Suatu ketika Rizan menghubungi Azkia
"Ki lagi dimana?"
"Aku lagi tanjung duren, kenapa zan?"
"Ngopi yuk?"
"Boleh, tetapi aku baru sampe bandara nanti pukul 23.00 sekitar sejaman lgi"
"Yasudah kabarin saja kalo udah sampe"
Sejam kemudian
"Ki aku udah dirumah nih"
"Yaudah aku otw"
Rizan dan Kia sudah seperti adik kakak jadi bukan hal tabu lagi mereka bersama
Beberapa menit kemudian
"Zan, gue udah di depan nih?"
"Oh ya ki, masuk saja"
Mereka pun hanya saling menatap dan akhirnya Rizan mencairkan suasana
"Sekarang kerja dimana?"
"Aku kerja jadi SPG rokok"
"Wah pindah lagi aja"
"Iya lebih terasa nyaman aja karena memang basicku sales"
Dalam benak Azkia 'Bertemu dengannya berasa asing, saat melihatnya pun tersipu malu'
Rizan pun telah menyiapkan kopi hangat khas Lombok kebetulan Mamanya membawakan oleh-oleh dari sana
"Wihhh harum banget"
"Iya dong, ini khas suku Sasak dari Lombok"
"Hmmm"
Azkia saat bersama dengan Rizan terasa kaku karena telah sekian lama tidak berjumpa
"Kamu ada konflik apa dengan Saras?"
"Gapapa Zan"KIA berkilah
"Halah berantem ya"
"Gapapa Zan"
"Berantem kan?"
"Berantem si gak, cuma enough aja untuk bareng lagi"
"Kenapa si?cerita dong"
"Tetapi janji ya kamu gak usah bilang siapa-siapa?"
"Iya"
"Jadi berawal mula dari bulan September tahun lalu, saat itu aku bekerja di tempat ia bekerja, aku merasa tertekan karena keegoisannya, fikir dia aku tidak kepentingan atau keperluan lain ya aku punya ibu, keluarga dan adikku juga banyak"
Selama ini kia tak pernah menceritakan kondisi keluarganya ke Rizan
"Trus?"
"Yang lebih fatalnya saat aku sedang berada di Makassar aku sedang trip dengan kawan-kawanku"Kata Kia
"Ia fikir aku sedang mencari cuan sebenarnya aku sedang liburan hilangkan penat ditambah lagi komisiku turun senilai 3jt. nah aku memang ada hutang sama dia tetapi maksudku bisa tunggu gajiankan sejak pagi hingga petang menghubungiku seakan aku punya hutang pinjol alhasil aku transfer semua tetapi dengan syarat aku Risen dari kantor tempat ia bekerja"
"Hmmm trus gimana?"
"Aku disana juga susah Zan sampe numpang dikosan temanku, nah pas gajian aku pulang tapi tanpa sepengetahuan dia ya intinya perlahan aku keluar dari kehidupan dia. Gara-gara kerjaan itu aku juga jadi selisih paham dengan kawan dekatku alhasil aku memutuskan untuk kerja lagi dengannya. Memang sekarang lebih lelah tetapi aku happy."
"Iya si kerjaan yang buat happy itu lebih baik"
"Aku si yakin kamu punya persepsi sendiri"
"Iyalah setiap orang punya pendapat sendiri-sendiri"
"Tetapi jujur semenjak tak bersama Saras aku merasa sendiri zan, bingung mau jalan sama siapa dan sama siapa"
"Mikirnya gini aja, kamu disuruh sendiri itu berarti harus memikirkan tujuan hidup"
"Sedih Zan kalo mikirin tujuan hidup"
"Maksudnya gini Lo, susah jelasinnya"
"Gapapa Zan, jelasin aja nanti kalo aku gak ngerti aku pasti nanya"
"Maksud aku kamu lagi sendiri misalkan kata evaluasi diri gitu kamu mau capai tujuan kamu kemana lebih fokus gitu"
"Iya si, kadang aku sering bikin rencana gitu walaupun belum semua terwujud"
"ya gapapa, kan yang penting kamu sudah mencoba"
"iya si"
Setelah perbincangan Tak disangka Rizan menyentuh tangan dan tanpa ia sadari memeluk Kia, saat itu Kia menyambut pelukan hangatnya seakan rindu sesosok orang yang ia tunggu entah kapan datangnya. Mereka tak peduli perbedaan agama antara mereka, cukup lama mereka berpelukan hingga kopi hangatnya mereka lupakan.
Mereka pun berpelukan di bangku panjang sambil tertidur dan menutup mata seakan nyaman yang tiada Tara tanpa melakukan aktivitas lain.
Sejam pun berlalu, handphone Kia berdering ternyata WhatsApp dari namanya
'Kia sudah jam berapa ini?'
"Zan aku harus pulang"
"Kenapa gak nginep aja si"
"Aku gak bawa seragam karena esok masuk pukul 8.45"
"Ohh aku juga masuk pagi si jam 7.15 aku harus keluar dari rumah"
"Sebenarnya dari sini lebih enak, kantorku juga gak jauh dari sini"
"Kamu gak mau pulang pagi saja?"
"Aku membayangkan macetnya itu Lo Zan"
"OH iya ya"
"Yasudah aku pulang dulu"
Mereka pun berdiri dan berpelukan cukup lama, seperti sama-sama tak mau kehilangan. Entahlah ini rasa rindu, cinta atau pertemuan sesaat?
"Aku pulang ya Zan"
"IYA, hati-hati KIA"
Kia pulang naik gojek, karena tak mau merepotkan Rizan saat itu ia baru sampai dari Surabaya kampung halamannya..
Aku akan merindukanmu Ki ....