Aku merasakan hembusan angin yang dingin membelai tubuhku. Aku membuka mata perlahan. Di sekeliling ku hanya terlihat pohon-pohon yang sangat besar. Di sini lumayan gelap. Hanya rembulan yang menerangi hutan ini.
Dimana ini? Mengapa aku bisa berada di sini? Di kejauhan sana, aku melihat seperti ada sesuatu yang berdiri. Apa itu? Orang? Mengapa dia ada di hutan malam-malam seperti ini? Pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan.
Kalau diperhatikan, orang itu semakin lama semakin mendekat. Akhirnya orang itu berhasil mendekat ke arah aku. Antara jaraknya dan aku kira-kira 10 langkah kaki. Ternyata orang itu seorang pria. Dia memakai black suit, mantel hitam yang besar dan memakai topi pedora berwarna hitam.
Lama-kelamaan pria itu semakin mendekatiku. Pria itu melangkahkan kakinya 5 langkah. Sosok pria itu semakin jelas di penglihatanku. Pria itu sangat tinggi. Kira-kira tingginya 2 meter. Wajahnya terlalu tinggi untuk aku lihat.
Aku mencoba berjinjit dan menolehkan kepalaku ke atas. Aku sontak kaget. Aku baru pertama kali melihat wajah seperti itu. Seluruh tubuh aku langsung gemetar. Wajahnya sangat putih, seputih beras. Wajahnya sungguh rata.
Dia tidak memiliki mata, hidung mulut, bahkan alis. Siapa dia? Mengapa dia menghampiri aku? Apa yang harus aku lakukan? Tiba-tiba pria itu menunduk menatap wajahku balik.
Mengapa aku bisa tau kalau dia menatapku? Padahal dia kan tidak punya mata. Jantung aku rasanya ingin copot saat dia menatapku. Mengapa dia menatapku? Apa yang dia inginkan? Apakah dia ingin membunuh aku?
Tiba-tiba pria itu semakin mendekat ke diriku. Aku melangkahkan kakiku mundur perlahan. Pria itu ikut memajukan langkahnya juga. Karena takut, aku langsung berlari meninggalkan pria itu. Walau aku tidak suka berlari, aku tetap berusaha untuk berlari.
Saat sedang berlari, aku mencoba menoleh ke belakang untuk memastikan pria itu sudah tidak ada. Ternyata pria itu ikut berlari mengejar aku. Aku sangat panik. Aku langsung menambah kecepatan berlari aku.
Tiba-tiba "BRUKKK!!!" Aku terpeleset oleh daun-daun pohon yang berada di tanah. Aku terjatuh lumayan keras. Rasanya lumayan sakit. Aku tidak bisa bangkit untuk berdiri. Sepertinya kaki aku terkilir.
Saat aku menolehkan kepalaku ke belakang, wajah pria itu benar-benar tepat berada di depan wajah aku. Wajahnya sangat dekat, kira-kira 1 jengkal. Aku langsung tidak bisa menggerakkan tubuhku. Rasanya tubuh aku seperti disihir.
Tiba-tiba pria itu memegang paha aku. Lebih tepatnya dia mencengkeram pahaku. Setelah itu pria itu memegang kepala aku. Cengkramannya tidak kalah kuat dengan cengkraman di pahaku. Rasanya aku ingin menangis.
Tiba-tiba aku terbangun. Nafas aku sungguh berat. Pandangan aku lurus ke atas. Aku melihat langit sebuah ruangan. Langit yang tak asing bagi aku. Ternyata ini adalah langit kamar tidur aku. Nafas aku mulai teratur.
Tunggu, apa aku baru saja bangun tidur? Jadi, tadi aku hanya bermimpi? Rasanya seperti kenyataan. Saat ini entah mengapa tubuh aku rasanya sangat pegal. Apakah aku terlalu lama tidur? Apa karena aku berlari saat di mimpi?
Aku menurunkan kedua kaki dari ranjang ke lantai. Tiba-tiba aku merasakan sakit sekali daerah di pahaku. Saat aku mencoba posisi berdiri, rasa sakit di pahaku semakin menjadi-jadi. Aku kembali duduk di ranjang karena tidak kuat menahan rasa sakit saat mencoba berdiri.
Aku langsung memeriksa keadaan pahaku yang tertutup celana. Ternyata paha aku agak lebam. Kalau diingat-ingat, ini kan tempat dimana aku dicengkeram oleh pria itu. Mengapa ini membekas sampai ke dunia nyata?
Aku langsung mandi dan siap-siap untuk pergi ke sekolah. Saat sarapan, tiba-tiba kepala aku terasa sangat sakit. Aku harus menahan rasa sakit ini, karena hari ini adalah ujian akhir semester. Aku tidak ingin mengerjakan ujian susulan.
Akhirnya aku pergi ke sekolah dan mengerjakan ujian akhir semester dengan keadaan kepala pusing. Kepala aku rasanya bagaikan dicengkeram oleh tangan yang sangat besar. Ini adalah pertama kalinya aku merasakan sakit kepala yang luar biasa seperti ini.
Malam pun telah tiba. Jam menunjukkan pukul 11.00. Mata aku rasanya berat sekali. Ingin sekali aku menutup mataku. Akhirnya aku tertidur tanpa sadar. Tidak biasanya aku tertidur secepat ini. Mungkin aku terlalu lelah.
Saat aku membuka mata, tiba-tiba aku berada di tengah ladang rumput. Aku memakai pakaian serba putih. Aku menatap langit. Keadaan langit terlihat mendung. Entah mengapa aku merasa sedih. Mengapa aku bersedih?
Tiba-tiba ada seseorang di kejauhan. Orang itu berlari mendekati aku. Orang itu ternyata laki-laki. Ya, benar, laki-laki yang aku sukai. Wajahnya sangat bahagia saat berlari ke arah aku. Saat dia sudah di depan aku, tiba-tiba dia langsung memelukku dengan erat.
Aku langsung membalas pelukannya dengan erat. Tiba-tiba ada seorang pria berdiri sepuluh langkah dari tempat kami berpelukan. Ya, benar, pria berwajah rata itu. Dia berdiri di bawah pohon yang rindang.
Rasanya pria itu menatap tepat ke arahku. Perasaan apa ini? Takut? cemas? Mungkin lebih tepatnya rasa terintimidasi. Mengapa aku merasa bersalah saat memeluk laki-laki yang ku suka di depan pria itu?
Tiba-tiba aku terbangun. Ternyata yang tadi cuma mimpi lagi. Mengapa pria itu muncul lagi di mimpi aku? Apa yang dia inginkan? Mengapa aku merasa bersalah? Tiba-tiba aku mulai mengantuk. Tanpa sadar aku memejamkan mata aku lagi.
Aku membuka mata lagi. Kali ini aku berada di tengah jalan aspal. Tunggu, ini bukan aspal. Apakah ini paving block? Tempat apa ini? Kota? Bangunannya seperti bangunan Eropa klasik. Mengapa kota ini sepi sekali?
Tiba-tiba pria berwajah rata itu muncul di depan aku. Jantung aku langsung berdegup sangat kencang.
Wajah pria itu semakin mendekat ke wajah aku. Jantung aku semakin kacau. Perasaan apa ini? Mengapa aku merasa tenteram? Entah mengapa wajah pria ini terlihat begitu indah di mata aku. Tiba-tiba pria itu menempelkan wajahnya pada wajah aku.
Tiba-tiba aku terbangun. Ya, benar, yang tadi hanya mimpi belaka. Perasaan apa ini? Mengapa aku sangat senang sekali? Apakah aku telah tersihir? Atau aku telah jatuh cinta pada pria itu? Jangan-jangan aku telah gila?
Setelah malam itu, pria itu terus muncul di mimpi aku. Keberadaan dirinya membuat diri aku aman. Dia adalah pria yang tampan. Mungkin bagi orang-orang wajah dia menyeramkan. Aku akui, wajahnya memang menyeramkan tapi entah mengapa wajahnya terlihat indah bersama dengan aura menyeramkan miliknya.
Sekarang tidur aku terasa lebih seru dan lebih menyenangkan dari biasanya. Sepertinya aku telah dikutuk. Aku telah jatuh cinta kepada seseorang yang tidak bisa aku ajak berbicara. Sungguh diriku yang malang.