Kebingunggan melandaku. Katakan aku gila. Seorang sepertiku duduk di kursi besar. Ditengah aula luas. Menelan saliva dengan susah payah ketika didepanku berjajar kumpulan orang dengan wajah garang.
"Hormat ketua" Sapaan mereka saat dengan gerudukkan tadi mereka mendatangiku, lalu menunduk hormat padaku.
Ada apakah?? Pandanganku mengitari sekeliling tempat. Ornamen-Ornamen tengkorak dan senjata mengerikan bernuansa gelap menghiasi tempat ini, dimana aku? Tapi... kenapa begitu familiar.
"Salam Nona Orzula" Aku menengok pada seorang yang baru datang. Pria paruh baya, tinggi, tampilan formal, dengan rambut putihnya di sisir rapi kebelakang.
"Pardon?" Tunggu. Tadi dia memanggilku apa? Orzula? Orzula Mirossty kah?
"Orzula?" Aku menunjuk pada diriku. Wajah didepanku bingung tapi juga mengangguk. "Orzula Mirossty??"
Pria itu mengangguk lagi.
"Aku Orzula Mirossty?" Seruku. Menyentak berdiri dari dudukku. Mereka yang ada didepanku dengan wajah herannya hanya mengangguk dengan serempak.
Aku masuk dalam novel yang aku baca semalam. Tidak mungkin! Pasti ini mimpi kan? Iya, pasti ini mimpi. Aku menepuk pipiku keras.
"Aw" sakit. Hah! Aku coba mencubit pipiku, masih sakit, lalu melangkah ke kerumunan orang didepanku.
Plak!
Menampar salah satunya. "Sakit?" Tanyaku, orang itu menggeleng. "Kau habisi dia! Eh jangan hajar saja" Orang yang aku tunjuk segera mendekat pada orang yang aku tampar tadi.
Buk...
Buk...
Buk...
Buk...
"Cukup! bagaimana? Sakit?" Orang yang sudah terkapar babak belur itu merintih dan mengangguk pelan.
Astaga ini bukan mimpi. Orzula Mirossty, ketua kartel Queendom. Seorang antagonis dalam novel Cinta Gadis Pulau dan Ketua Kartel karya Lazyafternoon. Penulis kesukaanku. Aku berada dalam bukunya.
Wanita penggoda, tak tahu malu yang sering ku maki dan sumpah serapahi karena menggoda peran utama di novel itu adalah aku.
Wanita yang haus akan kekuasaan keji, kejam tapi bodoh ini... ia ingin menjadikan sang peran utama pasangannya. Juga yang terobsesi menjadi penguasa nomor satu ini adalah DIRIKU! NO WAY! WAKE UP, PLEASE!
*
*
*
"Nona ada Tuan Leon" Ah, aku akan menikah dengan Leon. Berarti dia belum bertemu Hil.
Pemeran utama dalam novel ini, Leonard Diablo, ketua kartel Black Mamba, dan pemeran utama wanita, Hilberta Aloia, wanita lembut, anggun, lugu, berambut kriting hitam panjang, berkulit eksotis turunan Hawai dan Thailand. Wanita pulau yang membuat Leon jatuh cinta.
Leon dan aku berteman sejak kecil. Dan dicerita aku mengejarnya seperti orang gila. Leon hanya diam menanggapiku. Tak menolak tapi juga tak menerimaku.
Sedangkan Hil si peran utama di ceritakan tipe lemah yang harus selalu dilindungi. Sebenarnya aku tak begitu suka peran utama wanita di cerita ini. Terlalu lemah saat ditindas oleh si antagonis yaitu diriku. Haaah... ini mengingatkanku lagi tentang kenyataan.
Semalaman aku tak bisa tidur. Tapi paginya malah terlelap nyenyak dan saat bangun aku sempat disorientasi tempat, beberapa saat kemudian aku tersadar ternyata aku masih disini.
Mandi dan berdandan, ingin rasanya aku membuang semua baju si Orzula ini. Semua gaun dan terbuka. Pagi begini memakai baju seperti itu agaknya tak manusiawi, atau apa ya sebutannya.
P5K saja memiliki waktu malam hari menggunakan pakaian seksi dan siang ia akan menjadi manusia normal yang membaur dengan manusia lain tanpa takut di omongin.
Lha ini! Aku sepertinya harus belanja. Seperti saat aku keluar sarapan banyak mata yang terkejut denganku. Aneh! Memangnya apa yang salah. Menggunakan atasan kembang menerawang, dan celana skiny jeans juga sendal jepit. Hanya pakaian ini yang aku temukan paling mausiawi.
"Pagi" Sapaku, Kalau yang aku baca, aku tak akan menyiakan waktu bertemu Leon tapi sekarang yang beradab di sini aku, jadi aku hanuabmelirik dan melanjutkan sarapanku.
Kegiatan setiap pagi, sarapan bersama, author ini kenapa menyisahkan peran utama prianya. Sarapan saja harus datang kerumah orang.
Bingung apa yang harus aku katakan. Leon pria itu makan dengan elegan, wajah rupawan dengan jawline yang kecupable, alis tebal, bulu mata lentik yang membuat iri Kaumku, hidung mancung, bibir yang tebal dan lumatable, badan tinggi atletis, juga kaki jenjang bak model, pokoknya luar biasa tapi sayang aku tak menyukaiannya.
Aku memiliki second lead syndrom jadi kau tahu kan, aku suka peran kedua berondong manis, yang tak kalah tampan tapi sayangnya dia sangat membenci diriku, eh ... Orzula maksudnya.
*
*
*
"Hai kak," Suara husky rendah, Aku menengok, Oh Tuhan! Siapa lelaki ini? Aku tak bisa mengalihkan pandanganku padanya.
"Hanzel, kau sedang apa?" Oh My Lord! Hanzel Willington! Second lead! Priakuuuuu... Hanzel tak melirikku sama sekali. Padahal sedari tadi aku menunggu kontak mata dengannya.
"Aku hanya berkeliling, lalu melihatmu, ya aku disini" Hanzel menarik secangkir kopinya, Aku meminta Leon mengantarku ke Mall ini untuk membeli beberapa pakaian layaknya manusia.
"Apa kabar Hanzel?" Hanzel mengernyitkan dahi. Baru melirikku sekedarnya, "Siapa kau?" Tanyanya.
Aku tertawa terbata. Ia tak mengenaliku? Haruskah aku berkenalan? Bodoh! Gak mungkin dia tak mengenalimu! Kalian tumbuh bersama.
"Ah apa ini Orzila? Orzula si baik hati?" Tanyanya sarkas, Huh! Apa dia bicarakan?
"Kemana dempulmu? Kau tak menggunakannya hari ini?" Hanzel mengusap pipiku dengan tisu. Dan melihatnya. Lalu mengangguk.
"Benar, apa ini caramu mengaet kakakku? Menarik perhatiannya dengan wajah polosmu? Ku pikir ia tak akan tertarik?" Kesal, ada masalah apa pria ini denganku!
"Kenapa diam? Biasanya kau mendebatku! Ah sekarang kau menjadi Orzila kah?" Aku ingin mendebatnya tapi Leon lebih dulu memutusnya.
"Sudah Hanzel jangan menganggunya!" Leon menyesap kopinnya. Aku melihat wajah Hanzel kesal. Hanzel pun begitu, wajahnya menjadi datar.
*
*
*
Hil muncul, membuat perhatian Leon padaku berkurang. Aku tak mengapa jadi aku bisa mengejar Hanzel.
Mendatangi perusahaannya, mengajak Hanzel makan siang. Tapi aku tak bisa memutuskan hubungan dengan Leon.
Aku juga sama, Dan aku harus tetap meneruskan pertunanganku. Aku berjanji pada ibu Leon akan menjaganya. Tapi sepertinya aku bisa melepaskannya. Leon telah menemukan Hil. Jadi janjiku akan kuserahkan pada Hil.
Aku sedang rapat di salah satu hotel. Aku melihat wanita, seperti Hil dalam pelukan seorang pria dan bercumbu.
Aku mengikutinya. Dan dia Hil dan kekasihnya. "Brengsek!!" Wanita ular itu.
*
*
*
Aku tak bisa melepaskan Leon. Aku akan merebutnya. Walau aku semakin sedih, sakit bergemuruh. Saat ini pesta ulang tahu keluarga Hanzel. Aku datang dengan Leon. Hanzel datang bersama Hil.
Hanzel ternyata mencintai Hil. Dan itu membuatku patah hati. Dan membuat Leon marah pada Hanzel dan membenciku.
Aku memberikan semua bukti yang aku punya pada Leon. Dan ia tak percaya. Terserah kalau ia tak percaya. Aku tak akan melepaskannya. Hingga nanti Leon mendapatkan wanita baik dan aku akan melepaskannya.
Akhirnya Leon melihat sendiri kenyataan Hil yang berkhianat, aku selalu disamping Leon saat ia terpuruk dan patah hati. Aku bawa dia ke tempat anak panti yangbaku punya. Mengikuti perkumpulan amal.
Hingga kejadian musuh Black Mamba menculikku.
"Urgh... aw!" sakit semua seluruh badan. Mereka menyerangku tak pandang bulu, Dasar bajingan! Dan sekarang apa? Mereka bahkan menutup mataku.
"Siapa kau?" Suara bass yang aku kenal.
"Hanzel? Aku berkata lirih.
"Siapa kau, kau mengenalku?" Seru Hansel.
"Orzula"
"Ah kau..." Ia menghela nafas. Merendahkanku sekali dia. Aku mengeluarkan sebuah silet yang selalu aku sembunyikan dijahitan celanaku, mengantisipasi kejadian seperti ini.
Aku memotong tali ditanganku. Melepas penutup mataku. Dan memutus tali dikakiku.
Kemudian beranjak ke arah Hanzel. Dia terduduk pada kursi. Memutus tali kakinya, berdiri, aku melepaskan penutup matanya.
Kemudian mendekat padanya dan duduk dipangkuannya melepaskan ikatan tangan kanan kirinya pada kursi. Lalu memandangnya. "Berterima kasihlah" ucapku.
Hanzel mendengus. "Bangun" aku menggeleng. Dia berdecak. Lalu mendorongku keras. "Aw, kasar!" Aku terjatuh.
Kami berhasil melarikan diri. Bersembunyi pada ladang anggur yang tak terawat. Jalan berjingkat.
Bruk!
Drak
PRAANG!
"Siapa disana?" Suara dari dalam rumah. Hanzel menarik diriku yang tersandung, ia membekap mulutku. Kami sangat dekat aku bisa merasakan hembusan nafasnya.
Kami bersembunyi. Pria tua melangkah dengan senapan mendekat pada kami. Aku merapatkan diri pada Hanzel.
Menatap matanya lekat. Iseng aku jilat telapak tangannya. Mata kami bertemu. Datar dan dingin, seperti biasa. Ia masih mendekapku.
Kudengar pintu yang tertutup berarti Pria tua itu telah pergi. Kami saling berpelukan. Hingga sekali lagi ia mendorongku kuat. Aku yang tak siap. Oleng. Didepan ku ada setumpuk ember besi.
Dengan sigap, Hanzel menarik pinggangku lalu menghempaskanku pada tumpukan karung. Kepalaku terantuk karung itu keras. Pening. Aku masih berdiri. Tapi ternyata tumpukan karung itu jatuh.
"Orzuu" Pekikan kencang dari Hanzel yang berlari kearahku menubrukku dan mendekapku kencang. Lalu semua gelap.
*
*
*
Sinar terang menyoroti mataku. Silau. Kubuka mata dan menyipit. Kuamati plafon kamar untuk beberapa saat, warna mint, kutengok tirai abu muda yang berkibar diterpa angin itu, sepertinya aku lupa menutup jendelaku.
Ya, Kamarku. Ah... ternyata aku hanya bermimpi tapi terasa begitu nyata. Kepalaku terasa berdenyut. Ku dudukan diriku. Aku masih memangku buku novel tebal penyebab aku bermimpi. Menyingkirkan novel kesamping.
"Aark..." Gumaman pelan.
Aku mendongak pada sumber suara. Melebarkan mata. Mataku bertemu dengan mata dingin yang sedang meringis kesakitan itu. Dia mengusap kepalanya.
"Hanzel?" Ucapku tak percaya.