Hai kenalkan, namaku Muhammad Azka Kiandra, dan ini cerita ku tentang hubungan ku dengan Dinda yang penuh warna.
Aku menjalin hubungan dengan pujaan hati kurang lebih dua tahun lamanya, sebuah hubungan yang lahir dari sebuah tekad bulat anak SMA yang membara. Untuk kali pertama aku merasakan cinta pada pandangan pertama, kepadanya, sang bidadari sekolah.
Tidak hanya satu detik aku memandanginya entah berapa detik yang kubuang hanya untuk melihat sang bidadari tersebut,berawal dari kegiatan OSPEC siswa baru pandanganku berat untuk berpaling darinya seakan akan wajah nya adalah titik pusat dunia. Dengan kepribadian yang supel, ramah dan paras yang lucu membuatnya menjadi perbincangan kaum adam di sekolah.
Sudah banyak yang mencoba mendekati sang bidadari, mereka datang dengan membawa segudang kekuatan, baik finansial, prestasi dan tampang rupawan bak arjuna. Namun tak sejengkal pun sang bidadari beranjak dari singgasananya. Dan setahun kemudian datanglah seorang jaka tarub yang dengan sejuta kemujurannya mampu mengambil alih hati sang bidadari, dan yups,Jaka tarub dalam skenario ini adalah aku. Lelaki yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
Petang itu sejuta air membasahi bumi sebelum pelajaran berakhir,banyak umpatan-umpatan yang keluar dari lisan siswa yang tidak sengaja masuk ke dalam gendang telingaku, Aku memutuskan untuk mengerjakan tugas rumah dikelas yang sebelumnya diberikan oleh pak Indra.
“daripada menunggu hujan reda dengan hal-hal yang tidak berguna, bukankah ini cara yang efisien untuk memanfaatkan waktu dengan lebih baik” gumamku
“kesibukan siswa jenius memang beda ya dengan kebanyakan siswa yang lain” suara halus dengan cepat mengubah suasana, seketika aku menoleh.
“biasa aja kok din, sekarang ku kerjakan agar nanti malam bisa belajar mapel lain”
“apa gak bosan kamu belajar terus, kata orang-orang itu masa SMA adalah masa yang paling indah dalam hidup, jangan di sia-siakan”
“aku setuju dengan ucapan yang terakhir, jangan di sia-siakan” hening kembali menemani, beberapa siswa mulai keluar kelas, menerobos derasnya air hujan.
“srek, srek” kulihat dirinya yang membuka tasnya , mengeluarkan buku tugas pak Indra, duduk di sampingku
“baiklah, kali ini aku akan mengikuti nasehat einstein junior” ah, wanita yang selama ini hanya bisa kupantau dari kejauhan, sekarang bisa ada tepat di depan mataku.
“eh kamu, kenapa tidak bergegas pulang juga, tuh banyak yang sudah pulang”
“gak ah, aku tadi berangkat sama papa karena sepeda motorku masuk bengkel, nanti kalau aku hujan-hujanan, sakit bagimana ? mau tanggung jawab ?” aku menggeleng-gelengkan kepala
“ lagipula, aku juga kurang memahami materi yang tadi diajarkan, jadi mohon bimbingannya ya, Profesor Azka” ucapnya dengan senyuman indah dan dihiasai lesung pipih indah tiada duanya.
Satu jam kami habis kan hanya untuk mengerjakan tugas, tak lupa sesekali aku mengarahkan dinda saat dia bertanya. Harus ku akui, itu adalah 60 menit terindah dalam hidupku. Serasa dunia berada dibawah kekuasaanku.
Kamipun masih bersama saat berjalan menyusuri koridor kelas menuju parkiran, hingga saat kami berpisah, sebab dia harus order ojol.
“sayang kali uangnya buat pesan ojol, ayo kuantar balik ke rumah” ajak ku,dia pun menyambut ucapanku dengan angggukan kepalanya yang khas, dia menerima tawaranku. Ya Tuhan, apa ini nyata atau hanya mimpi?.
Dari sini aku mengetahui kalo jarak antara rumah kami hanya terparut satu kampung, dan lebih menakjubkannya lagi, jalan rumahnya searah denganku.
Kami sampai di depan rumahnya sudah menjelang petang, tampak di depan rumahnya ada mamanya yang segera membuka pintu.
“siapa dia?”
“kenalin mah, namanya azka, tadi di sekolah hujan deras dan sambil menunggu hujan reda aku belajar bareng sama dia, jenius lo dia ma” ujarnya dengan penuh semangat, aku hanya tersipu mendengarnya.
“ayo nak azka, masuk sebentar, pasti capek kan”
“makasih tante, tapi maaf, saya harus segera pulang ke rumah, khawatir papa mama saya nyari saya”
“kalau begitu saya pamit dulu tante”
“iya nak azka, hati-hati di jalan ya”
Hari-hari berikutnya berjalan dengan sangat luar biasa, seakan-akan dewi fortuna senantiasa menyertai. Aku semakin dekat dengan dinda, beberapa kali belajar bareng, diskusi bareng, bahkan kita mengerjakan tugas sekolah di rumahnya. Orang tuanyapun begitu baik kepadaku, membuat hari-hariku belajar makin asyik dan indah.
Suatu ketika kuberanikan diri untuk mengajaknya keluar untuk menonton bioskop, dan keajaiban kembali terjadi, dia mengiyakan, dan mendapat restu dari orang tuanya. Sungguh Tuhan memang menyayangi hamba-Nya.
Semakin lama, hubungan kami makin intens, setiap hari ku jemput dinda dengan motor vespa andalanku, jalan-jalan, bahkan sampai ku kenalkan dengan orang tuaku. Melihat ekspresi dinda yang begitu menikmati dan respon orang tuaku, membuatku semakin mantap dan yakin bahwa dialah tulang rusukku.
Tepat selepas ujian kenaikan kelas berakhir, Hanya dengan bermodal setangkai bunga mawar dan serangakaian puisi romantis yang telah ku hafalkan sebelumnya ku tekadkan untuk mengutarakan perasaanku kepadanya.
“maksudmu gimana Az ?” tanya dinda
“ya aku ingin menjalin hubungan yang lebih serius, hubungan diatas kawan belajar”
“kenapa kamu mengatakan hal seperti ini ?, kamu membuatku kecewa Az” bibirku bergetar, sulit untuk menjawab pertanyaan yang begitu menohok. Aku sudah begitu siap untuk menjadi pasangannya, hingga aku lupa untuk mempersiapkan jika dia menolakku. Hanya mampu berdiam diri, mematung, meratapi keadaan.
“aku kira kita sudah berpacaran, saat kamu datang ke rumah, dan kamu mengajak ku ke rumah kamu” ucapnya, aku masih diam mematung, memfilter kata-katanya barusan.
“menurutku hubungan spesial itu gak harus di utarakan azka, selama kita sudah sama-sama merasa nyaman dan takut kehilangan dengan seseorang, di saat itulah hubungan spesial itu lahir” dengan lembut kedua tangannya membelai pipi.
“aku juga sayang padamu az, aku akan merasa sedih jika kamu meninggalkanku” Ah, ternyata seperti ini sensasinya saat cinta kita terbalas. Rasa bahagia yang luar biasa, bahkan jutaan kata-kata belum tentu mampu menggambarkannya.
Hari-hari berlalu tanpa ada sedikitpun waktu yang luput dari kebahagiaan dan keceriaan, terimakasih buat tuhan yang telah memberikan bidadari yang begitu mempesonanya ini kepadaku. Aku berjanji, akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga, tak akan kubiarkan seseorang menyakitinya, dan akan kupastikan dia akan bahagia, selalu.
Hampir dua tahun hubungan ini telah terjalin, kami berhasil menjadi juara satu dan dua di kelas, bersama-sama masuk peringkat 10 besar nilai terbaik sekolah, dan sama-sama menjadi kandidat siswa terbaik angkatan, Apalagi yang lebih istimewa dari ini semua ? kami berhasil membuktikan bahwa pacaran tidak selalu membuat nilai akademik merosot. Kami membuktikan bahwa dengan pacaran membuat kami semakin termotivasi untuk menjadi yang lebih baik, ini juga tidak lepas dari dorongan pasangan.
Ujian nasional hanya tinggal beberapa bulan lagi, kami semakin sibuk belajar, apalagi mata pelajaran utama. Aku putuskan untuk ikut les privat, tak lupa kuajak dinda untuk ikut les juga. Awal-awal pertemuan berjalan dengan lancar, namun kejanggalan mulai terjadi.
Dinda mulai jarang ikut les dengan berbagai alasan, aku positif thinking dan fokus dengan persiapanku, namun makin lama makin sering dinda tidak ikut les, hingga suatu ketika kuputuskan untuk bolos les untuk mencari tahu kebenarannya.
Aku pergi ke rumahnya, kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah, dan kata pembantunya dinda keluar untuk les privat. Dari situ fikiranku mulai tak tentu. Aku coba mencari tahu keberadaannya lewat teman-teman dekatnya. Pencarianku terhenti saat mendengar dia tengah berada di cafe kelapa muda dan sedang jalan dengan cowok. Tanpa basa-basi segera ku cari lokasinya, dan ternyata benar, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia tengah asyik bersenda gurau dengan seorang cowok yang tak ku kenal.
“din....” perempuan itu menoleh, kaget namun tetap kelihatan tenang.
“azka, kok kamu bisa disini ?” aku tidak menanggapi pertanyaannya, fikiranku kacau
“ini yang membuat kamu sering bolos les, sebentar lagi mau ujian nasional, harusnya kamu lebih giat dalam belajar, gak malah seperti ini” ujarku ber ton-ton kekesalan menumpuk di pundak.
“hey bro, kamu ini siapanya, dinda sudah besar, dia berhak untuk memutuskan sesuai keinginannya” laki-laki itu mencoba menghalangiku untuk mengajak dinda pulang.
Tanpa kusangka, dinda memihak kepada lelaki itu.
“kamu pulang duluan azka, nanti aku akan pulang di antar arka” ujarnya.
Aku berjalan keluar cafe dengan perasaan campur aduk, kenapa dia lebih memihak lelaki itu ? kenapa dia seakan-akan mengusirku ? aku dianggap apa baginya ?, kenapa......kenapa.....kenapa....Argggh.......
Hari-hari berikutnya, mood belajarku tiba-tiba hilang, enggan untuk berangkat ke sekolah, menjadi perhatian orang tua, guru bahkan kepala sekolah. Wali kelasku sampai datang ke rumah untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Beliau berbincang-bincang dengan orang tuaku. Pelan-pelan aku mendengar obrolan mereka, telingaku berubah peka saat pak tino memberitahu tentang beasiswa keluar negeri. Membuatku langsung keluar dari kamar dan ikut nimbrung.
“ saya akan mengikuti tes beasiswa itu pak” kataku nyerocos/asal
“kebetulan saya membawa beberapa formulir persyaratannya, tes akan dilaksanakan setelah ujian nasional. Dan tes yang akan diujikan adalah bla...bla..bla....” Ucap pak Tino panjang lebar aku mendengarkan penarahan dari pak tino dengan penuh antusias, inilah kesempatanku untuk segera keluar dari keterpurukan, aku ingin segera pergi jauh dari tempat ini, sehingga bayangannya tidak senantiasa melayang dalam ingatan.
Tak terasa Waktu berjalan dengan begitu cepatnya. Ujian dan tes beasiswa telah lewat. Sekarang adalah saatnya untuk berdoa sebanyak mungkin, kita sudah berusaha, namun semakin besar kemungkinan berhasil jika kita tambahi dengan berdoa.
Hari kepastian itu akhirnya datang, dengan langkah gontai aku berjalan menuju mading sekolah, mencari namaku dengan seksama, dan Syukur aku panjatkan, aku lolos seleksi beasiswa di Australia, rasanya perjuanganku menimba ilmu selam ini tidak sia-sia. Banyak teman-teman se-angkatan yang memberi ucapan selamat kepadaku, namun sekelebat tak kulihat sosok bidadari yang dulu pernah singgah dengan nyaman di hatiku.
“dimana dinda ?” gumamku dalam hati
Tanpa terasa, sudah hampir 3 tahun aku menjalani kisah-kisah remaja di bangku SMA. Manis pahitnya menjadi makanan keseharian hati para remaja yang pernah kualami. Besok adalah wisuda ku, dan akhir dari pendidikanku di Indonesia. Memikirkannya saja sudah membuatku tidak sabar, ingin segera merasakan sensasi belajar di negara orang, belajar kebudayaan asing, yang pastinya berbeda dengan Indonesia.
Tanpa ku duga, bel rumah pun berbunyi.
“ting, tong” sekali, ku lihat belum ada tanggapan dari orang rumah.
“ting,tong” ku coba untuk menengok di sekitar, baru aku sadar kalau orang rumah pada keluar semua, menyisakan aku seorang.
“ting-,tong” akupun bergegas membuka pintu. Alangkah terkejutnya saat mengetahui tamu yang datang.
“dinda” ucap ku. Dia tidak membalas, diam sejenak, seketika langsung jatuh dalam dekapanku. Dia menangis.
“aku adalah wanita bodoh yang mudah termakan bujuk rayu pria playboy”
“arka ternyata selingkuh, dia tega ninggalin aku” aku berfikir keras, “bukankah dulu kamu yang tega nyelingkuhin aku”
“aku menyesal telah meninggalkanmu az, demi pria brengs*k arka itu” aku hanya bisa tersenyum mendengarnya
“mungkin besok hari terakhir kita akan bertemu” dia menengok ke arahku, belum bisa menangkap maksud perkataanku.
“maksudmu ?”
“aku dapat beasiswa di Australia, dan itu semua berkat kamu”
“ aku gak ngerti maksud kamu Az”
“setelah kamu memutuskan untuk memilih arka waktu itu, aku begitu hancur, tidak tau harus melakukan apa, hingga akhirnya ada kesempatan untuk melupakan kamu, dengan cara kuliah di luar negeri, dan aku berhasil mendapatkannya, ini semua juga karena kamu din” dia hanya diam dan menutup mulutnya agar tak berkata sepatah kata.
“terimakasih atas waktu berharga yang telah kamu habiskan kepadaku, namun maaf, hati manusia serapuh kaca, jika hancur, dia tidak akan kembali seperti semula”
“aku sudah memaafkanmu jauh-jauh hari sebelumnya, namun untuk kembali menjadi pasangan, aku rasa tidak bisa. Kita lebih baik menjadi seorang teman, seperti saat kita pertama kenal dulu” dia masih mematung, seraya memalingkan wajahnya dari pandanganku, perlahan namun pasti, air matanya menetes membasahi pipinya.
Hari wisudapun akhirnya tiba, menjadi hari terakhir kita hidup sebagai pelajar SMA. Dan tibalah saatnya untuk siswa teladan untuk memberikan kesan dan pesan, tanpa di duga, aku terpilih sebagai siswa teladan angkatan ini. Dengan langkah yang ku kuat-kuatkan, berjalan menuju podium, menghelas nafas panjang dan memejamkan mata sejenak. Ketika ku buka, wajah pertama kali yang tampak adalah....Dinda
Tiga tahun sudah kita menyelami telaga ilmu di sini
Mengukir cerita untuk masa depan yang gemilang
Segala kenangan indah meraih prestasi
Terkenang di mermori dan tertanam di hati sanubari
Tempat menempa diri dengan ujung tinta pena yang akan menjadi saksi
Tembok ruang belajar yang menghiasi kata-kata motivasi setiap hari
Menjadi cerita yang tersimpan dalam peti berisi prestasi
Teman ingat dengan baik kenangan ini dalam sejarah hidupmu
Terimakasih atas suka dukanya dan terimakasih ucapkan
Kepada Guru yang tak pernah lelah mengejari kami dan terima
Kasih teman sudah membantuku mewarnai hidup ini
(Ucap ku tanpa sadar mata ini melirik kearah Dinda)
Jodoh merupakan sebuah misteri, kita tidak bisa menentukan dia jodoh kita dengan kita menjadikan dia pasangan, namun bukan berarti orang yang tidak menjadi pacar kita itu bukan jodoh kita, jadi mari memantaskan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan percaya bahwa Tuhan telah mempersiapkan jodoh yang terbaik buat kita.
KALAU INGIN MENDAPATKAN YANG TERBAIK, MAKA JEMPUTLAH DENGAN CARA YANG TERBAIK
---------------SAID SETIA FURQON KHOLIK-------------