Kenan senang sekali akhirnya bisa membeli sebuah sepeda motor lengkap dengan asesoris, helm, jaket dan sepatu khusus pendukung hobi terpendamnya saat masih sekolah kedinasan, yaitu touring naik motor.
Cuti tahun ini, Kenan sudah merencanakan pulang mengunjungi orangtuanya dengan naik motor barunya itu. Meski uangnya lebih dari cukup untuk sekedar kembeli tiket pesawat pulang pergi Pontianak - Palangka Raya, Kenan memilih seru-seruan ber-adventure ria.
Aymee pacar Kenan, awalnya kurang setuju tapi kemudian malah menyiapkan makanan instan dan minuman untuk berjaga-jaga jika Kenan kelaparan dan tidak ada rumah makan tempatnya singgah. Bahkan, Kenan juga menyiapkan sleeping bag jika ia perlu beristirahat sementara tidak ada penginapan yang akan dia temui di sepanjang perjalanan.
Semua sudah siap ... brem, brem, ngeeeeng, Kenan dan motornya melesat, menyusuri jalan penghubung antar Kalimantan sambil membuntuti sebuah bis yang bertujuan sama dengannya. Layaknya ninja Hatori, Kenan bersenandung ... mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama motor bertualang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 jam, akhirnya Kenan sampai juga di rumah orangtuanya di Palangka Raya.
Tin, tiiiiin, Kenan sengaja membunyikan klakson sambil menggeber motornya hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.
"Heiiii," tidak lama mamanya keluar, tampaknya siap menegur si pengendara motor tidak ada akhlak itu.
"Kenaaaan!" Pekik mamanya lagi sambil membukakan pagar.
"Surprise, mama sayang!" Kenan melompat dari motornya dan langsung memeluk mamanya.
"Huh, anak mama cakep-cakep bau asem," kata mama sambil melerai pelukan Kenan. "Eh, kamu ... pakai motor ini dari Pontianak?"
"Iya, dong ... keren, kan?"
"Hais, kalau gak punya uang buat beli tiket pesawat, bilang dong. Malah naik motor, kayak orang susah aja," omel mamanya yang sukses membuat Kenan tergelak.
"Asyikan naik motor. Seru tahu, ma."
"Iya, tapi kamu sendirian apa sama teman sih, ke sini?"
"Sendirian."
"Astaga, kalau ada apa-apa gimana, Kenan?"
"Ada apa sih, ribut-ribut?" Papa Kenan menyusul mama keluar rumah.
"Lho Kenan ... pulang kamu, nak? Kok gak ngabarin dulu?"
"Hehe, biar kejutan, pa."
"Anak kamu nih, pa. Dari Pontianak, naik motor sendirian pula," adu mama Kenan pada suaminya.
"Beneran, Ken?"
Kenan mengangguk senang.
"Mantap ih, motornya juga ok buat perjalanan jauh," puji papa Kenan yang semakin membuat mamanya cemberut.
"Ah, ayo masuk. Bersih-bersih badan, makan trus istirahat," ajak papa Kenan.
***
Puas melepas rindu dengan keluarga dan mengunjungi beberapa tempat wisata di kota kelahirannya, Kenan memutuskan kembali ke Pontianak meskipun waktu cutinya masih bersisa 5 hari lagi, alasannya agar punya waktu beristirahat sebelum kembali berkutat dengan pekerjaannya.
"Pa, ma ... Kenan balik, ya. Aku menunggu kedatangan papa dan mama ke Pontianak untuk melamar Aymee," pamit Kenan yang bersiap berangkat meski matahari belum lagi menampakkan sinarnya.
Walaupun anaknya telah membuktikan bisa tiba dengan selamat tanpa kekurangan apapun di Palangka Raya, saat akan kembali mama Kenan memaksa anaknya untuk pulang naik pesawat dan motornya dikirimkan via cargo saja, tapi Kenan tentu saja menolak keinginan mamanya itu.
"Sampai ketemu lagi pa, ma ..." Kenan melambaikan tangannya sebelum menjalankan motor kebanggaannya.
"Keeennn, hati-hati kalau berhenti, jangan pipis sembarangan!" Teriak mama Kenan sesaat sebelum motor Kenan keluar dari pagar rumahnya.
Kenan hanya mengangguk. Brem, brem, ngeeeeng, Kenan mulai melaju, ia benar-benar menikmati perjalanannya, meski badan lelah tapi yang namanya hobi, letak kepuasannya ya di situ.
Kenan berencana akan berhenti dan mencari penginapan jika hari mulai sore, meskipun sudah mengenakan helm, Kenan mendengar dan mengingat baik pesan mamanya untuk berhati-hati saat berhenti.
Pukul 17.20 WIB, Kenan mulai melambatkan laju motornya mencari tempat mengisi perutnya dan juga beristirahat, dari info yang ia dapat di Kudangan ada beberapa penginapan sederhana. Namun rupanya terlewati oleh Kenan, hingga ia terlanjur sampai di perbatasan Kalteng-Kalbar dan akhirnya Kenan memutuskan numpang tidur di warung yang buka 24 jam di sekitar tapal batas.
Keesokan paginya, persis seperti kemaren Kenan bersiap di saat hari masih gelap, tepat pukul 5 pagi ia sudah memulai perjalanannya kembali menuju Pontianak.
Saat melaju selama 2 jam, Kenan merasa ada sesuatu yang aneh. Suasana jalan yang ia lewati ini terasa berbeda dengan saat ia berangkat menuju Palangka Raya beberapa hari yang lalu. Kenan ingat persis, setelah sudah keluar dari kota Pontianak menuju Palangka Raya, tidak ada jalan yang seramai ini, hanya hutan, perbukitan, rumah atau warung yang sangat jarang, tapi ini ... di kiri-kanan jalan banyak terdapat gedung-gedung yang megah. Khawatir salah jalan, Kenan berhenti. Kebetulan di dekatnya ada seorang bapak yang motornya mogok.
"Maaf pak, mau tanya apa benar ini jalan menuju Pontianak?"
"Iya," jawab bapak itu.
"Terima kasih," Kenan sebenarnya ragu atas jawaban bapak itu. "Em, sekali lagi maaf, pak. Motornya kenapa?" Kenan berusaha mengajak bapak itu berkomunikasi.
"Mogok, habis bensin."
"Oh, saya bawa stok bensin." Kenan berdiri mengambil botol berisikan 2 liter bahan bakar, buat jaga-jaga barangkali kehabisan bensin di tempat sepi.
"Kamu gimana?"
"Gak apa-apa, pak. Tadi saya udah isi full-tank. Pakai aja."
"Terima kasih," bapak itu mengisi tanki minyaknya hanya separuh dari isi botol Kenan.
"Habiskan saja, pak. Benar, tidak apa-apa," kata Kenan.
"Cukup kok, perjalananmu masih panjang sementara aku tinggal di sekitar sini saja," bapak itu mengembalikan botol Kenan beserta sebongkah kunyit seukuran jempol.
"Wah apa ini, pak?" Kenan heran.
"Bayaran bensinmu tadi."
"Oh, tidak usah pak, saya ikhlas, kok."
Bapak itu tersenyum, "Saya juga ikhlas, terimalah."
Kenan mengangguk, dalam hati ia merasa lucu diberi bumbu dapur begitu lalu menaruhnya di kantong ransel.
"Em ... ini nama tempatnya apa ya, pak?"
"Peladana."
"Peladana? Kok rasanya aku tidak menemukan nama tempat ini di peta," gumam Kenan.
"Mau melihat-lihat? Ayo ikuti saya," tawar bapak itu.
Kenan melirik jam tangannya sekilas, 11.20 mendekati waktunya makan siang.
"Baiklah," Kenan pun men-starter motornya. Namun baru jalan beberapa saat, Kenan menghentikan motornya saat melihat seorang wanita menggendong balita yang sedang menangis.
"Mau ke mana, ibu?" Sapa Kenan ramah.
"Peladana."
"Kebetulan saya juga mau ke sana, ayo ikut saya saja," tawar Kenan.
Ibu itu menatap Kenan lekat-lekat, membuat Kenan merasa salah tingkah.
"Maaf, jika ibu keberatan tidak apa-apa."
"Anak saya kelaparan, apa bapak punya makanan?" Tanya ibu itu.
"Oh ada, bu. Sebentar." Kenan merogoh kotak makanan di ranselnya yang berisikan aneka macam kue dari mamanya.
"Silakan, bu," Kenan memberikan kotak makanan itu beserta air mineral.
Sebelum mengambil kotak makanan, ibu itu melihat ke arah bapak yang berada di depan motor Kenan.
"Diakah?" Tanya ibu pada bapak itu.
Bapak itu mengangguk, baru kemudian si ibu mengambil 2 bungkus roti untuk diberikan pada anaknya.
Setelah makan, ibu itu pun naik ke motor Kenan yang siap mengantarnya ke Peladana.
Saat memasuki gerbang Peladana, Kenan terkagum-kagum melihat tempat yang semula ia duga adalah sebuah desa kecil, karena tempat itu lebih tepat di sebut kota, banyak bangunan modern dan mewah di situ.
"Berhenti di depan," kata ibu itu. Kenan pun menurut.
Setelah turun, ibu itu memberikan segulung daun sirih untuk Kenan.
"A-apa ini, bu?"
"Imbalan atas kebaikan hatimu."
"Wah, tidak usah, bu."
"Tidak baik menolak rezeki," kata ibu itu lagi. Kenan pun terpaksa menerimanya meski tidak tahu daun sirih bakal diapain olehnya jika sudah sampai rumah nanti, Kenan pun menaruh daun sirih itu di kantong lain ranselnya.
"Ikuti bapak itu, dia akan membawamu bertemu seseorang," ujar ibu itu sambil menunjuk pada pria pemberi kunyit tadi.
"Baiklah," Kenan kembali melirik jam tangannya masih di 11.20, Kenan heran melihat jarum yang seolah tidak bergeser sejak tadi, apakah jam-ku mati? Batin Kenan.
Kenan pun mengekori langkah bapak itu memasuki halaman rumah yang tampak paling besar dan megah dibanding rumah lain di sekitarnya. Kenan termangu saat bapak itu juga membawanya masuk ke dalam rumah yang desain interiornya seper sebuah kerajaan.
"Pak, kita mau bertemu siapa ini?" Tanya Kenan pelan.
"Ratu kami," jawab bapak itu setengah berbisik.
"Salam ratu," bapak itu menunduk takzim saat berhadapan dengan wanita cantik yang duduk di kursi menyerupai singgasana.
"Apa kamu menemukan orang yang kumaksud, Patih?" Suara wanita cantik itu terdengar lembut sekali.
"Benar, ratu."
"Baiklah," jawab wanita itu sambil tersenyum manis.
"Selamat datang di Peladana. Perkenalkan, namaku Keiyora, siapa namamu?"
"Ke-Kenan," jawab Kenan canggung.
"Hai, kamu kenapa tampak kebingungan. Santai saja, anggap saja ini rumahmu," kata Keiyora sambil bangkit dari singgasananya dan meraih tangan Kenan, dan menuntunnya menuju ruang makan.
"Sudah waktunya makan siang, ayo temani aku makan," ajak sang ratu. Herannya Kenan menurut saja, karena memang perutnya sedang keroncongan minta di isi, belum lagi hidungnya mengendus aroma enak yang berasal dari atas meja makan itu.
Seorang pelayan menghampiri Kenan, menarikkan kursi dan menaruh alas di pangkuan Kenan.
"Selamat makan, tuan," kata pelayan itu sambil menunduk.
"Ayo, tunggu apa lagi, semua yang terhidang boleh disantap," ujar Keiyora sambil menampilkan senyum manisnya. Tanpa ragu, Kenan pun mengambil beberapa jenis makanan ke piringnya.
Usai makan siang, Keiyora lagi-lagi menggandeng tangan Kenan menuju ke beranda samping. Terlihat taman yang sangat indah di situ, membuat Kenan lagi-lagi berdecak kagum.
Tidak lama terdengar alunan musik tradisional lalu muncul beberapa penari yang bergerak gemulai seolah menyambut kedatangan Kenan. Salah seorang penari menghampiri Kenan dan mengalungkan roncean melati ke leher Kenan.
"Selamat datang di Peladana, tuan," kata gadis penari.
"Terima kasih," jawab Kenan masih dengan perasaan heran.
Waktu bergulir begitu cepat, matahari perlahan bergerak turun hendak berganti senja. Kenan melirik lagi pada jam yang melingkari tangan kanannya, masih di 11.20 ... wah, ternyata jam-ku benar-benar mati, batin Kenan.
"Kenan, kamu mau tinggal di sini bersamaku?" Tanya Keiyora.
"Be-bersamamu, bagaimana maksudnya?"
Keiyora terkekeh sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, "Begini, aku ini adalah seorang ratu, aku sedang mencari lelaki yang tepat untuk menjadi raja Peladana dan juga ayah anak-anakku, sebagai calon penerus pemimpin di Peladana ... dan sesuai pilihan Patihku, aku setuju untuk menjadikanmu rajaku."
"Ra-raja, bagaimana mungkin?"
"Mungkin saja, kalau kamu mau. Kamu orang baik, tulus dan suci hatimu, aku percaya kamu bisa jadi pendampingku."
"Hah, tapi-" Kenan menggantungkan kalimatnya, karena sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu cukup menerima tawaranku, maka esok hari kita akan menikah dan resmilah kamu menjadi raja Peladana."
"Menikah?" Gumam Kenan pelan, tiba-tiba ia teringat janjinya pada Aymee yang akan dia lamar dalam waktu dekat.
"Iya. Kalau kamu bersedia menikah denganku maka kamu akan putus hubungan dengan orang-orang di duniamu sebelumnya, mama papamu, kekasihmu, teman-temanmu, pekerjaanmu. Kami akan mengatur sedemikian rupa, agar perpindahanmu ke Peladana menjadi sewajar mungkin."
Kenan bergeming mendengar penuturan Keiyora, apa maksudnya perpindahan ke Peladana akan dibuat sewajar mungkin? Kenapa ia harus putus hubungan dengan mama, papa dan Aymee?
"Jika kamu mau menikah denganku dan menjadi raja Peladana, maka semua yang ada di hadapanmu ini akan menjadi milikmu," iming Keiyora.
Kenan memejamkan matanya, mencoba berfikir waras dan mendengarkan kata hatinya.
"Maaf Ratu, jika saya menolak apa yang akan terjadi?" Tanya Kenan setelah beberapa saat.
"Kamu akan kembali ke kehidupanmu yang sebelumnya."
"Apa Ratu tidak marah?"
Keiyora menggeleng, "Aku lebih suka pria yang jujur dari pada harus memaksa. Jadi pilihanmu apa, mau menikah denganku atau ingin kembali ke duniamu saja?" Keiyora lagi-lagi melemparkan senyum memikatnya.
"Mohon maaf Ratu Keiyora, saya memilih ... kembali ke duniaku saja," jawab Kenan mantap.
"Baiklah. Terima kasih telah berkunjung ke Peladana. Teruslah jadi orang baik dan rendah hati. Sampai jumpa," Keiyora tersenyum lalu mengibaskan selendang merahnya di hadapan Kenan.
Wusss.
Ratu Keiyora, istana Peladana dengan segala keindahannya menghilang begitu saja dan yang lebih mengherankan lagi, ternyata Kenan sudah berada di rumahnya sendiri. Ya, dia sudah tiba di Pontianak. Kenan ingat kalau ia baru saja mengendarai motor, pulang dari Palangka Raya menuju Pontianak, lalu ia perlahan bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju ke teras rumahnya. Motor kesayangannya terparkir manis di situ bersisian dengan mobil sportnya.
"Kenan, sudah bangun?" Kenan menoleh ke sumber suara. Ternyata ada Aymee di rumahnya.
"Hai Aymee ... ah, aku baru saja mengalami hal yang ganjil," ujar Kenan sambil duduk di sofa ruang tamunya.
"Kami tahu," tiba-tiba saja mama-nya Kenan menyahut, dan duduk di sofa sebelah Kenan, diikuti papa.
"Mama, papa, kapan datang?" Tanya Kenan.
"Kami tidak dapat menghubungimu selama beberapa hari, dan kamu dinyatakan hilang. Hanya ditemukan motormu terparkir di pinggir jalan dekat bukit. Pihak kepolisian dan tim SAR juga terlibat mencari keberadaaanmu tapi nihil," tutur papa memulai penjelasannya.
Lalu mama Kenan melanjutkan penuturan suaminya, "Suatu malam mama bermimpi ditemui seorang wanita cantik yang mengatakan ingin menjadikanmu suaminya, dia bilang akan memberikan mama harta yang melimpah asalkan mama bisa membujukmu menerima tawarannya dan mama tidak boleh bertemu kamu lagi. Merasa ganjil, mama tolak saja, mama tidak ikhlas jika harus berpisah dengan cara yang aneh begitu, Kenan."
"Lalu, bagaimana kalian bisa menemukanku?" Tanya Kenan penasaran.
"Wanita itu meminta semangkok beras dengan sebutir telur ayam kampung diatasnya lalu menaruhnya di tempat motormu ditemukan. Saat bangun keesokan harinya, mama ceritakan pada papa dan sesepuh yang ada di sini, dan kami sepakat menuruti permintaan wanita cantik itu, menaruh semangkok beras dan telur di dekat motormu. Tidak lama kami mendapat kabar dari tim SAR, kamu ditemukan dalam keadaan pingsan di kaki bukit, tempat yang sebelumnya lalu lalang mereka lewati saat mencarimu," jelas mama lagi.
"Lalu aku dibawa pulang ke sini?" Tebak Kenan.
"Iya. Sebelumnya kami sempat membawamu ke rumah sakit, namun kamu terus mengigau minta pulang ke rumahmu. Jadinya kami bawa saja kamu ke sini. Kamu tidurnya hampir 5 malam lho, baru bangun ini," jawab mama Kenan.
Kenan melirik jam tangannya, terlihat angka 11.20 dan 25 Mar di situ. Lalu Kenan menghampiri kalender, "Tanggal berapa sekarang?" Tanya Kenan.
"25 Maret," sahut Aymee.
Kenan menghembuskan nafasnya, cutinya berakhir beberapa hari yang lalu dan ternyata jam-nya masih berfungsi. Tiba-tiba Kenan mengingat sesuatu. "Aymee, tolong ambilkan ranselku," pinta Kenan.
Kenan ingat kejadian hari itu, saat dia diberi sebongkah kunyit dan gulungan daun sirih. Kenan ingin menunjukkan keanehan lain dari kejadian yang dialaminya.
"What?" Kenin terpekik saat menemukan sebongkah emas yang diperkirakan seberat 1 kilo gram. Lalu Kenan merogoh saku ranselnya yang lain, "Luar biasa, ini benar-benar susah kujelaskan. Emas ini awalnya hanyalah sepotong kunyit, ini merupakan pemberian seorang bapak yang kubagikan bensin dan gulungan uang ini ... tadinya adalah daun sirih sebagai imbalan dari seorang ibu yang kuberikan kue juga tumpangan ke Pe-Pe ... ah, tiba-tiba saja Kenan lupa nama tempat gaib itu.