Gadis bertuduk pink pastel duduk di depan lelaki berumur 40 tahun. Gadis yang biasa tidak menutup rambut itu, rela memakai kerudung untuk datang ke sekolah adek-Nya mengurus perpindah sekolah. Bola mata lentik milik gadis itu mengamati pergerakan lekaki itu. Ia masuk ke dalam dan keluar lagi berulang kali. Menanyakan pada gadis muda itu berberapa pertanyaan. Lelaki itu kembali duduk dan membawa lembaran kertas.
“Nanti dua kertas ini di fotokopi dan di jadikan lampiran!”perintah Pak Yanuar di balas angguk-kan oleh gadis itu.
“Niat ya mau di pindah ke mana mbak!”tanya pak Yanuar selaku kepala sekolah. Pak Yanuar adalah kepala sekolah baru dan usia-Nya masih muda untuk ukuran seorang kepala sekolah.
“Di deket rumah, kalau disini terlalu jauh pak yang mau nganterin”jelas Fitri, Pak Yanuar hanya mangut- mangut, ibu jari dan jari telunjuk menopang dagu. Mata pak Yanuar menamati gadis didepan-Nya. Gadis tanpa polesan tapi memancar-Kan aura kecantikan.
“Terimakasih pak! Apa saya harus bayar?”
“Tidak perlu,” Fitri berdiri dan mempersilahkan diri untuk keluar dari ruangan itu. Lelaki itu mengamati pergerakan gadis itu, ada rasa kecewa menyusup dalam raga.
Drtt..drtt...
Gentaran dari gawai milik Yanuar, ia menganggkat telvon dari sang istri. “Yah!!”
“Iya ada apa ma?”
“Si haikal mau mama antar di kantor papa, Mama ada rapat di kabupaten!”terang Tutik ibu dari Haikal.
“iya,”
Tutik sama seperti Yanuar berprofesi sebagai guru, tapi Tutik lebih sibuk karna ia mengajar 2 sekolah sekaligu. Dan sering meninggal-Kan Haikal yang baru berusia 3 tahun. Yanuar mendengus kesal, bukan ia tidak mau merawat anak semata wayang mereka. Tapi ia sangat lelah untuk saat ini. Ia sudah melarang Tutik untuk berkerja tapi wanita itu tidak rela meninggal-kan pekerjaan-Nya. Padahal Yanuar lebih suka Tutik mengurus anak dan rumah.
**
Bener bertulis’ Warung bu Anik’ terpasang du depan warung bercat putih. Gadis berkulit sawo matang dan bermata bulat itu mondar-mandir melayani pembeli. Alhamdulliah hari ini lebih ramai dari pada hari biasa-Nya, senyum Fitri terpancar di wajah ayu itu. Walaupun hanya menjadi buruh di Warung milik bu Anik, ia sangat senang. Biasa-Nya kalau banyak pembeli, pasti ada aja yang memberi tips, lumayan untuk tambahan uang.
Pria tinggi bertubuh tegap memasuki emperan warung sambil menggendong anak-Nya berusia 3 tahun itu. Setiap hari ia memang sering makan di luar dari pada di rumah, alasan-Nya, karna sang istri jarang memasak. Sudah 15 tahun Yanuar memaklumi kebiasaan sang istri. Ia bahkan tak tau apakah Tutik bisa memasak atau tidak. Kalau-pun Tutik libur ngajar ia selalu membeli sayuran jadi dari pada masak sendiri.
Yanuar memilih kursi paling ujung, “Pak Yanuar!”tebak Fitri. Iya tak menyangka bertemu kepala sekolah adik-Nya di warung ini.
“mbak Fitri yang tadi ke sekolah bukan!”tebak Fitri di balas anggukan oleh Fitri. Ia tersenyum lebar.
“Loh si kecil juga ikut?”
“Iya istri saya sibuk ,”jelas Pak Yanuar, wajah-Nya berubah malas. Haikal diam, ia mengamati gadis yang di ajak bicara oleh ayah-Nya.
“Mau pesan apa pak?”tanya Fitri.
“Nasi rendang satu sama teh anget ”tutur Pak Yanuar, di balas anggukan. Gadis itu masuk kedalam dapur meyiapkan pesanan Yanuar. Dua buah piring hadir di depan Yanuar, ia langsung sigap melahap hidangan yang telah di sajikan. Haikal sibuk melihat video di gawai Yanuar.
**
Fitri berjalan menyusri jala raya, ia berniat memesan ojek tapi dari tadi ia tidak menemukan bata hidung tukang ojek satu-pun. Terpaksa ia jalan kaki menuju rumah.
Tin! Tin!
Suara klakson motor membuyarkan lamunan Fitri ia menoleh kebelakang, lelaki tinghi tegap, berkumis menganggetkan Fitri.
“Mau pulang?”
“Iya pak! “
“Mari saya antar!”ajak Yanuar
“Tidak pak, dan terimakasi atas tumpangan-Nya”tolak Fitri halus.
“Ini udah malam loh, takut ya kamu kenapa-kenapa” Fitri terdiam sejenak, ‘benar kata pak Yanuar. Ini kan udah malam, gimana kalau di tengah jalan ada yang aneh-aneh sama aku’batin Fitri.
“Gimana mbak fitri? Mau enggak saya anterin pakek montor.”aja pak Yanuar sekali lagi.
“Ehmm, iya deh pak!”terima Fitri. Pak Yanuar sangat senang ajakan-Nya di terima.
Mereka menyusuri jalan raya, berlenggak- lenggok memasuki perkampungan. Suasana hening, Pak Yanuar hanya bertanya arah kerumah fitri. Fitri memberi intruksi pada pak Yanuar.
“Kamu udah lama kerja di sana?”pak Yanuar membuka obrolan pada gadis di belakang-Nya.
“Baru dua bulan pak!”jawab fitri. Ia berpegangan pada bagian belakang montor.
Kuda besi itu, sampai di sebuah rumah sederhana dengan perkarangan cukup luas. Pak Yanuar mematikan mesin montor, Fitri turun dari montor Pak Yanuar.
“Terimakasih pak!”
“Sama-sama”
“Enggak mampir dulu pak!”tawar Fitri.
“Enggak terimakasih, saya pergi dulu ya!”pamit Pak Yanuar, Montor Vario itu melaju meninggal- kan rumah Fitri. Fitri masuk kedalam rumah, sang ibu memergoki anak-Nya di bonceng lelaki asing.
“Siapa Fitri, yang nganterin kamu?”selidik Ibu Fitri sambik berkacak pinggang.
“Mantan kepala sekolah Dede!”jelas Fitri, berharap ibu-Nya tidak menaruh curiga.
“ibu peringat-kan kamu, hati-hati sama lelaki, terutama pria yang sudah punya istri”jelas ibu Fitri dengan sorot tajam setajam silet. Bulu kuduk Fitri sampai berdiri.
**
Hari berlalu Fitri menjalan-kan rutinitas seperti biasa membantu orang tua dan juga berkerja di Bu Anik. Hari menjelang siang Fitri istirahat sebentar. Karna pelanggan tidak begitu ramai, bu Anik mengijinkan Fitri duduk-duduk di depan warung. Memandang montor, mobil berlalu lalang. Sebuah Montor Vario berhenti tepat di depan Fitri. Pria itu turun bersama putra-Nya. Wajah lelaki itu lesu, dan seperti terbebani dengan banyak masalah. Ya, akhir-akhir ini ia sering bertengkar dengan Tutik sang istri. Dan sekarang ia harus membawa Haikal kecil, padahal ia banyak urusan di kabupaten. Mau menitip-kan ke mertua tapi mereka menolak terpaksa Haikal akan di bawa ke kabupaten, Yanuar takut Haikal rewel jika di ajak mondar-mandir disana. Yanuar menghampiri Fitri, ia memesan nasi pecel. Dengan sigap Fitri membuat-kan pesanan Yanuar, ada banyak pertanya di benak Fitri untuk Pak Yanuar. Setelah meletak-kan piring dan minuman, Fitri memberanikan diri bertanya pada Pak Yanuar. Bagi Fitri pak Yanuar seperti bapak-Nya sangat baik.
“Maaf pak, jika saya lancang, kenapa wajah bapak murung?”
Yanuar menatap Fitri dalam, entah kenapa jika pandangan-Nya beradu pada gadis itu. Muncul ketenangan dalam jiwa Yanuar,”Ini saya habis dari rumah mertua saya, niat mau nitipin Haikal tapi mertua saya lagi ada urusan, Saya banyak urusan di kabupaten. Kalau saya bawa Haikal pasti repot”jelas Yanuar pada Fitri.
“Gimana kalau Haikal di titipin saya pak, hari ini warung sepi jadi pulang sore! Nanti bisa saya ajak ke rumah,”tawar Fitri.
“Apa tidak merepotkan?”
“Enggak pak, ini sebagai balas budi bapak udah nganterin saya waktu itu!”
“oh, baik-lah. Terimakasih ya, oh iya, nomer kamu berapa? Biar enak hubungin-Nya kalau Haikal ada apa-apa!”
Fitri memberikan nomer ponsel-Nya pada lelaki berumur 40 tahun itu.
Sore hari warung bu Anik tutup, Fitri pamit pulang pak boss-Nya sambil menggendong Haikal, putra kepala sekolah adek-Nya. Ia menggunakan ojek untuk pulang, untung Haikal bukan tipe anak yang rewel. Mungkin karna terbiasa di tinggal kedua orang tua-Nya. Tukang ojek sampai di rumah, Fitri turun dari montor dan menyerah uang 10.000 rupiah. Dede menyambut kedatangan sang Kakak, ia kaget Fitri membawa seorang anak kecil. Ibu Fitri ikut keluar rumah.
“Anak siapa fit?”
“Pak Yanuar”
“pria yang pernah nganterin kamu itu?”
“Iya bu,”
“Udah ibu bilang jangan dekat-dekat sama dia fit, ingin dia udah punya istri!”
“Bu, Fitri Cuma bantuiin pak Yanuar jagain Haikal, kasia beliau banyak urusan di kabupaten, sedangkan tidak orang yang mau jagain Haikal. Hitung-hitung balas budi kemarin nganterin Fitri!”jelas Fitri.
Langit semakin gelap, Pak Yanuar belum juga datang. Fitri sibuk sibuk menyiap-kan makanan untuk keluarga kecil-Nya. Haika sibuk bermain dengan dengan Dede, mereka semakin akrab padahal baru pertama ketemu. Suara sepedah montor memekik di telinga Fitria, ia buru-buru membuka pintu. Pak Yanuar muncul dari balik pintu.
“Assalamualaikum”
“Walaikusallam pak”
“Haikal mana?” Pak Yanuar celingak-celinguk.
“Didalam, mari pak masuk!”
Yanuar masuk kedalam rumah ia melihat putra bungsu-Nya bermain dengan Dede sang murid. Aroma masakan menusuk rongga hidung Yanuar, perut -Nya merajuk untuk di isi. Yanuar sangat lapar, tapi ia tak berani memintak makanan pada Fitri.
Haikal berdiri, dan berjalan tertatih-tatih menuju Yanuar, lelaki itu langsung menggendong Yanuar. Fitri tersenyum,”Kalau bapak enggak keberatan, bapak mau makan bareng bersama kita?”
“Hmm!”
“Pasti bapak, belum makan?!”
Ibu Fitri keluar dari dapur,”Ayo nak Yanuar makan bareng, dengan lauk sederhan”ajak Ibu Fitri. Yanuar mengangguk.
Mereka makan malam sangat hikmat, Yanuar sangat lahap. Walaupun hanya makanan sederhana tapi sangat nikmat di lidah Yanuar. Akhir-Nya merek selesai makan.
“Terimakasih makan yang ibu masak sangat enak!”
“Yang masak Fitri pak!”
“Fitri!” Fitri mengangguk,”Cantik dan jago masak, beruntung suami Fitri kelak”puji Pak Yanuar membuat Fitri tersipu malu. Ibu Fitri tak suka dengan pujian Pak Yanuar untuk anak-Nya.
Setelah kejadian itu, Fitri dan pak Yanuar semakin dekat bahkan Pak Yanuar membelikan ponsel untuk Fitri. Bahkan ia pernah jalan berdua dengan Pak Yanuar dengan sembunyi-sembunyi dari ibu dan Tutik.
**
Semakin lama bu Tutik semakin curiga dengan tingkah laku sang suami, ia jarang pulang bahkan di hari libur. Alasan mengaja jalan- jalan Haikal. Dan semakin hari Tutik dan pak Yanuar lebih banyak berantem. Diam-diam bu Tutik menyelidiki tingkah laku sang suami, dan ia menemukan nota pembelian ponsel. Entah untuk siapa?, kejanggalan muncul saat sang suami sering makan di warung Bu Anik bahkan sehari bisa empat kali.
Fitri mencuci baju, ibu dan adek Fitri berada di sawah. Ketukan pintu menghentikan atifitas-Nya. Ia melangkah ke ruang tamu. Membuka kenop pintu. Perempuan berumur 30 tahun memakai setelan baju PNS dan masih terlihat cantik.
“Ibu siapa?”tanya Fitri, dengan sopan.
“Saya Tutik, istri Yanuar!”teriak Tutik. Mata Fitri mendelik, mulut-Nya terkantup tak mampu mengeluarkan kata sedikipun.
Prak!Prak!
Tamparan mendarat di pipi Fitri, wajah-Nya memerah. “Dasar jalang! Berani-Nya kamu deketin suami-ku. Ni uang untuk-mu! Jauhi suami-ku”teriak Tutik membuat gendang telinga Fitri mau pecah.
Semenjak Itu Fitri menyesali perbuatan-Nya ia juga mengaku pada sang ibu. Ibu Fitri menasehati sampai air mata setiap hati tumpah pada pipi. Fitri-pun memblokir semua kontak Yanuar, ia bahkan berhenti kerja dan pindah rumah. Ia ingin memulai hidup baru.
TAMAT