Dalam setiap langkahnya yang terkesan santai, Baltazhar sadar amatlah kecil peluangnya untuk selamat setelah ini. Sekuat apa pun dirinya, menghadapi sebatalion soldier magician adalah pertarungan yang mustahil dimenangkan seorang diri. Namun, demi keselamatan seluruh penghuni Akademi Alsaza, ia tak pernah ragu. Tidak sedikit pun.
Sepuluh langkah dari gerbang utama akademi yang menjulang setinggi hampir lima meter itu, Baltazhar berhenti. Ia mengibaskan tangan kanannya dan gerbang yang terbuat dari besi padat itu terbuka sendiri. Tampaklah pasukan pengepung yang jumlahnya hampir 6 peleton itu berbaris rapi di belakang masing-masing pemimpinnya. Pria yang berdiri menghadap barisan pasukan itu berbalik dan bertemu pandang dengannya.
"Selamat sore Profesor Baltazhar Cavaro," sapanya sopan.
"Sore yang kelam Lorenzuis," jawab Baltazhar tenang, "Oh, atau haruskah aku membungkuk dan memanggil nama Lorenzuis Bodherin lengkap dengan pangkat komandannya lebih dulu?"
Pria yang dipanggil namanya itu tersenyum dan kentara sekali berusaha terlihat canggung, "Tidak …. Tidak, kita ini teman lama. Aku juga alumni dari sekolah ini kan? Tak perlu seformal itu."
Baltazhar menguap dan bersikap tak acuh pada sopan-santun yang berusaha ditunjukkan Lorenzuis. Ia tahu pasti pria berambut pendek yang selalu tersisir rapi ke belakang itu penuh tipu muslihat. Memang benar, pria itu adalah alumni Akademi Alsaza. Memang benar, pria itu adalah teman lamanya. Tetapi tipikal mereka telah jauh berbeda bahkan sejak masih berstatus sebagai murid akademi.
Keduanya bisa dibilang sebagai jenius pada masanya. Keduanya pun termasuk dalam 5 lulusan terbaik dari Akademi Alsaza. Baltazhar lebih tertarik untuk mendalami ilmu pengetahuan dan mendedikasikan hidupnya dan seluruh kemampuannya pada akademi sebagai seorang guru, sedangkan Lorenzuis menempuh jalan keprajuritan dan meningkatkan kariernya dengan pesat hingga menduduki jabatannya saat ini sebagai Komandan Besar Tentara Sihir.
Perbedaan yang mendasar itu pun telah membawa mereka menempuh jalan yang bertentangan pula. Baltazhar yang seorang idealis menjadi salah satu tokoh terdepan yang menentang undang-undang baru yang ditetapkan oleh kementrian sihir sejak dua bulan yang lalu. Menurutnya, setiap pasal dalam undang-undang tersebut adalah kendaraan politik kementrian untuk membenarkan alasan menjajah negeri-negeri sihir lainnya. Salah satu pasal yang paling keras ditolaknya adalah pasal yang menetapkan wajib militer bagi semua penyihir laki-laki yang telah berusia 15 sampai 40 tahun.
Sementara ambisi akan karier dan kekuasaan menempatkan Lorenzuis sebagai pihak yang paling girang dan menjadi salah seorang pendukung nomor satu bagi segala kebijakan kementrian sihir yang dapat dibilang ekstrem. Ia pun dengan senang hati menerima dan menjadi pelaksana ketika kementrian memutuskan untuk mengambil langkah intimidatif dan represif bagi siapa pun yang menolak undang-undang baru tersebut atas nama hukum negara.
Maka, sejak pengesahan undang-undang itu, saat protes-protes bermunculan dari mayoritas elemen masyarakat sihir, saat demonstrasi-demonstrasi pecah menjadi bentrok antara magician soldier dan para penyihir sipil, Balthazar telah yakin bahwa momen seperti saat ini hanya tinggal menunggu waktu.
Lorenzuis masih bisa menahan diri meskipun sikap dan karakter Baltazhar yang cuek itu telah sukses menyulut emosinya. Ia berdehem dan berkata, masih berusaha terdengar sesopan mungkin, "Kuakui aku sangat menyayangkan sikap mereka yang menentang kebijakan ini, terutama sikapmu Baltazhar."
"Aku? Kenapa? Apakah aku sepenting itu?"
"Oh… Siapa yang tidak mengenal Profesor Baltazhar Cavaro, seorang ahli sejarah sihir, filsuf, seorang guru besar di akademi sihir terbaik di benua ini, orang yang mengalahkan Welvirion sang Raja Sihir Hitam yang hampir meluluhlantakkan seantero Magitopia. Kau adalah orang yang telah mengembalikan kedamaian kepada masyarakat kita dan seluruh penghuni dunia sihir. Kau adalah pahlawan, temanku!"
"Lalu?
"Aku yakin," Lorenzuis meneruskan, "Jika kau bersedia memihak pada kementrian dalam hal ini, kau pasti akan menginspirasi semua orang untuk menerima kebijakan yang dibuat demi kejayaan negeri ini di masa depan! Dengan adanya dirimu, dengan reputasi dan peranmu, seluruh Magitopia akan berada dalam kekuasaan kita!"
"Kita?"
"Ya, tentu saja negeri kita!"
Keheningan merambat dengan tidak nyaman selama beberapa saat. Baltazhar menghela napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya perlahan. Perlahan pula ia mengembuskan napasnya dan ketika matanya terbuka kembali, Lorenzuis dan seluruh pasukan di belakangnya seketika merasakan tekanan yang sangat berat pada udara di sekeliling mereka.
"Lorenzuis," Baltazhar berkata, pelan dan dingin, "Simpan saja semua omong kosong tentang kejayaan itu dan kita lihat apakah kau dan seluruh pasukanmu sanggup melewatiku!"
Lorenzuis menelan ludah. Dalam hati ia mengumpat, 'Sial!'
***
Sejak awal, Lorenzuis Bodherin telah menduga bahwa menghadapi seorang Baltazhar Cavaro bukan perkara mudah. Bagaimanapun, orang itu adalah orang yang telah mengalahkan sang Raja Sihir Hitam, sesuatu yang bahkan setiap perdana menteri sihir di Magitopia tak mampu melakukannya. Baltazhar adalah orang yang selalu teguh menentang tirani bahkan ketika orang lain merunduk dan bersembunyi dalam ketakutan. Lorenzuis mengakui, semua hal tentang mantan teman seangkatannya kala di akademi itu telah membuatnya kagum sekaligus benci karena hal itu secara otomatis menempatkan sang pahlawan Magitopia sebagai hambatan terbesar untuk mewujudkan segala ambisinya.
Lorenzuis sempat shock ketika tanpa basa-basi Baltazhar membuka pertempuran dengan sihir elemen alam. Sepanjang 200 m tanah terangkat dan tergulung bak gelombang tsunami bersamaan dengan akhir rapalan mantra Baltazhar. Hampir satu peleton pasukan yang dibawanya habis terlibas. Serangan tak terduga dari lawan yang hanya seorang diri itu gagal diantisipasi setiap orang dalam pasukannya sehingga mantra-mantra pelindung yang diteriakkan serampangan oleh setiap orang yang lebih sigap dari yang lain pun jebol dengan sangat mudah.
Belum usai keterkejutan para soldier magician, sebuah tornado menyeruak dari tengah-tengah mereka, membuat mereka tak punya pilihan selain berpencar untuk menghindar. Formasi yang telah tersusun pecah. Strategi yang sebelumnya telah terencana dengan rapi pun berantakan.
Seakan dapat membaca setiap arah pergerakan pasukan yang dibawa oleh Lorenzuis, Baltazhar melanjutkan serangan beruntunnya. Petir-petir menyambar dari langit, menyasar setiap sudut tempat pasukan yang telah terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil itu berpijak. Ledakan dan teriakan kepanikan di mana-mana. Pengepungan yang bertujuan menyingkirkan semua yang dianggap melakukan pemberontakan itu seakan berbalik menjadi pembantaian pasukan yang dilakukan hanya oleh satu orang.
Sebagai komandan besar, Lorenzuis tentu bukanlah penyihir biasa. Jam terbang dan pengalamannya dalam pertarungan sihir pun tak dapat dianggap enteng. Berbekal semua itu, ditambah segala informasi dan data tentang Baltazhar Cavaro yang telah dipelajarinya dengan saksama, ia dapat lebih jeli dalam menganalisis situasi dan kondisinya. Pasukannya memang telah kocar-kacir, tetapi dari apa yang ia amati, Baltazhar yang kini dihadapinya pun tak lepas dari sebuah celah, sebuah titik lemah. Serangan beruntun seperti itu menunjukkan sang pahlawan Magitopia tak segan menghamburkan energinya dan ini berarti pria itu ingin secepatnya mengakhiri pertempuran. Satu-satunya alasan untuk itu adalah Baltazhar sedang tidak dalam kondisi prima untuk bertarung.
Lorenzuis tersenyum. Sekuat apa pun seorang penyihir, ia tetaplah satu orang. Dan satu-satunya mengalahkan sebuah kualitas adalah dengan kuantitas. Lorenzuis mengayunkan tongkat sihirnya dan puluhan pohon cemara yang ada di sekitarnya tercerabut dari tanah, melayang-layang di udara, dan meluncur menuju Baltazhar dengan kecepatan jauh melebihi laju energi kutukan yang pernah terlontar dari tongkat sihir mana pun.
***
Membelakangi tangga menuju teras depan aula utama akademi, Baltazhar masih bisa berdiri, meskipun tak bisa dibilang tegak.
Mantel dan beberapa bagian dari pakaian yang dikenakannya telah robek. Noda darah dan luka pertempuran pun telah menghiasi beberapa bagian tubuhnya. Ia terdesak. Serangan Lorenzuis telah berhasil membuka celah bagi letnan-letnan soldier magician untuk melancarkan kombinasi serangan-pertahanan secara bergantian. Jika satu atau dua orang menyerang, yang lainnya menjadi pelindung dan penangkal serangan-serangan balasan dari Baltazhar. Keadaan berbalik. Baltazhar terpaksa mengambil posisi bertahan dan mundur jauh melewati halaman akademi.
Merasa di atas angin, Lorenzuis memerintahkan para letnannya memanggi sisa pasukan masing-masing untuk membentuk formasi gabungan dan bersiap melakukan serangan terakhir. Tujuannya kali ini bukan lagi menangkap, tetapi menghabisi Baltazhar. Namun, hal itu justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dengan timing yang sangat tepat, Baltazhar memanfaatkan celah dari serangan lawan-lawannya yang sesaat mengendur.
Mantra pemanggil digumamkan dan dua makhluk setinggi lebih dari tiga meter keluar dari kehampaan tepat pada area yang memisahkan Lorenzuis dan para letnannya dengan pasukan mereka yang tampak masih bersusah payah mengendalikan diri dan kelompoknya masing-masing. Salah satunya berwujud singa berbulu merah yang dengan lincah membuat pasukan kementrian sihir itu kembali berserakan. Satu lagi berwujud beruang grizzly berbulu biru mengilap yang dengan sigap menghalangi setiap letnan sehingga tak dapat kembali pada masing-masing pasukannya.
Lorenziuz tercengang. Ditatapnya Baltazhar yang kini tampak terengah-engah. Berpikir mendapat momen untuk membunuh tuan dari kedua astral beast itu, ia merangsek dan mengayunkan tongkat sihirnya. Sebuah energi hitam pekat meluncur deras ke arah Baltazhar dan dengan begitu mudah terbelokkan ke segala arah. Seekor elang raksasa berbulu seputih salju tiba-tiba muncul di atas Baltazhar dan mengepakkan sayapnya, menghasilkan gelombang angin dahsyat yang mengempaskan Lorenzuis hingga terjengkang. Kutukan kematiannya buyar menyisakan percikan kembang api di beberapa sudut. Tongkat sihirnya terlepas. Sang komandan besar tergeletak di tanah, berusaha keras agar tak rebah dengan menempatkan sikunya sebagai penahan. Darah segar yang lalu dimuntahkannya mengindikasikan luka yang diperolehnya tidaklah ringan.
"Kau--"
Baltazhar tersenyum tipis, "Dalam pertempuran, ada kalanya strategi pun harus menyerah di hadapan keyakinan, Lorenzuis."
***
Sebutan penyihir terkuat bagi Baltazhar Cavaro telah sekali lagi terbukti bukan sekadar isapan jempol. Tumbangnya Lorenzuis sang komandan membuat letnan-letnannya kehabisan akal dan pasukan kementrian menjadi benar-benar tak berdaya. Bagi para letnan sekalipun, mustahil untuk mengordinasi pasukan mereka sejak Thigroz, astral beast berwujud singa berbulu merah itu, mencecar dan membuat mereka kian kocar-kacir, mencoba menembus hadangan si beruang biru Greez pun sama dengan mencari mati, sementara menyerang langsung Baltazhar yang tengah dalam perlindungan si elang putih Eglaesir pun hanya akan membuat mereka bernasib sama dengan komandannya.
Sekali lagi keadaan berbalik. Batalion mereka telah dihajar habis-habisan hanya oleh satu orang Baltazhar Cavaro. Tak ada lagi peluang menang. Maka, salah seorang dari letnan-letnan itu berinisiatif melakukan gencatan senjata. Para astral beast tampak enggan membiarkan mereka hidup, tetapi Baltazhar memberikan perintah yang otoritasnya tak terbantah. Para letnan membawa tubuh Lorenzuis yang tengah pingsan dan pasukan kementrian pun mundur, meninggalkan area Akdemi Alsaza.
Kini, tinggallah Baltazhar yang tengah duduk di tangga latar utama akademi itu, mengedarkan pandangannya ke halaman akademi yang berantakan penuh puing-puing sisa pertempuran. Di sampingnya, Greez si beruang tampak berdiri menggunakan empat kakinya.
'Kau punya kesempatan, Baltazhar,' suara beratnya selalu membuat Raja Klan Beruang itu seolah bergumam saat bicara.
'Aku tahu,' jawab Baltazhar dalam percakapan antarbenak mereka.
'Lalu kenapa kita tak segera meninggalkan tempat ini? Kau malah memerintahkan Thygroz dan Eglaesir pergi ke dua tempat berbeda untuk mengawal para pengungsi yang ing--,' kalimat Greez terhenti seiring dengan sebuah pemahaman membanjiri pikirannya. Ia beringsut, tampak tidak terlalu nyaman dengan apa yang disadarinya, 'Inikah rencanamu yang sebenarnya?'
Baltazhar hanya tersenyum kemudian mengangguk ke depan, memberi isyarat kepada Greez untuk ikut melihat apa yang disaksikannya di kejauhan.
Beruang biru perkasa itu kontan membelalak dan menggeram, lalu ia menoleh dan mendapati Baltazhar telah berdiri, 'Kau gila Baltazhar! Jumlahnya hampir 2.000 orang!'
Baltazhar hanya terkekeh singkat, 'Ayolah Greez …. Kau tahu kan kalau kementrian tak akan melepaskan momen ini begitu saja?' ucapnya sambil mengelus kepala si raja beruang itu.
'Jangan bilang ka--,' Baltazhar memotong kalimat itu dengan memberi Greez sebuah rangkulan hangat. Si beruang ingin memberontak, tetapi entah mengapa mata dan dadanya mendadak terasa panas. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia pun sadar pendirian dan keputusan si penyihir tak akan pernah goyah.
'Negeri ini harus belajar bahwa perang dan pendudukan hanya akan membawa penderitaan. Negeri ini pun harus belajar bahwa tidak ada yang namanya negara tanpa rakyat,' kata Baltazhar sambil mengangkat tangannya. Cahaya putih berpendar dari tubuhnya.
'Greez, bersamaan dengan mantra terakhirku, tugasmu, juga para astral beast lainnya, untuk melindungiku sekaligus kontrak kita telah selesai. Namun, aku minta tolong kepada kalian, dan aku akan merasa sangat terhormat jika kalian berkenan, lindungi setiap orang yang saat ini tengah bergerak meninggalkan negeri ini.'
Di depan sana, barisan pasukan tampak bagaikan ombak selaba yang siap menggulung. Si beruang ingin melibas mereka semua, tetapi klausa pemutusan kontrak dari tuannya telah bereaksi. Tubuhnya semakin samar dan sebelum benar-benar lenyap dari tempat itu, dan ketika terdengar gumaman mantra terakhir dari satu-satunya penyihir yang yang sangat dihormati olehnya dan para astral beast itu, ia meraung sekeras-kerasnya.
'Meteorus Rainorium!'
Langit menggelap. Sebuah portal yang sangat luas terbuka. Dari dalamnya, titik-titik cahaya bermunculan. Semakin lama semakin tampak bukan hanya ratusan, melainkan ribuan bongkahan batu berapi. Semakin dekat, semakin jelas pula terlihat setiap batu berapi itu rata-rata berukuran sebesar bangunan dua lantai. Seluruhnya turun bagai hujan, siap menghantam dan melenyapkan apa saja dalam radius ratusan kilometer di bawahnya.