Aq baru saja menuju kerumah orang tuaku
setelah 1 tahun tak berkunjung.karna kesibukanku yang padat. karna belum bisa cuti dan baru setelah
ada kelonggaran di kantor aq baru bisa pulang
dan mengambil cuti selama 2 minggu.
Ketika sampai dihalaman teras rumah aq
perlahan mengetuk pintu.
" Assalamualaikum bu....." panggilku.
Namun tak ada jawaban dari dalam lalu aq duduk
diteras rumah sambil menunggu ibu pulang.
" eh aya..baru pulang ya ." sapa tetanggaku
" iya bu, oh ya bu ibu saya kemananya kok sepi
" kataku bertanya.
" kayanya tempat mang diman mb, wah mb aya
" bawa mobil kantor ya" kata tentangga ku
penuh selidik.
" iya bu mobil kantor" kataku pelan pafahal itu
mobil hasil keringatku sendiri setelah 3 tahun
kerja.
" oh bagus ya , bos nya baikan mau minjamin
mobil kantor" kata tentanggaku yang memang
tukang kepo dan tukang gosip
" iya bu ".jawabku tenang.
" ya sudah ke rumah mang diman saja sana mb,
mungkin ibu lama disana" kata tentanggaku.
" ya bu trimakasih sudah dikasih tahu " kataku
bertrimakasih lalu berjalan kaki kerumah mang
diman adik ibu.ku.
Aq sampai di halaman rumah mang diman
dengan pintu tertutup .namun aq mendengar
suara ribut ribut dari dalam rumah.
" aq pun hendak mengetuk pintu rumah mang
diman ketika suara ibu menangis terisak
" coba lihatkan anak yang tak tahu trimakasih
sudah dirawat tapi lupa sama ibu yang
merawatnya." kata bibi ani istri mang diman.
" tapi dia akan pulang ni, cuma tahun ini
saja belum bisa" isak ibu menangis.
" ya minta kiriman uang yang banyak sama
dia mb dari pada mba pinjam sini belum
bisa bayar terus kalo ditagih.
" makanya ngapain ngerawat anak pungut
akhirnya ngak bisa bantu mb, cuma bikin
susah" kata bi ani ketus.
Deg...............
hatiku terasa tersayat sayat mendengar semua
itu lalu perlahan mundur menjauh dari rumah itu.
" rupanya aq hanya anak pungut yang dirawat
oleh ibu , sedang kan ibu yang selama ini
bukan ibu kandungku" bathinku sedih sambil
melangkah pulang.
Aq tak pernah tahu tentang siapa jati diriku
selama ini ayah dan ibuku lah orangtuaku.
ayah ku sudah meninggal 2 tahun lalu.
beliau hanya karyawan biasa disebuah
perusahaan swasta. tapi kasih sayang
ayah dan ibu sangat lah tulus padaku.
dan aq tak menyangka aq cuma seorang anak
pungut.
Lama aq terduduk teras rumah ketika ku dengar
suara ibu datang menghampiriku. dengan
bekas mata sembabnya.
" aya kamu pulang nak" kata ibu.
" ya bu" kataku lirih. sambil menatap ibuku.
" ibu dari mana?" tanyaku.
" dari rumah bi ani tadi mau.....
" mau pinjam uang" kataku menatap ibu.
" lalu uang yang kukirim kemaren kemana bu?"
tanyaku pada ibu.
" buat berobat pamanmu nak " kata ibu lirih.
Aq membuang nafas kasar .lalu mengeleng
kan kepala .
" tapi kenapa ibu harus membayar pengobatan paman " kataku lirih.
" karna bibimu ngak mau membawanya berobat
dan ibu terpaksa memakai uang pemberianmu
" kata ibu terlihat sedih.
" ayo masuk nak " kata ibu lalu mengajakku
berdiri.
" ibu buka pintu dulu biar aq ambil barang di
bagasi dulu" kataku seraya melangkah
menuju mobil mengambil pakaianku dan
oleh oleh untuk ibu.
Aq masuk membawa semua barang dan meletakkanya diruang tengah lalu kututup pintu
rumah.
" bi ini oleh oleh buat ibu besok lagi ibu jangan
pinjam uang ke bibi, bilang sama aya kalo
ibu butuh uang" kataku pada ibu.
" iya nak, tadi ibu hanya ingin pinjam buat
bayar listrik saja" kata ibu pelan.
" tapi bibimu menolak, " kata ibu lirih.
" ya sudah besok biar aya yang bayar" kataku
pada ibu.
" ibu pun mengangguk.
Ada rasa penasaran didalam hatiku ingin
bertanya tentang diriku yang sebenarnya tapi
belum tepat karna aq melihat ibu terlihat
sedih.
.................................
Ketika selesai isya aq dan ibu makan malam berdua. bagi ibu aq adalah anak satu satunya
bagi beliau dan aq takut menanyakan rahasia
yang selama ini disimpan ibu.tapi hati kecil
ku penasaran siapa sebenarnya diriku.
setelah selesai makan ibu masuk kamar, entah apa yang beliau kerjakan.sedangkan aq mencuci piring kotor di dapur.setelah itu kususul ibu kekamar yang sedang duduk termenung sendiri diatas ranjang.
" bu, apa aya boleh masuk " tanyaku didepan pintu
kamar ibu.
" masuklah nak " kata ibu.
Aq pun lalu masuk dan duduk disamping ibu
dan ingin bertanya tentang apa yang menganjal
hatiku.
" ibu kenapa sepertinya sedih" ?" tanya pelan
" ibu ngak papa nak " kata ibu lirih.
" atau ibu kepikiran perkataan bibi?" tanyaku
pelan.
" apa "tanya ibu heran lalu menatapku.
" kalo aya anak pungut ibu" jawabku berkaca
kaca.
Ibu lalu menatapku nanar dan memelukku erat.
" kamu anak ibu, sampai kapanpun tetap anak
ibu, walau ibu tak melahirkanmu aya tetap
anak ibu dan ayahmu" kata ibu tersedu sedu
menangis dipelukannku.
Ibu pun mencertakan tentang diriku yang
di temukan dibak sanpah masih dengan berlimuran darah dan tali pusat yang belum terpotong 23 tahun yang lalu ketika ibu
melahirkan anaknya yang meninggal
sebelum sempat dilahirkan .
ibu mengangap itu sebuah berkah ganti
putrinya yang meninggal didalam perut.
ibu tak pernah memberi tahu siapa pun juga
ayah yang menyimpan rahasia itu rapat rapat.
jadi rahasia itu tak diketahui siapapun kecuali
mang diman dan bi ani.
Karna waktu itu mang diman ikut mengantar
ayah kerumah sakit dan tahu bayi yang dilahir
kan ibu sudah meninggal.
Aq trenyuh dengan cerita ibu.beliau menyusuiku
layaknya anak kandung tampa berharap lebih
begitu juga ayah yang slalu berjuang untuk
bisa menyekolahkan ku walau dengan ke
terbatasan nya.
Aq pun paham kini dengan apa yang ibu rasa
kan karna beliau tak pernah sekalipun
untuk menceritakan hal yang sebenarnya
terjadi.
" ibu tak mau aya pergi nak, aya tetap anak ibu
sampai kapan pun" kata ibu sedih.
" aya juga begitu bu, aya sayang ibu hiks ...hiks
isak ku pilu.
Sejak kejadian malam itu, aq pun menawarkan
ibu untuk ikut tinggal denganku disebuah rumah
sederhana yang hanya aq dan ibu yang menepatinya. agar ibu tak perlu berhutang atau
pun mendengar omelan bi ani.
Setiap mang diman butuh aq slalu mengirimi
uang untuk berobat, karna bagaimanapun
beliau tetap pamanku adik kandung ibu yang
sudah merawatku.
Aq tak menyesali apa yang terjadi padaku.
aq mengangap mungkin ini adalah takdirku
yang sudah digariskan Allah padaku.yang
sudah tertulis di lauh maqfus.
Kini aq dan ibu hidup bahagia tak orang lain
tahu tentang rahasia kami, selama kami
baik baik saja dan hidup bahagia.
Setahun tinggal dirumah cicilan yang ku
cicil aq mendapat bonus rezeki yang membawa
ku bisa pergi umroh bersama ibu juga
berkorban seekor kambing buat ayah.
Bi ani yang tak tahu kami tinggal di kota
di mana tempatku berkerja sebagai akuntan
keuangan perusahaan asing yang kini mem
berikan penghasilan yang lumayan. yang
lebih dari cukup, dan juga bisa ditabung.
Hidup kadang penuh misteri tapi tuhan selalu
adil dengan umatnya.seperti ku anak yang terbuang namun tetap punya ibu yang menjaga,
baik dan slalu menyayangiku.segenap hati dan
setulus jiwa yang tak pernah diketahui orang lain
yang menjadi rahasia aq dan ibu saja.
Tamat.