Setelah menabrak pohon-pohon besar di hutan belantara yang terletak di pulau yang sangat terpencil pesawat pun jatuh. Kim, seorang pria dewasa baru saja sadar setelah beberapa menit pingsan. Dari kepalanya mengalir darah, tangan dan kakinya terluka. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu berjalan melihat sekelilingnya. Sepertinya tidak ada orang yang bernyawa.
Sementara alarm pesawat terus berbunyi. Kim tidak tahu apa maksud dari alarm itu. Yang ia takutkan pesawat akan meledak. Ia harus segera keluar dari pesawat untuk menyelamatkan diri. Ketika Ia berjalan sampai di pintu keluar, Kim menoleh ke belakang. Terlihat olehnya tangan salah seorang penumpang wanita bergerak. Kim berlari mendekati wanita itu, dengan cepat membuka sabuk pengaman dan segera memanggul wanita itu di punggungnya seperti memanggul karung beras dan berlari keluar dari pesawat itu.
"BOOM! BOOM! BOOM!" Setelah Kim berlari mencapai kurang lebih tiga puluh meter, pesawat meledak dan mengeluarkan bunyi yang sangat keras. Dan wanita yang dipanggul Kim sadar dari pingsan setelah mendengar ledakan itu.
"Hey! Lepaskan aku!" Teriak wanita itu sambil memukul punggung Kim.
"Rupanya kamu sudah sadar." Kim yang masih kaget karena pesawat yang ditumpangi meledak, segera menurunkan wanita yang di panggulnya.
"Kamu bawa ke mana aku ini, pria kurang ajar!" Audi, wanita cantik berprofesi selebritis yang sedang naik daun teriak marah-marah pada Kim.
Kim tidak menanggapi Audi. Ia pergi menjauh dari tempat kejadian itu. Ia pergi mencari tempat yang lebih tinggi, supaya bisa tahu sekitarnya. Siapa tahu ada penghuni di tempat itu, jadi bisa minta pertolongan. Tapi belum sampai di tempat yang dimaksud, Kim menyerah karena lemas, tangan dan kakinya luka. Kim menurunkan tas ransel di punggungnya. Mengeluarkan botol minumnya.
Audi masih menampakkan keangkuhannya. Ia membuka sling bagnya. Diambilnya hp, ingin menghubungi seseorang untuk menjemputnya di sini. Sayang sekali tidak ada sinyal. Kemudian ia berlari mencari tempat yang lebih tinggi siapa tahu ada jaringan. Tapi tetap sama, hasilnya nihil.
Lama-lama Audi kelelahan juga haus, ia hanya bisa menelan salivanya. Ia malu bila harus minta pada pria yang tadi ia marah-marahi nggak jelas.
Kim yang sejak tadi bersandar di bawah pohon memperhatikan semua gerak-gerik Audi, berjalan mendekati.
"Haus? Nih minumlah!" Kim menyodorkan botol minumnya yang masih berisi setengah lebih.
Audi tidak segera mengambilnya. Antara enggan dan malu. Ia ragu. Dilihatkan wajah Kim.
Kim mengerti Audi ragu.
"Kamu haus, kan? Ini bukan racun! Minumlah!" Kim masih menyodorkan botol minum miliknya itu.
Tidak lama Audi menyahutnya dari tangan Kim, karena dilihatnya Kim tulus. Audi langsung membuka tutup botol itu.
"Glegeg! Glegeg! Glegeg!" Tanpa rasa malu lagi Audi langsung menenggak minuman di botol itu sampai kandas. Lalu menyerahkan botol kepada Kim dengan melemparkannya.
"Aku tidak mau terus di sini! Aku ingin pulang! Papa tolong aku! Papa jemput aku! Mama aku merindukanmu! Huuuaaa … huuuaaa… huuuaaa…! Audi berteriak untuk melepas kekesalannya kemudian menangis sangat keras tanpa malu pada Kim.
Kim hanya menggelengkan kepalanya, sambil menahan nyeri tangannya yang terluka belum kering.
Setelah lelah menangis, Audi yang bersandar dibawah pohon, tertidur.
Hari mulai sore. Kim mengumpulkan ranting kering untuk dibakar. Membuat perapian. Supaya nyamuk menghindar. Perut Pun mulai keroncongan. Kim berputar mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ia menemukan buah-buahan, dan berhasil menjerat burung. Kemudian dibakar di atas perapian.
Mencium harumnya daging burung dibakar, Audi bangun. Perutnya sudah meronta minta diisi sejak tadi.
Kim mengetahui Audi sudah bangun.
"Kemarilah! Kamu pasti lapar!"
Audi tidak membantah. Langsung mendekat ke perapian dan tanpa malu lagi ikut makan apa yang disodorkan oleh Kim.
Setelah keduanya kenyang dan mengakhiri makan.
"Tidak ada gunanya kamu marah, menangis, dan berteriak-teriak! Menurutmu apa orang-orang yang kamu panggil itu mendengarmu?"
Audi menunduk dan menggelengkan kepala.
"Kita sudah dua hari di sini. Untung tidak turun hujan. Sekarang bantu aku membuat tempat berteduh. Setidaknya kalau malam bisa untuk tidur." Kata Kim.
Audi hanya mengangguk.
Mereka berdua berjalan beriringan kembali ke tempat pesawat meledak. Banyak berserakan serpihan-serpihan pesawat. Diambilnya serpihan-serpihan untuk membuat pondok. Kim yang bekerja sebagai arsitek, sangat mudah melakukan hal itu. Menjelang malam, pondok yang mereka buat sudah jadi. Terdapat dua kamar, ruang tamu dan dapur.
Suatu pagi, Kim masih belum keluar dari kamarnya, karena semalam masih merancang ingin membuat perahu, akhirnya tidur hampir pagi. Sementara Audi, seperti pagi-pagi biasanya, ia sudah membuat sarapan untuk Kim.
"Tok tok tok!" Setelah lama menunggu Kim belum keluar kamar juga, Audi akhirnya mengetuk pintu kamar Kim.
"Kim, Ayo keluarlah! Sarapanmu keburu dingin, nih!"
Kim membuka pintu kamarnya.
"Sarapan apa yang kamu buat, Audi?"
"Pisang bakar."
"Terima kasih Audi, sudah merepotkanmu."
"Tidak merepotkan! Bukankah itu pisang kamu yang tanam?"
"Aku hanya menanam saja. Kamu yang setiap hari selalu repot membuat makanan untukku."
"Kamu telah mengajari hidup mandiri." Audi dan Kim sama-sama tersenyum.
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Dan ini sudah memasuki bulan ke 24. Mereka berdua bahkan sudah hafal lokasi pulau terpencil itu. Semua tempat sudah dijelajahi. Tapi mereka sama sekali tidak mendapat sinyal. Meskipun hp mereka berdua cas karena Kim bisa membuat listrik dari bekas alat-alat pesawat didaur ulang. Bahkan pondok mereka semakin bagus dan terang bila malam.
Karena di pulau terpencil itu hanya ada mereka berdua. Hubungan Kim dan Audi semakin dekat. Selama ini mereka saling membantu supaya bisa bertahan hidup sampai kini. Karena seringnya berinteraksi, Kim dan Audi bisa saling mengerti dan memahami. Semakin lama mereka pun menikmati hidup mereka di pulau ini dan membuatnya betah untuk terus tinggal.
Sudah dua bulan ini mereka mencoba membuat perahu, supaya bisa berlayar dan keluar dari pulau terpencil ini. Mereka tidak tahu apa nama pulau tempat mereka terdampar ini.
"Audi, apa kamu punya kekasih?" Tanya Kim suatu saat.
"Haaahaaahaaa! Siapa yang suka denganku Kim? Aku gadis sombong, ketus, suka enaknya sendiri dan tidak mandiri, pemarah lagi. Semua orang meninggalkanku. Jika ada yang mendekat, itu pasti ada maunya. Jika pun ada yang suka padaku, mereka pasti menganggapku sudah mati dua tahun lalu."
"Kamu benar Audi. Mereka semua menganggap kita sudah mati. Karena selama ini tidak ada yang berhasil menemukan kita di sini." Kim dan Audi menjadi sedih. Mereka berdiri berjajar di samping jendela sambil melihat keluar.
"Audi, apa yang akan kamu lakukan jika kamu hidup di sini sampai tua?"
"Tidak masalah aku hidup di sini sampai tua, selama aku bersama dengan orang yang aku cintai. Aku akan hidup bersama suami dan anak-anakku. Kami akan membangun pulau ini." Jawab Audi berapi-api.
"Apa kamu mencintai seseorang?" Kim menoleh ke arah Audi.
Audi pun melihat Kim lalu berpindah berdiri di depan Kim dan menatapnya. "Apa kamu tidak merasakannya Kim? Selama ini aku …"
Belum selesai Audi bicara, Kim langsung menaruh jari telunjuknya di bibir Audi. "Aku merasakannya. Aku hanya ingin kamu berterus terang."
Audi menunduk. "Kim, apa kamu juga mencintaiku?" Tanya Audi pelan. Takut cintanya bertepuk sebelah tangan. Mengingat kelakuan Audi terhadap Kim di awal-awal pertemuan tidak baik.
"Tidak!" Jawab Kim.
"Deg!" Audi tersentak. Langsung menunduk. Ia mundur perlahan menjauh dari Kim. Ia sangat malu dan ingin sekali menangis saat ini juga. Ia membalikkan badan dan ingin berlari ke kamar.
"Maksudku tidak ingin jauh darimu Audi!" Kata Kim.
Audi menoleh ke arah Kim. Kim mendekati Audi dan memegang kedua tangannya.
"Kim! Kamu jahat!" Audi benar menangis sekarang. Menangis bahagia dalam pelukan hangat Kim.
Walaupun sudah sekian lama mereka hidup bersama, mereka tidak mau melakukan hubungan yang terlarang. Makanya setelah perahu yang mereka buat jadi, Kim dan Audi memutuskan untuk mencari penghulu untuk menikahkan mereka. Mereka sudah berjanji untuk sehidup semati apapun keadaannya.
End