=Ish... kok gini=
Tak lama kemudian mereka sampai di butik bunda tercinta.
"Nah kalian udah sampai buruan bantu bunda!" Suara nyaring menusuk pendengaran tara dan sia.
"Ngapain?" Tanya sia dengan ekspresi cengo tak dapat menerima maksud bantuan yang diminta sang bunda.
"Udah biasa~ ara ajak sia juga ya!" Saut bunda lalu pergi begitu saja.
Tara langsung menarik sia ke sebuah ruang yang cukup familiar penuh dengan berbagai gaun desain sang bunda.
"Kenapa kesini si?" Sia membuka suara saat tanda tanya di kepalanya semakin besar.
"Plis deh sia ini ruang ganti pribadi__
Kita kesini mau ganti gaun lah" jawab tata memutar bola matanya malas. Ia tak tahu saudaranya ini terlalu polos atau terlalu pintar sampai menjadi bodoh.
"Iya maksud gue tu ar. Kenapa kita disuruh ganti gaun katanya mau bantuin bunda" crocos sia gemas.
"Au deh lo buruan sana ganti tar tukang make up nya datang kita belum siap bunda bisa ngamuk" ucap tara mendorong sia ke ruang ganti. Dalam sekejap mata antasia berubah 180° ia menjadi anggun menawan dengan sebuah gaun dan polesan make up tipis membuat sifat sia tertutup sempurna.
Kilatan lampu kamera pemoteratan menyambut tara dan sia. Seketika tubuh sia menjadi kaku keringat dingin pun bercucuran ia sangat tegang berbeda dengan tara yang sepertinya menikmati suasana.
"Santai aja lo ngga bakal dimakan hidup- hidup kok" bisik tara melihat kembarannya mulai terlihat pucat pasi. Tara mulai berjalan ke depan kamera dan mulai berpose beberapa kali lalu menghampiri sia yang masih menegang di tempatnya.
"Giliran lo, anggep aja ngga ada orang cukup senyum sama pose" kata tara sambil mendorong sia ke depan kamera.
'Sialan lo ra.. gue kira bantu paan lah malah suruh kek gini' batin sia dengan berpose kaku seperti halnya manekin tak berekspresi.
"Sekali lagi say~ senyum dong jangan flat gitu" kata fotografer sambil tersenyum.
"Stt.. sia, antasia senyum dong aja ngga udah pakek pose ngga papa" ucap tara cukup keras dan memberi semangat. Mendengar ucapan tara rasa tegang sia pun mulai berkurang. Ia mengambil bunga lalu membawanya di depan kamera dan tersenyum manis.
"Oke good lanjut ya say~" kata fotografer yang mulai puas dengan hasil jepretannya.
Setelah beberapa pose ...
"Ish... bunda kok ngga bilang si bantuanya kaya gini kalau tau kan sia bisa kabur" gerutu sia yang tak berhenti dari tadi.
"Satu lagi ya sayang~ kali ini pasangan cocok sama kamu anaknya temen bunda." Bujuk bunda sia
"Janji ya cuma sekali ini" putus sia lalu menuju ke ruang ganti untuk bersiap.
'Oke demi bunda sekali ini gue mau jadi manekin kek gini' batin sia lalu menghembuskan nafas panjang dan keluar menuju ruang rias.
Ia melihat seseorang yang cukup familiar disana tetapi ia tidak tau itu siapa dan pernah bertemu dimana. Merasakan kehadiran orang lain di ruangan itu aska pun mematikan ponsel nya lalu mendongak lengkap dengan kedataranya.
"Say.. sini biar mbak benerin dulu make up nya." Ucap seorang lengkap membawa peralatannya.
Sia hanya menurut pasrah. Tak mungkin ia menolak apalagi pergi begitu saja nanti mau ditaruh mana muka sang bunda. Setelah beberapa saat sesi menyebalkan itu berakhir. Sia menataap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan tak percaya.
"Sip udah cantik, cocok pula dengan mas nya__" ucap penata rias itu terjeda.
"gimana cantik kan say?" Lanjut penata rias itu melempar pertanyaan entah kepada siapa. Sia hanya mengangguk memang hasil nya luar dari perkiraannya.
"Cantik." Gumam aska mengalihkan tatapanya kembali ke ponselnya.
"Udah siap?" Tanya bunda saat memasuki ruangan dan tersenyum puas melihat penampilan sia saat ini.
"Udah dong jeng~ gimana? Make up in ngga mengecewakan to?" Timpal sang penata rias dengan bangga.
"Bun katanya cuma sekali kok pake gaun kek gini pula" rengek sia kembali. Pipinya mengembung dan bibir mungil nya terus mengerutu terlihat lucu menggemaskan.
"Udah sana ntar makin lama loh.. kasian kan fotografernya.." ucap bunda mendorong dia ke atas room pemotretan yang di atur sedemikian rupa.
"Bunn.. katanya foto kok kek mau prewedd si.. mana pakek gaun kek gini lagi udah biar ara aja ya bun yang gantiin" renggek dan bujuk sia kepada sang bunda.
"Eh!? Enak aja lo bawa-bawa gue" saut tara yang sudah siap dengan setelan gaun berikutnya.
"Udah deh itung-itung liat yang bening gitu" Kata tara melirik lawan potet kembaranya dengan ekspresi menggoda.
"Bening endas mu" sewot sia menatap laki-laki berpakaian senada dengannya.
"Lo aja deh ya raa.." bujuk sia.
"oke tapi lo harus gantiin tugas gue gimana?" Kali ini tara mengaja negosiasi yang ia yakini pasti akan ditolak sia.
"Ish.. itu mah sama aja keluar dari mulut buaya masuk kandang singa" ucap sia yang tak memiliki celah untuk keluar dari situasi yang menyeramkan itu. Sia hendak terus membujuk tara tetapi..
"Lama." Potong aska dengan menarik sia ke podium pemotretan.
"Eh..eh.. apaan lo tarik-tarik" kata sia mulai panik menatap horor altar buatan di depanya.
"Diem bukan cuma lo yang jadi korban di sini" kata asia penuh penekanan lalu mengangkat tubuh sia menaiki altar.
Sampai di atas altar suasana menjadi kikuk dan kaku.
"Aduh.. Kok kaku gitu deketan dikit dong.. " Ucap seorang fotografer yang mulai gemas dengan sepasang model di depannya.
"Katanya mau jadi ratu kok gitu aja jadi cupu! " Teriak tara di dalam ruang ganti yang cukup menggelegar sampai ke altar.
"Gue bukan cupu" Gumam sia.
Sia pun memulai aksinya membawa sebuah bunga dan mendekati aska.
"Lo mau ngapain? " Ucap aska was-was.
Sia hanya menyinggung kan senyumnya yang manis dan menawan.
"Seperti kata lo, lebih cepat selesai lebih baik" Kata sia sambil membuat tubuhnya tidak seimbang lalu melingkarkan tangannya di leher aska, menatap nya lekat, sebuah momen langka yang diabadikan oleh fotografer kepercayaan sang bunda.
"Cantik.. Manis.. " Dua kata yang terus memutar dipikiran aska.
"Sabar cuma buat bunda kenapa jantung gue kek gini" Batin sia terus merutuki jantung nya yang berdetak tak karuan.
"Gue kira lo cuma bisa ngrengek doang"
Ucap aska ketus saat pemotretan selesai. Sia hanya mendengus kesal, lagi- lagi dia terpancing perkataan tara dan melakukan hal itu dengan benar.
"Eh.. Kaya nya kita udah pas tuh besanan" Celetuk wanita yang seumuran bundanya membuat aska dan sia salting sendiri.
"Ekhm.. "
"Bun, sia mau pamit ya habis ini ada kegiatan" Pamit sia.
"Sebentar ya bunda masih punya satu tempat lagi buat foto promosi gaun tante elfira" Ucap sang bunda membuat sia semakin tercengang.
"Katanya cuma sekali.. " Cicit sia pelan. Pemotretan merupakan kegiatan yang menguras tenaga bagi sia ditambah harus berpasangan dengan pria tadi jantungnya tidak bisa tenang bahkan melebihi saat gadis itu ketakutan.
"Iya satu kali lagi ya nanggung kalau ganti model.. "
"Ara juga tidak bisa ganti in kamu soalnya dia sedang banyak job" Jelas bunda sia yang membuat gadis itu pasrah menuju ruang ganti dengan bibir mengerucut dan sesekali menghentakkan kakinya.
Setelah selesai berganti gaun dan membenah make up sia pun tampak cantik dan elegan. Serasi dengan pria dengan pakaian senada.
"Lagi-lagi kaya pengantin" Gumam sia
Kali ini bukan sia yang menguasai kondisi tetapi partner potret nya. Pria itu mulai menatap lembut dan dalam tak lupa tangan nya melingkar di pinggang ramping sia.
"Eh.. Sialan" Ucap sia namun masih tersenyum manis. Tangan nya pun ikut merangkul pinggang kokoh sehingga jarak mereka semakin dekat.
"Oke sip cakep" Ucap fotografer itu puas dengan hasil jepretan nya.
"Alhamdulillah gue bebas" Pekik sia pelan dengan girang menuruni altar dan menuju ruang ganti.
"Eh? Kenapa? " Tanya sia merasa tangannya ditahan.
"Fotbar?" Jawab pria itu singkat.
"Setau gue adanya fit bar deh enak bisa dimakan" Ucap sia polos lawan bicaranya mendengus pelan.
Tanpa berbicara ia mengeluarkan ponsel nya menarik sia mendekat dan
...
Crek..
Suatu foto dengan ekspresi tak terduga.
"Kalau ngajak foto bilang kan jadi konyol hasilnya" Protes sia kemudian merebut ponsel itu dan mengambil gambar beberapa kali.
"Nah gini kan cakep" Ucap sia puas seakan lupa jika dirinya masih mengunakan gaun pengantin.
"Sia, ganti dulu habis itu biar aska yang antar pulang" Ucap tante Elfira
Mendengar ucapan sang bunda pria itu pun pasrah berjalan ke ruang ganti menganti pakaiannya.
"Iya tante ini mau ganti" Jawab sia sopan lalu ke ruang ganti dan keluar dengan baju kasual ala sia persis sebelum ia berubah menjadi manekin di depan kamera.
" Ya sudah sekarang kamu pulang sama aska" Pinta tante Elfira.
"Aska pulang dulu ya ma ada urusan sama sekalian antar bocah satu ini" Pamit Aska.
Mereka menyalami tangan Elfira bergantian lalu berjalan beriringan menuju tempat parkir.
💕💕💕
~Shelahardides27.~