Sebuah surat kesepakatan menikah? Apa maksud ini semua?
Sebuah klinik internasional yang bangkrut memaksa Namira harus mencari pekerjaan lain. Profesinya sebagai bidan tidak akan memberikan gaji yang besar seperti harapan kedua orangtuanya jika ia bekerja di klinik pemerintah. Ia pun banting setir bekerja di sebuah bank. Setelah sekian banyak makian yang harus diterima dari rekan-rekan kerjanya, kini muncul masalah baru. Menikah selama lima tahun dan imbalannya adalah melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Apakah Namira harus menerima tawaran ini agar masa depannya lebih cerah?
Namira bekerja di sebuah klinik internasional. Gajinya cukup besar jika dibandingkan rekan-rekan sejawatnya. Bekerja sama dengan dokter-dokter tampan juga menjadi sebuah nilai tambah bekerja di klinik tersebut. Tak hanya itu, pasien-pasien dengan paras rupawan kerap datang dan pergi. Hidupnya telah makmur apalagi karena pekerjaannya tidaklah delapan jam melainkan hanya enam jam. Hal ini membuat Namira dapat melakukan praktik di dua tempat. Sebuah masa yang penuh dengan kenyamanan hidup. Bahkan kedua orangtuanya pun bangga dengan penghasilan yang diperoleh Namira.
"Selamat pagi dokter Andra!" Namira memberi salam. Pagi ini ia tugas jaga bersama dokter Andra. Beliau adalah pemilik dari klinik internasional ini.
"Pagi Namira. Mari berharap semoga pasien kali ini tidak terlalu menguras tenaga." Ucapnya ramah. Namira membalas dengan senyuman. Terkadang tugasnya di klinik ini mencakup tugas perawat. Mulai dari menjahit luka, mensterilkan alat, mengunjungi hotel tempat pasien menginap, dan masih banyak lagi. Hal ini terjadi karena setiap shift hanya diisi oleh dua hingga tiga orang. Kemungkinan yang terjadi adalah satu dokter dengan satu perawat, satu dokter dengan satu bidan, atau satu dokter dengan perawat dan farmasis.
"Hari ini lagi-lagi sepi sekali ya." Ucap dokter Andra.
"Iya dok. Sejak para wisatawan mengetahui arah menuju puskesmas terdekat atau rumah sakit internasional dengan peralatan yang lebih lengkap, mereka memilih kesana." Balas Namira.
"Yasudah tidak apa-apa." Dokter Andra membalas dengan lesu.
Beliau kira-kira berusia tiga tahun lebih tua dari Namira. Dengan penuh semangat dan ketelitian ia berani membuka sebuah klinik internasional sejak dua tahun lalu. Berdiri di tengah pusat wisatawan menginap, lingkungan sekitar klinik seakan tidak pernah sepi. Dokter Andra adalah orang yang sangat sederhana walaupun sebenarnya ia sangatlah kaya raya.
Berbeda halnya dengan Dokter Dimas. Ia dua tahun lebih tua dari Namira. Terkenal dengan kecerdasannya dan teoritisnya, banyak rekan-rekan yang kurang nyaman jika berjaga dengannya. Hal itu bukan masalah bagi Namira karena ia dapat mengimbangi sikap teoritis dokter tersebut.
"Dokter, ini adalah keluhan pasien bernama Miss Jade. Ia mengalami keracunan makanan." Namira menjelaskan setelah di ruang depan ia melakukan observasi dasar kepada pasien berkebangsaan Jerman tersebut.
"Baiklah, biarkan aku memeriksanya."
Beliau menyuruh Namira memberikan antibiotik.
"Dok, apakah perlu diberikan antibiotik? Biarkan saya menelpon farmasis." Sanggah Namira.
"Di buku tertulis begitu. Apa ada yang salah? Memangnya tidak boleh diberikan? Apakah cukup obat penghenti diare?" tanyanya bertubi-tubi sambil membenarkan letak kacamatanya.
Namira menghela napas melihat tersiratnya keragu-raguan pada dokter yang satu ini. Perdebatan pun selesai setelah menghubungi farmasis dan mencari literatur lain.
Namira sedikit menaruh rasa pada dokter Dimas karena penampilannya yang keren. Ia sangat tau bagaimana harus berpenampilan menarik. Apalagi semua barang mewah yang digunakan adalah hasil kerja kerasnya. Ya, setidaknya itu yang Namira ketahui. Pria tersebut berjaga di banyak klinik dan rumah sakit internasional. Kemampuan bahasa inggrisnya sangat baik. Ia juga mengajar les privat kepada murid-murid SMA yang ingin melanjutkan ke jurusan kedokteran.
Sayang seribu sayang, di kesempatan yang lain, seorang wanita datang ke klinik dan membuat keonaran.
"Aku tidak mau putus! Kita sudah tunangan! Ingat itu! Aku sudah membayar mahal untuk semua masa yang kita lalui!"
"Kamu kekanak-kanakan! Keluar dari sini dan jangan membuat onar!" Teriak dokter Dimas. Namira dan Antari yang menemani dokter Dimas berjaga malam otomatis menjadi kaget.
"Enggak sampai kamu cabut kata-kata putus. Aku bunuh diri saja di sini! Aku sudah berusaha jadi lebih pintar dari kamu! Sebentar lagi disertadiku selesai. Aku S3 di usia 24 tahun!" Ucap gadis itu sambil berteriak.
Namira dan Antari saling pandang seolah dalam hati mereka berkata bahwa usianya sama dengan mereka.
"Ayo keluar!" Ajak dokter Dimas.
Selang beberapa menit kemudian, muncullah dokter Dimas seorang diri.
"Maaf membuat keributan. Dia memang seperti itu. Aku harus tegas." Ucapnya.
"Benarkah kalian tunangan dok?" tanya Antari.
"Iya. Dia perempuan yang tidak mungkin aku dapatkan dimanapun. Pintar dan juga kaya." Seringainya muncul saat membicarakan wanita itu.
Baik Namira maupun Antari saling tatap. Ini sekaligus menandakan bahwa Namira harus memupus harapannya.
Hari-hari di klinik menjadi semakin suram. Tidak banyak aktivitas yang dapat dilakukan.
"Saya rasa gaji kalian harus dibayarkan pertengahan bulan. Saya mohon maaf. Kondisi klinik sedang tidak stabil. Saya harap klinik cabang Siantar dapat menutupi defisit di klinik ini." Ucap dokter Andra di tengah-tengah pergantian shift.
Antari dan dokter Rosa saling menatap seolah sudah mengetahui ini akan terjadi. Sepertinya di shift sebelumnya mereka saling berbincang mengenai kondisi klinik.
"Aku akan tetap di sini karena di sini nyaman sekali." Ungkap dokter Rosa. Memang bagi para dokter kondisi pasien yang sedikit membuat mereka dapat beristirahat. Mereka yang umumnya telah bekerja di rumah sakit pemerintah akan terkuras energinya lebih banyak apalagi gaji mereka tidaklah seberapa. Banyaknya pasien di rumah sakit setara dengan sepinya pasien di klinik ini.
Sudah tiga bulan, Namira merasa sangat sumpek. Ibunya yang mengetahui kondisi klinik tersebut pun menyuruhnya segera pindah. Akan tetapi Namira masih bertahan.
"Saya mohon maaf. Kontrak klinik ini tidak dapat saya perpanjang. Bagi teman-teman yang masih ingin bekerja bersama saya, akan saya himbau untuk ke cabang Siantar." Itulah pesan dari dokter Andra. Memang biaya kontrak tempat di pusat wisata ini sangatlah mahal. Namun jika dihitung waktu perjalanan hingga biaya transportasi dari rumah Namira menuju klinik cabang Siantar yang memakan waktu hampir satu jam, Namira merasa tidak akan sanggup. Apalagi jika mendapatkan shift malam atau harus pulang tengah malam.
Dengan berat hati ia memutuskan mundur. Klinik itu pun akhirnya ditutup secara resmi. Sekarang Namira menjadi orang yang terluntang lantung tidak jelas. Sebuah yayasan menawarkan dirinya untuk mengajar di sana. Akan tetapi gajinya sungguh jauh dari kata layak.
"Ma, kalau aku kerja di yayasan itu paruh waktu bagaimana? pekerjaan utama akan segera aku cari." Curhatnya pada mamanya.
"Kerja menggunakan seragam atau sesuatu yang rapi. Mama lelah melihat kamu kerja seolah main-main. Tetangga mengira kamu bukan bekerja. Atau pindah haluan saja di bank." Ujar mamanya.
Namira menjadi galau. Namun yang terdekat yang harus ia jalani adalah mengajar di yayasan.
***
Yayasan yang kecil namun memiliki murid yang banyak. Sebagai lembaga non formal, yayasan ini memiliki beberapa kelas dimulai dari sore hari hingga malam hari. Setiap sesi berisikan tiga kelas. Namira mengambil sesi sore dan ketika hendak selesai mengajar, pengajar sesi malam sudah tiba. Orang tersebut tak lain adalah Rido.
"Ini benar Namira?" tanyanya.
"Eh kamu Rido ya? Ya ampun apa kabar?" Namira balas bertanya.
"Wah, sudah lama sekali ya! Aku baik! Kamu bagaimana? Kenapa bisa disini?" Dodo kembali memburu pertanyaannya.
"Iya aku ngajar." Jawab Namira dengan senyum sumringah.
"Bukannya kamu kerja di klinik?"
"Bangkrut Do!" Namira berkata sambil mesam mesem.
"Pindah ngajar malam saja! Ada Ria juga." Lanjut Rido.
"Wah.. teman-teman masa kecilku berkumpul di sini." Namira sumringah.
"Tapi bagian yang kekurangan pengajar adalah yang sore Do." Namira menjelaskan.
"Tidak apa. Nanti satu guru malam bisa pindah ke sore. Bisa diatur." Balas Rido dengan senyum manisnya.
Namira masih di kelas sore dan Rido sangat rajin menunggunya. Sudah satu minggu hal ini berlangsung. Pembahasan Rido selalu seputar pernikahan padahal mata pencaharian Rido berasal dari yayasan ini dan beberapa sekolah formal saja sebagai guru lepas. Bukannya apa-apa tapi seakan ia terlalu lancang membahas pernikahan seolah semua itu mudah. Di sisi lain, hari-hari Namira masih seputar mencari pekerjaan. Bank Az nampaknya sedang membuka lowongan.
"Apa aku turuti saja keinginan mama?" batinnya. Namira merasa ia tidak akan lolos wawancara. Tidak ada salahnya mendaftar.
Selang dua hari kemudian sebuah telepon masuk dari orang tidak dikenal.
"Apakah saya berbicara dengan Namira Inggrid?" tanya suara di seberang.
"Iya benar."
"Terkait lamaran Anda di bank Az sedang kami proses. Dapatkah Anda melakukan wawancara kerja besok jam 10 pagi?" ucap sosok tersebut.
"Iya saya bisa." Balas Namira.
"Baiklah saya tunggu di bank Az cabang Peninsula. Perkenalkan nama saya Adrian. Terima kasih atas waktunya." Telepon pun dimatikan.
Namira menghela nafas. Di satu sisi ia menyukai hal ini namun di sisi lain ia menjadi gugup.
Hari yang ditunggu tiba. Namira melaju menuju bank Az cabang Peninsula. Perjalanan memakan waktu 45 menit.
"Wah, aku harus terbiasa dengan perjalanan sejauh ini." Ucapnya dalam hati.
Rasa gugup menyelimutinya. Namun ia terkejut ketika mendapati ruangan yang sempit di dalamnya.
"Maaf, saya Namira. Saya ingin bertemu pak Adrian."
"Oh, silahkan duduk. Saya Adrian." Seorang bapak-bapak ramah dengan postur tinggi jangkung mempersilahkannya duduk.
"Saya bukan pimpinan di kantor cabang ini. Saya adalah asisten kepala divisi. Sebentar lagi mas Pratama akan mewawancarai mbak Namira." Ucap pak Adrian.
"Baik pak." Sahut Namira.
Tidak beberapa lama muncullah seorang pria yang lebih muda dari pak Adrian.
"Hai, perkenalkan saya Pratama." Beliau orang yang sangat ramah.
"Saya Namira Pak." Ucap Namira.
"Di sini santai saja. Seperti yang kamu lihat, kami satu tim semua laki-laki dan kami sangat santai di kantor cabang ini. Namira bebas memanggil kami pak atau mas. Jadi ini masih tahap wawancara. Kami akan mengevaluasi dan melapor ke pusat. Kurang lebih tiga bulan kemudian anda baru dapat bergabung. Apa tidak masalah?" Terang Pratama.
Namira nampak berpikir keras. Mengapa lama sekali tiga bulan?
"Apakah saya pasti diterima?" tanyanya ragu.
"Iya. Kamu pasti diterima. Kami akan mengusahakan prosesnya secepatnya. Namun jika di tengah proses menunggu terdapat tawaran kerja lain, silahkan itu hak Namira memilih yang mana." terang Pratama. Namira hanya mengangguk. Setelah itu ia diminta ke kantor pusat. Bank Az memiliki kantor pusat di Kota Delta tempat Namira tinggal. Jaraknya hanya lima menit dari rumahnya. Ia melalui hal yang sama yaitu wawancara. Semua berjalan lancar.
Di sela-sela waktunya menunggu, Rido masih saja menanyakan kesiapannya menikah. Hal ini lama-lama menjengahkan Namira.
"Ria, apa Rido tidak tau jika aku tidak menyukainya?" Namira mencurahkan perasaanya kepada teman masa kecilnya itu. Sejak mengajar di yayasan yang sama, mereka kembali akrab.
"Entah. Biarkan saja dia. Pemikirannya sekarang adalah nikah karena dia kan lebih tua dari kita empat tahun. Bagi dia mungkin nikah adalah kompetisi. Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Begitu kurang lebih yang ada di pikiranku." Jelas Ria.
Saat ini Namira selalu menolak ajakan makan malam dari Rido. Sekalipun ia mengunjungi Namira ke rumahnya, ia bersikap biasa saja. Kadang ia berdalih sudah tidur apalagi karena jam mengajar Rido baru selesai jam 9 malam.
Minggu demi minggu berlalu. Rido datang dengan kabar teranehnya.
"Hai, bulan depan aku akan menikah." Tiba-tiba ia memulai perbincangan saat rapat pengajar di yayasan.
"Selamat ya Do!" Ucap Ria.
Namira sedikit terkejut namun juga bersyukur akhirnya Rido sudah menemukan tambatan hatinya.
"Kerja dimana dia Do?" tanya Ria mencari tahu.
"Dia baru lulus SMA. Muridku." Jawabnya santai.
Sontak Ria dan Namira saling pandang. Itu artinya calon istrinya adalah 9 tahun lebih muda.
"Ketika aku tanya pada dia dan orangtuanya, mereka menyetujuinya. Bagi mereka bukankah aku sudah dewasa dan mapan?" Terangnya bangga.
Sebuah pemikiran konyol dan mulai detik ini membuat Namira yakin bahwa jangan pernah menilai apapun dari luar termasuk dari umur.
"Sudah memikirkan mas kawin dan biaya resepsi?" Ria mencoba memancing.
"Cincin perak saja kan harganya lebih terjangkau. Tidak ada mas kawin selain itu. Kemudian tidak ada resepsi. Kami hanya akan akad nikah saja." Jawabnya enteng.
"Wah beruntung sekali kamu ya. Jarang ada perempuan yang mau pernikahan sekali seumur hidupnya begitu datar. Bahkan sekedar pesta kecil pun tidak ada? Apa kami diundang?" seru Ria.
"Sayangnya tidak. Akad akan dihadiri keluarga kami saja supaya irit biaya. Apalagi biaya catering." Jelasnya. Kepala yayasan hanya bungkam. Sebenarnya ia tau Rido meminjam uang yayasan untuk melangsungkan pernikahannya.
"Namira, untung kamu tidak sama dia." Ria menepuk pundak Namira. Ada rasa aneh berkecamuk di hati gadis itu. Namun ia tetap meyakinkan dirinya bahwa dia sangat beruntung tidak bersama dengan Rido. Apalagi pemikirannya yang terlalu santai membuat Namira merasa sangat tidak yakin akan masa depan pria itu.
Ketika Rido sibuk dengan pernikahannya, Namira sibuk dengan pekerjaan barunya. Bolak-balik Peninsula-Delta membuatnya cukup lelah di hari-hari pertama kerjanya. Dalam satu tim kecil tersebut, ia, Pratama, Adrian dan kedua staff marketing ternyata sangat cepat akrab. Kantor tersebut hanya memang milik mereka. Tak heran mereka membeli jajanan bersama-sama, istirahat sesukanya tanpa peduli jam yang seharusnya, dan jalan-jalan sore bersama saat tutup kantor. Walaupun Namira hanya satu-satunya wanita, ia tidak merasa asing. Tidak ada kerja lembur. Semua jadwal mengajarnya yang dipindah ke jam malam pun tidak terabaikan. Dua minggu kemudian, Pratama memberi sebuah pengumuman kecil di sela-sela aktivitas kantor kecil tersebut.
"Adrian, Arnav ada rencana kemari." Ucapnya.
"Mau ngapain dia kesini? Sidak?" Tanya Adrian sedikit gugup.
Pratama menoleh ke arah Namira.
"Kamu siap-siap ya." Ujarnya.
Namira bingung dengan maksud kata Pratama.
"Pengumuman teman-teman! Hari ini pak Arnav mau berkunjung kemari. Mari tunjukkan kekompakan kita! Walaupun kita santai tapi prestasi kita gemilang!" ucap Pratama.
Semua menyambut dengan tepuk tangan. Namira berinisiatif membersihkan kantor termasuk kamar mandinya.
"Satu perempuan benar-benar mengubah suasana kantor ya." Ujar Tristan, salah satu staf marketing. Namira hanya tersenyum. Tepat saat jam makan siang, sebuah mobil berhenti di depan pintu kantor. Ruangan tersebut sudah diberikan pewangi oleh Namira. AC pun sudah diatur sedemikian rupa suhunya. Seorang pria dengan tinggi kurang lebih 170 cm turun dari mobil dan menuju pintu.
"Selamat siang!" Ucapnya yang kemudian disambut oleh Pratama.
"Hai! Selamat datang di gubug kami!"
"Pak Sani, bapak boleh ikut masuk atau pergj-pergi dulu." Ucapnya.
"Wah, ketua divisi Mikro di pusat punya supir pribadi ya. Sungguh hebat!" Puji Pratama.
"Aku berkunjung ke anak perusahaan yang mencatat prestasi baik bulan ini." Jawab pria itu.
"Apa rahasianya memiliki nasabah kredit yang tidak bandel serta pencairan berkas yang sangat rapi?" selidiknya.
"Kami punya admin baru. Namira, perkenalkan ini Arnav. Arnav, dia Namira."
Wanita itu tersenyum kikuk sementara Arnav hanya melihatnya sekilas.
"Wah, kerja kalian santai sekali. Tanpa sepatu, makanan di atas meja. Mungkin ini juga salah satu faktor keberhasilan." Arnav memulai pembicaraan baru. Cukup terlihat bahwa ia tidak terlalu tertarik pada Namira ataupun pencapaiannya.
"Oiya, ketika Dira cuti, aku meminta tolong pada admin mu untuk menggantikan Dira. Walaupun aku tidak yakin dengan alasan cutinya. Sepertinya nantinya dia tidak akan kembali. Sayonara lah pada adminmu." Arnav menepuk pundak Pratama sambil tersenyum.
"Wah, jangan begitu dong. Namira baru saja mulai terbiasa dengan tugasnya dan dia sangat membantu kami." Sela Pratama.
"Kalian cari saja admin baru dan didik seperti dia." Jawab Arnav.
Namira ketar ketir. Di satu sisi ia sudah merasa nyaman, tapi di sisi lain ia berpikir bahwa sungguh hebat jika bekerja di pusat.
"Namira, kamu mau?" tanya Pratama.
"Dia harus mau. Tidak ada pilihan, jadi untuk apa bertanya padanya." Sela Arnav. Lelaki itu pun pamit undur diri.
"Ah seenaknya saja!" Adrian kesal.
"Sepertinya dia tidak suka jika anak perusahaan lebih unggul dari pusat." gerutu Tristan.
"Bukan. Di pusat pekerjaan pasti lebih banyak dari di sini. Mungkin Namira akan sangat membantu di sana. Kasihan juga jika performa pusat buruk." Terang Pratama yang berusaha mencairkan suasana.
"Dia harusnya cepat-cepat cari istri supaya tidak terlalu kaku dalam hidup ini." Adrian masih terus menggerutu.
"Apa hubungannya? Arnav juga ingin menyelamatkan timnya." Bela Pratama.
"Dia umur berapa sih?" Tristan nampak penasaran.
"30 tahun. Kami seumuran." Jawab Pratama.
Namira hanya diam saja menyimak.
"Kamu mau kan diperbantukan di sana? Ini hanya sementara." Jelas Pratama.
Namira tidak memberi komentar.
"Di sana lebih dekat dari rumahmu. Pastinya biaya bahan bakarmu akan berkurang." Jelasnya.
"Tapi di sana kamu harus hati-hati! Seragam, sepatu, sampai segala-galanya akan diperhatikan secara detail. Manajernya juga merupakan orang yang harus kamu waspadai." sambung Adrian.
Melihat Namira diam saja, mereka berdua menyudahi komentar-komentar versi mereka.
"Yasudahlah. Lagi pula belum tentu jadi." Lerai Tristan.
***
Pagi dengan mendung syahdunya. Namira berangkat sambil membawa bekalnya. Sesampainya di kantor, Pratama langsung mengajak Namira duduk di sofa tamu.
"Kamu boleh pulang awal hari ini untuk mempersiapkan harimu besok di kantor utama." Jelas Pratama. Gadis itu terkejut.
"Gajimu akan naik selama di sana. Pergaulanmu akan lebih luas dan akan mendapatkan lebih banyak informasi. Kapanpun kamu merasa tidak betah, bilang pada saya. Saya akan menarikmu kembali kesini." Ujar Pratama. Namira hanya menunduk. Usai jam makan siang, ia berpamitan menuju sebuah toko kemeja. Ia mencari beberapa warna kelam agar cocok dipadu padankan dengan warna apapun. Sayangnya ketika hari hampir sore, ia tetap tidak mendapatkan sepatu berhak 5 cm. Berhubung langit semakin gelap, ia memutuskan pulang dan meminjam sepatu milik Ria.
"Wah, besok ke kantor pusat? Ini keberuntungan! Baru beberapa minggu saja sudah pindah dan naik pangkat!" Ujar mama Namira bangga.
"Iya. Tapi pekerjaanku lebih banyak karena harus menjadi admin pusat dari berbagai cabang Az." Balasnya.
Namun mamanya tidak terlalu peduli.
***
"Selamat pagi!" Sapa Namira gugup kepada satpam. Bapak itu hanya mengangguk. Ketika ia memasuki ruangan lantai satu, ia mendengar begitu banyak percakapan yang ia tak pahami. Kemudian ia menuju lantai dua, beberapa memandang ke arahnya. Tentu saja mungkin karena penampilannya. Ia tidak mendapatkan seragam sebagaimana orang-orang lain yang berada di sana. Kemudian ia menuju ke lantai tiga. Disinilah nantinya ia akan bekerja. Ruangan itu sangat besar dengan berbagai aktivitas. Mesin fotokopi berjajar begitu banyak. Semua meja berisi komputer. Ia hanya tetegun karena tidak satu pun orang yang ia kenal.
"Hai. Kamu boleh duduk di meja sebelah saya. Itu adalah meja Diana. Nanti jika ia masuk, dia akan menjelaskan banyak hal padamu. Semoga kamu cepat belajar." Sapa Arnav. Pria tinggi itu kemudian meletakkan tasnya di meja dan menghidupkan komputernya.
"Beb, dirimu mau makan apa? Aku hari ini bawa bekal nasi campur." Tanya seorang gadis manja dengan tubuh lebih pendek dan kulit putihnya. Tak lupa ia dilengkapi dengan make up minimalisnya. Tertulis nama Prita di seragam yang ia kenakan.
"Aku akan makan di luar bersama tim ku." Balas Arnav sambil tersenyum.
"Oke. Semangat ya bebep." Ucap gadis itu sambil melirik Namira sinis.
"Kurang apa sih Prita itu mas Arnav? Udah lah nikahi saja." Salah satu pria dari ketiga pria yang baru datang menggoda Arnav. Pria itu bernama Tama.
Arnav hanya tertawa mendengar candaan Tama.
"Teman-teman, ini admin kita yang mungkin menggantikan Diana. Walaupun aku sangat berharap Diana tidak tergantikan. Namanya Namira." Ucap Arnav. Mereka bertiga hanya menganggukkan kepala. Namira merasa tidak nyaman karena tidak disambut baik.
"Aku akan menyimpan nomor ponselmu dan memasukkanmu ke dalam grup Messenger." Terang Arnav. Ia kemudian memasukkan nomor Namira. Gadis itu tidak peduli. Ia hanya bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Seorang wanita keibuan tiba menghampirinya.
"Ah, akhirnya datang penyelamatku!" Sapanya pada Namira.
"Aku Diana. Sangat senang melihatmu di sini. Siapa namamu?" tanyanya hangat.
"Namira." Jawab Namira tersenyum.
"Sebentar lagi briefing, ayo kita menuju lantai 1." Ajak Diana. Menggunakan hak tinggi dan menuruni tiga lantai bukanlah perkara mudah. Namira sangat tidak terbiasa.
Usai briefing, Namira diminta memperkenalkan diri. Semua bungkam. Tidak ada satu pun yang mempedulikan atau bertanya mengenai perkenalannya.
Diana mengajaknya untuk tetap di lantai satu. Mereka akan mempelajari sistem dan input data di ruangan khusus. Di sana terdiri dari manager dan asisten manager yang akan menyetujui segala langkah-langkah pencairan uang nasabah. Jika mereka tidak setuju, maka tidak ada pencairan.
Namira mencatat langkah demi langkah hingga seorang wanita berkacamata muncul. Ia adalah seorang teller khusus nasabah priority.
"Ah, ada yang membuatku sakit mata." Ujarnya.
"Diana! Dandananmu terlalu minimalis. Dan siapa ini di sebelahmu? Kamu mau bekerja di bank atau menjaga toilet? apa tidak bisa membeli bedak? Ups, aku lupa karena gajimu di sini tidak lebih besar dari Cleaning service." Ucapnya sinis.
"Biarkan saja. Dia Fani. Dia akan selalu mengkritik orang-orang seperti kita. Seragam saja aku beli sendiri. Apa iya aku harus menghabiskan gajiku untuk make up juga? Kita yang bekerja di belakang layar tidak mendapat tunjangan make up seperti mereka." Terang Diana. Namira hanya mendengarkan.
Pekerjaan mereka belum juga selesai padahal jam pulang telah lewat. Namira sungguh ingin pulang dan segera mengajar. Ia mengendap-ngendap untuk pulang. Tentu saja dengan harapan bahwa Diana dapat diandalkan.
***
Pagi ini ia berangkat lebih pagi. Ketika membuka pintu lantai satu, seorang pria mengajaknya bicara.
"Namira alumni SD Tumbuh?" Tanyanya.
Namira hanya mengangguk.
"Aku Riyan. Kakak kelasmu. Aku teman Ria. Kenal kan?" pria itu mencoba meyakinkan Namira.
"Iya, Ria temanku. Salam kenal kak." Sapa Namira.
Pria itu hanya tersenyum. Gadis itu menuju lantai tiga. Arnav nampak telah tiba terlebih dahulu dan mengutak atik data di komputernya.
"Apa benar tadi malam kamu pulang?" tanya Arnav tanpa memandang Namira.
"Iya mas." Jawabnya sedikit takut.
"Siapa yang mengijinkan pulang?" Tanyanya masih dengan pandangan ke arah komputer.
"Tidak ada mas." Jawabnya serak.
"Aku jadi paham bagaimana indahnya kantor cabang." Ucapnya sambil menggerak-gerakkan mouse.
Namira duduk di tempatnya. Sayangnya Diana tidak juga muncul.
"Kenapa kamu memanggilku mas sedangkan Pratama Pak?" Tanya Arnav sambil memandang Namira.
Gadis itu berpikir keras. Sangat tidak nyaman jika ini terkait dengan status Arnav yang masih lajang.
"Saya pikir bapak lebih muda dari pak Pratama. Saya minta maaf." Jawab Namira tertunduk.
"Begitu ya? kami seumuran padahal. Mungkin karena dia sudah memiliki anak dan istri jadi jiwa kebapakannya sudah muncul." Nilai Arnav.
Briefing dimulai dan doa dipimpin oleh Riyan. Sesekali ia melirik Namira. Setelah itu semua kembali ke rutinitas. Namira diminta menyelesaikan pencairan kemarin. Ia menuju lantai satu.
"Wah ini nih biang keroknya. Kita tidak bisa pulang cepat kemaren." Ujar seorang wanita berperawakan gemuk.
"Kamu kemana kemarin?" tanya pak manager. Tertulis nama Dewa di sana.
"Saya pulang pak." Jawab Namira gugup.
"Siapa yang ijinkan kamu pulang? Diana sendirian tidak ada yang membantu. Pencairan harus selesai kemarin. Kami sampai malam di sini. Ditambah lagi lihat pakaianmu. Kenapa dulu memilih kerja di bank Az? Pakaianmu seperti pegawai bank Diamond! Parah banget sih kamu!"
Namira hanya diam saja.
"Lanjutkan pencairan! Kamu sudah mencatat semua kan?" Ujar wanita bertubuh gemuk. Namira mengangguk sambil menahan tangis.
Di tengah-tengah pekerjaannya ia sempat bingung.
"Nah kenapa? Udah merasa pinter trus langsung pulang?" tanya wanita tersebut.
Lagi-lagi ia diam. Ini benar-benar seperti neraka. Dengan sigap Namira menyelesaikan semuanya. Ia lantas menuju lantai atas tanpa mempedulikan bekal makannya.
"Wah terima kasih Namira. Pencairan semua cabang selesai. Tapi ingat untuk mengutamakan pencairan nasabah pusat ya." Ucap Tama. Gadis itu diam saja.
"Kamu belum makan?" tanya Arnav lagi.
Namira menelungkupkan wajahnya di meja dan perlahan menangis.
"Ikut aku." Arnav menepuk pundak Namira namun gadis itu tidak bergeming.
Arnav turun ke lantai satu.
"Pak Dewa, saya kesulitan mencari admin. Ketika sudah mendapatkannya, saya mohon jangan disiksa seperti itu pak. Kalau tidak ada pencairan, bank ini collapse!" tegurnya.
"Saya berhak mengetes mentalnya. Dia punya bakat menjadi orang sukses." Jawab Pak Dewa santai.
"Tidak begitu pak caranya. Mulai sekarang ketika Diana tidak masuk, biarkan Rika yang membantunya dan bukan Reva." Tegas Arnav.
Baik Reva maupun Dewa cukup tercengang dengan sikap Arnav.
Namira memasang status di messenger nya.
'Sungguh tidak betah di sini.'
Arnav mengomentarinya.
'Itu jalan menuju sukses'
Namira tidak menggubrisnya.
Sosok Pratama muncul di jam-jam pulang kantor.
"Pak Pratama!" Namira memanggilnya dengan senang.
"Hai Namira, bagaimana kabarmu?"
"Pak, saya mau bicara penting." Ia mulai menahan tangis.
"Namira! kamu boleh langsung pulang. Pratama ada perlu denganku." Sela Arnav.
Mereka langsung mengangguk dan pergi sementara Namira merasa kesal karena keinginannya untuk curhat dihalangi.
"Halo, Arini! ayo bertemu di kedai kopi di sebelah bank Az." Ajak Namira pada teman SMA nya. Mereka pun bertemu dan kebetulan Namira libur mengajar di hari kamis malam.
"Kamu pesan apa?" tanya Arini.
"Espresso saja. Ini minuman apa ya? Tapi harganya paling murah." Ia pun memesan espresso. Ketika pesanan datang, Namira terkejut melihat segelas kecil kopi di atas mejanya.
"Ya ampun, kecil banget!" Ujar Namira. Ia mencoba meneguknya.
"Huek! Duh ini sih parasetamol dilarutkan!" ujarnya.
"Pesan yang normal-normal saja makanya! Jus jeruk saja sana!" Saran Arini.
Kini di atas mejanya telah tersedia jus jeruk. Benar-benar membuat Namira membayar lebih.
"Kenapa kamu suntuk banget? Di bank bukannya banyak yang bening?" tanya Arini.
"Bening? Iya bening tapi hatinya busuk." Jelas Namira.
"Masak satu pun ga ada yang nyantol?"
"Tidak! aku tidak mau naksir-naksiran lagi. Kamu kan sudah tau kejadian di klinik dulu. Apalagi di bank ini, aku dianggap seperti sampah. Mana mungkin ada yang suka." Gerutunya.
Tanpa disadari sepasang telinga sedang mendengarkan.
"Bosmu gimana? baik?"
"Pak Pratama baik banget. Walaupun di sana gajiku lebih kecil tapi mereka semua membutuhkan aku. Aku merasa dihargai."
"Lalu bosmu di sini gimana?" Arini melanjutkan.
"Tidak jelas. Aku belum bisa menilai. Aku tidak suka dia. Membela pun tidak. Cuek banget." Terangnya.
Mereka melanjutkan perbincangan hingga jam 9 malam. Waktunya pulang.
****
"Namira, jika ada yang kurang berkenan katakan saja ya." Ucap Arnav tiba-tiba.
Namira hanya bengong tidak mengerti.
"Lalu kalau tidak mengerti soal kopi, kamu bisa bertanya padaku." Arnav melanjutkan sambil menatapnya dingin.
Ya ampun! apa tadi malam dia di kafe juga? batin Namira.
"Besok akhir pekan tolong datang kemari ya. Kita tidak libur karena harus membereskan barang-barang. Kantor kita akan pindah ke jalan Pagoda." Terang Arnav kepada semua anggota timnya. Namira tidak berkomentar. Saat pencairan di lantai satu, Rika membantunya dengan sangat ramah dan baik. Beberapa orang termasuk pak Dewa pun menjadi lebih lunak.
"Aku Rika. Salam kenal. Aku senang sekali mas Arnav menyuruhku mengajarimu. Dia bicara padaku saja aku senang sekali." Ujarnya. Namira hanya tersenyum.
Bahkan saat jam istirahat, Rika mengajaknya makan bersama disertai beberapa teman lainnya.
"Mas Arnav ganteng banget! senyumnya manis. Orangnya juga mapan dan tidak banyak gombal." Rika bercerita dengan riang gembira.
"Tapi dia kan punya Prita. Padahal mungkin lebih cocok dengan Ida." Sambung wanita lain. Namira hanya mendengarkan saja.
"Eh Namira, kita ini hanya ngefans lho. Jangan cerita-cerita ke siapa-siapa ya? kita tau diri kok tidak pantas dengan mas Arnav." Rika mulai gugup. Namira hanya mengangguk dan tersenyum.
Oh, jadi mas Arnav punya banyak fans? Hmm.
Ia kembali ke lantai tiga dan melihat Prita menawarkan jajanan pada Arnav.
"Bep, besok habis pindahan kantor kita jalan yuk?" Ajaknya.
"Prita, kayaknya aku tidak bisa. Besok aku harus ke mini market mengecek produk-produk membantu Iwan." Ucapnya.
"Hmm yasudah deh." Jawab Prita dengan senyum manjanya.
Dih pacaran kok di sini. Batin Namira.
"Namira! Hari minggu ikut karaoke yuk? bareng Ria juga." Sapa Riyan.
"Jangan mau! dia playboy!" Sela Arnav sambil tertawa.
"Hahaha! tumben pak Arnav ikut-ikut! Minggu ya Namira! bye!" Riyan merasa risih dan kembali.
"Kayaknya dia suka kamu." Seru Tama. Namira hanya mengangkat bahu.
"Kamu pendiam sekali ya." Komentar Tama.
"Padahal di luar dia cerewet sekali." Sambung Arnav. Gadis itu hanya melirik Arnav.
"Wow. Kalian ketemu di luar?" Raja yang merupakan marketing baru ikut berkomentar.
"Tidak sengaja mungkin. Tapi aku tidak tau." Namira buka suara dengan nada dingin. Semua orang pun hanya terdiam.
Namira benar-benar malas harus ke kantor di akhir pekan. Dengan pakaian santai semi olahraganya ia sudah tiba tepat jam 8 pagi. Alangkah terkejutnya ia melihat rekan-rekannya yang juga menggunakan baju santai.
"Apa ini hanya divisi kita saja?" tanya Namira melihat divisi lain kosong.
"Kita yang paling pagi dan nanti paling duluan selesai." Balas Tama.
"Teller tidak ada?" tanyanya lagi.
"Ada tapi nanti." Balas Raja.
"Kok tidak berangkat bareng saja dengan bebep mas?" Namira menyindir Arnav.
Lelaki itu menoleh dan menghentikan aktivitasnya sementara Namira masih santai mengepak berkas-berkas nasabah.
"Kamu ini tidak tau apa-apa kenapa sembarangan berasumsi?" tanya Arnav.
Gadis itu diam saja.
"Mereka tidak pacaran tapi langsung nikah." Sela Tama. Arnav memukul bahunya.
"Ya kurang apa lagi sih. Mau cari yang gimana. Prita lulusan perawat, wajah cantik, postur oke. Dijamin anak dan suami betah di rumah." Lanjut Raja.
"Oh atau Ida saja? dia lulusan manajemen, orangnya tidak secentil prita, postur oke, lebih kalem dan membuat penasaran." Sambung Tama sambil terkekeh.
Arnav hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kantor kita di jalan Pagoda kan? aku kesana duluan. Sebelum jam makan siang aku pamit." Ujar Namira tegas.
"Aduh mau kemana sih? berkas cabang lain aja belum diberesin." tanya Raja.
"Aku sibuk. Tidak se selow kalian." Jawab Namira enteng. Ia pun pergi dan menuju jalan Pagoda.
Kantor barunya benar-benar lebih besar dari sebelumnya. Menempuh jarak kurang lebih 15 menit dari kantor lama, Namira berjalan ke lantai dua. Kini di lantai itu akan menjadi ruang khusus untuk divisinya.
"Pak Pratama! Ah akhirnya bisa bertemu dan bercerita!" Seru Prita girang.
"Hai, ada apa? mana tim mu?" tanya Pratama sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Tim ku kan bapak dan teman-teman cabang Peninsula." Ucapnya bangga. Saat mereka sedang merapikan bersama, teman-teman dari kantor pusat tiba.
"Nav, aku minta lemari bagian situ untuk berkas nasabahku ya." Pinta Pratama.
"Iya oke atur-atur saja. Kalau kurang kita bisa beli lagi."
"Pak Pratama, saya rindu cabang Peninsula." Ucap Namira.
Lelaki itu menoleh ke arah Arnav.
"Gimana Nav? Aku harus menghargai keputusan Namira. Ini sudah kesekian kalinya dia minta pindah kembali."
"Oke. Jadi begini. Semua sistem pencairan hanya dapat dilakukan di pusat. Sekalipun dia mau kembali dengan gajinya sebagai admin Peninsula, dia tetap bekerja di kantor ini setiap hari." Tegas Arnav. Namira hanya memandangnya tidak percaya.
"Oh, berarti saya harus segera mencari tempat kerja baru." Gumam Namira yang tentu saja dapat didengar semua orang di sana.
"Apa yang kamu takutkan? Pak Dewa? Reva? Apakah mereka masih bersikap kurang ajar?" Tanya Arnav serius. Ia mendekatkan jaraknya dengan Namira dan itu membuat gadis tersebut dapat melihat manik mata kecoklatan Arnav dengan jelas.
"Tidak. Entah." Jawabnya berusaha menoleh ke arah lain.
Suasana menjadi sedikit canggung. Saat itulah Raja diminta mengambil pesanan makan siang untuk seluruh tim oleh Arnav. Namira tidak menyentuhnya dan malah sibuk dengan ponselnya.
"Halo. Aku suntuk banget. Kamu kondisinya gimana? apa perlu aku bantu carikan obatnya? Yasudah kita ketemu di Roppan ya. Kabari kalau sudah sampai. Oke Adit!" Namira menutup ponselnya.
"Kencan?" tanya Pratama.
"Haha. Tidak pak. Bapak sendiri weekend kemana biasanya sama istri?" Namira balik bertanya.
"Kami dulu rekan kerja. Setelah menikah tidak boleh bekerja di tempat yang sama. Sekarang punya anak jadi dia di rumah mengurus anak." Kenang Pratama.
"Ah dulu selalu pulang kerja kencan bersama." Celetuk Arnav.
Pratama pun tertawa.
"Baik, saya pamit dulu ya. Sesuai perkataan awal saya, jam makan siang saya pulang. Bagi yang kurang porsi makannya, silahkan ambil jatah saya. Saya makan siang di Roppan." Namira pamit sambil tersenyum.
"Wah Namira sekarang sudah mulai berani." Tegur Tama.
Gadis itu tidak peduli.
Ia memasang fotonya bersama Adit sebagai status messenger nya. Di saat bersamaan, seseorang menelpon Arnav.
"Nak, mama, papa, dan kakak mau berlibur ke pulau Delta. Besok lusa hari ulang tahun mu kan? Kalau bisa sekalian kenalkan calonmu ya nak. Mama papa ingin istirahat memikirkan kamu apalagi kamu merantau sendirian di sana. Khawatir nak. Makanya papa sampai sering sakit. Seandainya kamu di sini, papa mama tidak akan terlalu khawatir keadaanmu bagaimana. Apakah sudah makan atau belum setiap hari."
"Iya ma. Silahkan datang. Tapi Arnav tidak libur kerja. Papa dan mama jalan-jalan sama kakak ya. Sore sampai malam baru Arnav bisa menemani."
Perbincangan pun selesai.
***
Namira makan siang di Roppan lengkap dengan menu ala Jepang yang ia sukai. Adit membayar semuanya dan tentu ini sangat menyenangkan. Besok adalah hari minggu dan mereka akan pergi berkaraoke bersama Ria dan pacarnya. Tidak banyak hal yang mereka bicarakan namun sebagian besar adalah mengenai obat Diabetes untuk Adit. Di sisi lain Arnav sibuk membeli beberapa camilan dan buah-buahan untuk menemani hari liburnya. Ia dan pegawainya Riko akan mengkalkulasi stok di mini market dan tentu saja artinya mereka akan lembur malam ini.
Hari berganti. Namira masih asik dengan kehidupannya dan memasangnya di status. Terkadang ia menuliskan bahwa ketika orang lain sibuk dengan hubungan mereka, Namira justru sibuk mencapai satu per satu jenjang kehidupannya. Tak heran jika ia jarang bergaul dengan rekan kerjanya karena terlalu fokus dengan pencapaian mimpi-mimpinya.
Senin pagi dimana langit nampak sangat mendung. Namira tetap berangkat seperti biasa. Ia mengenakan jas hujan dan mendapati mobil Arnav sudah terparkir rapi. Ia bergegas naik ke lantai dua dan ternyata doa pagi telah dimulai. Arnav menjadi pemimpin pagi ini.
Hujan perlahan mengguyur hingga sore hari saat jam pulang kerja tiba.
"Eh, hari ini ada briefing aplikasi baru ya?" tanya Raja.
"Iya sore ini." Jawab Tama.
Namira memutar bola matanya.
"Halo kakak-kakak ganteng yang baik hati. Bisakah aku titip absen?" Tanya Namira dengan senyum manisnya.
"Aku tidak bisa meniru tanda tanganmu." Celetuk Raja.
"Kamu ada urusan? tanda tangan dulu kemudian pulanglah lewat pintu belakang." Ujar Arnav.
Namira tersenyum senang sementara kedua rekannya menatap Arnav tidak percaya.
Namira bergegas turun dan mencari tempat duduk paling belakang. Ia harus dengan mudah dpat pergi dari area itu. Setelah absensi sampai di tangannya, ia langsung keluar menuju pintu belakang. Sesaat sebelum itu, ia sibuk membalas pesan dari Ria mengenai materi pelajaran bimbingan hari ini. Hujan mengguyur sangat deras hingga jas hujan yang dikenakan Namira tidak dapat melindungi sepenuhnya. Celana dan bajunya sedikit basah. Setelah ia tiba di lokasi bimbingan belajar, ia mencari ponselnya.
"Aduh, ponselku mana ya? Ria kamu liat tidak ponselku?" tanya Namira cemas.
"Aku telpon dulu." Ria mencoba menenangkan.
"Ponselmu aktif dan tersambung."
Namira langsung merogoh pakaian dan tasnya.
"Apa tertinggal di kantor? aku titip kelasku ya." Ujarnya panik.
"Hujannya deras banget. Besok saja atau tunggu nanti." Saran Ria.
"Tidak bisa. Jangan sampai ponselku hilang atau habis baterai. Mungkin sekarang masih banyak orang di kantor." Jawabnya. Ia pun mengemudikan motornya dengan cepat.
Hujan sedang tidak bersahabat. Beberapa ruas jalan banjir dan membuat celana Namira makin basah. Saat tiba di kantor, lantai satu telah sepi dan sebagian ruangan telah dipadamkan. Ia bergegas ke lantai dua dengan kondisi basah. Nampak lampu di divisinya masih menyala. Ia langsung membuka pintu dan mendapati Arnav bersama laptopnya yang tengah menyala dan segelas kopi. Ia terkejut dengan penampilan Namira.
"Mas, ponselku hilang. Gimana ini?" Ia langsung menuju meja kerjanya dan membuka laci-laci dengan panik.
"Tenang namira. Aku coba hubungi." Arnav bergegas menelpon ponsel Namira. Setelah agak lama akhirnya seseorang menjawab panggilan tersebut.
"Halo. Ini siapa ya?" tanya Arnav.
Seseorang menjawab di seberang ponsel dan tiba-tiba muncul di divisi Namira.
"Oh pak Bagus. Terima kasih pak." Ucap Arnav saat pak satpam tiba di hadapannya dan memegang ponsel Namira.
"Mbak, ini ponselnya. Saya temukan di kursi lobi." Ucapnya.
Namira mengucapkan terima kasih sambil membungkukkan badannya. Pak Bagus pun pamit. Di ruangan itu kini hanya Namira dan Arnav. Gadis itu mengotak atik ponselnya membalas pesan yang masuk satu per satu. Arnav pergi meninggalkannya dan kembali dengan membawa secangkir teh dan jaket.
"Pakai ini."
"Saya bawa jas hujan mas. Tidak usah." Jawab Namira dengan santai.
"Nanti kamu masuk angin. Sudah pakai saja. Saya bawa mobil."
Namira pun setuju dan akhirnya memakainya. Terdapat wangi khas Arnav di sana.
"Minum dulu." Tawar Arnav.
"Terima kasih."
"Ternyata kamu orangnya panikan ya?" Arnav membuka perbincangan.
"Ya karena ponsel kan mahal. Selain itu kontak semua teman ada di sana." Jawabnya jujur.
"Oiya, BI checkingnya apa sudah mulai dikerjakan? Sebaiknya dicicil saja supaya akhir bulan tidak terlalu lama lemburnya." Ujar Arnav.
"Yasudah saya kerjakan sekarang. Toh sudah terlanjur ijim mengajar." Namira bergegas ke meja kerjanya sambil membawa teh yang diberikan Arnav.
Keduanya terdiam. Namira pun mulai lelah dan lapar setelah 30 menit mereka saling diam.
"Saya lapar mas. Besok saja saya lanjutkan lagi ya? Mas Arnav sudah makan?" Tanyanya.
"Tadi briefing dapat makan. Saya pesankan servis antar atau mau membuat mie instan di pantry?" tanyanya.
"Ah tidak perlu mas. Saya mau pulang saja." Jawab Namira sambil tersenyum cengengesan.
Arnav pun mematikan komputernya dan mengajak Namira turun. Ruangan lantai dua kini gelap demikian pula dengan lantai satu.
"Saya duluan mas."
Arnav pun mengangguk.
***
Namira sangat lelah dan langsung tertidur. Sementara Arnav masih berkutat dengan arus kas mini marketnya. Sejenak ia teringat bahwa besok lusa orang tuanya datang. Ia mengacak rambutnya dan mulai menyusun strategi. Jika ia mengenalkan Prita, apa tanggapan orang tuanya? Dan bagaimana menghadapi Prita jika ke depannya ia tetap tidak bisa memiliki perasaan terhadapnya?
***
Mata Namira sangat berat. Kepalanya pun terasa berat. Badan terasa pegal membuatnya ingin mengambil libur. Namun ketika teringat banyaknya pencairan yang harus dilakukan, ia memaksakan diri berangkat kerja.
Ia melupakan sarapannya karena memang tidak bernafsu makan. Di kantor, ia pergi bersembunyi di toilet karena tidak ingin mengikuti doa pagi dan briefing. Wajahnya mulai pucat ditambah AC ruangan yang baginya terasa sangat dingin.
"Hari ini tim marketing menuju jalan Pemuda ya. Kemudian untuk beberapa nama yang belum cair akan saya pantau disini sekaligus pengecekan jaminan di brankas. Namira, apa ada berkas yang harus saya tanda tangani?" tanya Arnva. Namira berdiri dan memberikan beberapa berkas. Arnav meliriknya sejenak. Namira hanya diam tidak seperti biasanya dimana ia akan menyapa teman-temannya ataupun sekedar menjelaskan berapa berkas yang harus ditandatangani.
Kepalanya mulai terasa berat. Ia berjalan ke toilet dan muntah. Saat kembali, ia minta ijin pada Arnav untuk mengenakan jaketnya.
"Mas, maaf jaketnya belum jadi saya kembalikan. Saya pinjam dulu untuk hari ini di dalam ruangan."
Arnav terus menatapnya khawatir.
"Pakai saja. Atau ambil saja kalau kamu memerlukan itu." Terang Arnav. Raja menawarkan bubur karena ia akan pergi ke jalan pemuda. Namra pun mengangguk dan setuju untuk dibelikan bubur. Arnav menatap Raja dan berkata, "Tidak perlu mampir-mampir. Biarkan dia pesan layanan antar."
Raja hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Ketika dua pencairan telah selesai, Namira ijin beristirahat dan tertidur di atas meja kerjanya.
"Kamu selalu membuat orang cemas ya." Celoteh Arnav. Ia lantas melihat layar ponsel Namira di atas meja kerjanya. Di sana terdapat beberapa daftar kegiatan seperti pencairan, mengajar, menghadiri undangan pernikahan Santi, berlatih TOEFL, mencari info beasiswa, menyelesaikan artikel, dan membeli sembako pesanan ibu. Dari seluruh daftar itu Arnav merasa jika Namira sangat berambisi dengan hidupnya.
Namira terbangun dan mengecek jam di ponselnya. Ia tertidur selama 30 menit.
"Sudah mendingan?" tanya Tama.
"Iya mas."
"Ikut saya periksa jaminan di brankas ya." Perintah Arnav. Namira hanya mengangguk dan mengikuti bosnya menuju ke lantai satu ruang Back Office. Tak lupa ia berhenti karena dihadang oleh Prita.
"Beb, mau kemana? Akhir-akhir ini aku jarang ke atas karena pekerjaan menumpuk. Apalagi seminggu besok aku ke Singapadu mengikuti lomba Teller Teladan." Ujarnya.
"Bagus Prita. Semangat ya." Ucap Arnav sambil tersenyum yang mana membuat Prita semakin bangga pada dirinya.
Namira bersikap tenang saat melihat pemandangan dua sejoli itu. Lebih tepatnya tidak peduli. Setelah obrolan kedua insan itu selesai, mereka menuju ruang brankas. Sebuah ruang besar dengan pinti besi dan di dalamnya terdapat banyak almari berisikan surat-surat berharga. Ruangan itu tidak mendapatkan akses sinyal dan dilarang membawa ponsel ke sana. Setelah sibuk mengecek, pintu besi itu tertutup dengan sendirinya. Namira panik sementara Arnav merasa ada yang menjahili mereka. Sebelum masuk kemari, ia meminta kunci kepada Pak Dewa dan sepertinya kunci itu hanya satu. Jika tertutup dari luar bagaimana cara membukanta dari dalam?
Namira mulai memanggil-manggil seseorang berharap suaranya didengar. Sayangnya ruangan itu kedap suara. Ia mulai lemas. Kepanikannya membuat kondisi tubuhnya semakin tidak karuan apalagi ruangan itu sangat dingin dan pengap. Arnav mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Kamu tenang ya. Tarik napas dan buang. Begitu seterusnya. Aku mencoba menelpon Raja atau Tama." Ujarnya. Ia terus berusaha mendapatkan sedikit sinyal dan menelpon kedua rekannya. Terputus-putus memang, namun untungnya Tama cukup sigap dengan sikap bosnya yang tidak biasa. Ia segera membuka pintu besi itu dengan memintakan kunci cadangan pada pak Riko.
"Kalian tidak apa-apa?" Tama bertanya dengan napas naik turun
"Tenang saja. Tidak apa-apa. Untung aku selalu membawa ponsel dan mengabaikan aturan. Namira, kamu baik-baik saja?" tanya Arnav. Gadis itu diam dan langsung mendahului mereka untuk pergi. Ia dicegat oleh Prita.
"Kamu menjebak Arnav ya? Genit banget sih kamu." Tegur Prita. Namira hanya diam. Kepalanya pusing dan ia berjalan pergi tanpa peduli pandangan setiap mata.
Arnav mendengar kasak kusuk di belakangnya dan bertanya pada Rika.
"Rika, ada apa ya?"
Rika yang diajak bicara oleh Arnav tentu menjadi sangat gugup sekaligus senang.
"Begini mas, mbak Prita marah-marah ke Namira. Katanya dia menjebak mas Arnav supaya bisa berduaan di sana."
Arnav mengepalkan tangannya.
"Tolong putar CCTV. Siapa yang menutup pintu besi itu." Perintahnya. Prita yang mendengar itu menjadi kaget.
"Maksudmu ada yang menjebak kalian?" tanya Prita.
Arnav mengangguk.
"Sayangnya di sana tidak ada CCTV." Balas Pak Riko. Arnav pun semakin kesal dan menuju lantai dua.
"Hei, mau kemana?" tanya Raja pada Namira yang nampak membereskan barang-barangnya. Arnav masuk dengan cepat bersama Tama. Ia menghentikan tangan Namira yang memasukkan beberapa catatan ke dalam tasnya.
"Kita cari pelakunya."
Namira hanya diam dan menepis tangan Arnav. Ia memakai tasnya dan menuju pintu darurat. Arnav mencegahnya.
"Kamu harus melawan ketika diperlakukan tidak adil." Tegas Arnav. Namira tidak peduli dan langsung turun.
Wanita ini benar-benar keras kepala. Batin Arnav.
***
Setibanya di rumah, Namira langsung tertidur. Ia tidak mempedulikan pesan maupun panggilan dari teman-temannya. Arnav pun mencoba mengirim pesan namun tidak dibaca.
***
Pagi harinya ia tetap berangkat bekerja seperti biasa. Ia mengabaikan pandangan orang-orang terhadapnya. Arnav cukup terkejut melihat Namira yang masuk kerja tanpa beban.
"Kamu sudah sehat?" Ia bertanya.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Aku janji akan cari pelakunya." Ujar Arnav.
"Tidak usah. Aku tidak peduli. Aku kesini untuk kerja mendapat gaji yang besar. Selanjutnya ketika mendapat beasiswa, aku keluar. Semudah itu pemikiranku. Kelak tidak ada lagi yang akan menghinaku karena aku beberapa tingkat di atas mereka." Ucapnya dengan tatapan kosong.
Arnav menjadi iba.
"Besok ikut aku ke rumah makan Segara Laut sepulang kerja." Ucapnya. Namira hanya diam tidak peduli.
"Namira, bagaimana kabarmu?" tanya Pak Pratama yang datang bersama Adrian.
Wajah Namira langsung sumringah.
"Pak Pratama.. Kapan saya akan pindah lagi ke cabang?" Tanyanya sedikit sedih.
"Kalau itu tentu tidak bisa. Tapi kami datang membawa solusi. Kamu akan dapat teman. Namanya Siska." Ucap pak Pratama sambil tersenyum.
Namira hanya membalasnya dengan senyuman.
"Menurutmu Arnav bagaimana?" tanya Adrian.
"Biasa saja." Jawab Namira singkat, terlebih karena Arnav ada di ruangan itu juga.
"Kenapa tidak bilang ke mereka kalau aku galak?" Arnav menyela.
Namira tidak menanggapi karena ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan dari Eka.
"Hai Namira! sudah dapat undangan kan?"
"Iya. Aku bisa datang kok nanti malam."
"Aku tunggu ya. Aku tidak mengadakan pesta megah dengan banyak tamu. Jadi kamu harus datang."
"Iya. Sekali lagi selamat atas pernikahanmu. Apa kamu mengundang dokter Dimas?" tanyanya hati-hati.
"Tentu saja! Tenang saja. Ini kan standing party. Kamu tinggal pergi saja jika bertemu dia."
Namira tampak panik. Setelah panggilan diakhiri, ia menelpon Arini.
"Rin, kamu bisa menemani aku ke pernikahan Eka? Acaranya nanti malam. Jadi pulang kerja nanti kamu tunggu aku di cafe." Ajak Namira.
"Haaa aku sudah sampai rumah. Hari ini pulang cepat. Kalau kembali ke kotamu memakan waktu satu jam."
"Iya aku paham. Kasian juga kalau kamu harus bolak balik. Besok juga harus tetap berangkat kerja". Akhirnya Namira berpikir siapa yang akan ia ajak. Ria tidak mungkin karena ia akan menggantikan kelas Namira malam ini. Ia nampak berpikir keras. Jam sudah menunjukkan pukul 16.30.
"Dimana alamat pernikahan temanmu?" Arnav buka suara sambil membereskan file di atas mejanya.
"Oh, di gedung Kirana mas."
"Gedungnya kecil tapi tamannya cukup luas. Itu searah rumahku. Apa kamu tau lokasinya?"
"Belum tau mas. Nanti aku cari di peta ponsel." Namira mulai membuka-buka aplikasi di ponselnya.
"Aku saja yang temani bagaimana?" Arnav bertanya dengan nada datar sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya.
"Kalau tidak repot ya tidak apa-apa sih mas. Tapi nanti saya jadi buron lagi di kantor." Jawab Namira asal.
"Untuk masalah itu saya sudah tau pelakunya. Tapi sebaiknya saya diam saja. Lalu untuk mereka yang salah paham, sepertinya sudah saya jelaskan dan justru mereka sungkan sama kamu saat ini." Jelas Arnav sambil menatap Namira. Wanita itu sedikit risih dengan tatapan tajam bosnya.
"Kamu ikuti mobil saya. Sampai di rumah saya, parkirkan motormu di garasi. Kita pergi dengan mobil." Terang Arnav. Namira nampak sembunyi-sembunyi dan menyuruh Arnav mengecilkan volume suaranya.
"Tapi besok sore saya yang minta bantuanmu. Gantian."
"Mau ngapain sih? ke Segara Laut kan?" tanya Namira dengan wajah polosnya.
"Ya menurutmu kesana mau beli kulkas?" Jawab Arnav dengan entengnya sambil berjalan di belakang Namira menuju tangga. Gadis itu menghela nafas.
"Iya berarti kita makan kan? Acara apa? Kalau soal makan memakan saya ahli dan hobi." Ujar Namira tanpa menoleh ke arah Arnav yang berada di belakangnya. Ia berhenti ketika Reza menyapanya dan itu sontak membuat kepalanya menabrak dada Arnav.
"Namira, ayo ikut karaoke." Ujar Reza.
"Kalian tiap minggu karaoke? kaya sekali." Komentar Namira.
"Eh ada pak Arnav. Namira nampak cebol kalau kalian berjarak seperti itu." Ujarnya tertawa. Baik Namira maupun Arnav tidak ada yang berkomentar hingga Reza pergi dari pandangan mereka.
***
Mereka tiba di sebuah perumahan dan berhenti di depan rumah minimalis berwarna kuning. Rumah itu memiliki beberapa kaktus di halaman depannya dan dengan pagar berwarna putih.
"Masukkan motormu ke garasi." Perintah Arnav. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan mobil. Setibanya di lokasi, mereka mengambil snack dan mencari tempat duduk yang ada. Pesta ini adalah standing party sehingga jumlah tempat duduknya tidak banyak. Pengantin akan menyapa para tamu satu per satu.
"Ah, ada dokter Dimas dan Andra." Gumam Namira. Ia mencoba bersembunyi di belakang orang yang duduk di depannya.
"Hai Namira! bagaimana kabarmu?" Sapa dokter Andra.
"Baik dok." Jawabnya tersenyum.
"Eh Namira! Lumayan berubah sekarang ya penampilannya." Komentar dokter Dimas. Arnav tiba-tiba berdiri dan memberi senyum pada kedua dokter tersebut.
"Oh, datang berdua?" komentar dokter Dimas. Keramaian yang muncul mengundang pengantin untuk datang.
"Hai. Ya ampun! Namira! kamu tambah kurus sekarang." Ucap Eka.
"Namira memberi selamat pada Eka dan suaminya, begitu pula dengan Arnav.
"Semoga lekas menyusul ya kalian berdua." ucap Eka.
Namira langsung menggelengkan kepalanya namin Eka tidak peduli.
"Dok, pacarmu mana?" tanya Eka pada dokter Dimas.
"Dia sedang riset. Sekarang sedang mencari gelar profesor. Aku bangga banget sama dia." Jawabnya setengah gugup seakan ada yang disembunyikan.
"Wah keren ya. Semoga kepandaiannya membantunya untuk lebih dewasa." Komentar Eka.
"Silahkan menikmati hidangannya." Ucap suami Eka. Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Namira masih menatap dokter Dimas yang hendak mengambil makanan hingga Arnav menyadarkannya.
"Kamu mau makan disini? Saya kurang berselera dengan menunya."
"Oh, saya tidak masalah sih kalau tidak makan." Jawab Namira.
"Nanti kamu tambah kurus seperti triplek. Ayo cari makan di tempat lain saja." Ajaknya. Namira hanya menurut.
Mereka menuju sebuah rumah makan.
"Duh, over budget nih. Udah nyumbang nikahan, sekarang makan di luar." Gumamnya.
"Saya yang bayar. Kan saya yang ngajak." Terang Arnav.
"Besok juga makan. Wah kaya banget deh mas nya." Celetuk Namira.
"Kita ini ke nikahan pakai baju kerja. Mas Arnav mendingan sih bisa ganti gaya dikit dengan menekuk lengan kemeja sampai ke siku." Komentar Namira. Orang yang dikomentari hanya diam saja membaca buku menu.
"Mau makan apa?" tanya Arnav.
"Saya bebek goreng saja. Biar lemaknya nambah. sama nasi uduk satu. Kemahalan nggak mas?" Namira bertanya dengan berbisik.
"Mbak, saya pesan nila bakar nasi uduk satu tambah bebek goreng nasi uduk satu. Minumnya jeruk hangat dua ya mbak." Arnav memesan tanpa mempedulikan Namira. Gadis itu tak henti-hentinya menatap Arnav kesal.
"Mas, siapa yang menutup pintu besi itu?" tanya Namira membuka percakapan.
"Misalnya kamu tau lalu mau apa?" Arnav berbalik bertanya.
Namira diam dan nampak berpikir.
"Oiya, teman-temanmu kekanak-kanakan sekali." Arnav menimpali.
"Maksudnya?" Namira tidak paham.
"Sikapnya yang pamer, sikapnya yang merasa lebih unggul, benar-benar kekanakan. Padahal itu semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kehidupan orang lain di luar negeri atau di ibu kota." Lanjut Arnav.
"Ya kami kan usia 20 an mas. Kalau mas Arnav kan 30 an. Jelas beda mas." Jawab Namira.
"Kalau kamu pribadi apa yang diinginkan? Melihat orang membanggakan gelar lalu ikut-ikutan atau melihat orang menikah lalu merasa harus menikah?" Arnav bertanya dan menatap Namira tajam sambil menyeruput jeruk hangatnya.
"Hm.. Saya pingin lanjut kuliah mas. Harapannya tidak ada lagi yang merendahkan. Kemudian punya usaha bagus atau bekerja di tempat yang terpandang. Menikah juga dengan orang yang baik. Kata kuncinya adalah baik. Dengan begitu bisa sama-sama membangun keluarga bermartabat." Terangnya.
Arnav membalas dengan tersenyum dan mereka menikmati makan malam tersebut.
***
Sampai di rumah Arnav pukul 9 malam. Namira mengambil motornya.
"Tunggu disitu. Aku masukkan mobil dulu." Perintahnya.
Ia kembali dengan motornya.
"Mau kemana mas?" Namira bertanya.
"Saya mau cek minimarket sekalian antar kamu sampai depan. Di sini lumayan sepi. Maklum lah, perumahan." Jawabnya.
Tanpa pikir panjang Namira hanya menurut.
***
Setibanya di rumah, Namira teringat Arnav. Rumahnya, penampilannya yang keren, tinggi badannya, wajahnya yang bernuansa timur tengah, dan tentu minimarket yang lumayan ramai. Sangat sempurna. Tapi ia mengurungkan niatnya berandai-andai terlalu tinggi. Sekarang fokusnya adalah melanjutkan kuliah ke jenjang S2, S3, membuka usaha atau menjadi dosen dan menjadi terhormat. Ia sangat berharap dapat menerima beasiswa di luar negeri agar semakin keren.
Lain halnya dengan Arnav. Ia sedang memandang langit-langit kamarnya. Ia merasa menyenangkan jika menghabiskan waktu bersama orang lain daripada selalu sendiri. Sebenarnya ia cukup sering pergi dengan timnya atau beramai-ramai dengan teman kantor tetapi pergi berdua saja dengan seorang wanita ternyata memberi arti tersendiri. Apakah sama jika wanita itu bukan Namira? entahlah.
***
Jam-jam padat di kantor berlangsung seperti biasa. Saat akhirnya jam menunjukkan pukul lima sore, Namira pamit.
Jam 7 di Segara Laut. Begitulah isi messenger dari Arnav. Namira hanya menjawab dengan satu huruf. Y.
Namira tiba di rumah jam setengah enam. Ia bergegas mandi dan pamit pada ibunya untuk makan malam bersama teman kantor. Tidak ada unsur kebohongan dari ucapan gadis itu. Ia memarkirkan motornya dan segera masuk ke dalam restoran.
Arnav melambaikan tangannya. Nampak pria itu masih mengenakan baju kerjanya namun dengan lengan yang digulung sesiku ala Arnav.
Namira mendekati meja tersebut dan tersenyum pada orang-orang yang juga duduk di meja tersebut. Terdapat seorang ibu, seorang wanita dewasa dengan suami dan anaknya yang berusia lima tahun, serta seorang bapak-bapak.
"Halo, namanya siapa nak? Sini duduk di sebelah ibu." Ucap ibu tersebuy disusul oleh senyum manis wanita dewasa di sebelahnya.
"Saya Namira bu." Jawabnya santun. Ia pun duduk di sebelah ibu tersebut.
"Namira, ini mamaku namanya bu Santi. Ini papaku namanya pak Arya. Ini kakakku namanya mbak Sari, ini suaminya namanya mas Farhan, dan anaknya yang cantik namanya Queen." Arnav memperkenalkan seluruh anggota keluarganya.
"Halo, nama saya Namira." Ucapnya sambil menganggukkan kepala.
Ada apa ini sebenarnya? Namira mulai membatin.
"Rumahnya dimana nak?" tanya pak Arya.
"Saya di Jalan Melati pak." Jawabnya sambil tersenyum.
"Kenal Arnav sudah berapa lama?" tanya mbak Sari.
"Hm.. berapa lama ya? belum setahun." Jawabnya.
"Yasudah ayo makan dulu." Ajak Farhan. Mereka menyantap berbagai menu masakan laut.
"Ah Arnav. Maaf, seharusnya kamu yang duduk di sebelah Namira." Ucap bu Santi. Arnav hanya bergumam tidak apa-apa. Penampilan Namira dengan baju santai namun sopan ditambah dandanan minimalisnya membuat Arnav cukup terpukau. Gayanya yang santun juga menarik perhatian Arnav.
"Kami keluarga Arnav berharap Namira mau menerima Arnav." ucap pak Arya.
Wanita itu setengah kaget namun ia melihat ekspresi Arnav yang seakan menyuruhnya diam.
"Saya harap jangan berlama-lama pendekatan. Kalau bisa bulan depan sudah lamaran kemudian menikah. Atau minggu depan lamaran?" tanya Pak Arya.
Namira menjadi semakin mati kutu.
"Pa, nanti biar Arnav rembukan dulu. Sebaiknya papa dan mama mampir ke rumah Namira dulu. Atau mau langsung saat melamar?" Arnav bertanya dengan santai.
"Langsung melamar saja. Tidak enak juga jika mampir tanpa buah tangan." Ujar bu Santi.
Suasana ini membuat Namira semakin bingung dan memilih diam saja mendengarkan apapun obrolan mereka. Hingga akhirnya pertemuan itu berakhir.
Kantor pusat Bank Az pagi ini memiliki rutinitas seperti biasa. Arnav ijin datang terlambat karena harus mengantarkan keluarganya ke bandara. Satu hal yang sedikit berbeda adalah mengenai acara ulang tahun bank Az yang ke 17. Acara tersebut akan diadakan minggu depan. Panitia yang telah terbentuk akan mengadakan rapat kecil setiap jam pulang kantor. Arnav nampak memperhatikan Namira yang sedari tadi bersikap cukup tenang tanpa membahas kejadian semalam. Saat jam pulang, Namira ingin menyelesaikan BI checking sebagai laporannya akhir bulan ini. Itulah sebabnya ia dan Siska anak baru makan malam di sekitar kantor dan kembali ke kantor untuk lembur.
"Siska, maaf kemarin belum sempat menyapamu dengan baik. Semoga makan malam tadi sudah cukup membuat kita akrab. Sudah diajarkan apa saja oleh mbak Rika?"
"Soal pencairan. Sore ini saya mau lihat mba Namira menyelesaikan BI checking."
Begitu memasuki lobby, panitia ulang tahun bank Az sedang berdiskusi disertai camilan dan makan malam. Namira dan Siska naik ke lantai dua. Setelah menyelesaikan lima nama BI checking, Siska pamit pulang.
"Mba, saya pamit dulu. Sudah saya catat step nya. Besok akan saya kerjakan punya nasabah saya di bawah naungan kantor cabang Peninsula."
Namira mengangguk. Tentu saja nasabah di sana tidak sebanyak di pusat. Ia melihat tas Arnav masih berada di meja kerjanya. Benar saja, 10 menit kemudian Arnav tiba.
"Namira, apa tidak ada yang mau kamu tanyakan?"
"Soal apa mas?"
"Orang tua saya menyuruh cepat menikah. Papa ada penyakit jantung dan diabetes. Tapi entah apa hubungannya dengan cepat menikah." Arnav menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Namanya juga orang tua mas. Kadang selalu ingin saingan dengan teman-temannya yang lain dalam segi apapun, termasuk pernikahan anaknya, karier, bahkan cucu. Saya paham kok. Santai saja. Saya tidak baperan." Ucap Namira sambil menatap komputer.
"Jadi kamu tidak masalah kalau mereka datang berkunjung ke rumahmu?"
"Lho bukannya akting ini sudah selesai tadi malam?" Namira menatap Arnav tajam.
"Saya kan hanya perlu menenangkan hati mereka sementara. Nah kalau mau menikah, perkenalkan saja bebep nya mas Arnav. Sesimpel itu kan. Kalian bukannya sudah saling suka?"
Pertanyaan Namira membuat Arnav terdiam.
"Saya kan hanya tameng supaya mba Prita tidak sakit hati kan? Kalian pasti menunggu momen tepat." Kini ia mulai kesal dan mematikan komputernya.
Ketika berkemas, Arnav menghadangnya di depan pintu.
"Kita bicara dulu di kafe sebelah." Arnav membuka pintu dan mengajak Namira bicara dengan secangkir kopi dan segelas susu hangat.
Ia mengeluarkan sebuah draft yang ada pada ponselnya dan menyerahkan pada Namira.
Perjanjian Pernikahan
Pihak pertama Arnav Nusa Raiza
Pihak kedua Namira Liantari
Sepakat untuk melakukan pernikahan dengan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh di lampiran.
Tertanda
pihak pertama pihak kedua
"Apa-apaan ini?" tanya Namira sambil menscroll ponsel Arnav.
"Kita menikah saja."
"Hah? Kenapa tidak sama mba Prita?"
"Aku tidak menyukai Prita."
"Jadi mas menyukai saya?"
Arnav terdiam.
"Tenang saja. Saya tidak sepede itu kok. Sudah lelah saya menjadi orang yang kepedean."
Arnav kembali menatap Namira dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Keuntungannya apa? Berapa tahun?" tanya Namira yang terpancing pada keputusan Arnav.
"Kamu pingin lanjut kuliah kan? pingin punya usaha dan apalagi keinginanmu?" Arnav menggali keinginan Namira sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kuliah dulu saja deh. Itu saja sudah menghabiskan banyak uang." Ujar Namira.
"Berapa kira-kira?"
"50 juta sampai lulus magister."
"Saya transfer 50 juta begitu kamu tanda tangani ini."
"Wah, anak sultan." Balas Namira setengah merendahkan.
"Saya pekerja keras dan jarang jajan-jajan tidak berguna." Celetuk Arnav.
"Berarti perhitungan?" Komentar Namira.
"Terserah mau diartikan seperti apa. Saya hanya berusaha bijak mengelola uang."
"Memangnya sekarang sedang bijak?"
"Namira, ketika saya punya uang, saya membeli aset yang dijual dibawah normal oleh nasabah-nasabah yang butuh uang cepat atau hendak pindah ke luar kota. Asal kamu tau, gaji saya sebulan juga tidak habis untuk mentraktir kamu kopi seperti ini setiap hari. Baik, sekarang waktunya kalkulasi. Biaya nikah 50 juta, kita sederhana saja. Jadi total saya transfer 100 juta. Kemudian untuk uang makan sehari-hari, ambillah dari keuntungan mini market. Itu akan jadi punyamu. Bahkan jika kita berpisah, kamu tidak akan hidup susah. Bukan begitu?"
Namira hanya terdiam mendengar penjelasan Arnav.
"Lalu mas minta keuntungan seperti apa setelah mengeluarkan banyak uang?" tanya Namira penuh selidik dan matanya meruncing.
"Saya hanya ingin kamu melakukan tugasmu sebagai istri sebaik-baiknya."
"Masak, nyuci, semacam itu kan?" tanya Namira dengan pemikiran dangkalnya.
"Jalankan saja sebaik-baiknya. Tolong berusahalah untuk menerima pernikahan ini kedepannya." Arnav menjelaskan dengan ketegasannya. Sayangnya wanita yang ia ajak bicara sepertinya tidak terlalu cerdas mengenai hubungan pria dan wanita.
"Ya oke. Sekarang pertanyaannya adalah mau berapa tahun?"
"Lima tahun." Jawab Arnav.
"Lama juga ya. Setelah berpisah saya berarti mendapatkan titel dan minimarker untuk usaha. Ya sebanding sih." Gumamnya.
"Tidak perlu harus berpisah, kamu sudah mendapat semuanya." Sela Arnav.
Namira nampak berpikir lagi.
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" Arnav membuyarkan pikiran Namira.
"Jadi setiap bulan uang makan kita berdua dari minimarket ya? Lalu kalau saya mau belanja-belanja bagaimana?"
"Pakai keuntungan minimarket. Makanya saya suruh kamu mengelola. Jika dikelola dengan baik, itu pasti akan lebih dari cukup." Terang Arnav.
"Wah, latar belakang saya kesehatan, bukan ekonomi. Tapi tenang saja, saya akan belajar. Ditambah soal uang jajan nanti saya akan mencari kerja sambilan online." Ucapnya.
Akhirnya ia menandatangani kesepakatan tersebut. Sementara Arnav menyembunyikan senyumnya.