"Tolooong," aku yang baru bangun langsung mencari sumber suara yang terdengar lirih itu.
"Nona, kamu baik-baik saja?" Tanyaku sambil berusaha menggeser potongan kayu yang menghimpit kaki gadis cantik itu.
"Baik-baik saja? Kamu tidak lihat keadaanku ini?" Aku mendongak, melihat wajah gadis yang baru saja berbicara ketus padaku.
"Maaf," aku pun berdiri.
"Hei, mau ke mana kamu?" Bentak gadis itu.
"Mengambil ranselku, mungkin aku punya sesuatu untuk kakimu," sahutku sambil menunjuk ransel yang ku tinggalkan di bibir pantai tidak jauh dari posisiku menemukannya.
"Ayo, kita ke bawah pohon sana saja, lebih teduh," tawarku berusaha menggendongnya.
Plak!
"Jangan modus," gadis itu memukul pelan tanganku.
Huh, dalam keadaan begini saja gadis itu masih saja angkuh. Pasti kedepannya akan sangat merepotkan, batinku.
"Baiklah," aku pun meninggalkannya dan meraih tasku kemudian berjalan menuju tempat yang menurutku lebih aman dan berbaring santai.
"Hei, kemarilah," teriak gadis itu lagi.
"Ada apa?" Aku mendekati gadis itu tapi masih menjaga jarak, takut dibilang modus lagi.
"Gendong," pintanya manja. Baru kusadari, ini gadis yang baru saja dilamar kekasihnya di pesawat beberapa saat sebelum kecelakaan. Hm, dia sangat cantik meski dalam balutan pakaian yang compang-camping, tidak jelas bentuknya.
"A-aku," Ah, aku bingung harus bilang apa.
Gadis itu seolah menyadari keraguanku, ia memotong kata-kataku dan kembali bersuara, "Tolong bawa aku ke situ, di sini panas sekali. Aku takut kulitku terbakar."
Greppp. Aku langsung menggendongnya menuju tempat yang sudah kusediakan.
"Terima kasih," gadis itu kini duduk manis di hadapanku.
"Maaf tadi sudah ketus padamu, boleh kita berkenalan? Aku Aluna Gow."
"Aluna Gow, aktris yang terkenal itu?" sahutku.
"Iya, kamu tidak percaya?"
"Bukan, aku salah satu penggemarmu dan ternyata kamu lebih cantik tanpa riasan nona. Oh iya, aku Richard Tan. Dokter tenaga suka rela yang dikirim menolong korban di tempat longsor, namun pesawat yang kita tumpangi mengalami kecelakaan, jadi ya ... di sinilah kita berada," jawabku sambil tersenyum menatap kepulan asap di pulau yang dikelilingi perairan, sekitar 700 meter di depan kami.
"Dokter Richard ternyata kamu tampan juga dan banyak bicara," ujar Aluna sambil memamerkan deretan gigi putihnya, membuatku salah tingkah.
"Em, apa hanya kita berdua yang selamat?" kata-kata Aluna terdengar sedih.
"Mungkin," sahutku. "Kekasihmu tadi juga sepertinya tidak selamat."
"Kekasihku?"
"Iya, yang melamarmu secara romantis waktu di pesawat tadi."
"Hah, itu cuma settingan. Sebenarnya kami tidak ada hubungan apa-apa dan lamaran itu diadakan demi sensasi saja," terang Aluna tanpa kuminta.
"Oh, pantas tidak sedih."
"Hihi. Gimana bisa sedih? Ada dokter tampan bersamaku," ucap Aluna membuat wajahku memerah, malu.
Aku merogoh tas ranselku mencari sesuatu, beruntung aku tidak menaruh tasku di bagasi, jadi pas kejadian itu secara refleks aku membawa ranselku saat berusaha menyelamatkan diri. Beberapa lembar pakaian, selimut, obat-obatan, air mineral, roti kering, makanan instan dan kalengan, sabun, tali bahkan tenda darurat pun ada di tasku. Mungkin jika aku hanya sendirian, semua itu cukup untukku bertahan hidup selama 1 minggu, namun aku tidak mau egois, di sini aku bertanggungjawab juga terhadap hidup seorang gadis yang diam-diam telah mencuri hatiku.
"Hm, Aluna ... bajumu robek dimana-mana kamu bisa pakai ini sebagai pengganti sementara," tawarku sambil memberikan sepotong t-shirt dan selimut tipis padanya.
"Kalau aku pakai ini, trus kamu gimana?" decitnya manja.
"Aku masih punya baju lain, jangan khawatir. Maaf, sementara kamu bersih badan pakai tisu basah aja dulu ya, aku mau mencari kayu dan beberapa bahan lain di situ," aku menunjuk ke hutan yang letaknya tidak jauh dari kami.
"Baiklah, jangan lama-lama, dokter," pesannya.
Berbekal pisau lipat serba guna, aku pun memasuki hutan.
"Aku kembali sebelum gelap, jangan khawatir," janjiku.
***
Dibalik kesukaran, Tuhan pasti menyisipkan sesuatu untuk disyukuri. Betapa tidak, hutan yang kumasuki ini ternyata kaya akan sumber kehidupan. Ada mata air bersih, pohon pisang yang berbuah matang, kelapa, ubi jalar, mangga, bambu, pohon nipah, rotan, tanaman obat-obatan dan beberapa tanaman lainnya. Hm, aku jadi berfikir ... tidak apa-apa jika tim SAR terlambat menemukan aku dan Aluna, sebab tinggal di pulau ini juga tidak buruk. Aku jadi punya misi lain, membuat Aluna Gow jatuh cinta padaku, hehe.
Srek, srek, srek ... aku memotong beberapa batang bambu yang lumayan besar dan juga melepaskan daun nipah dari pelepahnya. Rencanaku besok aku akan membuat gubug sederhana untuk kutempati dengan Aluna beberapa hari ke depan hingga keberadaan kami ditemukan.
Hup. Matahari mulai merambat turun, pertanda sore akan segera berganti malam. Aku bersiap kembali ke tempat Aluna menungguku, dengan hanya membawa beberapa sisir buah pisang masak, ubi jalar, rotan dan sepotong bambu yang lumayan besar yang sudah kulobangi sekatnya, lalu mengisinya dengan air bersih dari mata air dan beberapa ranting kering.
"Horeee, tadi aku sempat berfikir kamu tersesat dan membiarkanku sendirian di sini," sambut Aluna senang, kini ia sudah mengenakan t-shirt milikku yang kedodoran sebagai penutup tubuhnya.
Aku tersenyum, ah ... kenapa gadis ini tampak menggemaskan?
"Mau bikin apa, Richard?" Tanya Aluna.
"Api unggun," sahutku sambil menyusun kayu sedemikian rupa. Setelah api menyala aku langsung menaruh ubi jalar yang sudah kubersihkan dan membakarnya.
"Aluna, tolong ambil bungkusan alumunium foil di ranselku," pintaku yang langsung dituruti Aluna.
"Ini, isinya apa? Ngomong-ngomong, ranselmu sudah kaya kantong doraemon saja, hampir semua yang kita perlukan ada disitu."
"Haha, kecuali pintu kemana saja dan baling-baling bambu," sahutku.
"Tapi kita tidak perlu itu juga, kok. Aku cukup nyaman di sini. Asal ada kamu, aku gak perlu yang lain."
"Haha, bisa aja. Baiklah, nona. Nah ... ini daging asap, buat makan malam kita." Ujarku sambil menyodorkan santapan itu pada Aluna.
"Wah, ini lezat sekali, Richard," puji Aluna sambil mengunyah ubi bakar dengan daging asap yang sudah kuhangatkan.
"Makan apa pun jadi lezat kalau lapar," timpalku.
"Dan kalau tidak ada pilihan lain," sambung Aluna tertawa. "Eh, besok kita makan apa, ya?" Tanya Aluna.
"Hm, kita lihat besok saja. Mungkin ikan, itu pun kalau kita berhasil dapat ikan. Oh iya, malam ini kita tidur di sini dulu ya, besok kita akan mulai membuat gubug di dekat hutan, aku tadi sudah memotong beberapa bambu."
"Baiklah, tampaknya langit cerah banget tentunya tidak akan hujan," ujar Aluna sambil menatap bintang yang bertaburan."
"Semoga saja. Kamu belum ngantuk, kan?"
"Belum. Ada apa?"
"Bantu aku membelah rotan ini tipis-tipis, karena tidak ada paku, jadi rotan ini akan aku gunakan untuk mengikat bambu untuk pondok kita nanti."
"Baiklah." Aluna menerima pisau lipat serba gunaku yang lain dan mulai membelah rotan sesuai instruksiku.
"Richard, tadinya aku sedih terdampar di sini tapi kemudian aku bersyukur. Untung aku terdampar bersamamu, sebab karena ada kamu segalanya jadi terasa mudah dan menyenangkan, aku tidak jadi sedih, malah happy. Hm, aku bahkan tidak keberatan tinggal di sini selamanya," kata Aluna sambil terus mengerjakan tugas yang kuberikan. Aku terkekeh mendengar penuturan Aluna yang apa adanya. Tidakkah kata-kata Aluna menyiratkan kalau dia ... menyukaiku? Ah, kalau tidak pun, aku yakin aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku.
Malam itu, aku meminta Aluna tidur di sleeping bag-ku agar dia tidak kedinginan, namun ia menolak. Aluna malah menjadikan sleeping bag itu sebagai alas dan memintaku tidur bersebelahan dengannya.
"Kenapa kamu terkesan membuat jarak?" tanya Aluna pelan tepat di telingaku.
"Aku ... aku, maaf Aluna, aku hanya merasa berada sangat dekat dengan wanita secantik kamu tidak baik untukmu," jawabku jujur.
"Tidak baik untukku, gimana?"
"Aluna, aku ini lelaki normal ... kamu tidak takut jika aku-"
"Lakukan saja, aku tidak keberatan," potong Aluna lalu melingkarkan tangannya di perutku.
Oh, Tuhan ... disaat aku mencoba menghindar, Aluna malah memepetiku seperti ini.
"Aluna, jangan seperti ini," aku berusaha menjauhkan tangannya dari perutku.
"Malam ini dingin, berpelukan begini sangat membantu untuk menjaga suhu badan kita tetap hangat. Diam dan tidurlah," sahut Aluna cuek sambil mendusel-duselkan hidungnya di bagian samping tubuhku. Astaga gadis ini ... dia terlelap sementara aku harus berperang melawan gejolak yang ditimbulkan akibat sentuhannya.
***
Perlu waktu hampir 2 minggu untuk membangun sebuah pondok bambu berukuran 3 x 4 meter itu menjadi layak kami huni, lengkap dengan dapur dan toilet darurat, Aluna berlonjak gembira melihat 'rumah baru' kami.
"Lho, kenapa ini ada semacam kamar, sih?" Protes Aluna saat menyadari kalau aku sengaja membuat ruang terpisah di dalam gubug bambu ini.
"Untuk kamarmu, Aluna. Aku tidur di bagian depan dan kamu di situ," jelasku.
"Hah, jadi mulai malam ini, kita tidur terpisah?"
Aku mengangguk, setidaknya ini adalah caraku agar bisa tidur tenang tanpa dipepeti gadis cantik ini. Bahaya, aku takut tidak mampu menahan diri.
"Tidak mau!"
"Lho, kenapa?" Aku heran melihat reaksi Aluna.
"Pokoknya aku mau tidur denganmu saja Richard, aku tidak mau tidur sendirian. Kamu tidak merasa kalau di sini sepi sekali?"
"Memang sepi, kan cuma ada kita berdua di sini."
"Ck, kita harus membuat rumah cinta kita ini menjadi ramai, agar tidak hanya kita berdua ada di sini," sahut Aluna manja.
"Rumah cinta? Hah, bagaimana caranya?"
"Fikirkan sendiri, bukankah kamu bilang kamu lelaki normal?" jawab Aluna sambil berjinjit agar bisa menciumku. Ah, apakah ini undangan terbuka darinya untuk ... bercinta?
"Richard, rasanya aku tidak bisa hidup tanpamu. You are my hero," bisik Aluna sambil mengalungkan lengannya di leherku. Malas menerka lagi, aku langsung menggendong Aluna masuk ke gubug bambu alias rumah cinta kami.
"Bikin Richard atau Aluna junior, yuk?" godaku.
"Ayo, aku bahkan ingin melakukan ini sejak malam pertama kita tidur berdua di sini, Richard," sambut Aluna sambil membuka satu per satu benang yang menutup tubuh kami.
"Sebenarnya aku juga, tapi aku ragu ... kufikir apa tidak terlalu cepat kalau-"
"Ah, kamu terlalu banyak pertimbangan, Richard. Mulai malam ini, aku milikmu dan kamu hanya milikku, mengerti?" Aku mengangguk, sepertinya mulai malam ini aku tidak lagi tidur dalam gelisah, hehe.