"ayo vin,, cepat bantu turunkan barang-barangnya.." pinta mama saat kami sampai di sebuah villa yang kami sewa 4 hari 3 malam ke depan.
Ayah sedang ada pekerjaan di kota ini, sedang sekolah ku sudah libur semester genap, karena itu ayah sengaja membawa kami sekeluarga untuk sekalian berlibur.
"Kak, kok villanya agak serem ya?" bisik silvi, adikku.
"Ah bagus gini kok di bilang serem" bantah ku, sengaja aku berkata seperti itu untuk menghilangkan rasa takutnya.
Silvi memang tidak bisa melihat sesuatu yang gaib, tapi di bisa sedikit merasakan ke anehan di sekitarnya.
Aku masuk membawa 2 koper di susul silvi yang membawa tas tenteng, kemudian ayah yang membawa stoller untuk adek ku yang masih 8 bulan, namanya doni.
"Malam ini kita beli makanan apa yah?" tanya silvi.
"Nggak usah beli, mama akan masak ikan bakar, tadi mama udah bawa ikan gurame dan mujair" jawab mama ku sambil menduduk kan doni di pangkuan ayah yang terlihat sibuk denagn ponselnya.
"Assikk mama masak ika bakar..." sorak silvi kegirangan.
"Kak, antar aku ke kamar mandi yuk, kebelet pipis.." pinta silvi.
"Anak ayah manja banget,,masa udah besar gitu masih minta di antar?" sahut ayah ku sambil tetap menatap ponsel nya.
"Tapi silvi nggak berani yah, nanti kalau ada hantu gimana?"
"Yaudah ayo sini kakak antar.." akupun menggandeng tangan silvi menuju kamar mandi belakang.
Dari ruang keluarga ke kamar mandi jaraknya agak jauh.
Entah kenapa villa sebesar ini dengan 5 kamar yang cukup luas tidak di sediakan kamar mandi di dalam kamar, hanya kamar utama yang ada kamar mandinya dan itu di lantai dua.
Sedangkan kamar mandi yang lain di bangun di bagian paling belakang villa melewati dapur lalu keouar melewati sebuah taman kecil dengan tanaman merambat yang di bentuk seperti lorong.
Di tambah lagi ada pohon beringin cukup besar di belakang rumah, namun letaknya di luar pagar villa.
"Ada apa dek?" ku perhatikan silvi saat berjalan matanya terpaku pada pohon beringin itu, entah apa yang dia lihat.
"Nggak ada apa-apa kak" jawabnya singkat sambil menoleh pada ku, namun setelah dari kamar mandi pandangannya kembali terpaku pada pohon beringin itu, dan tangan nya terasa dingin.
"Ikan bakar sudah siap.. vin bantu mama naruh ini di karpet!" mama menyuruh ku menurunkan semua makanan di letakkan di karpet, kami makan sambil lesehan.
--
Hari ke 2 kami di villa itu, ternyata ayah pulang kerja membawa ikan bakar yang sama dengan yang di masak mama kemarin, namun jelas bagiku rasanya lebih lezat masakan mamaku, sehingga masih ada sisa sisa kepala yang tidak di makan.
Setelah makan aku membawa silvi ke kamar untuk tidur.
"Kak, nanti kakak tidur di sini juga ya.." tangan silvi di tepuk-tepukkan di sebelah nya.
"Kakak tidur di kasur satunya aja,nanti kamu di sini sempit"
"Nggak kakak di sini aja" rengek silvi yang akhirnya aku iya kan.
Setelah dia tidur aku membuka pintu balkon, tampak ada kursi goyang di sana, aku mendekat dan mendudukinya, sambil ku dengarkan musik lewat headset, ku nikmati malam gelap itu, udara sekitar memang dingin mungkin karena daerah pegunungan.
Tiba-tiba musik yang ku dengarkan berhenti, ternyata ponsel ku mati karena aku lupa mengechas nya. Tapi badan ku agak malas bediri saking PW nya.
'Gresek-gresek' suara seperti sesuatu bergerak, ku cari-cari di sekitar namun tidak ada yang bergerak. Ku coba melihat ke kamar, namun silvi masih tertidur pulas.
Aku kembali duduk di kursi goyang itu, ku pejamkan mata, namun tiba-tiba aku merasakan akan yang berbeda, tengkuk ku terasa sedikit berat seperti ada yang menggantung, leher ku seperti terhembus angin namun dingin yang aneh, dan lengan ku seperti ada yang menyentuh, seperti bulu-bulu, ku lirik kanan kiri, namun tak terlihat apapun.
"Pergiii pergiii...hhh hhh pergiii..!!!"
"Sil..silvi..bangun..!!"
"Kakak, aku mimpi buruk.." silvi langsung memeluk ku saat matanya terbuka, rambutnya sangat basah karena berkeringat.
"Mimpi apa dek..?" ku belai rambutnya dan ku tenangkan dia.
"Mimpi serem kak, aku seperti di kejar-kejar makhluk besarrrr warna hitam seperti serigala, tapi bisa berdiri kayak manusia, matanya merah..takuttt, hiks"
Sejenak pandangannya meyusuri seluruh ruangan, sampai terpaku pada jendela, yang kebetulan dari jendela itu bisa terlihat pohon beringin besar itu.
"Kak, tolong tutup jendelanya, kalau bisa tambahin selimut biar nggak nerawang" pinta silvi dengan tatapan seperti ketakutan. Seketika membuat teringat dengan kejadian yang baru saja aku rasakan di balkon.
Silvi sudah kembali tertidur setelah aku menceritakan dongeng sang puteri padanya, setidaknya rasa takut di pikirannya tersingkirkan oleh bayangan-bayangan indah dari cerita yang aku bacakan, namun pikiran ku sendiri merasa takut. Mengingat memang villa ini berada di atas bukit dengan di kelilingi hutan, dan ada pohon beringin yang konon adalah tempatnya gederuwo.
[Vin, bisa ke kamar mama sebentar]
Suara mama dari ujung telepon.
[Ada apa ma]
[Udah cepetan kesini vin..!! ] imbuhnya.
Aku pun menuju kamar mama yang bersebelahan dengan kamar ku, namun entah kenapa rasanya tidak kunjung sampai padahal kaki sudah berusaha melangkah.
Hati dan pikiran tidak karuan seperti ada yang memegangi baju ku di balakang, namun aku tak berani menoleh.
Sambil ku baca doa-doa aku terus mencoba berjalan ke kamar mama, namun tiba-tiba langkah ki terasa ringan saat terdengar suara tangisan doni.
"Akhirnya kamu kesini, tolongin mama gih!"
"Ada apa ma, ini kenapa doni menangis?"
"Nggak tau ini tiba-tiba nangis terus, padahal tadi dia pules banget tiba-tiba nangis, di nenenin nggak mau, di gendong nangis terus"
"Papa mana ma, kok nggak kelihatan?"
"Papa tadi ada telpon ada kerjaan mendadak"
"Tadi kan udah seharian kerja ma, masa malam-malam gini kerja lagi? mana udah jam 23.00 lagi"
"Kan kamu tahu sendiri kerjaan papa mu gimana"
Mama ku terus berusana menenangkan doni, dan aku mencoba membuatkan susu formula.
"Oia ma, kenapa sih papa milih villa ini buat menginap?"
"Papa nyari yang lebih dekat sama kerjaannya, kan papa ada proyek villa di bawah, yang kemarin kita lihat ada pohon di tebang"
Ya kemarin saat berangkat aku memang melihat ada pohon besar di tebang di kawasan bawah bukit ini.
"Oh, di situ akan di bangun villa juga? Ma, kalau di situ pohon besarnya di tebang, kenapa pohon yang di belakang villa ini nggak di tebang ya?"
"Pohon di belakang? Pohon mana vin?" mama bertanya seakan seperti tidak pernah melihatnya.
Pertanyaan mama seketika membuat ku terkejut dan semakin merinding, mana mungkin pohon beringin sebesar itu tapi mama tidak melihatnya padahal kalau ke kamar mandi pasti akan kelihatan.
Aku keluar meninggalkan kamar mama saat doni sudah tenang dan tertidur kembali, namun karena haus aku bermaksud mengambil air minum di dapur inti di belakang sebelum ke taman.
'gresek'
'gresek'
Tiba-tiba ku dengar suara itu lagi saat aku hampir sampai dapur yang kebetulan dapur sangat gelap, sedangkan ruang keluarga yang di pijak sekarang hanya di nyalakan lampu kecil seperti lampu tidur yang remang-remang.
Dengan hati dan pikiran yang di balut rasa takut aku tetap nekad mendekati dapur dengan pelan-pelan, ku intip sedikit dari celah tirai.
Seketika bulu kuduk ini berdiri, di tambah udara di sekitar ruangan yang dingin terasa aneh ketika sepasang mata berwarna merah menyala dari gelapnya ruangan dapur, mata itu menatap ke arahku seakan tahu bahwa aku melihatnya, saklar lampu yang seharusnya mudah aku raba tiba-tiba seperti menghilang.
Aku langsung berbalik, lalu ku coba mengintip lagi namun mata itu sudah tidak ada di sana, akupun terkejut dan lari terbirit ke kamar, lutut terbentur tembok pun tidak aku pedulikan, segera ku kunci pintu dan ku tarik selimut yang tadi aku pakai untuk menutup jendela.
Namun saat selimut berhasil ku tarik, mata merah itu terlihat ada di pohon beringin itu, seketika jantung ku berdebar-debar, ingin kaki ini berlari tapi seperti ada yang menahan, rasa takut ku semakin menjadi di tambah balkon yang memang lampunya remang-remang.
Ku baca doa sebisa ku namun mata itu tak kunjung hilang, sampai tak ku sadar silvi terbangun dan juga melihat nya.
"Aaaaaaaaa"
Teriakan silvi membuat ku menoleh dan memeluknya, saat aku kembali menoleh ke pohon beringin mata itu sudah tidak ada.Saat itu juga ku ajak silvi pergi ke kamar mama.
'tok tok tok'
"Mama..!! mama...!!" kami memanggil mama bersamaan tapi pintu tidak kunjung di buka.
"Maaa...!! Mama..!!!" silvi memperkeras suaranya.
"Ada apa?" Mama membuka pintu, seketika aku dan silvi menerobos masuk ke kamar.
"Ada genderuwo ma.. genderuwo.."
"Jangan ngaco deh, mana mungkin di sini ada genderuwo, orang villa nya bersih" sangkal mama.
"Ada ma, di pohon beringin belakang villa ini"
"Mana ada pohon beringin? mama nggak lihat ada pohon besar di villa ini"
Kamipun berdua bercerita keanehan-keanehan yang kami alami sejak awal masuk villa ini namun kadang mama menyangkal.
Sampai kami tak mendengar suara mobil papa memasuki villa dan beliau sudah membuka pintu kamar dan langsung di sambut peluk ketakutan oleh silvi.
"Papa,ayo kita pulang sekarang juga, silvi nggak mau nginep di villa ini.."
"Lhoh memangnya kenapa sayang?"
"Ada genderuwo pa, silvi dan kakak habis lihat barusan, genderuwo itu di samping kamar silvi"
"Iya pa di pohon besar belakang villa" aku menambahi cerita silvi.
"Kalian nggak perlu takut, selama kalian nggak mengganngu duluan, di nggak akan ganggu kita, karena sebenarnya jin itu tidak berani mendekati kita karena tubuh manusia itu panas bagi mereka" ayah mencoba membuat kami agar tidak ketakutan.
"Tapi silvi nggak mau di sini yah, silvi mau pergi aja, nggak apa-apa deh nggak jadi liburan yang penting nggak nginep di sini, hiks"
"Ok ok, anak papa yang cantik, besok kita akan pulang,tapi sebaiknya sekarang kalian tidur ya.."
"Silvi mau tidur di sini sama mama dan papa, silvi takut"
"Vindi juga yah, mau tidur sini aja"
"Yaudah kalau gitu kalian tidur di kasur, biar papa tidur di situ" ayah menunjuk sofa di samping almari.
--
"Saya nggak tau pak, anak-anak yang minta pulang, mereka bilang tadi malam melihat makhluk mata merah di dapur dan pohon besar di belakang villa ini" jelas ayah pada penjaga villa yang sejak aku di datang di sana beliau pulang ke rumahnya.
"Makhluk mata merah? oh mungkin itu si Mol pak zen.."
"Si mol? Siapa si mol pak?"
"Si mol, kucing yang suka datang ke villa ini, dia suka tinggal di atas pohon besar itu karena di sana ada rumahnya" penjaga itu menjelaskan.
Aku yang mendengarnya langsung mendekati papa, di ikuti silvi dan mama yang mengendong doni, kami akan pulang pagi ini juga.
"Mari saya tunjukkan pak zen" penjaga itu menuntun kami menuju belakang pohon besar, dan memanggil nama si mol.
"Mol..mol.. pus..ckckckckc" panggilnya.
Dan benar saja, seekor kucing hitam besar melompat dari atas pohon itu, dia cukup besar tidak seperti kucing biasa, bulunya panjang seperti anggora, tapi matanya tajam saat melihat kami, dia mendekat ke arah pak penjaga yang langsung menggendongnya.
"Ini si mol pak, dulu dia saya temukan di jalan sangat kotor dan masih kecil, saya bawa ke sini, saya rawat di sini, itung-itung buat teman saya biar nggak kesepian, dan alhamdulillah pemilik villa mengijinkan, lalu si mol saya bikinkan rumah pohon itu di atas" pak penjaga menunjuk ke atas pohon, dan memang ada sebuah rumah-rumahan kayu kecil di sana yang tidak terlihat sama sekali dari luar, hanya terlihat dari bawah pohon.
"Tapi makhluk yang kami lihat matanya merah pak" ucapku sedikit heran.
"Kucing kalau dalam gelap memang matanya bercahaya mbak,, dan kebetulan si mol ini nyalanya merah. Maaf saya lupa memberi tahu kalau ada kucing di villa ini" jelas pak penjaga sambil memegang dadanya dan sedikit menunduk.
"Tapi kenapa dia juga ada di dapur?" tanya ku sedikit menggertak.
"Mungkin ada sampah sisa ikan di sana, si mol seekor kucing, pasti akan mencium aroma ikan itu dan akan mencari-carinya" pak penjaga tetap menjelaskan dengan tenang dan sopan.
Aku yang merasa belum percaya langsing berlari ke dapur. Ku perhatikan sekeliling dapur, karena aku merasa jika yang aku lihat adalah kucing kenapa matanya setinggi pinggang ku.
Tapi ternyata aku baru sadar bahwa kantung sampah di dapur itu di gantung di sisi wastafel, sehingga tidak sampai menunduk saat membuang sampah, mungkin kucing itu berdiri di wastafel.
Lalu aku berlari ke balkon, dan menebak yang aku alami kemarin malam, dan ku pun baru tersadar kucing suka mengendus, mungkin saja saat itu dia mengendus leher ku daei balik kursi dan memainkan kunciran rambutku yang sedikit menggantung, lalu ekornya menyentuh lengan ku, itu sebabnya aku merasa seperti di sentuh bulu-bulu.
"Mama malah baru tahu kalau ada pohon besar di belakang, tadi malam mama sempat debst dengan anak-anak pa..hahahaha" suara mama terdengar dari lantai bawah.
Ku lihat dari ujung tangga ternyata silvi sudah menggendong kucing itu masuk kembali ke dalam villa, kulihat mama juga sudah duduk di sofa, ku lihat kucing itu nemplok di bahu silvi, saat "ayo vin,, cepat bantu turunkan barang-barangnya" pinta mama ku saat kami sampai di sebuah villa yang kami sewa untuk selama 3 hari 3 malam.
Ayah sedang ada pekerjaan di kota ini, sedang sekolah sudah libur semester genap, karena itu ayah membawa kami sekeluarga untuk sekalian liburan.
"Kak, kok villanya agak serem ya" bisik adik ku.
"Ah bagus gini kok di bilang serem" bantah ku.Sengaja aku berkata seperti itu untuk menghilangkan rasa takut silvi, adikku.
Adikku memang tidak bisa melihat sesuatu yang gaib, tapi di bisa sedikit merasakan ke anehan di sekitarnya.
Aku masuk membawa 2 koper di susul silvi yang membawa tas tenteng, kemudian ayah yang membawa stoller untuk adek ku yang masih 8 bulan, namanya doni.
"Malam ini kita beli makanan apa yah?" Tanya adikku.
"Nggak usah beli, mama akan masak ikan bakar, tadi mama udah bawa ikan gurame dan mujair" jawab mama ku sambil menduduk kan doni di pangkuan ayah yang sedang bermain ponsel.
"Assikk mama masak ikan bakar" sorak adikku kegirangan.
"Kak, antar aku ke kamar mandi yuk, kebelet pipis.." pinta adek.
"Anak ayah manja banget, masa udah besar gitu masih minta di antar?" sahut ayah sambil tetap menatap ponselnya.
"Tapi silvi nggak berani yah, nanti kalau ada hantu gimana"
"Yaudah ayo sini kakak antar" akupun menggandeng tangan silvi menuju kamar mandi belakang.
Dari ruang keluarga ke kamar mandi jaraknya agak jauh.
Entah kenapa villa sebesar dengan 5 kamar yang cukup luas, tidak di sediakan kamar mandi di dalam kamar, hanya kamar utama yang ada kamar mandinya dan itu di lantai dua.
Sedangkan kamar mandi yang lain di bangun di bagian paling ujung melewati dapur lalu sebuah taman kecil dengan tanaman merambat yang di bentuk seperti lorong.
Di tambah lagi ada pohon beringin cukup besar di belakang rumah, namun letaknya di luar pagar villa.
"Ada apa sil" ku perhatikan silvi saat berjalan matanya terpaku pada pohon beringin itu, entah apa yang dia lihat.
"Nggak ada apa-apa kak" jawabnya singkat sambil menoleh pada ku, namun setelah dari kamar pandangannya kembali terpaku pada pohon beringin itu, dan tangan nya terasa dingin.
"Ikan bakar sudah siap.. vin bantu mama naruh ini di karpet" mama menyuruh ku menurunkan semua makanan di letakkan di karpet, kami makan sambil lesehan.
--
Hari ke 2 kami di villa itu, ternyata ayah pulang kerja membawa ikan bakar yang sama dengan yang di masak mama kemarin, namun jelas bagiku rasanya lebih lezat masakan mamaku, sehingga masih ada sisa sisa kepala yang tidak di makan.
Setelah makan aku membawa silvi ke kamar untuk tidur.
"Kak, nanti kakak tidur di sini juga ya?" tangan silvi di tepuk-tepukkan di sebelah nya.
"Kakak tidur di kasur satunya aja,nanti kamu di sini sempit"
"Nggak kakak di sini aja" rengek silvi yang akhirnya aku iya kan.
Setelah dia tidur aku membuka pintu balkon, tampak ada kursi goyang di sana, aku mendudukinya, sambil ku dengarkan musik lewat headset, ku nikmati malam gelap itu, udara sekitar memang dingin mungkin karena daerah pegunungan, dan villa ini di kelilingi pepohonan pinus yang rapat tanpa ada villa lain di sekitarnya. Bisa di bilang villa ini menyendiri di atas bukit.
Tiba-tiba musik yang ku dengarkan berhenti, ternyata ponsel ku mati karena aku lupa mengechas nya. Tapi badan ku agak malas bediri saking PW nya.
'Gresek-gresek' suara seperti sesuatu bergerak, ku cari-cari di sekitar tidak ada yang bergerak,. Ku coba melihat kamar, namun silvi masih tertidur pulas.
Aku kembali duduk di kursi goyang itu, ku pejamkan mata, namun tiba-tiba aku merasakan akan yang berbeda, tengkuk ku terasa sedikit berat seperti ada yang menggantung, keher ku seperti terhembus angin namun dingin yang aneh, dan lengan ku seperti ada yang menyentuh, seperti bulu-bulu, ku lirik kanan kiri, namun yak terlihat apapun.
"Pergiii pergiii..hhh hhh pergiii"
"Sil..silvi..bangun.."
"Kakak, aku mimpi buruk" silvi langsung memeluk ku saat matanya terbuka, rambutnya sangat basah karena berkeringat.
"Mimpi apa dek.." ku belai rambutnya dan ku tenangkan dia.
"Mimpi serem kak, aku seperti di kejar-kejar makhluk besarrrr warna hitam seperti serigala, tapi bisa berdiri kayak manusia, matanya merah..takuttt, hiks"
Sejenak pandangannya meyusuri seluruh ruangan, sampai terpaku pada jendela, yang kebetulan dari jendela itu bisa terlihat pohon beringin besar itu.
"Kak, tolong tutup jendelanya, kalau bisa tambahin selimut biar nggak nerawang" pinta silvi dengan tatapan seperti ketakutan. Seketika membuat teringat dengan kejadian yang baru saja aku rasakan di balkon.
Silvi sudah kembali tertidur setelah aku menceritakan dongeng sang puteri padanya, setidaknya rasa takut di pikirannya tersingkirkan oleh bayangan-bayangan indah dari cerita yang aku bacakan, namun pikiran ku sendiri merasa takut. Mengingat memang villa ini berada di atas bukit dengan di kelilingi hutan, dan ada pohon beringin yang konon adalah tempatnya gederuwo.
[Vin, bisa k kamar mama sebentar]
Suara mama dari ujung telepon.
[Ada apa ma]
[Udah cepetan kesini vin] tambahnya sebelum.
Aku pun menuju kamar mama yang bersebelahan dengan ku, namun entah kenapa rasanya tidak kunjung maju padahal kaki sudah berusaha melangkah.
Hati dan pikiran tidak karuan seperti ada yang memegangi baju ku di balakang, namun aku tak berani menoleh.
Sambil ku baca doa-doa aku terus mencoba berjalan ke kamar mama, namun tiba-tiba langkah ki terasa ringan saat terdengar suara tangisan doni.
"Akhirnya kamu kesini, tolongin mama gih"
"Ada apa ma, ini kenapa doni menangis?"
"Nggak tau ini tiba-tiba nangis terus, padahal tadi dia pules banget tiba-tiba nangis, di nenenin nggak mau, di gendong nangis terus"
"Papa mana ma, kok nggak kelihatan"
"Papa tadi ada telpon ada kerjaan mendadak"
"Tadi kan udah seharian kerja ma, masa malam-malam gini kerja lagi, mana udah jam 23.00 lagi.
"Kan kamu tahu sendiri papa mu gimana"
Mama ku terus berusana menenangkan doni, dan aku mencoba membuatkan susu formula.
"Oia ma, kenapa sih papa milih villa ini buat menginap?"
"Papa nyari yang lebih dekat sama kerjaannya, kan papa ada proyek villa di bawah, yang kemarin kita lihat ada pohon di tebang"
Ya kemarin saat berangkat aku memang melihat ada pohon besar di tebang di kawasan bawah bukit ini.
"Oh, di situ akan di bangun villa juga? Ma, kalau di situ pohon besarnya di tebang, kenapa pohon yang di belakang villa ini nggak di tebang ya?"
"Pohon di belakang? Pohon mana vin" mama bertanya seakan seperti tidak pernah melihatnya.
Pertanyaan mama seketika membuat ku terkejut dan semakin merinding, mana mungkin pohon beringin sebesar itu tapi mama tidak melihatnya padahal kalau ke kamar mandi pasti akan kelihatan.
Aku keluar meninggalkan kamar mama saat doni sudah tenang dan tertidur kembali, namun karena haus aku bermaksud mengambil air minum di dapur inti di belakang sebelum ke taman.
'gresek'
'gresek'
Tiba-tiba ku dengar suara itu lagi saat aku hampir sampai dapur yang kebetulan dapur sangat gelap, sedangkan ruang keluarga yang di pijak sekarang hanya di nyalakan lampu kecil seperti lampu tidur yang remang-remang.
Dengan hati dan pikiran yang di balut rasa takut aku tetap nekad mendekati dapur dengan pelan-pelan, ku intip sedikit dari celah tirai.
Seketika bulu kuduk ini berdiri, di tambah udara di sekitar ruangan yang dingin terasa aneh ketika sepasang mata berwarna merah menyala dari gelapnya ruangan dapur, mata itu menatap ke arahku seakan tahu bahwa aku melihatnya, saklar lampu yang seharusnya mudah aku raba tiba-tiba seperti menghilang.
Aku langsung berbalik, lalu ku coba mengintip lagi namun mata itu sudah tidak ada di sana, akupun terkejut dan lari terbirit ke kamar, lutut terbentur tembok pun tidak aku pedulikan, segera ku kunci pintu dan ku tarik selimut yang tadi aku pakai untuk menutup jendela.
Namun saat selimut berhasil ku tarik, maya merah itu terlihat ada di pohon beringin itu, seketika jantung ku berdebar2, ingin kaki inj berlari tapi sepertiada yang menahan, rasa takut ku semakin menjadi di tambah balkon yang memang lampunya remang-remang.
Ku baca doa sebisa ku namun mata itu tak kunjung hilang, sampai tak ku sadar silvi terbangun dan juga melihat mata itu.
"Aaaaaaaaa"
Teriakan silvi membuat ku menoleh dan memeluknya, saat aku menoleh ke pohon beringin itu mata itu sudah tidak ada.Saat itu juga ku ajak silvi pergi ke kamar mama.
'tok tok tok'
"Mama.. mama..." Kami memanggil mama bersamaan.
"Ada apa?" Mama membuka pintu, seketika aku dan silvi menerobos masuk kamar.
"Ada genderuwo ma.. genderuwo"
"Jangan ngaco deh, mana mungkin di sini ada genderuwo, orang villa nua bersih" sangkal mama.
"Ada ma, di pohon beringin belakang villa ini"
"Mana ada pohon beringin, mama nggak lihat ada pohon besar di villa ini"
Kami berdua bercerita keanehan-keanehan yang kami alami sejak awal.masuk villa ini namun kadang mama menyangkal.
Sampai kami tak sadar mobil papa memasuki villa dan beliau sudah membuka pinti kamar, dan langsung di sambut peluk ketakutan dari silvi.
"Papa ayo kita pulang sekaranh juga, silvi nggak mau nginep di villa ini.."
"Lhoh memangnya kenapa sayang?"
"Ada gederuwo pa, silvi dan kakak habis lihat barusan, genderuwo itu di samping kamar silvi"
"Iya pa di pohon besar belakang villa" aku menambahi cerita silvi.
"Kalian nggak perlu takut, selama kalian nggak mengganngu duluan, di nggak akan ganggu kita, lagian sebenarnya jin itu tidak berani mendekati kita karena tubuh manusia itu panas bagi mereka"
"Tapi silvi nggak mau di sini yah, silvi mau pergi aja, kita nggak jadi liburan di sini"
"Ok ok, anak papa yang cantik, besok kita akan pulang, sebaiknya sekarang kalian tidur ya.."
"Silvi mau tidur di sini sama mama dan papa, silvi takut"
"Vindi juga yah, mau tidur sini aja"
"Yaudah kalau gitu kalian tidur di kasur, biar papa todur di situ" ayah menunjuk sofa di samping almari.
--
"Saya nggak tau pak, anak-anak yang minta pulang, mereka bilang tadi malam melihat makhluk mata merah di dapur dan pohon besar di belakang villa ini" jelas ayah apda penjaga villa yang sejak aku di sana beliau pulang ke rumhanya.
"Makhluk mata merah, mungkin itu si Mol pak zen.."
"Si mol? Siapa si mol pak?"
"Si mol, kucing yang suka datang ke villa ini, dia suka tinggal di atas pohon besar itu karena di sana ada rumahnya" penjaga iyu menjelaskan.
Aku yang mendengarnya langsung mendekati papa, di ikuti silvi dan mama yang mengendong doni, kami akan pulang pagi ini juga.
"Mari saya tunjukkan pak zen" penjaga itu menuntut kami menuju belakang pohon besar, dan memanggil nama si mol.
"Mol..mol.. pus..ckckckckc" panggilnya.
Dan benar saja, se ekor kucing hitam besar melompat dari atas pohon itu, dia cukup besar tidak seperti kucing biasa, bulunya panjang seperti anggora, dia mendekat ke pak penjaga yang langsung menggendongnya.
"Ini si mol pak, dulu dia saya temukan di jalan sangat kotor dan masih kecil, saya bawa ke sini, saya rawat di sini, itung-itung buat teman saya biar nggak kesepian, dia saya bikinkan rumah pohon itu di atas" pak penjaga menunggu sebuah rumah-rumahan kayu kecil di atas pohon yang memang tidak terlihat sama sekali dari luar.
"Tapi makhluk yang kami lihat matanya merah pak" sahutku.
"Kucing kalau dalam gelap memang matanya bercahaya mbak,, dan kebetulan si mol ini nyalanya merah. Maaf saya lupa memberi tahu kalau ada kucing di villa ini" jelas pak penjaga.
"Tapi kenapa di dapur juga di dapur?" Tanya ku sedikit menggertak.
"Mungkin ada sampah sisa ikan di sana, si mol kucing pasti akan mencium aroma ikan itu dan akan mencari-carinya" pak penjaga tetap menjelaskan dengan tenang.
Aku yang merasa belum percaya langsjng berlari ke dapuraku perhatikan sekeliling dapur, karena aku merasa kalau yang aku lihat adalah kucing kenapa tanyanya setinggi pinggang ku.
Tapi ternyata aku baru sadar bahka kantung sampah do dapur itu di gantung di sisi wastafel, sehingga tidak sampai menunduk saat membuat sampah, mungkin kucing itu berdiri di wastafel.
Lalu aku berlari ke balkon, dan menebak yang aku alami semalam dan ku pun baru tersadar kusing suka mengendus, mungkin saja saat htu dia mengendus leher ku daei balik kursi, lalu ekornya menyentuh lengan ku,ktu sebabnya aku merasa seperti di sentuh bulu-bulu.
"Mama malah batu tahu kalau ada pohon besar di belakang, tadi malam mama sempat denat dengan anak-anak pa..hahahaha" suara mama terdengar dari lantai bawah.
Ku lihat dari ujung tangga ternyata silvi sudah menggendong kucing itu masuk kembali ke dalam villa, kulihat mama juga sudah duduk di sofa, ku lihat kucing itu menplok sekali dengan silvi, saat aku sampai di dekat mereka tiba-tiba kucing itu berlari ke arah ku dan menggosok-gosokkan badannya di kaki ku.
Hhhh ternyata mata merah itu hanya seekor kucing besar yang gembul dan manja. Akhirnya kami tidak jado pulamg hari itu, dan melanjutkan menginap hingga seminggu di temani si kucing gembul.
kami tidak jadi pulang hari itu, dan melanjutkan menginap hingga seminggu di temani si kucing gembul.