Untuk mencari inspirasi menulis cerpen fantasi, aku membaca salah satu karya Shujin di aplikasi Noveltoon. Namun, mata yang sudah lelah akhirnya terpejam tanpa aba-aba. Aku tertidur karena tidak kuat lagi menahan kantuk.
Mungkin sekitar satu jam aku terlelap dan bermimpi sedang berada dalam pertempuran antara prajurit kekaisaran Han dengan manusia gunung di kota Xudong.
Aku terbangun, gelagapan mendengar bunyi letusan senjata api dan lengkingan suara manusia gunung. Peperangan besar benar-benar sedang berlangsung di depan mataku.
What the hell? Ini bukan lagi mimpi, aku masuk ke dalam dunia novel yang sedang aku baca.
Merasakan aneh pada tubuhku, aku langsung memindai tangan, kaki dan seluruh tubuh yang bisa aku lihat dengar mata, meraba wajah dan juga dada.
Dada ini? Bokong ini? Bukankah ini terlalu berlebihan untuk laki-laki? Aku berubah menjadi perempuan?
Ya Lord, alih-alih menjadi tokoh utama yang bernama Xiao Chen, aku justru menjelma menjadi seorang teman seperjalanan sang MC. Menjadi pendekar wanita bernama Chi Yue dalam kisah ini.
Aku jelas mengumpat kesal, dalam adegan yang sedang aku baca, Xiao Chen marah padaku karena aku menyinggungnya, dan dia dalam upaya keras untuk membunuhku.
Dengan sekuat tenaga, aku berlari ke arah lautan manusia gunung untuk mencabut nyawa mereka dengan bantuan kekuatan dari seruling neraka. Karena dengan membunuh, kekuatanku meningkat dengan pesat.
Roh manusia gunung yang mati akan masuk ke dalam tubuhku dan bisa aku gunakan untuk menyembuhkan diri saat terluka.
Aku tersenyum menghina pada Xiao Chen, pemuda itu pasti tidak mungkin bisa mengalahkanku. Dia hanya manusia biasa yang butuh waktu tahunan berlatih untuk menaikkan level pendekarnya. Sementara aku hanya cukup dengan membunuh dan mengumpulkan roh mereka yang mati di tanganku.
"Chi Yue, aku tidak bisa membiarkanmu berbuat sesuka hati dengan lebih banyak membunuh!" Xiao Chen berteriak padaku sembari mengacungkan pedang penguasa malam.
"Dari tadi kau juga bilang begitu, Tuan Muda Xiao! Jujur saja aku sedikit bosan mendengarnya," ucapku mengejek penuh sarkasme.
Aku terhenyak, aura pembunuhnya meluap begitu besar, dan pedang itu mendadak menghantarkan gelombang kejut sangat dahsyat yang menabrak tubuhku dengan kekuatan besar.
"Kanapa kau selalu menyerang bagian wajah, Chen-chen? Apa kau tidak tau kalau wajah adalah mahkota wanita?" Aku marah dan mengamuk padanya.
"Kau bilang tadi mahkota wanita itu ada di rambut, sekarang kau bilang di wajah? Aku sungguh tidak paham!"
"Dengar Chen! Yang wanita di sini adalah aku, terserah aku mau mengatakan mahkota itu ada dimana! Persetan dengan kebodohanmu yang tidak bisa memahami wanita! Dasar kau pria tidak romantis, pantas saja kalau kau tidak pernah punya pacar selama hidup!"
Xiao Chen menyeringai tak peduli, dia kembali menebaskan pedang penguasa malam. Selarik cahaya hitam keluar dari ujung pedang seperti pecut tajam yang mengejarku tanpa belas kasihan. Dia benar-benar pemuda yang tidak punya hati. Aku membencinya meskipun aku juga menyukainya.
Satu luka menganga tercipta di bahuku, diikuti dengan luka-luka lain di sekujur tubuh karena Xiao Chen tidak hanya sekali menciptakan serangan mematikan. Meskipun aku memiliki kemampuan untuk sembuh dengan cepat, tapi Xiao Chen tidak memberikan jeda sedikitpun sehingga aku akhirnya kehabisan tenaga dengan sekujur tubuh penuh luka.
Aku sudah tidak mampu lagi menahan serangannya, kemampuan bertarungku sudah aku keluarkan semua untuk melawan dan mempertahankan diri.
Dengan perasaan campur aduk, aku tersenyum getir saat pedang penguasa malam Xiao Chen menempel di leherku. Siap menebas kapan saja tanpa ada yang bisa menyelamatkanku.
Aku menatapnya tanpa rasa takut, aku siap mati di tangannya meskipun sebenarnya aku ingin lebih lama bersamanya. Aku berbicara lirih untuk mengucapkan perpisahan.
"Aku pikir, kau menganggapku sedikit istimewa setelah cukup lama melakukan perjalanan bersama, tapi ternyata aku salah!"
Air mata menggenang di sudut mataku, sepertinya semua memang harus berakhir. Aku tidak akan menyesal … aku memejamkan mata menunggu pedang besar itu memenggal leherku.
Namun, setelah beberapa waktu tidak ada kejadian apapun. Aku membuka mata dan mendapati diriku masih memegang ponsel sambil berbaring di sofa, di depan televisi yang sedang menayangkan acara bola.
Aku mengerjap beberapa kali, tidak pernah percaya kalau aku pernah masuk ke dunia fantasi dan hampir mati. Aku memeriksa seluruh tubuhku yang rasanya memang kembali normal seperti sebelumnya, kembali sebagai pemuda culun yang memiliki hobi membaca dan sedikit menulis cerita ksatria.
End
***