Summer, Juni 2012, Aku memulai pekerjaanku di salah satu perusahaan ternama di Amerika lebih tepatnya di daerah selatan San Fransisco yang lebih di kenal dengan Silicon Valley.
Seperti biasanya setelah sarapan aku berjalan beberapa menit menuju halte bus. Dan seperti biasa wanita cantik dengan mata lentik, senyum manis, dan dari wajahnya sepertinya dia orang Indonesia, sudah lebih dulu tiba. Aku selalu ingin berkenalan dengannya tetapi aku kurang percaya diri.
Seperti biasa kami duduk saling berjauhan. Dia di ujung sana dan saya di ujung sini. Kita saling diam tanpa suara tanpa menyapa. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan. Dan aku juga takut untuk memulai, apa lagi aku tidak lama ini ditinggal menikah oleh pacar, tidak... lebih tepatnya dicampakan saat dia sudah mendapat kesuksesan.
Tidak lama kemudian bus yang menuju kantorku datang dan itu juga bus yang dia naiki. Dan di bus ini kami juga mencari tempat duduk masing-masing. Ya... hari ini kisahku hanya seperti ini.
Seminggu sudah aku berada di kota ini. Aku terus melakukan aktifitas yang monoton. Begitu juga kisahku dengan wanita itu. Ahh... sudahlah namanya saja aku tidak tahu. Tapi hari ini sedikit berbeda bus yang kami tumpangi penuh hanya menyisakan satu kursi kosong. Meskipun aku yang lebih dulu naik aku memilih berdiri dan mempersilahkanya duduk. Di pemberhentian berikutnya wanita yang duduk di sampingnya turun tapi aku melihat ada seorang wanita tua yang naik. Jadi aku mempersilahkan wanita tua itu duduk. Namun saat wanita tua itu turun aku tetap tidak mau duduk di sampingnya. Malah memilih duduk di kursi sebrangnya. Aku tidak perduli apa yang dia pikirkan. Mungkin juga dia tidak memikirkan aku, Ya... siapa aku? dia bahkan mungkin akan lupa denganku setelah turun daru bus ini.
Beberapa hari berlalu dan hari ini kejadian seperti hari itu terulang lagi. Aku tetap tenang, tapi entah mengapa aku seperti diawasi. Atau mungkin hanya perasaanku saja? Ahh... sudahlah ini hanya perasaanku saja.
Pagi ini aku berangkat lebih pagi, kalian tau kenapa?. Karena aku ingin tiba lebih cepat dari si wanita cantik itu. Entah kenapa wanita itu jadi motivasiku bangun lebih pagi. Saat aku sedang berjalan hujan mulai turun aku berlari agar segera sampai halte. Saat sudah mendekati halte begitu juga dengan wanita itu. Kami tiba di hate berbarengan, entah apa yang membuat kami akhirnya saling menatap dan tersenyum.
Pikiran kami kacau, antara harus menyapa atau gak. Ahh... galau. Tapi akhirnya aku memberanikan diri
"Hai...!" Kami menyapa bersamaan.
Kami sama-sama canggung, tidak tau harus bicara apa. "I'm Deni from Indonesia" aku mulai memberanikan diri memperkenalkan diri.
"Seriously! are you Indonesian?"
"Yes, I live in Jakarta"
"Namaku Nita, saya juga orang Indonesia" Nita
"Hahaha..." tertawa bersama
Sejak saat itu halte tak sepi lagi. Nita sedang kuliah di Stanford. kami berbagi pengalaman, cerita.
Fall, September 2012. Sekian lama kami sering bertemu di halte. Tidak ada satupun dari kami yang meminta nomor HP atau apapun. Kami hanya ngobrol setiap pagi sambil menunggu bus datang. Entah angin apa yang berhembus pagi ini. Nita si gadis cantik ini terasa semakin menarik. Duduk kami juga sudah tidak berjarak seperti dulu. Kami saling menyapa saat aku sampai di halte. Kita berbincang ringan, kadang dia bertanya pandanganku tentang bisnis. Tapi entah mengapa ada hal yang ragu untuk diungkapkan.
"Den, apa kamu ada waktu sabtu ini?" Nita
"Ohh.., ya. aku tidak ada kesibukan sabtu ini" Aku sudah mengechek jadwalku. Sebenarnya aku ingin mengajak dia nonton. Tapi aku masih belum berani bertanya padanya.
"Ohh.. ya!, apa kamu tidak ada kencan dengan pacarmu?" Nita bertanya.
Entah apa yang ada dipikiranku saat itu tiba-tiba keluar begitu saja kata-kata itu. "Ya..., kalau kamu mau temanin saya nonton film, berarti saya ada kencan"
"Ya..., kalau begitu saya mau" Nita tersenyum.
Karena merasa sudah jatuh ke kolam, kenapa gak sekalian berenang?. "Bisa minta Nomor HPmu?"
Hubungan yang lebih dalam mulai terjalin. Kami sering jalan bareng atau janjian makan malam. Kadang saya kerumahnya dan kita masak bareng. Aku juga mulai mengenal beberapa teman kuliahnya.
Kita sering chating, telpon, dan berbicara masalah yang lebih intim. Sampai hari ini, entah apa yang membuatku berani. Kami menatap lampu-lampu kapal di laut. Tapi aku hanya menatap wajahnya, bagiku wajahnya lebih indah dari pemandangan malam ini. Dia tiba-tiba melihatku, tatapan matanya makin seolah mengundangku. Aku tersenyum mendekatkan wajahku dan memgelus rambutnya.
Tidak berapa lama kemudian bibirku menyentuh bibirnya. Aku tidak menyangka keberanianku ini, dulu saat aku berpacaran dengan mantanku selama 10 tahun aku belum pernah menciumnya. Paling berani aku hanya menggandeng tangannya.
Namun bukan hanya keberanianku yang tidak kusangka. Tapi balasan dari Nita juga tidak aku sangka. Setelah berciuman kami sama-sama berucap "Aku sayang kamu".
Winter, Desember 2012 kami berlibur menikmati salju musim dingin di Eropa. Menikmati setiap kesempatan untuk bermesraan. Ya..., mungkin kedepannya kita akan sulit bermesraan.
Januari 2013. Nita kembali ke Indonesia dan bekerja di Indonesia. Kita menjalani hubungan jarak jauh. Aku sudah pasrah, bila memang dia jodohku dia akan jadi milikku. Bila dia bukan jodohku, maka tunjukan Jodoh yang terbaik.
Hari ini, Lima tahun sejak aku bertemu Nita. Aku bangun pagi dengan kopi yang sudah terseduh di meja dan sarapan pagi yang nikmat.
"Pagi Sayang" Nita mencium pipiku
"Pagi Cantik" Sapaku sambil menarik Nita ke pelukanku.
"Apa tadi malam belum puas?" Nita berbisik menggoda di telingaku.
"Dasar..." Aku tersenyum lalu menciumnya.
Saat ini kami sedang menikmati bulan madu kami.
Sakit yang kami alami saat di khianati justru menjadikan kami menjadi pribadi yang setia. meskipun Jarak dan waktu memisahkan kami. Komitmen kami akhirnya membuahkan hasil.