Bila kau merasa kehilangan, pergilah ke Kota Kehilangan. Kota itu tak pernah terdaftar di peta, jadi jangan pernah cari kota itu melalui telepon genggammu meski secanggih apapun dan semahal apapun harga telepon genggammuJika kau sedang merasa kehilangan dan tak menemukan tempat yang bisa membuatmu pulih atau kau merasa kebahagiaan adalah kebohongan paling nyata dibandingkan ucapan-ucapan politikus, maka bacalah cerita ini.
Bila kau merasa kehilangan, pergilah ke Kota Kehilangan. Kota itu tak pernah terdaftar di peta, jadi jangan pernah cari kota itu melalui telepon genggammu meski secanggih apapun dan semahal apapun harga telepon genggammu. Kota itu tak seperti kota-kota yang telah kau kunjungi atau seperti kota-kota yang kau pelajari sewaktu kau sekolah.
Mungkin kau pernah menyambangi kota-kota yang terkenal dari belahan dunia. Atau kau pernah membaca ulasan suatu kota; kota-kota dengan lampu gemerlapan hingga tak memerlukan bulan untuk menerangi malam. Atau kota-kota yang bila kau ke sana maka memerlukan uang yang banyak, sebab tanpa sadar tanganmu telah menenteng berbagai macam benda.
Tidak. Kota Kehilangan adalah kota yang hanya mengenal kemurungan. Di sana uang tak diperlukan. Di sana tak ada lampu-lampu. Di sana hanya ada bintang-bintang yang bila kau hitung maka jumlahnya melebihi dengan jumlah kehilanganmu.
Di kota itu, tak pernah mengenal namanya politikus dan orang-orang pemerintahan. Kota tak dibangun dengan pajak melainkan dibangun dengan kemurungan yang terpanggul selama bertahun-tahun di pundak orang-orang. Warga di sana hidup mandiri dengan kesendiriannya dan kehilangannya. Di kota itu, hanya memiliki satu musim, yaitu musim penghujan. Awan-awan di kota itu selalu gelap seperti sedang mendung. Gerimis turun. Lalu tiba-tiba hujan akan turun. Dan mendung lagi. Seperti itu setiap hari. Tetapi rintik-rintik hujan itu sangat hangat, sehangat pelukan mantan kekasihmu atau ibumu yang kini mengendap menjadi masa lalu.Meskipun di kota itu hanya ada musim penghujan tetapi di sana tak pernah terjadi banjir. Tentu kau sedikit protes mendengar hal itu, tetapi kau harus tahu di kota itu aliran air sangat sempurna, seperti kehilanganmu. Selokan-selokannya bersih dan ujung seluruh selokan yang ada di kota itu akan bermuara ke satu-satunya sungai di kota itu. Sungai itu pun juga bersih, airnya mengalir tenang dan di ujung sungai itu terdapat satu tanjakan yang membuat air naik ke atas awan. Bila kau hendak melihat wajahmu yang muram, pergilah ke tepi sungai. Dan setiap sore di bibir sungai, orang-orang akan membersihkan dirinya di dalam sungai untuk sekadar membersihkan tubuh dari rasa kehilangan meskipun sebenarnya tanpa sadar kehilangan itu adalah dirinya sendiri yang tak dapat mati bila ia juga tak mati.
Di sana kau tak akan pernah melihat matahari dan juga bulan. Sebab, katanya, matahari telah meledakkan bulan di masa silam. Itu terjadi di masa lampau sekali, di saat orang-orang begitu angkuh akan sekitarnya. Saat itu perputaran bumi pada porosnya lama-lama semakin berkurang; disebabkan oleh angin dan pasang-surut air laut. Sehingga bulan terdorong dari porosnya karena bumi tak dapat lagi mengimbangi perputaran itu dan bulan mendekati matahari, tetapi malang, matahari malah meledakkannya. Dan ledakan itu menjadikan matahari pun murung; panasnya tak lagi menusuk-nusuk planet sekitar; dan matahari tak lagi memancarkan sinarnya ke Kota Kehilangan.Orang-orang yang berada di Kota Kehilangan tak ubahnya denganmu. Orang yang merasa dirinya dilahirkan hanya untuk kehilangan dan selalu bersyukur untuk setiap kehilangan meski dirinya tak bisa menampung lebih banyak lagi kehilangan. Tentu, orang-orang di sana tampak lusuh seperti orang-orang Kota Rejkjavik yang tengah berpuasa.
Kau akan temukan bapak-bapak yang ternyata dulunya ia seorang sintua, yang selalu tabah ketika malam sebelum tahun baru tak ada jemaat yang datang untuk beribadah di gereja. Atau kau juga akan menjumpai ibu-ibu, yang sampai ajal hidupnya tak akan pernah mengambil uang kiriman dari anaknya yang bekerja di luar negeri dan juga tak pernah sempat mengatakan ia kangen. Atau kau akan mendapati anak, yang umurnya terbilang masih belia namun telah putus sekolah dan menyaksikan ayahnya lari menikahi perempuan lain.
Dan kini kau harus tentukan, apakah kau benar-benar ingin pergi ke Kota Kehilangan? Bila benar, maka sekarang adalah waktu yang tepat. Tak perlu kau kemasi barang-barang. Tak perlu membawa perhiasanmu, sebab di sana emas seketika akan luntur. Juga tak perlu kau bawa jam tangan, atau telepon genggam. Dulu sekali, seseorang membawa jam tangan dan telepon genggam sekadar memastikan telah berapa lama ia tinggal di sana. Tapi ketika langkah pertama keluar dari gerbong kereta, ia memandang jamnya, dan seketika angka-angkanya jatuh, dentang-dentang jam membatu. Lalu ia ambil teleponnya, tetapi layarnya hanya garis-garis hitam-biru-hijau-kuning yang tipis-tipis.
Bila hendak ke sana, pergilah dengan pakaian yang melekat saat ini di badanmu. Pergilah ke Stasiun Kereta Api Medan. Bawa uang yang hanya cukup membeli satu tiket kelas ekonomi. Tapi sebelum itu, kau harus menemukan lelaki itu, lelaki yang rambutnya memutih dan wajahnya lebih tua dari usianya. Lelaki yang berdiri di dekat tangga di Titi Gantung. Lelaki itu mengenakan celana keper, jaket hitam, dan sandal jepit yang seharga limabelas ribu. Lelaki itu selalu di sana, sambil menjajakan dagangannya. Ia sering menawarkan air mineral yang ia bopong dengan plastik keresek hitam kepada orang yang berlalu-lalang di jembatan Titi Gantung.
Katakan kepada lelaki itu bahwa kau hendak pergi ke Kota Kehilangan. Katakan itu ketika pukul setengah lima sore, saat orang-orang masih dirundung kemacetan yang tak sudah-sudah. Ketika kau telah mengatakan kepergianmu, maka kau akan diberi satu botol air mineral yang ia jajakan. Terima dan bayarlah, jika bisa bayar lebih dari harga normalnya.Dan kemudian belilah sebuah tiket kereta kelas ekonomi. Kau bebas menentukan tujuan pemberhentiannya ke mana, entah itu berhenti di Stasiun Batang Kuis, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Bandar Tinggi, Perlanaan, Tanjung Balai, Rantau Parapat. Tapi sebelum sampai ke pemberhentian itu, segeralah kau cari dia. Lelaki yang akan mengantarkanmu ke Kota Kehilangan. Cari di setiap gerbong kereta. Lelaki itu mengenakan celana keper dan jaket hitam seperti lelaki yang di jembatan tadi. Lelaki itu selalu duduk sendiri di satu baris. Ia selalu duduk dengan payung hitamnya yang tegak berdiri. Lelaki itu memiliki bekas goresan wajah besar yang membelah matanya dan jika kau lihat dengan jelas bahwa lelaki itu selalu menutupkan matanya.
Jika telah kau temukan lelaki itu. Katakan kau hendak pergi ke Kota Kehilangan dan jangan lupa beri air mineral yang diberi lelaki yang di jembatan tadi. Dan kau akan di beri penutup mata; kenakanlah penutup mata tersebut sebab akan membawamu tertidur dan ketika kau bangun kakimu sudah berada di sana, di Kota Kehilangan. Saat kedua kakimu telah meninggalkan gerbong maka kereta itu menghilang di balik kabut yang tebal. Di depan stasiun, burung-burung gagak akan mengucapkan selamat datang layaknya gagak-gagak dalam Kimetsu no Yaiba. Tetapi itu semua bukan mimpi, bila tak percaya tamparlah pipimu atau gigit lidahmu. Atau juga benamkan kepalamu ke dalam air seperti Denzel Washington yang memerankan Tobin Frost saat disiksa agen CIA dalam Safe House. Dan ingatlah, jika kau sudah berada di sana, jangan pernah berbalik menyusuri kereta yang lindap di dalam kabut itu, gagak-gagak itu akan memakanmu hidup-hidup.
----