Jalanan pun tampak ramai. Masyarakat berlalu-lalang dan para pedagang menjajakan barang dagangannya. Tahun 1453, dimana kota Konstantinopel berhasil direbut oleh sultan muda Utsmaniyah, Mehmed II. Banyak orang eropa tak percaya kalau, seorang pemuda dapat menaklukkan kota dengan pertahanan yang kuat dan dapat meruntuhkan tembok yang kokoh. Bahkan setiap orang eropa ketakutan kalau, kota mereka menjadi sasaran berikutnya. Tetapi, semua itu tidak terjadi. Terdapat kabar bahwa sultan muda, Mehmed II, meninggal dunia. Semua orang eropa berbahagia.
Keluarga Rashmore, keluarga yang tidak terlalu kaya tetapi, berkecukupan. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, Henry, Crawley, dan Anna. Henry yang paling tua berusia 23 tahun. Dia sangat menyukai berburu dan memanah. Crawley anak kedua berusia 19 tahun. Dia tidak suka berburu tetapi, suka akan keahlian pedang. Terakhir, Anna berusia 17 tahun. Dia perempuan yang pemalu, tidak suka berburu apalagi keahlian pedang. Keluarga Rashmore saat itu harmonis saja tetapi, tidak bertahan lama saat kerajaan Inggris membuat aturan bahwa Umur 19 tahun keatas wajib mengikuti militer pada saat itu, mau tidak mau Henry dan Crawley harus mengikuti wajib militer pada saat itu. Henry dan Crawley dipisahkan dari keluarganya selama sekitar tiga tahun untuk mengikuti pelatihan wajib militer. Henry dan Crawley pun dibawa ke kamp pelatihan.
“Aku tidak suka wajib militer, kak.” Ucap Crawley
“Tenang saja, kita tidak akan disiksa.” Balas Henry
Perjalanan yang cukup panjang, membutuhkan 2 hari perjalanan. Saat tiba di kamp pelatihan mereka pun langsung disuruh ke tempat peristirahatan untuk beristirahat setelah menempuh 2 hari perjalanan. Keesokannya mereka pun langsung latihan fisik dan beradu.
“Gila, kamu bilang kita tidak akan disiksa.” Ucap Crawley mengingat ucapan kakaknya kemarin.
“Kau bilang seperti itu karena, tidak pernah merasakannya, sama kakak juga belum pernah, haha.” Balas Henry dengan tertawa
“Dasar emang kakakku ini.”
“Hey, kalian kenapa mengobrol, disini tidak ada waktu mengobrol, cepat kembali berlatih!” Tegur komandan Robert
“Yes, sir.” Ucap mereka berdua dengan sok tegas
“Aku benci dengan tempat ini, aku mau pulang.” Ucap Crawley karena tidak tahan wajib militer
“Jangan begitu, dik. Kita harus bersabar, ini juga mungkin untuk kebaikan kita, kok.” Balas Henry
“kakak, betul. Mungkin aku harus menghilangkan sifat pemalasku. Walaupun, aku punya keahlian pedang tetapi, memiliki sifat pemalas, ya sama saja tidak punya keahlian.” Balas adik Henry
“Kamu betul, walaupun kita punya keahlian tetapi, memiliki sifat malas, sama saja bohong.”
“Hari ini aku akan menanamkan prinsip kalau, kita punya keahlian tapi, punya sifat malas, sama saja tidak punya keahlian.” Jawab Crawley
Saat akan kembali berlatih mereka pun dipanggil komandan Robert.
“Kalian berdua kesini dulu!” panggil Komandan Robert
“Ada apa, pak?” tanya mereka berdua
“Raja Edward IV, memanggil kalian berdua untuk menghadapnya. Ikuti saya.” Jawab komandan Robert
“Ada apa, pak. Sampai yang mulia memanggil kami?” Tanya Henry
“Sudah ikuti saya saja.” Jawab komandan Robert
Saat sudah sampai di tempat Raja Edward IV.
“Yang mulia, mereka berdua sudah disini.” Ucap komandan Robert
“suruh mereka masuk kesini.” Suruh Raja Edward IV
Mereka berdua pun masuk ke dalam.
“Yang mulia...” Ucap Henry dan Crawley sambil menunduk
“Henry dan Crawley, apa kabar, nak?” tanya yang mulia
“Ba...baik dan se...sehat, yang mulia.” Jawab Henry dan Crawley
“Aku tahu kalian anak yang berbakat dan hebat. Aku yakin kelak kalian akan menjadi pemimpin bangsa ini suatu saat nanti. “ ucap Raja Edward IV
“Terima kasih, yang mulia.” Balas Henry dan Crawley
“Robert, perlakukan mereka dengan istimewa, kelak mereka akan menjadi penerus bangsa ini dan kamu berdua harus percaya diri dan kompak satu sama lain.” Ucap Raja Edward IV
Mereka berdua pun pergi meninggalkan singgasana raja. 2 tahun kemudian, mereka berdua pun akhirnya selesai mengikuti wajib militer dan kembali ke rumahnya.
“Akhirnya, Rumah, ayah, ibu, Anna...” Panggil Crawley
“Mereka tidak ada.” Ucap Henry
“dimana mereka?” tanya Crawley kebingungan
“Kejutan...” mereka dikejutkan oleh ayah, ibu dan Anna
“kalian membuatku terkejut.” Ucap Crawley
“hey, gimana wajib militernya?” Tanya Ayah
“Bagus, yah. Sejak wajib militer, kami mempelajari banyak hal.” Jawab Crawley
4 bulan setelah wajib militer, terdapat kabar kalau, Raja Edward IV membentuk pasukan dalam jumlah besar. Tak selang berapa lama kabar itu muncul, Rumah mereka didatangi sejumlah utusan Raja.
“Siapa diluar?” tanya ibu
“Tidak tahu, bu. Sebentar biar saya yang buka.” Jawab Henry
“Ya, ada yang bisa saya bantu, pak?” Tanya Henry
“Kami dari utusan Raja bahwa kamu dan adikmu akan dipanggil ke pasukan.” Jawab utusan raja tersebut
“Hah, aku dan Crawley akan ikut perang?” Tanya Henry sekaligus terkejut
“Betul, kalian akan mengikuti pasukan di bawah naungan Raja Edward IV.” Jawab utusan raja itu
“Ada apa, nak? Siapa ini?” Tanya Ibu
“Bu, aku dan Crawley dipanggil untuk mengikuti pasukan yang mulia. Mereka adalah utusan Raja, bu.” Jawab Henry
“Tidak ibu tidak setuju.” Ucap Ibu dengan nada tinggi
“Tidak bisa ini sudah keputusan raja bu.” Balas utusan raja itu
“mengapa ribut-ribut di luar?” tanya Ayah
“Anak kita dipanggil raja untuk ikut perang, yah." Jawab Ibu
“Tidak, Ayah juga tidak setuju. Pergi kalian semua!!!” tegur ayah dengan tegas
“Maaf, tapi ini sudah keputusan Raja, anda tidak bisa menolak.” Balas utusan raja tersebut
Setelah berdiskusi panjang akhirnya, Ayah dan Ibu merelakan anaknya untuk mengikuti perang. Walaupun, dalam hati tidak setuju tetapi, ini sudah keputusan Raja. Henry dan Crawley pun bersiap menuju pasukan.
“Nak, jaga dirimu baik-baik yah disana.” Ucap Ibu
“selalu, bu.” Jawab Crawley
“Ini, nak. Ayah ada panahan. Ini selalu ayah pakai saat berburu.” Ucap Ayah ke Henry
“Terima kasih, yah. Ini akan kugunakan sebaik mungkin.” Balas Henry
“Good Luck, son”
“I will.”
Henry dan Crawley pun ikut bersama Raja Edward IV dan pasukannya untuk terjun ke medan perang. Waktu tempuh ke lokasih Raja cukup memakan waktu, kira-kira membutuhkan 4 hari. Di dalam benak Crawley ada perasaan yang tidak mengenakkan tetapi, mungkin hanya sepintas saja menurut Crawley. Sesampainya disana, mereka pun langsung ditujukan ke perkemahannya untuk beristirahat. Di malam hari, Crawley terjaga dari tidur. Dia berlatih memakai pedang. Mendengar suara berisik-berisik, Henry pun terbangun.
“Dik, kamu belum tidur?” tanya Henry yang heran melihat adiknya masih terjaga
“Nggak, kak, aku masih ingin berlatih memegang dan mengayunkan pedang. Kita tidak boleh memegang terlalu kuat, jika terlalu kuat kita akan cepat lelah dan tidak lincah dalam mengayunkan pedang ke musuh. Jika terlalu longgar maka, pedang kita akan mudah terlepas dari genggaman.” Jawab Crawley
“kami itu harus beristirahat. Kita sudah 4 hari perjalanan, gimana kalau, besok kita sudah berperang. Kamu harus menyimpan energimu.” Balas Henry
Keesokan harinya, apa yang dikatakan Henry semalam, benar. Mereka akan berperang melawan perancis yang pada saat itu berusaha untuk menginvasi Inggris. Pasukan Inggris diperkirakan berjumlah 35.000 melawan pasukan Perancis yang berjumlah lebih dari 50.000. pada saat itu, banyak dari pasukan Inggris telah menurun moralnya ketika melihat pasukan Perancis yang hampir dua kali lipat dari pasukan Inggris.
“hey, kalian para tentara Inggris. Janganlah kalian takut dengan pasukan Perancis yang jumlahnya lebih banyak. Kita disini bukan karena, paksaan melainkan, kita disini karena akan mempertahankan tanah kita. Majulah para tentara Inggris, kalahkan semua musuhmu!!!” Seru Raja Edward IV seraya menyematkan kembali para tentara Inggris.
****
“Apa yang diserukannya?” tanya Antoine, penasihat Raja Louis XI
“Mereka sedang berseru menuju kematiannya, hahaha.” Jawab Raja Louis XI sambil tertawa
“mereka tampak bodoh.” Imbuhnya lagi
“panah mereka, itu adalah awal dari penderitaan mereka!” suruh Raja Louis XI
“baik, yang mulia.” Jawab Antoine
“Pemanah!...pemanah...tembak!!” Antoine memberikan instruksi
Panah pun dilesatkan dan banyak pasukan Inggris yang terkena. Tanpa menunggu lama, Raja Louis langsung mengerahkan taktik Full-Attack agar tidak menunggu lama menuju kemenangan. Di sisi lain, Raja Edward IV, pun mengerahkan pasukannya untuk menggempur pasukan Perancis dan konfrontasi pun tak dapat dihindarkan lagi. Pasukan Inggris dan Perancis saling bertarung satu sama lain. Pasukan Inggris yang mengandalkan semangatnya dan pasukan Perancis mengandalkan Kekuatannya. Banyak korban yang berjatuhan di sisi Inggris. Akibatnya pasukan Inggris mundur sampai ke perkemahannya. Pasukan Perancis terus maju sampai mereka tidak tahu bahwa ini sudah direncanakan oleh Raja Edward XI. Pasukan Perancis pun masuk ke perangkap Inggris. Melihat kemenangan di depan mata Raja Louis XI memperlambat serangannya. Itu adalah kesalahan fatal di sisi Perancis. Raja Edward IV tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Pasukan Inggris langsung menyerang balik pasukan Perancis sehingga, Pasukan Perancis banyak yang menjadi korban. Raja Louis pun kaget melihat yang seharusnya kemenangan sudah di depan mata kini berbalik menjadi kekalahan. Banyak sekali korban yang berjatuhan di sisi Perancis. Raja Louis XI pun memerintahkan untuk mundur segera dan Inggris memenangkan pertempuran ini.
****
Inggris pun memenangkan pertempuran ini. Banyak korban yang berjatuhan. Akibat dari pertempuran ini setidaknya lebih dari 5000 dari sisi Inggris yang menjadi korban jiwa dan kurang lebih 10500 yang menjadi korban jiwa di sisi Perancis. Henry dan Crawley pun selamat di pertempuran ini.
“Kak, tadi sangat menegangkan. Bagaimana tidak, kita bisa saja kalah tadi.” Ucap Crawley
“Yup, kamu benar. Ooh ya, kamu tadi berhasil menebas berapa musuh, dik? Tanya Henry
“Tidak kuhitung, kak. Tapi lumayanlah.” Jawab Crawley
Mereka pun kembali menuju daerah Maidstone. Sampai di Maidstone, Henry dan Crawley pun langsung beristirahat di salah satu tempat tinggal masyarakat sekitar yang mempersilahkan untuk tinggal sementara. Setelah dirasa sudah cukup lama tinggal, Henry dan Crawley pun memutuskan untuk pulang ke Rumahnya di Rochester. Tapi komandan Robert memanggil mereka bahwa Raja akan menemuinya. Akhirnya keputusan mereka pun ditunda. Raja memanggil Henry dan Crawley karena akan mengikuti perang di Dover. Karena disana pasukan Perancis berhasil menguasainya sehingga, Inggris harus mengambilnya kembali. Henry awalnya tidak setuju tetapi, karena ini sudah menjadi titah Raja, mau tidak mau Henry dan Crawley akan ikut berperang kembali. Mereka pun harus mengabarkan kedua orang tuanya karena tidak dapat pulang saat ini karena akan mengikuti pasukan Inggris untuk merebut kembali Dover. Seminggu kemudian, mereka pun berangkat ke Dover.
Di tengah perjalanan menuju Dover, terdapar kabar yang mengejutkan. Raja Edward IV meninggal diusianya yang menginjak 40 tahun. Sebelum meninggal, Raja Edward IV memilih untuk membatalkan perjalanan menuju Dover tetapi, semua sudah terlambat. Ternyata pasukan Inggris sudah sampai di Dover dan tinggal menunggu instruksi. Ketika kabar bahwa Raja Edward IV meninggal dan memutuskan membatalkan perjalanan ke Dover.
“Nak, sampaikan kepada Robert, cepat ini perintah Raja!!” Seru utusan Raja Edward IV
Kemudian, orang itu memberi surat kepada komandan Robert dan membacanya. Dengan rasa tidak percaya, komandan Robert memilih untuk tetap menyerang Dover. Meriam-meriam Inggris pun ditembakkan. Pasukan Inggris pun menyerbu Dover tapi, kesalahan fatal Inggris adalah mereka tidak membawa peralatan pengepungan. Jadi, mereka harus mengandalkan pendobrak pintu gerbang. Pasukan Perancis saat itu sudah mempersiapkan segala cara untuk mempertahankan daerah kuasanya. Saat itu pasukan Inggris berhasil mendobrak dan masuk kedalam. Henry sangat yakin kalau, Inggris dapat memenangkan pertempuran ini. Dia banyak sekali menebas musuh dengan oedangnya. Crawley pun juga dapat menumpaskan beberapa musuh. Saat itu keunggulan berada di pasukan Inggris tapi, itu berbalik arah menjadi mimpi buruk. Saat itu pasukan bantuan datang dari arah pelabuhan yang membawa sekitar 5000 pasukan tambahan, inilah yang membuat nyali pasukan Inggris nyiut. Kali ini banyak korban yang berjatuhan termasuk komandan Robert. Henry dan Crawley pun kewalahan bahkan sampai terluka.
Crawley terus bertarung melawan musuh sampai pada akhirnya, ia ditusuk di bagian kanan bawah perut oleh Marco Blanc. Darah mengalir dari perutnya. Dengan sigap Henry memegang Crawley.
“Bertahanlah....bertahanlah kau akan selamat, dik.” Ucap Henry
“Ini sakit sekali, kak.” Balas adiknya
“Jangan rasakan, kau akan bertahan.”
“Kakak masih ingatkah dimana aku berkata walaupun kita punya keahlian tetapi, punya sifat malas itu sama saja tidak punya keahlian. Ughuk...ughuk.” Ucap Crawley sambil terbatuk-batuk
“Aku harus membawamu pulang. Kau akan selamat.” Ucap Henry
“Tidak usah, kak. Bilang sama ayah, ibu, dan Anna bahwa aku akan selalu menyayanginya, termasuk kakak. Selamat tinggal, kak.” kata-kata terakhir Crawley
“Tidak...tidak...bangunlah, dik. Aku harus membawamu pulang.” Balas Henry
Henry pun menggendong jasad adiknya keluar dari kastil Dover dan membawanya pulang ke Rochester dengan kuda. Butuh waktu tempuh yang cukup lama untuk sampai ke Rochester. Sesampainya di Rochester, Henry berjalan dengan kudanya menuju rumahnya sambil lesu. Ia berjalan sangat perlahan. Saat sampai di depan Rumahnya, Ayahnya yerkejut melihat anaknya pulang dengan tiba-tiba. Apalagi Henry pulang dengan sendirian.
“Henry, dimana adikmu?” tanya Ayahnya
“Crawley....sudah tiada, yah....” jawab Henry terbata-bata lalu, menangis
“Sekarang dimana tubuhnya? Tanya ayahnya lagi
Henry pun menunjukkan jasad Crawley yang masih lengkap dengan baju ala tentara Inggris saat itu. Ayah yang tidak tega melihat anaknya langsung masuk kedalam dan memanggil Ibu dan Anna. Saat keluar mereka tampak terkejut dan langsung menangis di depan jasadnya Crawley. Henry dan keluarganya pun akhirnya memutuskan untuk menguburkan Crawley di bawah pohon rindang. Setelah semuanya selesai, mereka pun akhirnya masuk ke rumah kecuali, Henry.
“Hari ini kau sangat hebat, adikku. Yang kau katakan itu benar, jika kita punya keahlian tapi, masih punya sifat malas, sama saja tidak punya keahlian. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang sudah kita lalui bersama, adikku. Semoga kamu tenang disana.” Ucap Henry dan meninggalkan tempat itu.
Henry pun memutuskan untuk tetap mengikuti perang Walaupun, tidak dengan adiknya lagi. Henry meninggal setelah banyak luka dan bekas sayatan pedang di sekujur tubuhnya. Dia dimakamkan di sebelah adiknya.
*TAMAT*
By Muhammad Abdi Khairullah