Ketika seorang manusia sudah mulai memikirkan tentang lawan jenisnya. Dan juga mulai memiliki sebuah rasa pada dirinya, membuat seisi kepala hanya membayangkan hal yang itu-itu saja. Hal ini lumrah di rasakan oleh banyak orang. Dan tentu ini menjadi landasan awal dari sebuah rasa cinta seorang manusia.
Dengan pemikiran serta suasana hati yang melekat pada dirinya akan seseorang tersebut, membuat salah seorang gadis muda bernama Migiwa ini ingin mengetahui lebih jauh tentang orang yang merupakan dambaan hatinya itu.
Kagawa, nama dari seorang lelaki yang di idamkannya saat ini. Dikenal sebagai orang yang paling tenar se-antero sekolah. Dan juga dia merupakan bagian dari tim basket sekolah, yang sudah meraih banyak gelar.
Migiwa selalu menonton pertandingan yang di mainkannya. Sejak melihat kharisma seorang Kagawa di lapangan berlangsung, Migiwa mulai terobsesi padanya. Obsesi yang dirasakan Migiwa tentu bisa mengganggu daya konsentrasinya hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.
Migiwa sempat berencana ingin mendekati Kagawa, tetapi itu tidaklah mudah. Selalu saja gadis-gadis lain mendekatinya lebih dahulu sebelum ia ikut menghampiri. Hatinya mulai tak tertahankan untuk menyampaikan sebuah rasa yang selama ini ia pendam. Hanya melihat berbagai foto dan rekaman video permainan basketnya, tidak membuat suasana hati Migiwa menjadi tenang. Gelora asmara yang dirasakannya begitu kuat. Dan rasanya seperti tak bisa terbendung lagi.
Migiwa hanya anak biasa di sekolahnya. Tidak sepertinya Kagawa yang berada diatasnya dengan embel popularitas yang tinggi. Rasa tidak percaya diri, malu, dan beberapa rasa lainnya sempat muncul dan menahan pergerakannya. Namun, karena rasa cinta yang begitu kuat, Migiwa tidak ingin membiarkan dirinya hanya diam di tempat tanpa melakukan apapun. Langkah kedua kakinya akan menentukan nasib cintanya. Apakah diterima atau penolakan yang didapatnya.
Siang dan Malam berganti. Dan hari esok telah tiba dengan cepatnya. Dimana sesuai dengan rencana, Migiwa berupaya untuk bertemu dengan sang lelaki idamannya yaitu Kagawa. Hari libur, akan menjadi momen penentuan nasib cintanya. Ini seperti tak berdasar jelas. Datang ke sekolah dengan modal sebuah perasaan suka tanpa sang target tahu pasti tentangnya. Baik itu soal perasaannya, bahkan sampai keberadaannya pun belum tentu diketahui oleh lelaki idamannya tersebut.
Sesekali pikiran itu membayangi di tiap pergerakan langkah kedua kakinya. Rasa gugup, cemas, campur aduk menjadi satu di momen itu. Sesampainya di lapangan basket sekolah, terlihat beberapa orang sedang berlatih. Duduk dengan hati yang tegang, membuat Migiwa merasa kurang nyaman saat itu. Namun, ini tetap harus dipertahankan hingga waktunya tiba.
Waktu berlalu cukup lama, sebuah peluit di tiup dengan cukup kuat. Migiwa yang duduk di tribun penonton pun sedikit terkejut karenanya. Anak-anak basket itu berkumpul sejenak sebelum akhirnya membubarkan diri. Melirik dari kejauhan, berharap tiada seorang pun mengetahui keberadaannya. Migiwa mulai bergerak menuju ke arah Kagawa yang tengah membereskan bola basket tersebut.
"Ku rasa ini momen yang pas untuk kita berdua."
Gumam Migiwa dalam hati.
Selesai membereskan seluruh bola basket, Kagawa langsung bergegas mengambil tasnya. Dan moment itu terjadi. Selangkah ia bergerak membalikkan badan, terlihat didepannya seorang gadis yang tak lain adalah Migiwa itu sendiri. Kagawa heran, dari manakah dia datang (?). Sementara Migiwa masih dengan perasaan deg-degan sembari memikirkan kata-kata yang tepat untuk di ucapkan.
"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu bukan anak basket kan?"
Pertanyaan pertama dilayangkan oleh Kagawa yang membuat Migiwa tambah terdiam kaku. Kagawa melewatinya begitu saja, sebab tiada respon dari Migiwa tadi.
"Bagaimana ini? Aku...Aku.."
Tangan penuh gemetar, serta hati yang seperti ingin melimpahkan segalanya makin menjadi. Membuka mulut dengan sebisa mungkin, Migiwa langsung memberanikan diri saat itu juga.
"Kagawa!"
Panggilan itu terdengar cukup keras. Kagawa menoleh seketika ke arah belakangnya. Ia merasa bahwa gadis itu memanggilnya barusan.
Merubah arah, lalu berjalan mendekat. Migiwa menundukkan sedikit kepalanya di hadapan Kagawa. Lalu ia mulai angkat bicara.
"Aku bukanlah anak basket, aku hanyalah gadis biasa yang bersekolah disini. Aku adalah orang yang tertarik padamu. Sudah lama aku merasakan perasaan ini. Namun, banyak waktu yang terlewati dengan begitu saja tanpa bisa mengungkapkannya. Dan kini adalah waktu yang tepat kurasa untuk mengungkapkannya."
Migiwa masih dalam posisi gemetar hebat.
"Mengungkapkannya?"
Ucap Kagawa yang langsung di lanjutkan lagi oleh Migiwa.
"Ya! Aku ingin mengungkapkan isi hatiku ini. Kau tahu, bahwa aku sungguh menyukaimu. Dan itu sudah cukup lama."
Perasaan lega mulai dirasakannya sedikit walau tak sepenuhnya hilang. Kagawa diam memandang Migiwa yang masih tertunduk.
Selagi menunggu jawaban, Migiwa tak ingin mengangkat wajahnya untuk menatap langsung sang lelaki idaman.
Sebuah helusan kepala yang lembut dirasakan oleh Migiwa.
Kagawa menyuruhnya untuk mengangkat pandangannya itu ke arah dirinya.
Tetesan air mata menghiasi wajah Migiwa saat itu. Kagawa menatap kedua matanya yang penuh tangis.
"Tidak perlu menangis."
Sebuah tisu menghapus air mata Migiwa yang telah berlinang itu. Kagawa menghapusnya dan membalasnya dengan senyuman.
"Sebelumnya ku ucapkan terimakasih. Dirimu sempat membuatku kaget karena kehadiranmu yang datang secara tiba-tiba. Namun..."
Migiwa menunggu jawaban dari Kagawa yang terjeda itu.
"Jadi maukah kamu menerimanya?"
Tanya Migiwa penasaran.
Kagawa dan Migiwa bertatapan empat mata di lapangan basket. Dengan sebuah kepastian yang masih belum terungkap.
Memegang kedua bahu dan mulai berbisik di dekat telinganya. Migiwa mendengar apa yang dibisikkan oleh Kagawa. Ia perlahan menunjukkan senyuman di wajahnya.
Setelah berbisik, Kagawa memberinya senyuman manis lalu pamit pulang.
Lelaki itu telah pergi menjauh dari hadapannya. Dan kini tinggal Migiwa seorang yang berada di lapangan basket tersebut. Senyuman yang masih terukir di wajah dan tangan yang saling menggenggam di dada, menjadi adegan terakhir dirinya hari itu.
"Kau benar. Namun, satu hal yang mesti kau tahu, bahwa gelora asmara ku takkan lekang oleh waktu."
-Tamat-