Leon, dia adalah seorang tentara yang berprestasi, karena prestasinya yang bagus, langsung dari sang jendral dia mendapat jatah tiket untuk berlibur.
Sebagai orang yang memiliki sifat kakuan dia merasa bingung, haruskah dia pergi atau lanjut berlatih saja agar semakin kuat?
"Aku harus pergi?" tanya Leon. Dia menatap sahabat sehidup sematinya itu dengan bingung.
Namanya adalah Kiro. Dari bayi mereka sudah bersama, masuk taman kanak-kanak bersama, sekolah dasar sama, SMP juga sama, bahkan ketika mengambil SMA khusus Militer mereka juga sama, hingga akhirnya ditugaskan di camp yang sama.
"Ambil saja, tiket itu berlaku lusa. Awas saja jika kau tidak mengambil tiket itu, kau tahu aku sangat iri padamu. Jadi, jika kau tak menggunakan tiket itu dengan benar, aku akan mencincangmu!" ucap Kiro.
Leon tersenyum kecil, dirinya tahu Kiro hanya mengucapkan itu dengan main-main. Tak seperti dirinya yang kakuan dan tak tahu harus berbuat apa ketika dapat jatah libur khusus, Kiro adalah orang yang bersemangat jika dapat tiket tersebut.
"Baiklah, aku akan pergi. Em, biasanya apa saja yang perlu dibawa?"
"Tak perlu banyak-banyak hanya dua pakaian santai, alat mandimu, dan kantung kresek." Leon mengangguk. Baiklah, dia akan mempersiapkannya.
***
Ketika hari H tiba, Leon memberi hormat kepada Kiro sebagai tanda salam perpisahan. Kiro juga membalasnya dengan memberi tanda hormat.
Leon masuk ke kapal mini itu dengan cepat, ketika memasuki kapal dia terkejut dengan kemewahannya itu. "Jendral terlalu berbaik hati untuk memberiku tiket ini," gumam Leon.
Leon menuju kamar pribadi yang dia gunakan, tertulis #10 di depan kamarnya. Dia menghabiskan waktu dengan melatih otot-otot tubuhnya hingga tak terasa sudah waktunya makan siang.
"Mandi dulu." Leon segera ke kamar mandi dan menyiapkan dirinya. Keluar, dia memakai pakaian santai miliknya, tak ber-merk, tetapi harga kain per-meternya sudah berada di jangkauan orang-orang kaya.
***
Setelah menikmati berbagai fasilitas Leon menghela napas. "Ini cukup bagus. Namun, apakah tidak apa-apa jika aku bersantai? Apakah kemampuanku akan berkurang jika aku bersantai?" Leon merasa resah memikirkan hal itu.
Tampilan resahnya yang berada di pinggir dinding kapal membuat seseorang di antara penumpang kapal menjadi kesal. "Hei! Apakah kau memiliki masalah?! Wajahmu yang resah itu menganggu pemandangan indah ini!"
"Jika kau memiliki masalah yang belum diurus mengapa harus pergi berlibur, hah?! Sedang melarikan diri dari tanggung jawab 'kah?"
Leon menatap bingung wanita yang memarahinya itu. Dengan sopan Leon meminta maaf dengan membungkuk singkat. "Maafkan aku, Nona. Aku akan pergi dan tidak menganggu pemandanganmu."
Sudah dibilang, dia kakuan. Leon jarang berinteraksi dengan orang selain Kiro dan sang Jendral. Ketika ada seseorang yang mengajaknya berbicara, Leon hanya akan mengambil satu kata untuk intinya, dan tak memahami yang lain.
Ketika mendengar kata wanita itu dirinya 'menganggu' dia langsung meminta maaf dan pergi. Wanita itu mengedipkan matanya. "Heh?!" Wanita itu sedikit tak terima dengan respon Leon.
Dia sedang berbicara dan bertanya 'kan? Mengapa lelaki itu langsung meminta maaf? Dia ingin bercekcok atau istilahnya berdebat oke?! Terlalu singkat untuk dijadikan percakapan, ck. Sudahlah. Dia memiliki hati yang baik, untuk saat ini, lelaki itu dia maafkan.
***
"AH!" Leon mendengar teriakan dari samping kapal. Itu tempat terpencil, tidak banyak orang lewat, dan teriakan itu tidak cukup besar untuk bisa menarik perhatian orang di sisi kapal yang lain.
Leon segera berlari untuk melihat apa yang terjadi, saat sampai, dirinya melihat seorang wanita tersenyum menatap wanita lainnya yang sedang berusaha memegang dinding kapal.
"Apa yang Anda lakukan?!" Leon segera berteriak marah. Jati dirinya sebagai seorang tentara berbunyi karena melihat adegan tersebut.
Segera, Leon mendorong wanita yang tersenyum itu, dan menolong wanita yang berusaha untuk naik ke kapal lagi. "Ayo, pegang tanganku," ujar Leon.
Leon terlalu fokus terhadap tindakan penyelamatannya itu, sehingga dia tak menyadari ada lelaki dibelakang dirinya. Dan mendorongnya dengan kuat, sehingga membuatnya dan wanita yang berusaha ditolongnya terjatuh!
BRUSH!
Leon dan Wanita itu berusaha untuk berenang, Leon yang merupakan tentara, pastinya lihai dalam keahlian ini, sangat disayangkan bahwa wanita itu meski sudah berusaha tak bisa berenang.
Sebagai seorang tentara, Leon berinisiatif untuk menyelamatkannya. Dia merasa bertanggung jawab atas nyawa wanita tersebut.
Leon cukup lama dan hampir kehabisan oksigen di dalam air tersebut, ketika kepala sudah berada di atas, ternyata kapal mereka sudah menjauh, sejauh 100 meter.
Leon melihat wanita yang berada di pelukannya, wanita tersebut sudah pingsan karena kehabisan oksigen, jika bukan karena pelatihan tentaranya, Leon yakin dia juga tak bisa bertahan.
"Maaf, Nona. Aku sedikit lancang karena telah menyentuhmu," gumam Leon. Leon berusaha berenang meskipun dia kesusahan dan tak tahu arah.
Leon merasa tenggorokannya kering, dia merasa saat ini dia sedang dalam masa dehidrasi. Dia melihat ke segala arah untuk menemukan sebuah atau sesuatu yang bisa menampung mereka.
Ini adalah pikiran optimis serta terencana Leon sebagai seorang tentara. Dihadapkan dalam situasi hidup dan mati, ini bukan pengalaman pertamanya, sudah berkali-kali sebagai seorang tentara dia dihadapkan dengan ini.
Leon melihat sekilas sebuah lekungan. "Semoga saja itu sebuah pulau."
Leon berenang secara teratur agar napas serta energinya tak banyak terbuang dengan sia-sia. Jika dia berenang terlalu cepat, dia akan sesak napas, apalagi dia juga bertanggung jawab atas satu jiwa di dalam pelukannya ini. Energinya juga akan lebih cepat abis jika dia berenang dengan sekuat tenaga.
Jadi, jalan satu-satunya, tenang dan tenang, jika kalian berada di alam liar, kalian harus tenang, jika panik, kematian yang akan datang menunggu Anda!
Dalam lima menit, bibir pantai akhirnya terlihat, membuat mata Leon berbinar. "Itu benar-benar pulau! Nona, kita akan selamat!" Meski dia tahu wanita ini masih pingsan, dia tetap berkata dengan sedikit senyum dan rasa senang.
Akhirnya Leon dan Wanita itu sampai di sisi pantai. Leon memperhatikan pulau yang penuh hutan itu, memastikan tak ada ancaman besar membuatnya memperhatikan wanita itu.
Leon mencoba memeriksa apakah wanita itu masih memiliki napas dan detak jantung, dan ternyata ada. "Oke, saatnya pertolongan pertama."
"Maaf, Nona. Aku tak bermaksud, tetapi ini untuk menyelamatkan Anda." Leon segera menempatkan tangannya di dada sang wanita dan mulai menekannya dengan keras.
Dia mencoba mengeluarkan air yang sempat membuat wanita ini tersedak. Lalu pada akhirnya. "Uhuk, uhuk."
Wanita itu bangun dari pingsannya, wanita tersebut mengerjapkan matanya dengan pelan, dan akhirnya membuka penuh matanya.
"Nona?" Leon yang mengetahui bahwa wanita itu sudah membuka matanya langsung menjauh dua langkah ke belakang dan berdiri menunggu sang wanita bangun.
Wanita itu langsung terduduk dan menatap ke segala arah dengan panik. "DIMANA AKU?!" Leon mengerjapkan matanya dengan terkejut dan mengusap telinganya.
"Nona," panggil Leon. Wanita itu langsung menatap Leon.
"SIAPA KAMU?!" Mendengar teriakan nyaring itu lagi, Leon mundur tiga langkah, oh sungguh, dia tak sanggup mendengar teriakan nyaring wanita itu. Itu berbeda, bahkan sangat berbeda dari teriakan nyaring milik sang Jendral.
"Nona, bisakah Anda tidak berteriak?" Wanita itu terdiam. Dia sadar apa yang sedang dilakukannya dan bersemu merah.
Leon menghela napas. 'Akhirnya wanita ini tenang,' batinnya.
"Nona, coba ingat sesuatu sebelum Anda jatuh pingsan." Wanita itu menatap Leon waspada, sebelum mengangguk kecil.
"Baiklah." Dalam beberapa detik wanita tersebut sepertinya sudah teringkat ketika Leon menatap wajahnya yang sudah dipenuhi amarah.
"Sialan! Wanita jalang itu! Gak tahu terima kasih malah mau bunuh gue?! Gak ngotak, bastard!" Leon tercengang ... dia kira wanita di depannya ini manis, ternyata bisa juga berucap kasar seperti itu.
Memang, pepatah itu benar. Don't judge a book by its cover. Wanita ini memang tampak manis dan baik, padahl sifat aslinya seperti itu, ya, Leon cukup maklum setelah beberapa saat.
Sementara wanita itu akhirnya tersadar apa yang diucapkannya setelah melihat wajah tercengang pria di depannya. Lagi dan lagi, dia bersemu merah.
"Ma-maaf ... aku sangat kesal tadi," cicit wanita itu.
Leon tersenyum tipis dan mengangguk kecil. "Saya mengerti, Nona."
Setelah percakapan singkat itu, keadaan hening, dengan Leon yang tak tahu bagaimana menjelaskan keadaan, dan Wanita tersebut yang tak tahu harus bertanya apa karena sudah terlanjur malu.
Hingga akhirnya, wanita itu bersin. Leon langsung menatapnya dengan gugup. Ini pertama kalinya dia melihat seorang wanita sakit di depannya. Maklum, seumur hidupnya, dia di rawat oleh Sang Jendral Besar yang tak lain adalah Ayahnya sendiri, sang Ibu telah meninggal dunia karena waktu dia lahir sang ibu sudah terlanjut kehilangan banyak darah.
"Nona, maaf, sepertinya kita hanya bisa menginap selama beberapa hari di sini. Karena saat itu kapal sudah berjalan cukup jauh dari kita."
Leon duduk dengan jarak satu meter dari wanita itu dan mulai mengungkapkan kejadiannya. "Karena saya merasa mungkin jika kita kembali ke kapal itu, akan ada orang yang membahayakan nyawa Anda. Jadi, saya akhirnya memutuskan untuk membawa Anda ke sini terlebih dahulu."
"Tenang saja, ini mungkin tidak akan mencapai satu minggu, dan saya akan memasang tanda S.O.S dari sekarang."
Ini pertama kalinya bagi Leon untuk berbicara panjang lebar terhadap waga negara biasa, dia sedikit gugup dan membuat jantungnya berdegup kencang.
Wanita itu mengangguk kecil, dia merasa setuju dengan tindakan Leon, meskipun ... dia mungkin ketakutan karena pulau ini, meskipun terlihat indah di siang ini, siapa yang tahu malamnya akan ada apa?
"Kamu ... bisakah kamu memperkenalkan nama?" tanya Wanita itu. Leon berkedip, beberapa saat kemudian dia mengangguk.
"Ah, saya ... Leonard Aditya." Wanita itu mengangguk. 'Nama yang bagus.' Pikirnya.
"Anda?" tanya Leon balik.
Wanita itu terperangah, "Ah ... apa?"
"Nama Anda, Nona." Wanita itu mengerjap bingung sebelum menutup mulutnya terkejut.
"Kamu tidak mengenalku?!"
"Ah ... maaf?" Sekarang Leon yang bingung. Apakah ... dia harus mengenal semua warga negara yang ia lindungi? Tetapi, Jendral tak pernah memberikan materi itu padanya.
"Kamu manusia dari mana?" Ok, sepertinya Leon merasa bersalah saat ini.
"Maaf ...." Leon berkata dengan suara kecil dan membungkuk singkat dengan kaku.
Wanita itu entah kenapa merasa bersalah dengan kata maaf Leon, dia seketika merasa sadar. Tidak semua orang bisa tahu namanya, mungkin karena kurang update atau apa.
"Ti-tidak, aku yang minta maaf, mungkin sebagian kecil orang tak mengenalku, dan itu termasuk kamu."
Wanita itu akhirnya berdiri, dan tersenyum kepadanya. "Halo, salam kenal! Aku adalah Namia Solo! Aktor internasional, serta punya gelar penyanyi terbaik tiga tahun terakhir ini."
Saat itu Leon mengerti. Mengerti mengapa wanita itu terkejut ketika dia tak tahu namanya. Lagipula dia seorang aktor. Tetapi, mungkin itu kesalahan Leon karena terlalu fokus latihan dan latihan terus menerus sehingga tak memperhatikan hal lain.
Artis satu-satunya yang dikenalnya hanya Roma Irashi, penyanyi terbaik lima belas tahun yang lalu.
***
Malam pun datang. Dinginnya sekarang bahkan sangat ekstrem. Wanita itu, ah tidak, Namia merasa kedinginan. Leon yang peka pun melepaskan hoodie yang dipakainya tadi, dan menyisakan pakaian santai tipisnya.
Namia terkejut ketika melihat sebuah hoodie di depannya. Dan menatap Leon yang berkaos tipis. "Pakailah." Leon menatap Namia lalu hoodienya.
"Tapi kau akan kedinginan, bukan?" tanya Namia. Leon hanya tersenyum kecil.
"Saya sudah terbiasa. Anda pakai ini, tidak baik jika seorang pria membiarkan seorang wanita kedinginan." Itu adalah kata yang dia rangkum dalam buku yang pernah Kiro, sahabatnya beri.
"Ah, baiklah, terima kasih." Namia tersenyum tipis, Leon mengangguk dan ikut tersenyum.
Tanpa Leon sadari, pipi Namia bersemu merah saat sudah memakai hoodie miliknya. Dan tanpa Namia sadari, Leon melihat Namia dengan intes saat wajah Namia tenggelam di balik hoodie kebesarannya itu.
Malam itu, sangat tenang hingga orang-orang merasa sangat santai. Leon menatap batu yang di tatanya dengan ukuran yang sangat besar sebagai sinyal bahwa mereka ada di sini.
Lagipula, dia adalah seorang Brigjen, atau bisa dibilang Brigadir Jendral di usia mudanya, dan sang ayah adalah Jendral Besar. Jika dia tidak kembali hingga hari esok, mereka pasti akan mencari informasinya. Itu tak akan sampai dua hari.
Lalu Leon menatap Namia yang sudah tertidur di bantal buatannya. Itu terbuat dari daun kelapa, sedikit buruk tetapi dapat dijadikan bantal.
"Nona ... tunggu sebentar saja." Leon akhirnya duduk sambil tertidur.
***
Matahari sudah muncul dengan malu-malu. Tetapi kedinginan malam masih 'lah sangat terasa. Namia yang merasa kedinginan terbangun dari tidurnya. Dia menatap ke sekeliling setelah terbangun dan duduk.
Menyadari bahwa tak ada Leon di sampingnya dia segera berdiri dan berteriak dengan panik. "LEON!"
Tak ada sahutan, dia berteriak kembali. "LEON! KAMU DIMANA?!"
Tak ada jawaban lagi. Dia akhirnya terduduk lesu dan menangis, sedikit lama dia diposisi itu sampai dia merasakan elusan di kepalanya. "Nona, ada apa?"
Namia tersentak. Tampa sadar dia memeluk pinggang Leon dengan posisi tingginya yang masih setengah badan itu. Leon membeku ketika menyadari betapa canggungnya posisi ini.
Namia menangis. "Kenapa kau meninggalkan aku sendiri?"
Leon memiliki wajah bersemu merah. "Nona ...."
"Kau membuatku takut!" Bentak Namia. Leon tersentak, bentakan itu membuat perhatian Leon teralih dari posisi canggung menjadi rasa bersalah.
Dia duduk dan membalas pelukan Namia. Dia menepuk-nepuk pelan punggung Namia. "Maaf, Nona. Saya mencari makanan untuk kita."
Namia masih menangis senggugukan. Dia masih tidak ingin melepas pelukannya dari Leon. "Maaf, Nona. Maaf ...." Hanya itu kata yang Leon ulang hingga tangis Namia mereda.
Ketika tangis Namia berhenti, akhirnya Namia sadar bahwa sedari tadi dia menangis dalam pelukan Leon dan membuat pakaian Leon basah. "A-ah! Maafkan aku!"
Mata Namia berkaca-kaca lagi. Leon hanya terkekeh. "Tidak apa, Nona."
"Sekarang, ayo kita makan?" Leon memberikan sebuah kelapa dan segenggam buah-buahan di tangannya.
"Kau?"
Leon tersenyum. "Saya sudah, Nona." Namia mengangguk kecil dan akhirnya makan makanan yang diberikan Leon.
"Manis," gumam Namia ketika merasakan salah satu buah berjenis berry tersebut.
***
Beberapa hari berlalu. Hubungan Namia dan Leon menjadi dekat setiap hari berlalu. Hingga ... saatnya waktu berpisah tiba.
Sebuah kapal dengan warna khas tentaranya datang. "Brigjen Leon!" Leon menatap salah satu bawahannya yang datang.
Sikap tegasnya kembali, Namia yang tak pernah melihat sifat itu mendadak bingung, dia bahkan lebih bingung ketika tahu bahwa Leon adalah seorang tentara.
Tetapi dia juga lega. Dia akhirnya tahu darimana sifat kakuannya, mandirinya. Tetapi, saat ini dia merasa sedikit sedih atau bisa dibilang sangat sedih. Mereka akan berpisah. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
Dia menatap Leon yang sedang memberi hormat pada seseorang yang tak dikenalnya. Dia merasa nyaman belakangan ini karena hanya Leon yang dapat merawat orang manja sepertinya. Leon bahkan tidak pernah mengeluh, dan saat dia menangis, Leon bukannya marah malah terus memibta maaf.
Apakah mereka memang harus berpisah seperti ini? Tidak bisakah tentara-tentara ini lebih lama saja saat menemukannya? Mengapa pekerjaan mereka begitu efisien dan cepat? Namia menjadi sedih.
"Ini, Nona Namia. Pelaku itu masih tersebar diluar, segera mencarinya karena itu mungkin membahayakan nona ini lagi." Leon berkata serius.
Namia mendekati Leon. Dia memegang ujung baju Leon. "Leon," panggilnya.
"Ya, Nona?" Namia hanya tersenyum sedih. Apakah dia terlalu berharap bahwa Leon akan merasakan hal yang sama padanya seperti dia merasakan sesuatu perasaan yang aneh pada Leon?
"Tidak ...." Namia melepaskan tangannya dari baju Leon dengan lemah.
Mereka naik ke kapal dan meninggalkan pulau tersebut.
***
Satu tahun kemudian.
Di tempat latihan.
"Mayjen!" Seorang lelaki dengan pakaian ketatnya menghadap kebelakang. Dia adalah Leon.
Sekitar dua bulan yang lalu, pangkat Leon naik lagi menjadi Mayor Jendral karena sebuah peristiwa.
"Anda mendapat libur dari Jendral Besar Khois." Khois, dia merupakan sahabat sang Ayah. Karena tidak ingin dianggap sebagai seorang anak yang mengandalkan sang ayah.
Leon sedari awal menutupi identitasnya, tetapi pada akhirnya masih terbongkar. Untung saja, tidak ada yang mencibirnya dan mengatakan hal itu maklum dari segi kemampuan, walau satu dua orang tetap merasa cemburu.
Juga, Leon tidak terlalu dibicarakan, karena dari semua tentara, Khois mengkhususkan agar pelatihan Leon lebih ketat, dan itu merupakan kelonggaran yang cukup bagi tentara lainnya.
"Katakan terima kasih pada jendral." Lelaki yang menjadi lawan bicara Leon mengangguk.
Leon segera berhenti dari acaranya melatih tentara baru. Ya, karena perintah Khois menyuruhnya untuk melatih anak-anak baru.
Sebelumnya-sebelumnya Leon akan menolak dirinya karena menganggap bahwa Leon juga orang yang masih berlatih, jadi tak pantas untuk melatih orang lain.
Tetapi, Khois mengancam Leon akan menolak permintaan libur Leon. Ya, sungguh permintaan yang menakjubkan ketika Khois mengetahui permintaan Leon tersebut. Alhasil, itulah yang terjadi.
Leon langsung masuk ke kamar miliknya pribadi yang ada di kamp tentara tersebut. Leon mengambil ponselnya dan menatap sesuatu di dalam ponselnya.
.
.
.
@NamiaSolo
[Picture]
Halo semua! Aku comeback! :3
.
.
.
Ketika Leon melihat hal tersebut dia tersenyum dan mengetikkan sesuatu.
[Nona, Anda kembali. 😊]
***
Di tempat lain, seorang wanita baru saja memeriksa upload-an photonya. Ada satu komentar dengan username yang menarik perhatiannya.
@LeonardAditya11
[Nona, Anda kembali. 😊]
Wanita itu memeriksa akun tersebut dengan reflek. Dia melihat hanya ada tiga postingan di akun tersebut, meski begitu pengikut pria tersebut sangat banyak.
Photo pertama, merupakan foto ... album dirinya?! Kalian pasti sudah mengetahui bahwa dia adalah Namia.
@LeonardAditya11
[Picture]
Lihat-lihat! Aku menemukan ini di ruangan Leon! Gadis-gadis, Leon mempunyai pujaan hati! -Mimin Kiro.
Dipost : Sebelas bulan yang lalu.
Namia merasa aneh dengan deskripsinya, apakah ini akun fanbest? Dia melihat deskripsi akunnya. Desk tersebur nenyatakan.
Ini akun Leon, tetapi sering dibajak sama Kiro gans.
Namia sedikit tersenyum senang, seharusnya orang ini adalah orang yang disukainya waktu itu 'kan? Ah ... bukan waktu, tetapi hingga sekarang dia masih menyukai lelaki kaku itu.
Dia sudah berusaha melupakannya selama setahun ini, tetapi dirinya tidak bisa.
Lalu dia mengulirnya ke photo berikutnya. Photo tersebut adalah Leon. Namia gembira ketika melihat hal itu. Dia sangat bahagia! Itu benar-benar Leonnya!
@LeonardAditya11
[Picture]
Perkenalan Resmi :
Nama : Leon Aditya
Pangkat : Brigadir Jendral
Nomor Peserta : BJ-010-BRS-SU-IDN-22
#PertandinganResmiAnggotaTNIUmum
Dipost : Tiga bulan yang lalu
Ketika sudah mengulir ke upload-an tersebut, Namia merasa senang dan tidak mengulir ke postingan apapun lagi. Dia akhirnya tidur siang, bermimpi dengan indah.
'Nona, saya baru sadar bahwa sepertinya saya ingin merawat Anda lebih dari biasanya, saya ingin terus memanjakan Anda selama sisa hidup saya. Apakah Anda bersedia?' - Leon
'Leon, aku mencintaimu! Aku sadar bahwa aku mencintaimu! Bahkan tak bisa menghapus rasa ini! Aku mencoba menghapusnya dan terus menghapusnya! Tetapi tak bisa dan malah semakin tenggelam! Leon, bersediakah kau menerima gadis manja ini?' - Namia