Part 10 - Edisi revisi Paska ter-edit dan terhapus, hihi.
Terbuai kemesraan, Gayatri lupa meminta Haidar jangan kawin lagi. Gayatri alpa memastikan suaminya tidak akan membagi cinta dan tubuhnya dengan wanita lain.
Bagi Gayatri, yang penting suaminya ingat menengoknya dan anak-anak, mencurahkan cinta, kasih sayang dan menafkahi mereka. Saat suaminya pulang dan bermalam dengannya, lelaki itu adalah miliknya penuh entah jika diluaran, Gayatri enggan berpikir yang tidak-tidak.
***
Belakangan Haidar malah lebih senang menghabiskan waktu di desa bersama Gayatri dan anak-anak mereka, meski ekonomi mereka sudah membaik, tidak jarang Gayatri memaksa suaminya pergi menjemput rezeki di kota.
"Mas, bangun. Ntar rezekinya di patuk ayam, lho," Gayatri menggugah suaminya.
"Em ... sebentar dik." Haidar ngulet. "Dik, kalau rezeki yang ini apa kabar? Mas pengen nengokin," Haidar mengelus pelan perut Gayatri yang baru mereka ketahui telah berisi janin 3 bulan.
"Hah, gimana cara nengokin bayi dalam kandungan?" Tanya Gayatri dengan raut polos.
Haidar tersenyum, "Main bentar ya dik, mas kangen ... mumpung anak-anak masih tidur dan belum azan," ujar suaminya itu sambil menurunkan sarungnya dan menaikkan daster Gayatri hingga dada.
***
"Mas ... aku mau ngomong," kata Gayatri.
"Ngomong apa, kok serius gitu?"
"Gini ... kan Gulshan mau daftar Bintara Polri trus Gantari juga mau daftar masuk kuliah ... kira-kira boleh gak mereka tinggal di rumah kita di kota. Hitung-hitung bantu ibu sama bapak ngurangi biaya kost, mas."
"Owh ... ya boleh tho, dek. Mereka kan adikku juga," jawab Haidar membuat Gayatri lega.
Pada awalnya bu Elok yang mendampingi Gulshan selama proses seleksi dan Gantari di kota hingga di terima dan memulai pendidikannya sambil menemani Gantari kuliah, namun karena kasihan dengan Gayatri yang mengandung, mengurus ke 4 anaknya yang masih kecil sambil ngurus kios, bu Elok memutuskan kembali ke desa.
"Apa tidak apa-apa, bu ... Gantari kamu tinggal sama Haidar di rumah itu?" Tanya pak Slamet.
"Ya, gak apa-apa. Kenapa tho, pak?"
"Iya kan ... takutnya Haidar macam-macam sama Gantari."
"Hush. Bapak ini curiganya berlebihan. Dengar ya pak, Gantari itu tahu bagaimana menderitanya Gayatri saat Haidar kawin lagi, tidak mungkin Gantari mau dimacam-macami apalagi sampai diajak kawin sama Haidar, Gantari juga tidak mungkin sampai menggoda kakak iparnya meskipun mereka tinggal satu atap, percayalah, pak. Buang jauh-jauh fikiran bapak yang negatif itu."
Slurrph. Pak Slamet menyeruput kopi pahitnya, terpaksa menerima pendapat istrinya dengan hati yang masih bimbang.
***
"Dik, maaf mas gak bisa pulang lama-lama ya, lagi banyak orderan," pamit Haidar yang hanya menengok Gayatri 1 malam dalam seminggu.
"Gak apa-apa, mas. Yang penting mas masih ingat pulang dan ... ingat jadwalku melahirkan, aku mau didampingi sama mas nanti," rengek Gayatri.
"Semoga, dik. Doakan kerjaan mas lancar ya, sayang."
"Kenapa sih, suamimu itu kok makin jarang pulang?" Tanya pak Slamet setelah menantunya pergi.
"Mas Haidar lagi banyak kerjaan, pak," jawab Gayatri.
"Owh, bukan karena hal lainnya?"
"Pak ... maksudnya apa ngomong gitu, ya?" Tegur bu Elok pada suaminya. "Mau bilang gara-gara Gantari tinggal di rumah Haidar, trus Haidar jadi jarang nengokin Gayatri, gitu? Lanjut bu Elok.
"Lah, kenyataannya gitu, bu."
"Pak, ingat ... tidak baik berprasangka buruk, lho."
Frekuensi kepulangan Haidar semakin panjang, mulai dari seminggu sekali jadi 2 minggu sekali terus jadi 1 bulan sekali padahal waktu Gayatri melahirkan sudah semakin dekat, tinggal memghitung harinya saja.
Pagi-pagi sekali bu Elok sudah rapi, beliau hendak ke kota menghampiri Gantari yang dikabarkan sedang sakit thypus.
"Maafin ibu ya, pak ... Gayatri, terpaksa ibu harus ke kota, merawat Gantari," pamit bu Elok pada suami dan anaknya.
"Hati-hati bu, ibu juga jaga kesehatan," pesan Gayatri pada ibunya.
"Aduh!" Pekik Gayatri.
"Kenapa nduk? Mau lahiran, ya?" Pak Slamet khawatir.
"I-iya, pak."
"Sebentar, bapak mau nitip rumah dan anak-anakmu sama mbok Salmah dulu," kata pak Slamet sambil menutup kios mereka.
Gayatri sempat menelpon suaminya, meminta suaminya untuk segera pulang karena ia akan melahirkan, namun suaminya hanya bilang akan pulang secepatnya karena ada urusan penting dan mungkin baru bisa pulang keesokan harinya.
Meski kecewa, Gayatri tidak dapat menyembunyika kebahagiaannya melahirkan anak ketiga-nya lagi-lagi tanpa suami, hanya didampingi sang ayah, pak Slamet yang kebagian tugas meng-azani cucu kandung ke tiganya, Hasan.
***
"Benar kan aku bilang? Ibu terus-terusan menganggapku berfikiran negatif ... tapi apa kenyataannya?" Kilat amarah jelas terpancar di raut tua pak Slamet.
"Maafkan ibu, pak. Semua sudah terjadi dan Haidar siap bertanggung jawab atas perbuatannya," sahut bu Elok penuh penyesalan. Ah, andai saja ia mendengarkan keraguan suaminya kala itu dan tidak membiarkan anak gadisnya tinggal serumah dengan menantunya yang hobi poligami itu.
Sementara Gayatri hanya bisa menangis, ikut memarahi Haidar juga percuma. Kini justru ia yang meminta suaminya itu agar segera menikahi Gantari.
Gantari yang semula dikabarkan tengah sakit thypus ternyata sakit akibat kemasukan benda asingnya Haidar, yang kemudian membuatnya berbadan dua.
"Aku ikhlas, kubiarkan suamiku poligami dan menikahi adikku sendiri semata karena aku tidak ingin anak-anakku kelak tahu ayahnya telah berzinah," putus Gayatri dengan hati yang kembali dilukai oleh Haidar. Setidaknya, bermadu dengan adiknya sendiri akan lebih mudah ia jalani ketimbang saat suaminya menikah dengan Puspita dan Amel dulu, begitu harapan Gayatri.
Apa mau dikata, pak Slamet pun terpaksa menerima Haidar menjadi suami bagi kedua anak perempuannya.
.
.
END