Tema: Psikopat.
Genre: Thriller, Horror, Romance, Drama.
Casting: RadaPen (Radao x Peinto).
"Dasar banci!"
Sorakan dari beberapa pemuda yang sekiranya masih berumur 15 tahun bergema nyaring di toilet sekolah. Sesekali mereka menendang tubuh ringkih seorang bocah dengan rambut yang setengah menutupi wajahnya yang penuh dengan memar dan sedikit bercak darah di hidung dan ujung bibirnya.
Ia meringis kesakitan dan menangis sesunggukan. Tetap melindungi kepalanya dengan kedua tangannya sambil meringkuk, "Ugh... cu-cukup."
Salah satu dari mereka mendengar gumaman korbannya, "HAH? KAU BILANG APA?"
"Suaramu kecil banget! HAHAHA!!" Sahut teman si pembully.
Bel masuk pun berbunyi, mereka sang pembully pun meninggalkan korbannya begitu saja. Ia menghela nafas sambil memperbaiki penampilannya yang berantakan didepan cermin, "Kau jelek sekali... Yamada Peinto."
_________________
"Satou Radao," dua patah kata yang terucap dari bibir milik bocah bermanik biru laut yang gelap. Pandangannya datar, ia hanya berdiri didepan kelas sambil memperkenalkan diri.
Murid baru yang terkenal kaya raya itu datang ke kelas Peinto, ia hanya menatap datar sambil sesekali melirik kearah luar jendela.
Radao pun duduk tepat disamping kursi milik Peinto. Tanpa ada sepatah kata yang mereka berdua keluarkan hening dan biasa saja, pada akhirnya pelajaran pun dimulai.
_____________
Bel pulang pun berdering, anak-anak mulai berhamburan keluar kelasnya. Hanya mereka berdua yang tidak beranjak dari bangku kelas.
Semilir angin sejuk menerpa wajah damai milik Peinto. Surai oranye terangnya menari-nari diudara. Ia duduk terdiam sambil memegang sandwich selai kacangnya yang baru mendapatkan gigitan pertamanya. Menatap kosong keluar jendela, sesekali Radao melirik teman sebangkunya dengan kebingungan.
Kenapa sandwichnya tidak dimakan dan didiamkan saja? Apa dia tidak suka dengan sandwich selai kacang?
Radao yang berpapasan dengan Peinto ketika ia dikantin, dan ia menyaksikan sedikit gurat kekecewaan karena anak itu tidak mendapatkan sandwich selai coklat yang sepertinya itu rasa kesukaannya. Namun ia menatap sebungkus sandwich selai coklat yang ada digenggamannya yang masih utuh.
Ketika jari jemarinya ingin menyentuh lengan kanan milik Peinto yang hanya sekedar ingin membagi sebuah camilan, terdengar sebuah teriakan yang cukup memekakan telinga datang menghancurkan rencananya.
Sekitar 5 orang mendekati meja Peinto. "Wah! Apa ini? Bukannya kamu tidak suka selai kacang yah? Pfftt—" ucap salah seorang bocah laki-laki dengan badan tinggi dan terdapat sedikit otot ditubuhnya. "OI! KAU BERANI MENGABAIKANKU, HAH?!" Bocah tadi menarik kerah baju seragam milik Peinto dan kemudian menamparnya dengan keras.
PLAKK!!
Wajah Peinto yang sudah dipenuhi memar bertambah satu memar lagi, darah mengucur diujung bibir pucat milik Peinto. Air mata yang meluap sedikit demi sedikit dengan sekuat tenaga ia tahan agar tidak mengalir, karena itu akan membuatnya semakin memalukan.
"Aha! Cowo kok nangis? AHAHAHA!! DASAR CENGENG!" Sorak teman si pembully.
DRRKK!
Bangku milik Radao berbunyi, sang pemilik dengan tiba-tiba mendorong tubuh si pembully yang sedang mencengkram kerah seragam Peinto. "Kau bisa ambil punyaku, ini isinya selai coklat." Radao tersenyum pada Peinto seraya menodongkan sebungkus sandwich selai coklat padanya.
Dengan cepat si pembuli mengambil paksa sandwich selai coklatnya dan membuka bungkus sandwich itu lalu memakannya sampai tak bersisa. "Enak sekali sandwich ini~ AHAHAHAHA!!" Tawa si pembully tak berdosa.
Radao yang menyaksikannya tak terima akan perlakuan si pembully, ia mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kuat-kuat serta manik biru lautnya tampak terlihat 0% sanity disana.
"Kenapa? Tidak terima?" Ledek si pembully itu.
Suasana semakin memburuk, ditambah kelas sudah mulai sepi penghuni.
Radao mengambil pulpen miliknya dan melangkah maju pada si pembully. Dengan gesit Radao mencekik leher si pembully dan menancapkan pulpennya ke perut si pembully, "Ini adalah hukuman karena kau mencuri barang yang bukan milikmu. Dan kau tau?" Radao menjeda sejenak, menyaksikan bocah cupu yang sok hebat didepannya meneteskan darah dari mulut besar yang menyebalkan itu. "Setiap barang yang dicuri oleh seseorang, harus dikembalikan sekarang juga."
Teman-teman si pembully mencoba untuk menyelamatkan bossnya itu, namun mereka seketika tercegat oleh dua bocah laki-laki yang entah asalnya darimana.
"Raddie, tumben sekali kau tidak berhati-hati?" Ucap salah seorang yang sepertinya teman Radao yang berperawakan seperti anak berandalan dengan rambut belah pinggirnya serta memakai hoodie kuning yang diselempangkan di lingkar pinggangnya.
"Berbahaya loh kalau kau melakukan ini di sore hari begini. Untung ada kita, yakan Shaoron?" Susul satu temannya lagi yang berpenampilan feminim dengan rambut ungu kehitaman yang panjang sampai kebahu.
Radao hanya diam tak membalas perkataan teman-temannya. Ia kemudian menoleh pada Peinto yang sedari tadi hanya berdiri membeku melihat aksi Radao yang cukup gila. "Raddie, mereka mau diapakan?" Ucap Shaoron memecahkan keheningan.
"Bunuh saja mereka semua," balas Radao dengan santai.
"Okay~" dua temannya itu menuruti perkataan Radao dengan senang hati.
Peinto yang masih ditatap oleh Radao hanya bisa diam mematung, seluruh tubuhnya seakan terkunci dan tak sanggup untuk digerakkan. Rencananya ia ingin kabur dari sini, namun ia akan merasa bersalah jika dia tak menghargai kebaikannya karena dia sudah mencoba menolongmu dari para pembully itu. "A-itu... " Peinto mencoba untuk menggerakkan bibirnya yang pucat pasi dengan sekuat tenaga.
Radao yang mendengarnya mencoba memasang wajah hangat kepada Peinto, "Hm?"
Peinto yang merasa tidak nyaman bulu kuduknya pun mulai berdiri, bayangkan saja, ia bertemu dengan psikopat dan dia ada dihadapanmu persis! Peinto yang tak sengaja memasang ekspresi ketakutan pada Radao, teman sebangkunya itu kemudian melanjutkan aksinya dengan terburu-buru.
"Kamu pasti lapar," ucap Radao seraya menyayat perut si pembully dengan pulpen hitamnya. Tanpa ia sadari, pulpen itu terdapat pisau kecil yang dipasang di ujungnya. Sangat mudah menyembunyikan senjata seperti itu karena pisaunya tertutup oleh tutup pulpennya.
Peinto Seketika terkejut akan perkataan Radao. Ia memang sedang lapar, tapi ia tidak doyan daging manusia. Pikiran Peinto kalang kabut, ia berinisiatif untuk menghentikan aksi Radao yang membuat dia ketakutan setengah mati. "A-aku tidak suka daging—"
"HAHAHA! Aku hanya bercanda kok!" Laki-laki itu tertawa sambil memasang wajah jahilnya. "Shao, mutilasi mereka lalu masukkan dalam plastik hitam. Kamu selalu membawanya kan?" Perintah Radao dengan wajah ngerinya.
Shao hanya menjawab dengan santai lalu melakukan apa yang diperintahkan sahabatnya itu.
"Hufh, Raddie... kau membuat kami bekerja di hari pertama kita sekolah," prote salah satu temennya yang berambut ungu.
"Maafkan aku, tapi aku sudah tidak tahan dengan mereka..." jawab Radao dengan wajah yang penuh penyesalan.
Temannya pun hanya memakluminya, "Tidak apa-apa... jangan sungkan."
Radao tersenyum lega, "Terima kasih Shini..."
Peinto melihat sikap mereka bertiga seakan-akan mereka adalah manusia normal yang tidak akan pernah melakukan hal sekeji ini, namun pada kenyataannya mereka malah sudah terbiasa dengan hal-hal ini. 'Sepertinya mereka sering melakukannya...' ucap Peinto dalam hati.
"Terima kasih atas bantuan kalian, a-aku pulang dulu..." ucap Peinto dengan jantung yang rasanya ingin melompat keluar.
"Tunggu," tahan Radao. "Aku akan mentraktirmu hot pot, kamu lapar kan?" Tawarnya dengan senyum hangat.
Tangan Peinto mulai membeku, ia bingung apakah ia akan menerima ajakannya atau menolaknya. Tapi ia pikir ini adalah sebagai tanda terima kasih atas pembalasan dendamnya kepada pembully-pembully itu. "Baiklah, aku ikut..."
Wajah Radao mulai sumringah, ia merasa seperti dua temannya itu memandanginya dengan sangat tidak enak. 'Apakah aku mengambil jalan yang salah?'
<><><>
Tak terbayang akan apa yang mereka lakukan ketika membawa sekitar 3 plastik hitam yang lumayan besar ditenteng dengan santainya. Mungkin orang-orang berpikir kalau anak-anak sekolah seperti kami membawa hal begitu adalah lumrah, bisa saja hanya berisi pakaian kotor ataupun sampah daur ulang. Tapi tidak dengan pikiranku. Di kepalaku hanya berisi tentang bagaimana cara mereka membunuh, memutilasi dan membersihkan jejak. Namun yang anehnya, 'Kenapa disekolah kebetulan tidak ada orang yang lewat? Apa hanya kebetulan saja?'
Ini tidak masuk akal. Lain kali, aku akan menelusurinya pelan-pelan.
Beberapa menit yang lalu, kami sampai di kedai makanan yang cukup ramai. "Ini kan resto makan yang terkenal?" Celetukku.
Radao mengangguk, "Iya! Ini resto milik pamanku."
Kami pun memasuki resto itu lalu berjalan menuju bar yang sepertinya disana ada seorang chef resto ini. "Oh? Sudah pulang?" Tanya chef itu kepada Radao dan kawan-kawannya.
"Paman! Kami membawa tangkapan besar!" Ucap Shao dengan semangat dan ceria. Aku yang mendengarnya pun rasanya ingin muntah, rasa mual dan pusing bercampur aduk tak karuan.
"Wah! Bawa kedapur, akan paman masakkan langsung untuk kalian berempat!"
Terkejut bukan main, kakiku bergetar, jantungku rasanya ingin pecah. Mulutku menganga, "A-aku ditelfon ibuku... sepertinya aku harus segera pulang," Ucapku dengan gagap. Aku pun langsung berlari keluar resto tersebut, namun...
"Kau pikir kau bisa kabur? Hmm~ Aku tertarik padamu. Karena kau sudah tertangkap, kau sudah menjadi milikku bukan?" Radao menarik lenganku dengan sangat erat, seakan-akan ia tidak akan melepaskan buruannya.
Melirik kearah resto, seluruh pengunjung serta dua temannya itu tersenyum sangaaatt puas.
"SEPERTINYA ENAK?"
Tamat.