Seseorang pernah mengatakan bahwa setiap orang pasti menyimpan rahasia. Entah itu memalukan, menyedihkan, atau terlalu membahagiakan untuk diumbar. Katanya, rahasialah yang menjadikan manusia adalah manusia. Atau manusialah yang menjadikan rahasia tetap rahasia. Aku lupa mana yang benar. Hehe, ya udah kita lanjut ke ceritanya.
Suatu sore, ibu membagi apa yang disebutnya rahasia padaku. Ia ternyata pernah mendapat nilai 0 di ujian matematika hingga membuatnya harus tinggal kelas. Ia tak pernah lagi duduk di depan karena takut gurunya bosan. Ia juga jarang keluar rumah karena malu sama teman dan tetangga. Namun karena itu pula, ia dapat meraih juara nasional di olimpiade matematika. Disenangi guru, disukai teman. Ah, aku mulai ragu menyebut itu rahasia. Seharusnya cerita itu dibagikan di kelas motivasi menjelang ujian nasional.
Selang beberapa waktu, ayah juga ikut menceritakan rahasia kecilnya. Sewaktu kecil, ia pernah mencuri ayam untuk dijadikan hewan peliharaan. Namun setelah ayam itu tumbuh besar dan siap dijual, si ayam kembali dicuri orang. Lagi-lagi aku ragu menyebut itu rahasia. Seharusnya cerita itu dibagikan dalam buku pendidikan kewarganegaraan pada bab moral, bahwa barang hasil curian akan kembali dicuri pada akhirnya.
Beberapa temanku juga pernah membagi rahasianya padaku. Bobi mengatakan bahwa ia pernah mentigakan pacarnya. Fatur bilang ia pernah mengendap-endap ke kantor guru untuk memperbaiki hasil ujiannya. Sedangkan Mei, pernah mengatakan cinta pada satpam sekolah.
Aku tak pernah menyadari kemampuan mengorek rahasiaku sebelumnya. Kurasa ada setetes darah peramal yang mengaliri nadiku, atau sebutir jimat keberuntungan yang mendekam di lidahku. Namun, ini tak pernah berhasil pada gadis berkuncir kuda itu. Rei.
Ia adalah penghuni kursi belakang, yang selalu pulang paling belakang. Bukan karena bodoh, atau ditahan guru karena tidak bisa menjawab soal. Kurasa ia hanya menghindari orang-orang. Enam bulan sekelas dengannya, yang kutahu temannya hanya buku, kursi dan meja.
"Mengikutiku?"
Wajahku merah padam. Rei tahu aku bersembunyi di pohon ini untuk membuntutinya sepulang sekolah. Dan sekarang ia berbalik sambil menatapku dalam-dalam.
"Ini jalan pulangku," kilahku segera.
Kalau kamu ingat bagaimana tatapan guru ketika menangkap basah muridnya yang menyontek, tatapan Rei lima kali lebih tajam dari itu. Aku tahu ada petir dalam bola matanya. Dan setiap kali ia menatap seseorang, petir itu langsung menyala dan keluar tanpa perlu gelagar.
"Kamu selalu pulang paling belakang," celotehku sambil menyamai langkah Rei yang kembali berjalan.
"Lalu kenapa?" Gadis itu balik bertanya. Petir dalam bola matanya kini berubah menjadi api kecil.
Jimat keberuntunganku tidak berfungsi. Rei membuatku kehabisan langkah sebelum berlaga.
"Kamu menghindari orang-orang."
Tak dapat disangka, Rei justru tersenyum kecil. Ia kemudian menggelengkan kepalanya. "Kamu ini detektif ya?"
Sikapnya berubah seketika. Petir dalam bola matanya berubah menjadi sekuntum flamboyan yang baru mekar. Ia memaksaku untuk membalas senyumnya. "Mudah untuk menebak seseorang yang tidak pernah mengobrol di kelas."
Rei mempererat pegangan pada tali ranselnya. "Kamu tidak memerhatikanku setiap saat, Bim."
"Kamu tahu namaku?" Sulit untuk percaya gadis penyendiri, penghuni kursi belakang, hapal nama salah satu siswa dalam kelasnya. Rei selalu mengantuk ketika jam pelajaran, dan terlihat segar ketika hendak pulang.
Gadis itu terkekeh lagi. "Kita sudah sekelas hampir enam bulan."
Sore itu langit mulai berubah oranye. Sinar matahari memudar. Camar berkeliaran. Langkahku semakin jauh meninggalkan rumah. Namun hanya butuh selangkah lagi untuk menaklukan rahasia Rei dalam genggaman. "Aku hampir lupa. Kurasa yang lain juga. Kamu selalu datang lebih awal, dan pulang paling akhir. Seperti itukah cara novelis bekerja?"
"Novelis?" Alis Rei terangkat bersamaan.
Aku tersenyum. Kutangkap air mukanya yang mendadak tak senang. "Kamu selalu membaca novel disela jam pelajaran."
"Oh ya? Sejak kapan kamu memerhatikanku?"
Alisku sekarang yang terangkat. Rei masih meneruskan langkah. Namun ia benar-benar membuatku kehabisan langkah. "Jangan balik bertanya."
"Aku hanya penasaran." Rei berbelok ke sebuah gang di mana sederet rumah tampak saling angkuh berdiri. "Dan kamu salah tentang tebakanmu. Kamu harus banyak belajar, Mr. Detektif."
"Bisa mengajariku?" tanyaku asal.
Rei hanya tertawa. Langkahnya semakin melambat. Kukira rumahnya hanya beberapa meter lagi dari sini. Aku tidak menyangka menaklukan Rei lebih sulit dari ujian psikotes yang penuh teka teki untuk dipecahkan.
"Siapa seseorang yang suka meneleponmu di kelas?"
"Teman," balas Rei pendek. Kurasa ia ingin segera menghentikan semua basa-basi ini. Langkahnya kemudian terhenti di sebuah rumah bercat hazelnut dengan pelataran anggrek liar.
"Aku tahu, kamu mempunyai rahasia besar, Rei."
Rei membeku. Dua menit terpanjang dalam hidupku, kuhabiskan menunggu jawaban gadis berkuncir kuda itu. Namun ketika ia berbalik dan menatapku lurus-lurus, petir dalam sorot matanya kembali menyala. Ia tersenyum sebelum memutar engsel gerbang untuk masuk.
"Rahasia apa yang kamu simpan, Bim?"
Sekelebat bayangan tentang buku tentang rahasia orang-orang yang kukumpulkan, rangkaian-rangkaian cerita, dan komik yang belum kuselesaikan melesat di depan mataku. Rei sudah masuk mengunci gerbangnya. Sedangkan aku tertegun di tengah kilat petir yang mulai menyala-nyala di langit petang. Hujan deras mendadak datang.
Seseorang pernah mengatakan bahwa setiap orang pasti menyimpan rahasia. Kini aku tahu siapa yang mengatakannya: Rei. Itu pidatonya pada hari pertama di kelas. Katanya, rahasialah yang menjadikan manusia adalah manusia. Atau manusialah yang menjadikan rahasia tetap rahasia.Benar, rahasia yang menjadikan Rei adalah Rei. Dan aku terlalu bodoh untuk menganggap rahasiaku tetap rahasia di tangan Rei.
End.
***
Jangan lupa klik tanda ♥️ yah sebagai tanda dukungan dari kalian. Thanks for reading 🤗