Pernahkah kalian melupakan sesuatu atau seseorang. Entah berapa kali kalian berusaha untuk mengingatnya tapi ingatan itu tak pernah muncul dan pada akhirnya kau memutuskan untuk melupakan semuanya. tapi ketika kau merasa telah puas dengan kehidupan ini kehidupan yang tidak tau apa-apa menarikmu kembali ke jurang memory yang telah hilang dan memaksa mu untuk mengingat kembali apa yang telah kau lupakan.
Sebelum cerita ini dimulai mari ku ceritakan tentang diri ku, nama ku Dila seorang pelajar yang sebentar lagi akan lulus. sudah 3 bulan yang lalu aku lulus dari SMK Jurusan perhotelan dan sekarang sebentar lagi akan lulus dari pelatihan pelayanan kapal pesiar yang di tawarkan oleh guruku.
Aku tidak tau kenapa aku mau kerja di atas kapal pesiar, mulut ku langsung mengatakannya tanpa berkompromi dengan otakku. nah perkenalan tentang diriku sampai disini, waktunya kita untuk masuk kedalam ceritanya. cerita tentang dia yang terlupakan di ingatan rapuh ku.
.
.
.
“5 hari lagi,” kata ku tersenyum melihat papan Mading di lorong “5 hari lagi nama ku akan ada di sana,” ucapku.
“Dila!!!!” teriak teman ku yang sedang berlari ke arah ku “sedang apa kau di sini, kau gak mau masuk kelas!” kata Risa teman ku “iya ini aku mau ke kelas kok.” aku berjalan menuju kelas dengan Risa di samping ku “oh ya, Wandi mana yah?” tanya ku pada Risa “katanya dia udah dikelas.” jawab Risa “oh~~~”
sampainya aku dikelas ternyata sudah pada masuk hanya tinggal kursi belakang satu dan kursi tengah satu terpaksa deh aku dan Risa harus terpisah. dan di barisan depan kanan sudah ada Wandi yang sedang bergosip ria dengan para penggosip lainnya. terkadang aku heran dengan Wandi padahal dia kan cowok kok suka banget bergosip dengan perempuan.
sudahlah lebih baik aku harus mengulang pelajaran kemarin yang masih banyak yang salah kalo gak bisa bisa aku kena marah lagi nih.
———————————
bel istirahat berbunyi aku, Risa dan Wandi berangkat ke kantin bertiga dengan aku yang ditengah mereka berdua.
setelah sampai kami segera memesan makanan dan langsung duduk di dekat penjualnya saat sedang asik bercerita tiba-tiba saja datang 2 cowok dia teman ku yang lain tapi beda kelas. Si murah senyum bernama Bagas si berwajah muram bernama Aaron, Meraka berdua bergabung bersama kami.
—————————
bel masuk berbunyi aku dan yang lainnya langsung saja berjalan ke kelas berikutnya, kali ini aku sekelas dengan Bagas dan Aaron.
—————————
setelah jam kelas lainnya.........
—————————
bel pulang telah berbunyi. Di kelas terakhir aku hanya sekelas dengan Aaron. Setelah keluar dari pintu kelas Aaron tiba tiba saja memanggilku “Dila” Aaron memegang tangan ku “hm..” aku berdehem “kapan kamu punya kelas malam?” Aaron bertanya “besok lusa, kenapa emangnya?” aku bertanya balik “ada yang ingin aku katakan!” wajah Aaron menjadi serius ‘gak biasanya?’ tanya dalam hati “kenapa gak sekarang aja?” tanyaku lagi.
Aaron melepaskan tanganku, sambil menggelengkan kepalanya “belum waktunya.” kemudian dia pergi aku hanya bisa melihat punggungnya yang semakin menjauh sambil keheranan, kemudian aku memutuskan untuk melupakannya seperti yang biasanya aku lakukan.
————————
Sampainya aku di kamar asramaku, aku segera melepaskan semua atribut yang ada di tubuh ku kecuali pakaian.
“hah~~~~~” Hela nafas ku setelah aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur. saat aku memejamkan mata guna ingin tidur tiba-tiba saja sebuah ingatan kilas terlintas.
Ingatan itu menunjukkan wajah laki-laki yang sedang tertawa tapi wajahnya kurang jelas karna cahaya matahari yang menghalangi.
aku terbangun dari tidurku, terkejut dan rasa sakit di kepala menyusul.
TING......
UKH!!!....
ingatan itu tak berhenti disitu ingatan tentang lelaki itu terus bermunculan dengan cepat membuat ku merasakan sakit kepala yang hebat.
dengan tergopoh-gopoh aku bangun dan menuju kamar mandi mencuci muka bahkan menggelamkan wajah sampai rasa sakit ini berkurang.
15 menit kemudian rasa sakitnya hilang aku berhenti membilas wajahku segera mengelapnya dengan handuk kecil yang tergantung dekat pintu.
tanpa melihat kaca aku sudah tau penampilan ku saat ini sangat kacau bukan hanya penampilan perasaan ku pun terikut kacau.
jadi malam ini aku tidak bisa tidur dan hanya menonton TV semalaman.
—————
besoknya...
seperti yang aku duga walaupun wajahku sudah kuberikan makeup tetap saja rasa lelah yang terpasang di wajahku tidak menghilang.
“kau kenapa Dil?” tanya Risa. Aku melirik ke arahnya dengan tangan yang sedang memijit pelipisku “aku gak tau, dari kemarin kepala ku selalu sakit.” jawabku “mungkin kamu kecapean,” kata Wandi “bisa jadi.” balasku “kamu izin aja Dil, soal absen kamu kan sekelas sama Risa dan Wandi biar mereka aja yang absenin.” tawar Bagas “wow ini pertama kalinya si Bagas menyarankan sesuatu yang bagus,” kata Aaron “mo'on maap maksud si ganteng apa yah,” tanya Bagas dengan tersenyum tapi sebagian wajah menggelap.
“sudah-sudah kalo mau pacaran nanti aja sekarang Dila kamu balik aja.” kata Risa, aku mengangguk kan kepala sebagai balasan dan tanpa basa basi aku kembali pulang.
——————
besoknya lagi aku masih dikondisi yang sama ditambah aku saat ini sedang ada di kelas malam untuk pelajarannya sedikit saja kalo gak aku sudah gak tau apa bisa malam ini aku bertahan.
“kalo gak salah, katanya Aaron mau ngomong sesuatu sama aku,” kata ku. “kalo gak salah hari ini juga kelas malam untuk Bagas dan Aaron kan.” tanpa basa-basi lagi aku pergi menuju kelas mereka tapi baru saja aku mau masuk lagi Bagas sudah muncul di depan pintu.
“BAGAS!!!” teriakan ku, Bagas menoleh dia meninggalkan temannya dan datang ke arahku.
“hai Dil,” sapa Bagas “hai juga, oh ya Aaron mana?” tanyaku “oh, Aaron masih ada kelas.” jawab Bagas aku hanya mengangguk kan kepala “benar juga Aaron bilangan dia mau sampein sesuatu sama kamu kan?” tanya Bagas dan aku mengangguk lagi “ya udah, karna Aaron sedang sibuk biar aku aja yang gantiin Aaron. Ayo ikut aku.” Bagas menarik lenganku tanpa menunggu jawaban dari ku.
———————
setelah berjalan/berlarian kecil kami sampai juga dia melepaskan tanganku “kamu duduk aja dulu gin, taro juga tasnya.” pintanya aku hanya mengikuti permintaan nya “em... Dil sebelumnya kamu jangan terkejut dulu yah,” katanya yang cemas, lagi lagi aku hanya bisa mengangguk.
Bagas menarik nafas dalam-dalam kemudian melepaskan nya. setelah merasa siap dia menyingkir “mungkin kamu tau sesuatu tentang ini,” katanya.
setelah dia menyingkir sebuah meja sekolah yang usang terlihat. meja ini tampak buruk ada banyak coretan dan setiker tempel juga beberapa kayu sudah terlepas dari posisinya bahkan sebagiannya juga sudah dimakan oleh rayap.
tapi apa-apaan ini rasa sesak di dada dan perasaan yang campur aduk yang sulit dijelaskan ini. bahkan air mataku saja sudah mengalir.
TING.....
sakit kepala dan ingatan itu muncul kembali membuat perasaanku semakin menggila, rasa sakit di dada juga semakin menjadi air mata tak berhenti mengalir.
sebenarnya apa?dan kenapa?
ingatan tentang laki-laki itu tidak berhenti dia selalu muncul secara membabi buta.
‘Dila’
degh
siapa?
'Dil, kamu ngapain’ oh ternyata lelaki itu yang memanggil ku.
itu salah satu ingat yang muncul. dimana saat aku sedang menikmati kesendirianku ditaman belakang sekolah.
tangisan ku semakin menggila tanpa sadar aku sudah memeluk meja dan pada akhirnya aku terjatuh. teman temanku pada datang melihat tak tega ke arahku.
‘sekarang aku ingat. aku ingat kau. kau yang selalu menceriakan hari ku. kau yang bagaikan mentariku. kau yang selama ini kutunggu.’
.
.
.
.
dia pergi dihari itu, dimalam itu.
saat itu aku sedang telponan dengannya.
“ah.. sayang sekali padahal aku masih ingin terus becanda dengan mu seperti sekarang,” kata Husein nama lelaki itu “apaan sih kamu. kita kan bisa ketemu besok lagi.” balasku. Sesaat tak ada jawaban “Husein?” panggil ku “hm... mudahan." ucapnya yang agak sayu “Dil.” suaranya melemah “ya” balasku “ ... ” tak ada jawaban darinya “nanti... jangan lupakan aku yah...” ucapnya yang sendu kemudian telpon pun terputus.
aku saat itu bingung apa yang dia ucapkan. kemudian besoknya seperti biasa aku masuk paling pagi aku segera berlari ke dalam kelas dengan senyuman yang tak tertahankan saat membuka pintu kelas.
kosong.
“aneh, biasanya biarpun aku datang sepagi apapun dia selalu datang lebih dulu dari ku.” dengan perasaan yang mengganjal aku duduk di bangku menanti kedatangannya.
sudah hampir bel masuk tapi dia masih belum kelihatan perasaan ku semakin cemas sampai bel masuk berbunyi dia juga belum datang.
sampai guru datang pun dia tetap saja tidak kelihatan. Alih-alih Husein yang datang malah ibu dan ayahnya yang datang membuat suasana suram sebab orang tua Husein datang dengan bingkai foto Husein yang sedang tersenyum dan ibunya sedang menahan tangis.
perasaanku semakin tidak enak, aku tidak terlalu mendengar apa yang mereka katakan sampai ketika ayahnya Husein mengatakan bahwa Husein telah tiada. Seketika isi kepala ku kosong ‘nanti... jangan lupakan aku yah...’ ucapnya yang semalam tiba-tiba saja terbersit di kepalaku dan dengan nekat aku segera berlari meninggalkan sekolah menggunakan jalan rahasia yang ku buat dengannya.
aku terus berlari tanpa arah yang ku tau aku harus pergi ke rumahnya. Tapi di tengah jalan aku tertabrak oleh pengendara gila, tidak lama kemudian teriakan terdengar orang-orang mulai berdatangan tak lama kemudian Serene ambulance ikut terdengar penglihatan ku mulai kabur pendengaran ku juga tak berfungsi yang ku pikirkan kan sekarang hanya wajah Husein yang sedang tertawa, mataku pun tertutup.
.
.
.
.
mataku terbuka saat ini. ini bukannya untuk menangis, dengan sekuat tenaga aku bangkit kemudian lari temanku berteriak memanggil namaku tapi tak ku hiraukan aku terus berlari tujuanku saat ini adalah rumahnya.
Lama aku berlari akhirnya aku sampai di depan rumahnya tapi rumah ini terasa kosong kebetulan ada orang lewat aku pun langsung bertanya “rumah ini sudah gak dihuni sejak 3 tahun yang lalu,” kata orang lewat itu.
kepala ku langsung kosong aku muali berlari lagi kali ini aku tidak tau harus kemana yang aku tau aku hanya ingin lari.
sampai pengendara motor menabrak ku lagi dengan kecepatan tinggi sampai aku terpental.
UKH
sakit...
sakit sekali....
teman-teman ku datang Risa berteriak histeris memanggilku orang-orang mulai ramai Serene ambulance ikut meramaikan membuat ku teringat saat aku mengalami kecelakaan 3 tahun yang lalu tapi aku rasa kali akan berbeda.
mataku pun tertutup tak ada suara yang terdengar lagi tapi aku bisa melihat cahaya yang terang didepan ku disana juga ada dia “Husein!!!” teriakku. aku segera berlari ke arahnya dan dia sudah disana merentangkan tangannya sambil tersenyum ke arahku.
saat aku sudah sampai aku langsung berhambur ke pelukannya dan kami seketika berubah wujud saat kami masih ada di kelas 9 SMP.
aku tidak tau apa-apa lagi yang aku tau aku akan dan Husein tak akan lagi terpisah.
TAMAT.....