Hari ini, suara Ibu membangunkanku dari mimpi yang indah. Suaranya bergema di dalam kamarku sehingga telingaku mendapatkannya dengan jelas dan mataku yang masih sekuat tenaga aku buka.
“Mbak, temani Ibu berbelanja di supermarket dekat rumah yuk. Bahan-bahan masak dan mencuci sudah habis.”
Kemudian, aku merenggangkan tubuhku dan berkata, “Lima menit lagi bisa Bu?”
“Sekarang saja. Kamu langsung mandi. Keburu matahari berada di tengah dan Jakarta menjadi panas, belum lagi kalau macet. Ayo bangun ya, Ibu tunggu.”
Aku kembali menggerakan tubuhku untuk beranjak dari kasur yang memiliki magnet cukup besar sehingga tubuhku kesusahan untuk meninggalkannya. Seperti yang Ibu pinta, setelah itu aku mandi dan bersiap-siap mengenakan pakaian seadanya untuk pergi ke supermarket.
Betul juga kata Ibu, jalanan Jakarta sudah mulai ramai dan mungkin jika kendaraan terus bertambah maka akan menimbulkan macet. Jakarta tidak pernah lelah dengan kemacetannya sehingga kita sebagai warga harus lebih dapat mengatasi agar tidak terjebak di dalam kemacetan.
Sesampainya di supermarket, kami mengambil barang-barang yang kami butuhkan sesuai dengan list belanjaan yang sudah dituliskan oleh Ibu. Selagi itu, aku pergi menuju rak yang berisi dengan berbagai macam sereal. Aku sangat menyukai sereal. Itu adalah makanan yang sangat cocok sekali untukku di pagi hari karena memang aku tidak bisa memakan nasi di pagi hari. Melihat rak-rak sereal sangat menyenangkan untukku. Aku suka melihat berbagai macam jenis sereal. Gambar-gambar di kardusnya juga menarik. Aku banyak menghabiskan waktu di depan rak sereal karena rasanya sulit sekali untuk memilih diantara mereka.
Ditengah sibuknya aku memandangi rak itu, tiba-tiba aku mendengar seseoarang yang berkata dengan ku, “Loh Ra?”
Kemudian, aku menoleh menuju asal suara itu. Aku terkejut. Aku mengenali sosok pemilik suara itu. Aku mengenalinya sejak lama.
“Eh, lu ada disini juga?” Kataku sambil sedikit terkejut.
“Iya nih, belanja bulanan. Lu juga?” Jawabnya dan kembali bertanya padaku.
“Iya, sama.”
“Pas banget bisa ketemu, lu apa kabar?”
“Gue baik-baik aja, lu gimana?”
“Gue juga baik-baik aja.”
Aku mengangguk. Lalu, kecanggungan hadir diantara kami. Sereal yang tadinya sibuk aku pilih, kini menontoni dua orang yang tidak bisa saling berkata.
“Hm, lagi ambil sereal?” Katanya kembali bersuara.
“Oiya, sampai lupa,” kataku sambil menepuk jidat agar terlihat tidak salah tingkah.
Lalu, aku mengambil sereal pilihanku tanpa berpikir lama lagi.
“Gue kesana dulu ya Ra,” katanya sambil menunjuk arah yang tidak tentu. Namun, aku tetap mengiyakan perkataannya itu.
“Semoga kita bisa ketemu lagi. Jangan sombong sama gue,” ucapnya sambil meninggalkanku yang masih terbeku.
Kemudian, aku kembali menghampiri Ibuku. Pikiranku masih kebingungan ‘kok bisa bertemu dia bahkan sudah lama sekali tidak bertemu dan aku juga sedang tidak memikirkannya.’ Ibu sesekali mendapatiku yang melamun. Namun, aku juga tetap melamun kembali sesekali waktu. Setelah bertemu, kami melakukan tujuan kami masing-masing di supermarket itu.
---
Keesokan harinya, aku dan teman-temanku akan mendatangi acara festival di Jakarta. Acara ini terdiri dari banyaknya musisi-musisi terkenal Indonesia yang akan tampil di atas panggung. Panggung-panggung festival ini pun juga lebih dari satu dan kita dapat menonton musisi tersebut tergantung dimana panggung mereka akan tampil. Musisi yang paling aku tunggu adalah Pamungkas. Aku telah mendengarkan lagu-lagunya dari ketiga album dan aku sangat menyukainya. Lagu-lagunya selalu ku jadikan teman untuk menemaniku di perjalanan pulang setelah penatnya menjalani hari.
Acara festival dimulai pukul lima sore. Aku berangkat bersama temanku menuju venue. Kami sampai di tujuan pukul tiga sore sehingga kami masih memiliki waktu yang cukup banyak untuk menukarkan tiket online menjadi tiket gelang dan kami juga memiliki waktu untuk mengisi monster perut kami. Setiap tahun festival ini selalu diadakan. Musisi-musisi yang tampil juga berbeda-beda di setiap tahunnya.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu venue pun telah dibuka. Kemudian, kami mengantri untuk masuk sambil melakukan pengecekan barang bawaan serta tike barcode yang berada di pergelangan tangan kami. Lalu, kami mulai mendekat kearah panggung agar mendapatkan spot menononton yang enak dan penyanyinya dapaat terlihat.
Setalah beberapa musisi tampil, berikutnya adalah penyanyi kesukaan aku. Penyanyi yang aku tunggu akhirnya menaiki panggung. Alat-alat musik mulai dimainkan. Nada-nadanya mulai bergema di telinga penonton. Semua penonton mulai menggerakan badan sesuai dengan latunan lagu dan juga menggerakan mulutnya, menyuarakan lirik dari lagu yang dinyanyikan. Termasuk aku didalamnya.
Lagu kesukaanku akhirnya dinyanyikan oleh musisi tersebut, yaitu I love you but I’m letting go. Aku menyanyikan lagu ini seperti kembali kepada perasaan dan situasi saat itu. Tapi aku sangat menikmatinya karena malam ini aku rasanya seperti meluapkan perasaanku pada saat itu.
Ketika sampai di lirik bagian kedua, aku merasa seperti ada seseorang yang hadir di sebelahku. Saat aku melihat seseorang itu, aku seperti mengenalinya. Aku seperti sangat mengenali wajah itu. Aku sangat mengenali suara itu ketika ia ikut menyanyikan lirik lagu itu. Aku masih terbeku melihat kearahnya. Aku terkejut. Aku tidak percaya, ini mimpi atau bukan. Berkali-kali aku kedipkan mata untuk memastikan bahwa ia nyata hadir di sebelahku.
Lalu, ia menoleh ke arahku, mendapati aku yang masih membeku melihatnya. Kemudian, ia memegang kepalaku dan mengarahkannya ke depan, ke arah panggung, ke arah musisi itu berada. Mulutku berhenti bernyanyi. Pikiranku menjadi lebih ricuh. Jantungku jadi bekerja lebih cepat.
“Hai Ra, ini beneran Ra, kita beretemu lagi,” katanya tepat di telingaku.
Aku menoleh ke arahnya lagi. Terbeku. Kami terbeku saling menatap. Ia menciptakan lengkungan pada sudut bibirnya. Waktu memberikan kami kesempatan untuk bertemu lagi. Ini aneh. Aku tidak mengerti cara semesta mempertemukan kami. Bahkan kami pun tidak pernah mengerti rencana apa yang telah disiapkan oleh semesta.
“Lagu yang pas buat kita Ra, I love you but I’m letting go.”
Aku masih membeku. Mulutku tertutup rapat. Kemudian, ia memberikan senyuman yang paling sempurna miliknya.
Selanjutnya, lagu kesukaanku lainnya dimainkan, yaitu flying solo. Lagu ini yang menemaniku untuk terus bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari sebagai hanya diriku seorang yang seutuhnya. Perasaan membeku tadi akhirnya mencair dengan lagu ini. Aku kembali menyanyikan lirik lagu yang dimainkan. Terutama, lagu ini sangat membantuku untuk bangkit kembali.
Dia tetap berdiri disampingku. Namun, mulutnya tertutup rapat. Matanya mengarah kepadaku. Aku dapat melihat dari ekor mataku.
“Mohon maaf, yang nyanyi di depan,” kata ku.
Dia tidak membalas ucapanku dengan kata. Ia melengkungkan kembali sudut bibirnya. Aku mengubah pandanganku kedepan dan kembali menyanyikan lagu tersebut dengan jantung yang berdegup kencang karena masih ku dapatkan dari ekor mataku bahwa dia masih memandangiku.
“Lu berubah Ra.”
Aku tersentak kaget. Aku hanya mengangguk tidak mengeluarkan kata. Pandanganku tetap tertuju pada panggung dan musisi.
“Jadi lebih baik kok Ra.”
Jantungku bekerja dua kali lebih cepat.
Setelah Pamungkas bernyanyi dan acara festival musik ini telah selesai, setiap orang berbondong-bondong menuju pintu keluar. Namun, tiba-tiba terdapat seseorang yang menangkap pergelangan tanganku dan itu dia.
“Ra,”
Aku menoleh ke arahnya.
“Pulang sama siapa?’
“Sama teman gue.”
“Oke. Hati-hati ya. Semoga bisa bertemu lagi.”
Kata terakhirnya itu seperti doa yang selalu dikabulkan oleh semesta. Entah maksudnya apa tapi aku jadi lebih sering bertemu dengannya.
Di acara pertunangan saudaraku ini juga termasuk salah satunya. Hari ini kamu berpakaian adat rapi. Saudara kami mengundang keluargaku untuk hadir di acara tunangannya dengan calon suaminya. Perempua-perempuan berdandan dengan cantik dan berpakaian kebaya serta rok kain dengan rapi.
Aku dan saudara-saudara ku yang lain bertugas untuk mengambil seserahan yang nantinya akan diberikan dari keluarga calon suami. Kami berbaris rapi di depan pintu masuk untuk menyambut calon suami dan keluarga. Calon suami berdiri di depan dengan orang tua di samping kiri dan kanannya. Di belakang mereka berbaris saudara-saudara dari calon suami. Aku dan saudaraku yang lain, satu persatu mengambil seserahan tersebut. Aku mengambil seserahan dari tangan laki-laki yang wajahnya sangat kukenali. Aku membeku dan terpaku disana sampai akhirnya saudaraku menyadarkan ku.
Kami melewati berbagai macam acara. Mulai dari perkenalan anggota keluarga dan persepupuan sampai kepada makan bersama. Tiba-tiba seseorang menghampiriku dan berkata, “Hai Ra.”
Aku tersontak dan menoleh ke asal suara.
“Kenapa?”
“Makan dulu gih, nanti gue mau ngomong.”
Aku mengangguk dan memakan makanan yang sedang ku pegang.
Setelah makanan itu habis ku santap, aku berkata, “Kenapa hidup gue ketemu lu lagi, lu lagi.”
Dia menatap ku dan berkata, “Mungkin dunia emang sempit.”
“Ini beneran sih.”
“Hahaha,” tawanya.
“Ini aneh tau.”
“Ini takdir namanya Ra.”
“Iya, tapi seram aja. Kayak dimanapun gue berada ujung-ujungnya ketemu lu.”
“Hahaha, mungkin emang kita ditakdirkan Ra. Rencana semesta emang ajaib banget.”
Aku diam. Mulutku tertutup rapat. Ini aneh. Tidak mungkin kan aku harus memulai cerita kembali dengan masa laluku. Apa tidak ada orang lain selain dia?
“Kembali ke masa lalu tidak seburuk itu Ra.”
“Kembali ke masa lalu sama saja seperti baca buku dua kali. Endingnya sudah tau dan tetap sama!” Ucapku sedikit ditekan.
“Mungkin gue gak akan bisa berubah sepenuhnya Ra. Tapi kita bisa belajar sama-sama.”
“Sisakan saja satu laki-laki yang tidak merokok buat gue.”
“Gue gak ngerokok Ra.”
“Iya, gue tau.”
“Terus?”
“Mentok.”
Kesunyian menghampiri kami.
“Hati kamu masih aku Ra.”
“Tapi logikaku tidak.”