“Seharusnya dulu kau ikut ibumu saja, lihatlah sekarang kau pasti menyesal karena tinggal bersama Ayahmu yang sebatang kara!” Ucap tetangga rumah sebelah. Aku yang akan pergi ke sekolah pun menghentikan langkahku di halaman.
"Kau tahu? Sekarang ibumu hidup layak setelah menikah dengan duda kaya raya, jika dulu ikut bersamanya pasti kau tidak akan memakai sepatu lusuh itu lagi!” Ujarnya dengan lantang.
Ku tolehkan kepalaku menghadap ibu rumah tangga berkepala empat tersebut, “Jangan menatapku seperti itu! Jika kau menyesal bilanglah kepada Ayahmu yang tidak tahu diri itu!” Ujarnya lagi. “Aku menyesal–“
“Kau mengakuinya bukan?” Tetanggaku tertawa sinis.
“Aku menyesal memiliki tetangga yang tidak tahu diri.” Ucapku melanjutkan perkataanku yang tadi belum selesai. Sebenarnya aku tidak ingin menanggapinya, tapi kali ini aku mulai muak dengan segala perkataan tetanggaku tersebut. "Bagaimana bisa ada orang sepertinya hidup di muka bumi." Pikirku.
“Apa kau bilang? Aku–“ Ku langkahkan kakiku dan pergi tanpa mendengarkan segala perkataan buruk untukku dan ayahku.
Sambil menunggu bus tiba, ku dudukkan tubuhku di kursi halte. “Tetangga tidak tahu diri.” Umpatku seraya memerhatikan sepatu yang sudah bolong di beberapa bagian tersebut.
Setelah bus datang aku pun segera masuk ke dalam dan duduk di kursi barisan keempat. Ku pejamkan mataku sambil mendengarkan lagu yang kuputar lewat headset. Udara pagi ini begitu dingin setelah semalaman penuh hujan mengguyur dengan angkuhnya. Headset tersebut terlepas setelah seseorang menariknya dari telingaku, ku buka mataku perlahan melihat siapakah gerangan yang menambah kekesalanku pagi ini.
“Maaf lancang, tapi ini sudah sampai di sekolah. Kau tidak mau turun?” Tanya pemuda dengan tubuh jangkung tersebut kepadaku. Aku pun langsung berdiri dan berjalan mendahuluinya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aku memang cukup anti sosial jadi jangan salahkan aku jika bersikap cuek.
“Pastikan undangan pengambilan rapor tersebut sampai ke tangan orang tua kalian. Jika memang orang tua kalian tidak bisa datang harap untuk memberi tahu pihak sekolah” Ucap Wali kelasku memberikan perintah. “Ya sudah, sekarang kalian boleh pulang. Terimakasih atas perhatiannya dan hati-hati di jalan.” Siswa di kelasku pun mulai berhamburan keluar.
Bres... Hujan dengan deras tiba-tiba turun. “Sial, aku bahkan tidak membawa payung.” Karena malas berhujan-hujan aku pun memutuskan untuk menunggu sampai reda dengan menaruh kepalaku di meja dan tidur.
Betapa terkejutnya aku saat melihat di luar sudah gelap tetapi hujan masih mengguyur. “Siapa yang menaruhnya?” Tanyaku saat tersadar melihat payung hitam di berada di atas meja tempatku tadi tidur. Tanpa berpikir panjang, ku pakai payung tersebut dan berjalan menuju halte.
“Kenapa kamu baru pulang? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Ayah saat aku memasuki rumah. “Aku memutuskan menunggu sampai hujan reda, tetapi malah ketiduran. Maafkan aku ayah.” Ucapku sambil tersenyum dan merasa bersalah. “Putri ayah sangat dingin dengan orang lain tetapi sangat hangat bersama ayah.” Ucap ayah sambil tertawa ringan. Aku pun tersenyum mendengarnya, entah bagaimana bisa dipadat aktivitasnya bisa tahu tentang diriku, bahkan lebih dari ibu dulu.
Di sela-sela makan malam, aku memutuskan untuk memberikan undangan pengambilan rapor tersebut kepada Ayah. ‘Semoga ayah tidak bisa datang.’ Batinku saat ayah sedang membaca undangannya. “Apa ayah bisa datang?” Tanyaku lirih. “Tenti saja! Kenapa tidak? Ayah akan datang dan mengambil nilainya, pasti memuaskan.” Ucap ayah dengan lantang yang membuatku sedikit ragu. “Ada apa? Kamu tidak mau ayah mengambilnya?” Tanya ayah sambil menatapku intens. “Bagaimana mungkin! Tentu saja aku senang saat ayah akan datang!” Seruku. “Wajahmu tidak senada dengan perkataanmu. Tapi tidak apa, ayah akan datang.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum sambil berpikir bagaimana bisa ayah dengan mudah membaca raut wajahku.
Hari pengambilan rapor pun tiba, entahlah aku merasa gugup sambil berjalan beriringan dengan ayah keluar dari rumah. “Apa yang kamu takutkan sampai meremas ujung jaket, lihatlah bahkan kamu tidak menyadarinya.” Aku hanya terdiam tidak tahu mau berbuat apa saat ayah memergoki aku yang sedang mati-matian menahan rasa gugup dan takut.
“Wah.. tuan dan putri sepertinya akan keluar bersama pagi ini.” Ucap tetanggaku memecah keheningan. “Kau benar, kami akan pergi mengambil rapor pagi ini.” Jawab ayah dengan ramah. Sambil memutar bola matanya, ibu-ibu tersebut mendecih dan berjalan menjauh. Kami pun segera berjalan ke halte dan berangkat menuju sekolah.
Ku dudukkan tubuhku di bangku taman sekolah dengan pikiran yang berlarian sembari menunggu ayah. “Aish.. menyebalkan!” Ucapku. “Siapa yang menyebalkan?” Tanya pemuda yang beberapa waktu menarik headsetku. Tanpa basa-basi, pemuda dengan nama Ganendra Putra Ardian tersebut langsung duduk di sampingku. Saat aku hendak berdiri dan berjalan untuk pergi, tangan kekar tersebut menarik lenganku sehingga tubuhku yang ringan terhuyung ke belakang dan kembali duduk. “Jika seperti itu kau tidak sopan dengan kakakmu, walaupun kita satu kelas tetap saja aku lebih tua darimu.” Ucapnya masih dengan tangan yang memegang lenganku. “Kau bukan kakakku.” Ucapku sambil berusaha melepas tangannya dari lenganku. “Lalu jika bukan kakakmu, apa aku kekasihmu?” Tanyanya enteng.
Belum sempat aku menjawabnya, suara wanita paruh baya yang memanggil pemuda di sampingku membuatku kaget. Aku pun langsung berdiri dan melangkahkan kakiku, tapi sebelum sempat terjadi tangan pemuda mengesalkan itu menahan tanganku. “Siapa ini?” Tanya wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibuku. Aku pun membuang pandanganku agar ia tidak melihat wajahku. “Dia kekasihku bu.” Jawab Ganen dengan mudahnya. “Waah, kemarilah tunjukan wajahmu. Saya ibunya Ganen jangan malu.” Ucap ibu dengan ramah. “Kenapa kau membuang muka, itu tidaklah sopan.” Ucap Ganen membuatku menahan amarah. “Aira!” Seru ayah memanggil. Kami pun bersamaan melihat ke arah datang suara tersebut. Ayah dengan tersenyum berlari ke arah kami, tapi saat sampai didepanku senyumnya luntur sambil melihat ke arah ibu atau sekarang berstatus mantan istrinya.
Keheningan pun terjadi di antara kami. Sampai akhirnya, “Ganen!” Panggil pria paruh baya yang sekarang menjadi suami ibuku. Pria tersebut berjalan dengan langkah lebarnya ke arah kami. “Sungguh sial nasibku kali ini!” Batinku. Aku pun mulai menyiapkan diri jika nanti akan terjadi perdebatan ataupun yang lebih parah di antara kami. “Wah.. Fajar! Kau di sini juga.” Ucap pria tersebut sambil berjabat tangan dengan ayah dan dibalas, “Tentu, aku sedang mengambil rapor milik putriku.”
Setelah percakapan ringan antara ayah dengan Paman Ardian atau suami ibuku yang baru tersebut akhirnya kami pergi dengan keluarga masing-masing.
Tidak ada percakapan antara aku dan ayah di warung bakso tempat kami makan. “Itukah yang membuatmu ingin ayah tidak datang?” Tanya ayah di sela-sela makannya. Aku menghela napas dan hanya bisa mengangguk pasrah. “Bertemu dengannya membuat ayah mengingat masa lalu, tapi tidak apa karena dengan masa lalu tersebut ayah bisa mengintrospeksi diri agar menjadi lebih baik. Masa lalu bukanlah mimpi buruk tetapi pemacu agar lebih baik lagi.” Ujar ayah sambil menatap keluar warung yang ramai kendaraan. "Kenapa ayah tidak marah saat tahu ibu berselingkuh?" Tanyaku hati-hati. "Karena ayah merasa bersalah telah memisahkan mereka hanya karena perjodohan yang dilakukan oleh kakek dan nenekmu." Jawab ayah dengan lirih. "Perjodohan yang menyedihkan." Ucapku sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Kamu mengejek ayah?" Aku pun membulatkan mata dan mengangkat tangan seolah minta berdamai. Setelahnya kami malah tertawa. "Mungkin nanti ayah akan bertemu jodoh asli ayah." Ucapku lalu kami tertawa lagi.
"Baiklah setelah ini mari kita membeli sepatu baru sebagai hadiah karena kamu sudah merain peringkat pertama paralel!" Ucap ayah dengan semangat, aku pun terkejut karena mendapat peringkat pertama, setelah dari tadi membicarakan kisah asmara ayah yang menyedihkan. Seperti perkataan ayah, setelah itu kami membeli sepatu untukku.
Itulah kisah kasih antara ayah dan ibuku.