keysa.
"Apa kau benar benar gila? Kau tak bisa melihat orang buta? Atau baru pertama melihat orang buta?" tanya Yuri balik pada Keysa.
"Aku hanya ingin memastikan saja tak bermaksud lain." jawab Keysa dan berpaling melihat tv lagi.
"Aku membawakan sesuatu untukmu sebagai ucapan terima kasihku padamu yang kemaren menolongku, sehingga aku tak menabrak pembatas." ucap Yuri, dia membuka dan mengaduk isi tasnya, Keysa hanya melihat sekilas lalu cuek lagi.
"Ah maaf, bisa kau bantu aku mencari bungkusan didalam tasku yang warna putih?" Yuri menyodorkan tasnya pada Keysa.
"Ini." ucap Keysa singkat setelah dia menemukan bungkusan putih dan menyerahkannya pada Yuri.
"Tidak tidak, itu untuk kamu." ucap Yuri dengan senyaman manisnya.
"Untukku, apa ini?" Keysa membuka isi dari bungkusan itu.
"Itu kue yang aku buat sendiri, maaf jika rasanya tak enak." ucap Yuri dan menunggu Keysa memberikan komentarnya atas kue yang dia berikan.
"Jika aku menjawab bohong, tak memakannya dan membuangnya apa kau percaya?" tanya Keysa pada Yuri.
"Tentu, karena aku buta jadi aku akan selalu percaya padamu yang bisa melihat." jawab Yuri dengan senyuman.
"Enak, hanya ada sebagian yang gosong dan terasa pahit." jawab Keysa jujur setelah dia memakan kue pemberian Yuri.
"Terima kasih." jawab Yuri dengan wajah yang berbinar menatap Keysa.
Setiap malam sepulang kerja Yuri jadi selalu mampir ke pos Keysa untuk berbincang dan kadang membawakan bekal makan untuk Keysa. Hubungan mereka semakin hari jadi semakin dekat dan juga akrab.
Tiga bulan telah terlewatkan, dan Keysa jadi lebih sering datang main ke rumah Yuri untuk makan dan kadang menjemput Yuri berangkat kerja.
"Lusa adalah hari ulang tahun ku, apa kamu mau menemani aku merayakannya bersama?" tanya Yuri.
"Iya, aku akan menemani kemanapun tuan putri mau pergi, aku akan ambil libur khusus hari itu." jawab Keysa dan itu membuat Yuri tertawa bahagia.
Pagi hari, tepat hari ulang tahun Yuri. Keysa membawah Yuri kesuatu tempat, dan tempat itu adalah padang rumput yang ada danau buatan dan juga taman bunga, bahkan ada pohon besar yang membuat rindang kursi dan meja dibawahnya.
"Ini dimana Dika? Kenapa aku mencium bau rumput segar dan juga bunga yang harum." ucap Yuri yang bisa merasakan lingkungan sekitarnya.
"Ini adalah taman tersembunyi dan belum ada orang yang tau tempat ini, dan ini adalah tempat terlarang untuk umum." bisik Keysa pada Yuri, Yuri tersenyum mendengar bisikan dari Keysa.
"Kau mau berjalan tanpa alas kaki?" tanya Keysa dan menuntun Yuri untuk berjalan ketengah padang rumput.
"Dika, tempat ini pasti sangat indah, katakan padaku seperti apa tempat ini." ucap Yuri yang terlihat sangat senang serta bahagia.
"Tempat ini... Dibelakangmu ada sepasang kursi dan meja yang terletak dibawah pohon besar, tempatmu berdiri adalah padang rumput yang luas, disisi kirimu ada taman bunga melati, mawar dan masih banyak lagi, lalu disisi kananmu ada danau buatan kecil yang airnya sangat jernih." Jelas Keysa dengan rinci, dan Yuri mendengarkan dengan sangat serius.
"Kemarilah dan berbaringlah di sini." Keysa membawah Yuri semakin ketengah dan tidur di padang rumput dengan merentamgkan tangan, menikmati semilir angin dan juga bau harum rerumputan dan bunga bunga.
Keysa merentangkan kain untuk alas meletakkan makanan, dan mereka menikmati makan siang mereka dengan ditemani kicauan burung burung. Yuri terlihat sangat bahagia, karena setelah kepergian kedua orang tuanya yang mendadak dan juga kehilangan segalanya tak ada lagi yang memperhatikan dia dan memberikaan perhatian padanya. Dan perlakuan Keysa padanya telah mengobati rasa sepi dalam hatinya yang kosong.
Setelah puas bermain seharian akhirnya keysa dan Yuri pulang ke rumah, setelah selesai membersihkan diri Yuri mempersilakan Keysa untuk mandi dan dia memberikan baju ganti yang sengaja dia siapkan untuk Keysa.
"Kenapa kau memberikan aku baju? Padahal yang berulang tahun adalah dirimu." ucap Keysa pada Yuri.
"Tak apa, karena malam ini aku ingin kamu menemani aku sebagai kado ulang tahunku." ucap Yuri tersenyum manis.
"Kau sangat cantik Yuri." ucap Keysa dan menyentuh bibir Yuri dengan ibu jarinya, namun setelah itu Keysa menarik tangannya.
"Kenapa? Aku bersedia jika kamu menginginkan aku, karena aku juga menginginkanmu, Dika. Aku menyukaimu." ucap Yuri dan itu merupakan lampu hijau bagi Keysa yang selama ini selalu menahan diri.
"Aku juga." ucap Keysa dan mulai menc*um bibir Yuri lembut. Dan malam itu mereka menghabiskan malam indah mereka bersama, Keysa memperlakukan Yuri dengan sangat lembut sehingga membuat Yuri terus terbuai dalam pelukan dan sentuhan Keysa.
"Yusa? Kau, menyimpan lukisan dari pelukis keci ternama, apa kau penggemarnya?" tanya Keysa dengan hati sakit.
"Yusa, itu adalah aku. Yusa Yuriana apa kamu lupa dengan nama kekasihmu sendiri?" ucap Yuri, dan spontan itu membuat tubuh Keysa bergetar. Karena pelukis Yusa adalah korban tabrak lari yang langsung meninggal ditempat.
"Kau adalah dia?" tanya Keysa dengan nada bergetar.
"Iya, kenapa? Apa terkejud, kamu tak menyangka kalau kekasihmu ini adalah seorang pelukis internasional cilik?" tanya Yuri dengan tersenyum dan dia tak tau kalau saat ini wajah Keysa sudah pucat
"Jadi kamu tak buta permanen?" tanya Keysa memastikan.
"Tidak, aku kehilangan segalanya saat usiaku dua belas tahun dan baru pulang dari Beijing, aku mengalami kecelakaan yang membuat keluargaku dan saudara kembar ku meninggal ditempat, sedangkan aku yang terlempar keluar selamat, namun aku kehilangan penglihatanku, sehingga membuat aku menarik diri dari dunia dan bersembunyi di sini, dan aku tinggal disebuah panti asuhan." jelas Yuri pada Keysa.
Semua itu membuat Keysa merasa bersalah, karena kecelakaan itu terjadi saat dia sedang berusaha menangkap pemberontak yang menjadikan mobil warga sebagai tameng, sehingga terjadi kecelakaan yang tak bisa dihindari, dengan kata lain kehancuran keluarga Yuri adalah ulah Keysa atas kegagalan tugasnya.
"Maafkan aku." gumam Keysa dalam hati, dan dia bertekad akan menggunakan uang yang dia simpan selama ini sebagai biaya pengobatan dan operasi mata Yuri.
"Selamat ulang tahun, Yuri." ucap Keysa dan memberikan sebuah kota pada Yuri.
"Apa ini Dika? Kenapa kotaknya bergerak." Yuri penasaran dan juga takut.
"Bukalah." ucap Keysa dan dengan pelan Yuri membukanya.
Guk.
Anak anjing keluar dari kotak itu, anak anjing berjenis Bernese Mountain yang memiliki tubuh berotot saat dewasa dan juga bulu tebal sebagai kado ulang tahun untuk Yuri yang diberikan oleh Keysa.
Setelah satu Minggu berlalu, Keysa mengutarakan keinginannya untuk melakukan operasi pada mata Yuri dan akan menggunakan uang hasil kerjanya selama ini.
Awalnya Yuri tak mau menerima usulan Keysa untuk operasi dengan menggunakan uang hasil kerja kerasnya, namun setelah Keysa menjelaskan bahwa dia ingin bisa melihat sang pelukis Yusa kembali lagi akhirnya Yuri menerima dengan syarat dia akan mengembalikan semua uang itu.
Hari H dilakukannya operasi mata Yuri, setelah mengantar Yuri masuk kedalam ruang operasi dan meminta pada anak anjing yang diberi nama Cepi untuk menjaga dan melindungi Yuri, Keysa pergi untuk piket malam, tapi tiba tiba saja terjadi kebakaran di perusahaan karena arus pendek listrik sehingga menewaskan banyak orang.
Setelah dua hari, penutup mata Yuri dibuka dan dengan pelan sebuah cahaya masuk kedalam bola mata Yuri hingga dia bisa melihat dengan sempurna. Namun kebahagian itu tak berarti bagi Yuri, karena disaat dia bisa melihat dunia dia malah kehilangan dunianya yang sesungguhnya, yaitu kekasih hatinya dinyatakan meninggal dunia saat dia berusaha menyelamatkan para pegawai dan dia terjebak dalam kobaran api.
Lima tahun telah berlalu, kini Yuri telah berhasil dan telah sukses menjadi seorang pelukis. Yuri membuka galeri lukisnya sendiri, dengan ditemani oleh Cepi yang kini telah tumbuh besar dan juga Bagio asistennya.
"Yuri, selamat pagi." sapa Arif yang selama satu tahun ini mengejar Yuri karena menyukainya.
"Selamat pagi Rif. Oh iya, boleh minta tolong tidak jagain dulu galeriku, karena aku mau keluar sebentar untuk membelikan makanan Cepi yang sudah habis." ucap Yuri yang langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Arif.
"Sebentar lagi Bagio datang, sebentar ya." sambung Yuri dan menghilang dibalik pintu.
"Kenapa dia terus menolakku dan menghindariku." gumam Arif yang melihat Yuri pergi.
"Iya, karena dia tak menyukaimu." celetuk Bagio yang datang dari pintu belakang.
Krincing.
"Selamat datang tuan." ucap Bagio menyambut orang yang datang.
"Iya, maaf saya melihat lukisan didepan dan itu sangat menarik perhatian saya. Saya mau membelinya." ucap pria tampan itu pada Bagio.
"Lukisan itu sangat spesial tuan, dan tak ada yang tau arti dari lukisan itu." jawab Bagio pada pria itu.
"Saya tau, itu adalah lukisan padang rumput terlarang. Dan saya sangat mengerti arti dari lukisan itu, jadi tolong saya ingin membelinya." ucap pria itu memaksa.
"Saya telepon kan bos saya dulu." ucap Bagio dan dia menghubungi Yuri.
"Tuan, bos saya bilang sangat sedikit orang yang mengerti dan mengetahui tentang padang rumput itu, dan karena tuan mengerti maka bos saya memberikan lukisan itu secara cuma cuma." ucap Bagio dan membungkus lukisan itu.
Sebulan berlalu, Arif masih saja kekeh mengejar Yuri dan berusaha untuk mendapatkan cinta Yuri, namun tetap saja tak berhasil karena didalam hati Yuri sudah tak ada yang bisa menggoyangkan tahta Keysa yang telah menguasai sepenuhnya ruang hati Yuri.
Guk, guk, guk
Pagi itu Cepi terlihat tak biasanya, dia tiba tiba lepas dari tali lehernya dan terus mengganggu seorang pria yang lewat dengan menggigit tas dari pria itu.
"Cepi, jangan lepaskan, Cepi ayo jangan nakal. Mama tak suka itu!" bentak Yuri pada Cepi, dan akhirnya Cepi mau melepaskan gigitan pada tas pria itu namun dia tetap saja menyalak.
"Maafkan saya tuan, dia tak biasanya begini saya juga tak tau kenapa. Tolong maafkan saya." ucap Yuri meminta maaf dengan tulus pada pria itu yang dikenal bernama Kenan.
“Tidak apa.” Jawab Kenan dan pergi.
"Cepi berhenti dan diamlah." Yuri marah pada Cepi yang jadi sering menyalak dan melepas tali lehernya.
"Duh mbak aku jadi kesel deh sama si Arif itu, tiap hari kesini bikin pandangan Bagio sepet saja." gerutu Bagio pada Yuri.
"Eh Cepi?!" teriak Yuri yang selalu melihat anjing kesayangannya itu aneh akhir akhir ini.
"Dia lari sembarangan lagi mbak?" tanya Bagio yang melihat Yuri ngos ngosan.
Sore itu Yuri datang ke padang rumput, dan ternyata disana ada seorang pria yang sedang duduk bersantai dikursi bawah pohon dengan membaca sebuah buku. Yuri merasa aneh pada orang itu, karena orang itu selalu membuat Cepi berontak dan juga tak bisa dikendalikan.
"Tunggu, anda siapa ya? Kenapa anda bisa tau tempat ini?" tanya Yuri mendekati pria itu.
"Maaf, apa ini tempat anda? Saya tau tempat ini baru baru saja, karena disini sangat tenang dan pas untuk saya membaca." jawab pria itu.
"Begitu ya, kalau boleh tau siapa nama anda? Nama saya Yuri." tanya Yuri setelah menyebutkan namanya.
"Saya Kenan, senang berkenalan dengan nona Yuri, saya permisi." jawab Keysa dan dia pergi meninggalkan Yuri.
"Kenan, kenapa setelah mendengar suaranya dari dekat, ku jadi seperti pernah dengar ya?" Yuri bertanya tanya.
"Tunggu dulu, Cepi." Yuri seolah sedang mengingat sesuatu dan dia kembali ke sanggar lalu membawah Cepi ke Padang rumput.
"Cepi, kenali baunya, apa itu bau Papa? Kau kenal? Benar itu bau Papa?" tanya Yuri menyuruh Cepi mencium aroma yang mungkin tertinggal dikursi itu, yang diduduki oleh Kenan tadi sore.
“Guk." Cepi menyalak dengan keras.
"Temukan keberadaan Papa anak pintar." ucap Yuri pada Cepi dan melepas tali leher Cepi, dengan cepat Cepi berlari kesuatu tempat.
Yuri mengikuti lari Cepi yang sesekali terlihat Cepi berhenti seolah sedang menunggu Yuri menyusulnya. Tiba disebuah rumah Yuri berhenti dan mengatur nafasnya sambil memeluk Cepi erat.
Setelah beberapa detik Yuri menekan tombol rumah, akhirnya ada seorang pria yang membuka pintu dan orang itu adalah Kenan.
"Selamat malam, kenapa anda kemari nona? Dan dari mana anda tau rumah saya." tanya Keysa santai menatap Yuri.
"Ah, itu..." Yuri tak bisa menjelaskan maksud kedatangannya, sampai dia teringat sesuatu yang sebulan lalu ada seorang pria yang mau membeli lukisannya soal padang rumput, yang di dalamnya ada lukisan dirinya saat berulang tahun.
"Permisi." ucap Yuri dan dia langsung menerobos masuk kedalam rumah Kenan dan berkeliling mencari lukisannya.
"Nona, apa yang kau lakukan, berhentilah." cegah Keysa.
"Guk." Cepi menahan Keysa sehingga Yuri dengan leluasa bisa mencari hingga dia menemukan lukisannya di sebuah kamar.
"Dika." gumam Yuri dan sontak Keysa berdiri menatap Yuri.
"Kenapa kau begitu kejam padaku, huh?!" teriak Yuri seketika dan tangisnya pecah.
"Kenapa kau mengganti nama, kenapa kau membuat setatus palsu, kenapa kau tega menyiksa ku, kenapa!?" teriak Yuri histeris.
"Yuri maafkan aku, maaf aku melakukan itu, karena aku mencintaimu." jawab Keysa tak berdaya melihat Yuri yang terlihat sesak karena manangis sangat hebat.
"Tolong jangan menangis lagi, aku memiliki alasan melakukan semua itu. Karena kehancuranmu dan kemalangan yang terjadi padamu semua karena ulahku. Aku tak sanggup menghadapimu, aku tak punya hak untuk mendapatkan semua darimu karena aku telah merenggut semua yang kau miliki." jelas Keysa dan memeluk Yuri.
"Aku tak menyalakanmu, semua sudah takdiriku dan jalan hidupku. Tolong jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon." ucap Yuri memeluk erat Keysa.
"Terima kasih. Dan maaf, aku mencintaimu." Keysa memeluk erat Yuri dan tak ingin melepaskan Yuri dari dekapannya lagi.