Aku baru saja tiba di dusun Pelang tempatku mengabdi sebagai dokter, mungkin 1 atau 2 tahun ke depan. Perlu waktu hampir 6 jam dari kota hingga tiba di dusun ini, mobil aku titipkan di rumah pak Camat. Setelah mendapat pengarahan, aku diantar menggunakan sepeda motor menuju desa di pinggiran sungai, aku fikir sudah tiba, ternyata masih belum karena aku masih harus memyeberang dengan menggunakan sampan dan berjalan sekitar 1 kilo meter lagi baru sampai di dusun yang kutuju.
Di situ belum ada posko apalagi Pustu jadi untuk sementara, aku tinggal di rumah kepala dusun, pak Amat.
"Bapak harus berhati-hati, dan harus bisa berbaur dengan warga agar mudah diterima," saran pak Amat.
"Orang-orang pada ke mana, pak?" Tanyaku sambil mengamati sekitar rumah pak Amat. Sepi, entah kenapa warga di sini seolah sengaja bersembunyi saat aku datang.
"Ada, memang begitu. Warga di sini agak tertutup atas kehadiran orang baru tapi tidak mengapa nanti lama-lama mereka akan terbiasa dan mau bergaul dengan pak dokter."
Hampir 1 minggu, belum ada pasien yang menghampiriku. Ah, jadi warga dusun sini sehat semua, fikirku. Dari pada bosan tidak ada kegiatan selain membaca jurnal kesehatan yang kubawa, aku memutuskan ikut pak Amat ke sawah, belajar bagaimana berkebun
Drap, drap, kulihat ada sekelebat bayangan di semak-semak.
"Apa itu, pak?" Tanyaku yang menduga ada binatang liar sedang mengintai keberadaan kami.
"Haha, di dusun ini, hanya rumahku yang punya jamban, jadi tugas pertama bapak di sini adalah ... menganjurkan warga mau membuat jamban di rumahnya masing-masing, agar tidak buang hajat di sembarang tempat."
"Oh, jadi tadi itu ... orang yang buang air?"
"Iya, pak."
Duk, aku tersandung saat kakiku menabrak sesuatu yang keras. Hari yang masih gelap membuat mataku kurang awas memperhatikan jalan yang kulewati.
"A-apa ini, batu nisan?" Gumamku.
"Iya. Selain buang hajat sembarangan, warga di sini suka memakamkan keluarganya di sembarang tempat, ada yang di pekarangan rumah, ada pula di jalan menuju sawah seperti ini," jelas pak Amat.
"Belum ada TPU?"
"Lokasinya ada, tapi ya begitulah ... tidak dimanfaatkan."
Aku mengangguk sambil terus mengekori pak Amat. Fikiranku terpusat pada bagaimana menularkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan yang tentunya mempengaruhi kesehatan pribadi tiap warga. Menjadi dokter di dusun Pelang membuatku jadi belajar banyak hal.
***
Minggu pagi, aku bergabung dengan kaum bapak bergotong royong membuat jalan menuju lokasi yang akan dijadikan TPU. Dari jauh, kulihat bapak-bapak ramai berbincang sambil menikmati sarapan ala kadarnya.
"Pagi, bapak-bapak. Wah, ada berita apa nih? Seru banget," sapaku.
"Pagi pak dokter Ilyas, ini ... ada warga kita yang melihat sepasang mata merah saat melewati hutan."
"Oh, mata merah apaan itu, serigala?" Jawabku yang tidak terlalu berminat membahas.
"Bukan pak dokter, di sini mana ada serigala."
"Lah, terus apaan?"
"Mata setan, pak. Biasanya muncul 3 kali dalam setahun saat purnama untuk cari mangsa."
"Mangsa? Haha ... trus biar tidak ada yang jadi korban, diapain mata merahnya?" Tanyaku setengah sangsi.
"Ya, kasih kambing muda diantar ke hutan dalam keadaan hidup-hidup."
"Wah, enak bener yang jadi setan mata merahnya setahun dapat 3 kambing muda lama-lama jadi peternak kambing tuh," kelakarku yang ternyata tidak memancing tawa warga.
"Hati-hati kalau bicara pak dokter, di sini bapak kan pendatang bisa jadi bapak yang diinginkan setan mata merah itu," kata salah seorang bapak yang berusia cukup tua memperingatiku. Namun aku hanya menanggapi perkataannya dengan kekehan disertai gelengan kepala. Haish, hari gini masih saja percaya hal begituan, ada-ada aja.
***
Tok, tok, tok.
"Pak Amat, pak dokter Ilyas tolong ..." ujar seseorang sambil mengetuk pintu rumah pak Amat.
"Eh, pak Sukri ada apa, pak?"
"I-istri saya mau melahirkan, pak. Nyai Rohmi tidak mampu menangani saya disuruh kemari menjemput pak dokter Ilyas," aku yang mendengar tamu itu menjelaskan tujuannya ke rumah pak Amat malam-malam begini, langsung bersiap.
"Pak Amat, saya pergi dulu, ya?" Pamitku pada pak Kadus itu.
"Em ... sebentar pak dokter, pak Sukri tolong sabar ya," kata pak Amat sambil menarik tanganku masuk kembali ke dalam rumahnya.
"Pak dokter, pak Sukri itu rumahnya berada di perbatasan, bapak harus melewati hutan sebelum tiba di rumahnya itu," kata pak Amat setengah berbisik.
"Trus, masalahnya apa, pak? Aku sudah hapal jalan jadi bapak tidak perlu menemani," sahutku.
"Bukan itu masalahnya, pak. Setan mata merah sedang cari mangsa sementara warga kami sedangan urunan buat beli kambing muda."
"Lalu?" Aku masih tidak tahu arah pembicaraan pak Amat.
"Hah, terserah kalau bapak tidak percaya. Saya hanya mengingatkan, sebagai warga pendatang bapak sebaiknya waspada, jika ada sesuatu yang mencurigakan taburkan saja ini," kata pak Amat sambil menaruh bungkusan kecil di kantong celanaku.
"Hm, baiklah," jawabku sambil menuju pintu rumah.
***
"Pak dokter, bawaan pak dokter banyak gak waktu pertama masuk ke dusun Pelang?" Tanya pak Sukri membuka percakapan kami selama di jalan.
"Hm, tidak juga."
"Oh, syukurlah. Sebab kalau bawaan bapak banyak yang ada malah bapak bakalan cobai."
"Dicobai gimana?" Tanyaku sambil mencerna makna kata 'bawaan' yang dimaksud.
"Nah kita hampir sampai, pak dokter. Rumah saya persis setelah tanjakan itu," kata pak Sukri.
Tiba-tiba angin beserta kabut menghampiriku.
"Pak, pak Sukri ... bapak dimana?" Aku berusaha menghalau kabut yang menutupi penglihatanku. Tiba-tiba ada sepasang cahaya merah menyerupai bola pingpong menghampiriku.
"Ikuti aku," kata suara yang berasal dari sepasang mata merah itu.
"Subhanallah," gumamku terkejut.
Fyuuuuh, lagi-lagi aku merasakan angin meniupi wajahku, perlahan kesadaranku memudar meski samar masih kudengar orang memanggil namaku, "Pak dokter Ilyas, pak dokter Ilyas ..." namun langkahku tertuju pada sepasang mata yang berada di depanku. Samar-samar aku mendengar suara musik tradisional seperti ada pesta meriah, ternyata sepasang mata merah itu menuntunku ke situ.
Aku disambut gembira oleh orang-orang yang tidak kukenali bahkan dikalungi bunga kamboja dan ... aku pun ikut menari mengikuti irama musik yang sebenarnya sangat asing bagiku.
Sebuah lengan mulus melingkari perutku, saat aku berbalik mencari pemilik lengan itu, nampaklah seorang putri berkulit cerah, dengan rambut hitam bergelombang, cantik ... sepasang mata merahnya menambah kecantikkannya jadi sempurna di mataku.
"Ikuti aku, tampan," bisik gadis itu sambil menjulurkan lidah panjangnya, menjilati kupingku.
Bagai hewan yang jinak, aku membuntuti gadis yang jalannya meliuk-liuk bak model internasional. 'Ah, kenapa aku jadi bergairah pada perempuan yang baru kulihat pertama kali ini?' Pasti gara-gara pelukan dan jilatan darinya tadi, fikirku.
"Hai, kamu meragukan keberadaanku?" tanya gadis cantik itu seraya melepaskan pakaiannya tepat dihadapanku.
"Atau ... sebaiknya kamu merasakan nikmatnya bercinta denganku dulu, baru kamu percaya, hm?" Gadis tanpa penutup tubuh itu bergerak aktif membelai tubuhku.
"Kamu tampan sekali, maukah kau jadi suamiku?" tanya gadis itu seraya membelai dadaku pada awalnya tapi jemari itu terus meluncur turun hingga ke bagian pusakaku yang sudah mengeras.
Ya Tuhan, aku bisa apa digoda sedemikian rupa begini ... suara, belaian, penampilannya semua menggodaku untuk segera menyatukan diri dengannya.
Tuhan? Astaga ... seketika kepalaku berputar, mengingat bagaimana bisa berada ditempat ini bersama gadis yang tidak ku kenal.
"Subhanallah," tiba-tiba aku mengingat pesan pak Amat untuk menaburkan isi bungkusan yang ditaruhnya dikantong celanaku."
"Sebentar," aku menyingkirkan tangan gadis asing bermata merah yang asyik bermain dengan pusakaku.
"Ada apa, mau lepas celana? Biar aku saja," tawarnya.
"Itu urusanku, biar aku saja," kataku sambil merogoh kantong dan mengambil bungkusan dari pak Amat.
Syuh, syuh, syuh ... aku menghamburkan isi bungkusan itu. Terdengar erang kesakitan dari si gadis bermata merah dan wujudnya perlahan menghilang bersamaan dengan raibnya keramaian pesta yang tadi menyambutku.
Blam. Hening seketika.
"Pak, pak dokter Ilyas ... pak dokter Ilyas," kudengar samar suara beberapa orang memanggilku sambil memukul pentungan.
"Aku di sini," kataku yang ingin mengatakan keras-keras namun ternyata lidahku kelu.
"Oh astaga, alhamdulillah ... akhirnya mereka mengembalikan pak dokter Ilyas," kata pak Amat yang menemukanku tengah bersandar di pohon nangka. Kulihat pak Amat mengambil sebotol air, membaca sesuatu lalu memberikan padaku untuk kuminum dan sisanya disiramkan ke badanku.
Baru aku merasa lega, bisa menggerakkan tubuhku dan juga bicara lancar. Aku juga menceritakan apa yang kualami di sana, perasaan hanya sekejap tapi ternyata aku menghilang hampir 5 malam.
"Untung saja pak dokter belum sempat meniduri gadis bermata merah itu, kalau tidak ... bisa dipastikan pak dokter jadi warga sana dan kami tidak bisa menemukan pak dokter lagi," gumam pak Amat.
Aku hanya mampu bergidik ngeri seraya bersyukur atas perlindungan Yang Maha Kuasa.