KUNTILANAK MERAH
"Makasih Don..." Ucap ku saat Doni sahabatku membantu untuk membawa tas milik ku . Ya hari ini sekolahku akan mengadakan camping di sebuah hutan pinus di kota ku.
Semua orang sudah memenuhi dua bis yang di sediakan oleh panitia sekolah. Kami berangkat pukul tujuh pagi mengingat perjalanan untuk ke tempat camping sangatlah jauh dan susah.
Perjalanan kami cukup membuat pingangku pegal-pegal aku memilih untuk memejamkan mataku agar perjalanan panjang ini menjadi leboh singkat.
"Ras bangun .... "Suara Reni sahabat ku membangunkan tidur nyenyak ku .
"Udah sampe Ren..?" Tanya ku .
"Belom kata pemandunya sih kita masih harus naik ke atas..." Tutur Reni .
Ku buang nafasku perlahan , sesaat semua murid turun dari bis membuat sebuah barisan panjang dan perlahan berjalan untuk menaiki anat tangga dari bambu yang tak terhitung serinya.
"Kakiku rasanya mau copot ... "Keluh Reni saat kami sudah sampai puncak anak tangga.
Terlihat hamparan luas pohon pohon pinus yang menjulang tinggi .Aku merasa sesak , sangat aneh pikirku di hutan seluas ini aku merasa kan himpitan yang begitu pekat.
Para panita meminta semua murid untuk segera mendirikan tenda perkelompok yang per kelompok berisi 3 orang .
Reni ,Sela dan aku satu kelompok sedangkan Doni bersama ketiga temanya Santo dan Rehan.
Matahari mulai terbenam cahaya nya kian memudar berganti gelapnya malam ,waktunya menyalakan api ungun yang akan menjadi tempat kehangatan.
"Astagfirullah ..." Lirihku saat netraku melihat sosok perempuan berdiri di belakang seorang siswa yang ada di seberang tempat ku berdiri.
"Kenapa Ras..?" Tanya Doni yang sebenarnya tay apa yang sahabatnya Saras lihat .
"Jangan sok ngga tau deh Don..."ucap Saras kesal.
Mlam ini acara api unggun terasa mencekam bagi Saras dan Doni karna beberapa sosok mulai silih berdatangan mungkin mereka ingin menyambut kedatangan rombongan kami.
Perhatian ku masih tertuju pada sosok perempuan yang selalu berada di samping siswi cantik berambut pendek yang terlihat diam saja sedari tadi.
Hingga waktunya semua murid harus masuk ketendanya masing masing untuk tidur. Baru saja Saras mau menuju alam mimpi sebuah jerigan melengking terdengar di telinganya .
"Sel ,Ran siapa sih yang menjerit se keras itu..?? "Tanyaku pada kedua ornag sahabatku yang masih sibuk membaca buku novel .
"Suara apaan sih Ras jangan bikin kita takut deh ...! "Ucap Sela merinding .
"Mungkin kamu kecapean kamu Ras.. ! "Reni yang sudah kenal dekat dengan Saras mengerti jika memang sahabatnya meiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak kita lihat.
Di sepanjang malam Saras tidak bisa memejamkan kelopak matanya suara suara aneh terdengar bersaut- sautan mulai dari suara tangis yang terdengar pilu menyayat hati , suara tapak kaki kuda dan juga suara jeritan-jeritan kesakitan mengiringi malam yang panjang .
Suara pak Santo guru pembimbing kami membangunkan tidur nyenyak ku setelah semalam suntuk terjaga.
"Ayo semuanya bangun... bangun...! pagi ini kalian akan melakukan perjalanan untuk melihat air terjun Widosari ...! "
" Sebelum itu kalian semua harus berkerja sama untuk memasak sarapan pagi...bagi siswa laki laki kalian persiapkan tikar dan lain lain sedangkan siswi perempuan akan membantu Ibu memasak... ! "
"Baik bu..." Ucap semua murid serentak.
"Aaaaaaaaaa....ulerrrr...." teriakan Sela membuat ku dan semua murid berhamburan.
"Mana ulernya ..? "Kulihat doni seperti seorang kesatria dengan kayu di tanganya .
"Itu... "
Mataku membulat melihat apa yang sedang di tunjuk Sela ,tawa ku tak bisa lagi ku tahan ,"Buahahhaha...." semua orang pun ikut tertawa melihat sebuah Ulat kecil yang menempel di dahan kayu yang akan digunakan untuk memasak Mie untuk sarapan.
"Itu ulat bukan uler sel pinter dikit dong biar bisa bedain..!" Doni berucap dengan kesal .
"Kalo di Jawa kan namanya uler... "
"Terserah kamu lah Sel... "Ucap Rani membuang nafasnya kasar sungguh teman nya yang satu ini benar benar tulalit.
Setelah sarapan kami di giring oleh pak Santo menuju air terjun Widosari ,dengan jalan bebatuan yang begitu besar di kanan dan kiri . Mataku tiba tiba kembali melihat sosok itu , sosok perempuan bergaun gaun putih ,leher yang terlihat akan putus membuat gaun itu penuh dengan lumuran darah seakan akan berwarna merah pekat.
Ku tutup hidung ku dengan jari karena aku mencium bau anyir darah yang membuat perut ku seakan ingin memuntahkan mie yang baru ku makan tiga puluh menit yang lalu .
"Jangan di lihat Ras.. "ucap Doni mewanti wanti diriku.
Aku hanya mengangguk mengerti namun lagi lagi sosok itu mengecoh perhatian ku dengan mengeluarkan suara melengking yang membuat gendang telingaku seakan pecah.
dengan waktu lima belas menit kami sudah sampai di bawah air terjun yang berada di tengah-tengah hutan pinus ini.
"Kalian bisa mandi di sini dan ingat kalian harus saling menjaga satu sama lain ,untuk yang tidak bisa berenang harap menjauh dari air terjun... "Ucap pak Santo memberi wejangan.
Aku mulai memilih duduk di sebuah batu besar bersama Sela , Reni , dan Doni . Sedangkan murid lain lebih memilih berenang dan bersua foto di tepi air terjun .
"Waw bagus ya air terjunnya , kalau aku bisa berenang pasti seru.." ucap Sela dengan guratan kebahagiaan.
"Iya airnya jernih banget lagi... "
Tiga puluh menit berlalu semua siswa dan siswi harus kembali ke camp karena waktunya untuk berpetualang semua siswi harus membentuk empat orang tim yang akan masuk ke dalam hutan untuk mencari bendera yang sudah di sebar di beberapa titik.
Aku bersama Doni , Reni,Rendi mendapatkan bagian kearah timur. Kami berjalan menyusuri jalan setapak di penuhi pohon pohon pinus yang semakin lama semakin lebat .Kami berhasil mengumpulkan 4 buah bendera setelah berjalan cukup lama.
"Loh bukanya kita udah lewat sini tadi..?" Tanya Rendi saat melihat sebuah batu besar yang sudah kita lewati tadi.
Aku dan Doni tersenyum samar , mengerti akan apa yang kita alami .
Kulihat doni sedang membaca sesuatu dengan lirih... aku tak tau apa namun yang pasti setelah ia berdoa kami bisa pulang menuju camp tanpa ada halangan.
Hari sudah beranjak Sore semua murid melakukan absensi kelengkapan .
"Intan..?" Saya pak ucap seorang siswi.
"Dewi...?? "Pak Santo terlihat mencari nama siswi itu namun nihil tidak ada yang menyahut.
"Kemana Dewi..?"
Tadi dia bersama saya pak tapi Kok ini tidak ada..... ! ucap seorang siswi lainya.
Aku melihat pengalan kejadian berputar di otak ku . Kulihat Seorang perempuan sedang membuang sebuah kantung plastik yang berisikan sebuah Pembalut yang telah terpakai di bawah pohon pinus .
Gadis itu akan ku bawa sebagai pelayan ku hihihi.. suara itu terdengar begitu nyaring hingga Saras menutup telinganya.
"Don ..." ucap Ku.
"Kita akan menjemputnya,.."
"Pak Santo saya tau dimana Dewi pak...! "Ucap ku.
"Tolong bapak cari Pohon pinus paling besar di sini yang ada batu hitam besar di bawahnya. ... ..! Jika sudah ketemu tolong suruh dewi untuk mengambil kembali barang yang seharusnya tidak ia buang sembarangan..! "Aku berucap dengan penuh keyakinan.
Pak Santo dan beberapa murid mencari letak pohon yang Saras maksud. Disisi lain Saras dan Doni sedang sibuk masuk ke dimensi lain untuk membebaskan Dewi dari Kuntilanak berbaju merah darah itu.
"Haduhhh takut Ren...!"ucap Sela melihat Saras dan Doni duduk bersila dengan mata tertutup.
"Tolong lepaskan teman kami .. "ucap ku .
"Tidak akan ... dia sudah berani mengotori tempat tinggal ku dengan darahnya... "Sosok itu berucap dengan marah terlihat wajah hitam itu penuh dengan luka yang membusuk satu persatu belatung jatuh dari wajahnya membuat Dewi yang tengah terduduk di tanah itu menangis sesenggukan.
Aku melihat Doni berucap sesuatu hingga muncul sosok pria bersorban dan Macan kumbang berdiri di dekatnya . Macan itu mengaung naungannya begitu keras membuat Kuntilanak itu tertawa ."Hihihihi....."
"Musnahkan dia .... "ucap Doni, dengan cepat macan itu meloncat menuju perempuan itu mencabik cabik wajah buruk sang Kuntilanak.
"Aaaaaaa ....." jeritan kesakitan sosok itu begitu keras aku hanya bisa menyaksikan Sosok itu musnah bersamaan dengan hilangnya Macan itu.
...
"Don... Ras..." ucap Reni mengguncang mengacungkan dua orang yang sudah bermandikan peluh itu.
" Alhamdullilah .. "ucap ku dan Doni setelah selesai membebaskan Dewi.Terlihat Pak Santo dan siswa lain sudah kembali bersama Dewi yang masih Menangis sesenggukan.
Dewi yang melihat ku dan Doni pun segera mengucapkan terimakasih karena telah menolongnya.
"Lain kali kalian jangan pernah membuang sampah sembarangan .. "ucap Doni.
"Aku menyesal ... "Ucap Dewi merasa bersalah.
"Aku oun baru tau jika Doni memiliki Macan kumbang dan Kakek bersorban putih yang menjaganya ..."batinku.
Setelah kejadian itu Keesokan paginya rombongan kami pun di pulangkan karena panitia takut akan terjadi kembali hal hal yang tidak di inginkan .
TAMAT.