Tantangan-Day21 Lasmaya
Perempuan cantik berusia matang itu duduk di balkon kamar presidential suite sebuah hotel mewah yang dipesan kekasihnya. Secangkir kopi dan sebilah rokok yang sama-sama mengepulkan asap menemaninya membaca artikel di gagdet sembari menunggu Benjamin, kekasihnya. Perempuan itu biasa dipanggil Aya, namanya hanya terdiri dari 1 suku kalimat yaitu Lasmaya, entah apa tujuan orangtuanya memberikannya nama yang bermakna 'berakhir dengan semu' itu.
Sesekali ia menatap langit biru yang perlahan menjadi oranye tua keemasan lalu sebentar lagi akan menjadi gelap. Menunggu memang hal yang membosankan, namun bagi Lasmaya, hal itu tidak berlaku karena ia selalu menantikan saat-saat bisa bersama kembali dengan seseorang yang selalu spesial baginya.
"Honey, aku sudah di lobby," ujar Ben dipanggilan singkatnya.
"Ok," sahut Aya yang segera mematikan rokoknya, merapikan penampilannya sejenak lalu bergegas menjemput pria itu.
***
"Terima kasih Tuhan, aku bersyukur boleh bertemu denganmu lagi, Aya-ku," ucap Ben sesaat setelah mereka memasuki kamar hotel.
Aya tersenyum tipis menerima tubuhnya dipeluk sejenak lelaki yang dicintainya itu.
"Hubungan kita kayak gini kok kamu malah bawa-bawa Tuhan?" Cicit Aya.
"Meskipun hubungan kita gak pantas, aku percaya, segala sesuatu terjadi atas perkenanan Tuhan, sayang," Ben berasumsi.
Lagi-lagi Aya melempar senyum, "Mandilah, biar badanmu segar," sarannya.
"Mau sekalian mandi bareng?" Ben mengerling nakal.
"Gak," sahut Aya sambil melepaskan jas yang melekat ditubuh Ben.
"Bagaimana kabar suami dan anakmu?" Tanya Ben sambil menggosok rambutnya dengan handuk, aroma after shave yang digunakannya barusan sangat menggoda indera penciuman Aya.
"Bisakah kita tidak membahas orang lain saat kita sedang bersama?" Elak Aya.
"Mereka bukan orang lain-mu, lho ..."
"Hm, tapi pertanyaanmu merusak suasana, sayang," balas Aya cemberut.
Ben terkekeh, "Baiklah. Maaf, aku cuma ... hm, nyari bahan obrolan saja."
Aya pun beranjak dari sofa saat Ben berjalan ke arahnya.
"Eh, mau ke mana?" Tanya Ben.
Aya menghampiri ranselnya, mengambil sesuatu dan memperlihatkan seonggok benang ditangannya itu lalu melangkah ke kamar mandi.
***
Bertemu lagi dengan Ben, kekasih masa lalunya itu, mau tidak mau membuatnya gugup. Mandi, merupakan salah satu caranya untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan menghalau rasa deg-degan yang bahkan sedari ia memasuki pesawat menuju kota itu melandanya. Walaupun sudah sering ke Jakarta untuk urusan pekerjaan, tapi tujuannya kali ini sungguh berbeda. Lasmaya sengaja menyediakan waktu khusus demi menemui Ben.
Aya melangkah gontai mendekati Ben yang masih mengenakan bath robe. Pakaian yang ia gunakan membuat mata Ben terbelalak.
"Wow, kamu sexy banget, sayang," puji Ben.
"Aku kangen ..." sahut Aya manja.
Dua insan yang saling merindu itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk saling menyesuaikan kebutuhannya. Lingerie biru tua yang dikenakan Aya cukup menjadi pemantik gelora asmara keduanya. Bagi Ben itu semacam kode ajakan bercinta dan memang itu yang diharapkan Aya. Segera saja keduanya menempel, saling membelitkan tubuh mereka, mewujudkan hasrat yang selama ini hanya menjadi impian.
"Ah, a-aku bisa berhenti jika kamu ragu," ujar Ben dengan nafas tersengal. Sebenarnya ia sendiri menyimpan sedikit ketakutan karena apa yang akan terjadi selanjutnya adalah sesuatu tidak benar tapi benar-benar ia dambakam sejak lama.
"Kepalang tanggung, Ben ..." desahh Aya, perlahan jemarinya menyusup ke balik bath robe Ben, tepat ke benda pusaka yang sudah menantikan belaiannya.
"Nakal ... kamu akan menerima hukuman sebagai akibatnya," balas Ben yang sudah kehilangan akal sehatnya, tubuhnya menuntut untuk segera dipuaskan.
"Maka lakukan dengan benar, sayang ... aku tidak sabar mendapat hukumanmu," jawab Aya seolah menantang. Dengan gerak cepat Ben menarik paksa kain transparan yang tidak benar-benar berfungsi menutupi tubuh indah Aya, ia suka perempuan yang pro ... jauh berbeda dengan Aya dulu yang begitu menjaga kontak fisik mereka.
***
Aku tahu, semua berawal dari kesalahanku. Waktu kami masih kuliah di universitas yang sama, Aku menyatakan perasaanku pada Aya, lalu kami berpacaran. Kemudian saat aku yang lebih dulu selesai kuliah mendapat pekerjaan di Papua, kami terpaksa LDR.
"Ben ... hubungan kita gini-gini aja?"
"Kenapa?"
"Aku mau kita menikah."
"Sabar ya, sayang. Uangku masih belum cukup untuk menikahimu, aku baru beli mobil dan nyicil rumah buat kita tempati nanti."
Bersabar 2 tahun, Aya kembali menanyakan kepastian hubungan mereka.
"Papaku mau aku segera menikah, mereka bahkan sudah punya calon suami. Kamu kapan ke sini, Ben?"
Kesal, merasa dituntut sementara aku masih asyik mengejar target karir demi masa depan kami, aku memilih membiarkan Aya memutuskan yang terbaik untuknya.
"Ya sudah, kalau nyatanya orangtuamu punya calon sendiri, ngapain kamu nanyain aku. Menikah saja dengam dia, pilihan orangtuamu pasti yang terbaik. Aku ini cuma apalah?" Jawabku waktu itu.
Kudengar Aya terisak. "Maaf Ben, terima kasih. Aku selalu mencintaimu," menjadi kalimat terakhir sebelum ia memblokir nomorku
Percuma dia bilang cinta padaku kalau toh ternyata kami tidak bisa saling memiliki.
Kenyataannya, ah ... kufikir mudah menggeser Aya beserta semua kenangan saat kami bersama dulu, setelah 3 bulan diblokir aku baru merasakan sangat kehilangan gadisku itu. Dan aku berusaha kembali menjalin komunikasi, aku pergi ke kota Aya, menemui orangtuanya dan bermaksud menyatakan keinginanku menikahi Aya.
Tapi ala yang kuhadapi kemudian membuatku hancur, datang dengan semangat, pulang dalam keadaan yang menyedihkan saat tahu Aya sudah menikah dan menjadi istri pria lain yang dipilihkan orangtuanya, 2 bulan sebelum aku ke kota itu.
Aku sangat mencintainya dan gak pernah bisa rela dia jadi milik orang lain. Orang bilang level cinta tertinggi adalah merelakan orang yang kita sayangi itu bahagia dengan pilihannya, tapi tidak denganku. Aku yang gagal move on terus meminta perhatian Aya, tanpa peduli ada hati lain yang harus kujaga, tapi aku tidak peduli. Gak dapat gadisnya, jandanya pun tidak masalah, fikirku.
Aku bahagia dan merasa 'menang' saat suatu kali Aya menanggapi usahaku, dia mulai terbuka dan mau berbagi cerita tentang pernikahannya. Suaminya seorang yang pencemburu dan suka menganiaya jika marah, jelas ... sebagai pria yang mencintai Aya, aku tidak terima wanitalu diperlakukan buruk, meski sebenarnya aku juga tetap sakit hati dan merasa tersaingi jika seandainya suaminya bisa menyayangi Aya lebih baik dariku, hehe.
Lalu aku memberanikan diri menemui lelaki itu untuk 'meminta' Aya secara baik-baik. Ya, aku ingin lelaki itu menceraikan Aya, tapi lelaki itu menolak tegas permintaan konyolku. Jadi terpaksa, aku dan Aya menjalani hubungan yang seharusnya tidak terjadi hingga saat ini, sudah 5 tahun aku menikmati kisah cinta yang tak berujung dengan istri orang.
Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, karena suami Aya tidak mau bercerai dan gugatan cerai Aya pun diabaikannya. Salah siapa?
Jadi ya sudah, lagi pula Aya sudah sama gila-nya denganku, dia tidak peduli dengan statusnya dan malah mau menerima ajakanku berkencan. Jauh-jauh terbang ke Jakarta demi bisa menemuiku, melepas rindu dan berbagi keringat denganku meski tanpa ikatan.