Kisahku dan persahabatan dimulai pertengahan tahun saat aku bekerja disebuah toko peralatan sekolah, ditahun-tahun itu aku baru belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang jauh dari tempat tinggalku.
Perjalanan ketempat kerja aku lalui dengan mengendarai sepeda kayu, jalanannya masih berbau dan rerumputan yang licin jika hujan tiba.
Abu bertemu dengannya saat dia membeli beberapa peralatan untuk siswa-siswinya. Kami berkenalan dikala itu juga, setelahnya saat jam makan siang. Dia selalu mengajakku istirahat siang di kantin depan sekolah tempat dia mengajar.
Mungkin hanya aku yang merasakan perasaan yang lebih sekedar teman, karna ternyata kita ternyata angkatan sekolah yang sama. Hanya saja dia melupakanku, hanya aku yang ingat bahwa kita pernah satu sekolah. Saat masih remaja, dia memang sangat populer dikalangan anak-anak perempuan yang banyak mengaguminya. Bukan hanya salah satu anggota OSIS, tapi dia juga anggota klub sepakbola disekolah.
"Aku baru tau kalo kita dulu satu sekolah" Sambil tersenyum manis menatapku, dan membuat jantungku sedikit bergetar karna senyumannya.
"Hem, padahal dari kemarin kau perhatiin kayak kenal dan memang bener ternyata kamu" ucapku kecewa
"jadi hanya aku yang inget siapa kamu" timpalku sembari melanjutkan makanku.
"Ya maaf, soalnya kan banyak banget dulu cewek yang deketin aku. Dan aku gak ingat semua." ucapnya
"Eh..eh...eh....., aku bukan termasuk ya!" potongku
"hem." sontak saja dia menengok kearah ku kaget.
"Iya, aku tuh cuman lihat dari kejauhan. Gak sampai ngejar-ngejar juga kali." timpalku sambil memanyunkan bibirku membuatnya tersenyum tipis.
"oh."
"Kok oh sih?"
"Terus." tanyanya
Selesai makan siang aku kembali ketoko tempat aku bekerja, sedangkan dia kembali ke sekolah. Beberapa guru membicarakannya saat datang ketoko membeli beberapa pensil dan kertas.
Mereka mengatakan bahwa mas Damar mengambil formulir pendaftaran mahasiswa untuk melanjutkan kuliahnya, dia mengambil jurusan sastra Inggris. Sontak saja aku kaget, tak tau kenapa tiba-tiba dada ini sesak seketika dan mata ini hampir meneteskan air mata. Hatiku sedikit tersayat.
"Ini berapa ya dek semuanya?"
"pensilnya Rp 3.500,- Bu dikali 10. Berarti semuanya Rp 35.000,- Bu."
"Kalo saya berapa dek?"
"Itu semua berapa lembar ya Bu? satu lembarnya Rp 1.500,-."
"Bentar ya dek, saya hitung dulu."
"hem... 20 lembar dek."
" 20 lembar dikali Rp 1.500,- berarti semuanya Rp 30.000,- Bu."
"Ini bayaran digabungkan apa dipisah Bu?"
"Dipisah aja."
"oke."
Jam pulang sekolah terdengar lonceng Bell. Aku menunggu mas Damar dipinggir gerbang sampai sekolah tempat kendaraan para staf kantor diparkir. Aku ingin bertanya kepastian bahwa dia benar-benar akan pergi melanjutkan kuliahnya.
"Bintang."
"Tumben mas Damar keluarnya telat, Bintang kan nungging dari tadi."
"Mas tadi banyak kerjaannya, kamu ngapain nungguin mas. Apa perlu bantuan dari mas?"
"Oh enggak mas. Bintang cuman pengen tanya aja, apa benar mas mau lanjut kuliah dan berhenti ngajar di sini."
"Oh itu, iya. Kok kamu bisa tau?"
" huft. Em.. tadi banyak guru yang ngomongin ditoko, jadi Bintang cuman mau mastiin aja."
"Kamu gak bawa sepeda, mau mas anterin?" sambil menengok mencari keberadaan sepedaku.
"Enggak perlu mas, aku bawa kok didepan toko." ucapku.
"Begik banget sih kamu Bintang!! kan kamu bisa bilang gak bawa biar bisa boncengan." batinku.
Beberapa minggu kemudian dihari terakhir Damar bekerja di sekolah, suasana hatiku rasanya sangat buruk jika aku ingat-ingat bahwa mas Damar bakalan pergi. "Apa aku gak bisa larang mas Damar gak pergi ya, tapi kalo aku larang itu artinya sama aja aku menghalangi cita-cita mas Damar." gumamku.
"Ndhok." teriak ibu dari luar kamarku
"Iya Bu."jawabku
"kamu gak berangkat kerja apa?"
"Iya Bu, ini Bintang lagi siap-siap."
Saat aku keluar dari kamar menuju dapur tempat ibu berada, tiba-tiba ibu berkata..
"Itu ada nak Damar didepan nungguin kamu."
"Hah!! Mas Damar Bu!" sontak aku kaget campur bahagia
Aku pun berlari menuju mas Damar
"Em, mas Damar tumben mampir. Tapi Bintang udah mau berangkat kerja." aku pura-pura menahan perasaan bahagiaku.
"Mas mau jemput kamu, sekalian ada sesuatu yang ingin mas sampaikan sebelum mas berhenti kerja dan melanjutkan kuliahnya."
Diperjalanan menuju sekolah mas Damar mendadak berhenti diwarung makan dan mengajak aku untuk sarapan pagi dulu sebelum berangkat kerja.
"Mas Damar tadi bilang ada yang mau dibicarain."
"Ada yang mau mas bilang kekamu, apa kamu mau nunggu mas sampai selesai kuliah dan dapat kerjaan. Mas sudah ngomong sama orang tua mas dan sama ibu juga, mas ingin melamar kamu. Apa Bintang mau nunggu mas?"
"Hah!!" sontak saja aku kaget, karena ibu gak pernah membahas tentang mas Damar sebelumnya. Aku hanya bercerita tentang mas Damar orang yang dulu pernah Bintang suka kerja didekat tempat Bintang kerja.
"Mas kok gak pernah cerita sama Bintang atau nanya Bintang dulu sih." ucapku kesal.
"Memang Bintang gak suka sama mas." godanya
"ihh..."aku pun menahan senyum dan merah dipipiku terlihat jelas.
"Gimana? Bintang mau nunggu mas apa enggak."
"iya mas, Bintang mau." senyum lebar dibibirku hingga pipiku mengembang.
Akhirnya aku mengantarkan mas Damar keterminal Bus, dan aku masih tetap bekerja ditoko sembari menunggu mas Damar selesai kuliah baru berhenti. Ternyata mas Damar juga suka sama aku sejak pertama kali bertemu ditempat kerja bukan saat sekolah dulu. Karena dulu dia sama sekali tidak mengenaliku, terlalu banyak perempuan yang mengelilinginya. Tapi sekarang dia akan menjadi milikku sendiri seutuhnya. Tuhan, tolong lindungi mas Damar dari semua godaan perempuan nanti saat dia kuliah 🤲🏻🤲🏻, jaga hatinya, tutup matanya untuk perempuan lain.
Terimakasih sudah mampir membaca karya tulis saya🙏🏻🤗😊
jangan lupa tinggalkan jejak, like coment, dan share ya.
thanks you for you😇🤗😊😚😚😚