Jika seseorang bertanya apa kau menyayangi ibumu? maka jawabannya "Ya, aku menyayangi ibuku. beliau yang mengandungku, melahirkanku dan membesarkanku. tidak ada keraguan untuk cintanya."
lalu, bagaimana dengan ayahmu? apa kau menyayanginya? apa jawabanmu?
ayah dan ibumu adalah dua orang yang telah membawamu lahir ke dunia ini. Dan kau tumbuh dari setiap tetes keringat ayahmu.
jadi sudahkah kau mengatakan bahwa kau menyayangi ayahmu? pernahkah kau memberikan hadiah kepadanya? kapan terakhir kau memberikannya?
begitulah seorang guru muda memberikan motivasi untuk membangun kecintaan terhadap sosok seorang ayah kepada murid muridnya yang baru duduk di bangku kelas 2 SD.
Guru muda itu memberikan tugas kepada muridnya, membuat karangan tentang hari ayah. Sebuah cerita tentang apa yang akan kau hadiahkan untuk ayahmu dihari ayah, atau apa yang akan kau lakukan bersama ayahmu di hari Ayah.
Amira, siapa sangka kata kata gurunya telah mengguggah perasaannya yang masih polos. merasuk ke dalam jiwanya yang murni.
Matanya berbinar penuh semangat. dia sudah memutuskan untuk memberikan kaos kaki di hari Ayah.
Beberapa hari lalu Amira melihat kaos kaki ayahnya sudah bolong hingga jempol kakinya mencuat keluar. Ayahnya hanya buruh pabrik dengan gaji pas-pasan untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah saja. Karena itu Amira ingin membuatnya senang dan bangga dengan memberikan hadiah kaos kaki untuk sang ayah.
Amira sudah menabung beberapa hari ini, untuk membeli kaos kaki dari sebuah toko yang sering dia lewati saat pulang. Dia sudah berbicara dengan kakak penjaga toko agar menyimpan satu untuknya, karena dia pasti akan datang untuk membelinya.
Janjinya bukan sekadar janji. Dia sungguh-sungguh menabung uang sakunya ke dalam celengan ayam kesayangannya. dia bahkan rela tidak membeli es krim kesukaannya demi membeli hadiah untuk ayahnya.
Dan tibalah hari ini, satu hari sebelum hari ayah. Amira pulang sekolah dengan gembira, tak sabar ingin memecahkan celengan ayamnya.
sesampainya di rumah Amira langsung melempar tas nya di kasur dan bergegas membuka laci lemari dimana celengan ayamnya tersimpan.
tapi, celengan ayamnya tidak ada. uangnya hilang. dengan panik dia mencari keseluruh ruangan, tapi celengan tidak ditemukan di manapun. uang yang sudah ditabungnya berhari-hari hilang tanpa jejak.
sambil membendung air matanya dia datang ke ibunya di dapur.
"Ibu, apa ibu lihat celengan ayam milikku?"
"Tidak, apa kamu sudah mencarinya dengan benar?" "Sudah, Bu. tapi tidak ada." jawabnya terisak-isak.
"Sayang, jangan menangis ya. nanti ibu bantu carikan. Sekarang kamu bantu ibu dulu belanja ya nanti ibu kasih upah."
Amira pun pergi belanja dengan hati yang sedih. Dia tidak habis pikir bagaimana celengannya bisa hilang.
Amira melewati toko yang beberapa hari lalu dia datangi. Dia berbicara lagi dengan penjaga tokonya.
"Kakak, uang Amira hilang. Amira ingin beli kado buat ayah. Amira hanya punya uang segini saja. Apa ada yang bisa Amira beli?" ucap Amira menunjukkan uang yang cuma beberapa ribu dalam genggamannya. Sedangkan harga barang di toko itu pasti mahal.
"Kamu ingin membeli kaos kaki 'kan?" tanya penjaga toko itu. Amira mengangguk lesu.
"kalau gitu, kamu boleh pilih kaos kaki mana yang mau kamu beli."
Amira menatap penjaga toko itu bingung.
"Kamu beruntung, Dik. hari ini kami sedang diskon besar-besaran menyambut hari Ayah. Jadi, khusus hari ini kamu dapat harga spesial."
Amira merasa senang mendengarnya. Gadis itu langsung memilih kaos kaki yang ingin dia beli. Semua kesedihannya seketika hilang. dia pulang ke rumah dengan perasaan riang gembira.
Setelah gadis kecil itu menghilang dari pandangan, penjaga toko itu bilang pada kasir, "Tolong masukan belanjaan tadi ke dalam tagihanku. Aku akan membayarnya."
Sesampainya di rumah,
"Ayah macam apa yang memakai uang anaknya untuk berjudi hah?! dasar tidak tahu malu! Kau bahkan sering tidak memberikan uang saku untuknya! Di mana pikiranmu sebagai Ayahnya"
Amira seketika itu membatu mendengar pertengkaran orang tuanya. Apalagi mendengar kata kata ibunya yang dilontarkan kepada ayahnya.
Amira terlalu kecil untuk memahami masalah yang dihadapi orang tuanya. Dia tidak paham alasan ayahnya mengambil uang miliknya. Yang dia tahu bahwa dia merasa dikhianati oleh ayahnya. dia merasakan sakit di ujung hatinya.
Amira menangis. meski ayahnya mencoba menghiburnya dan berjanji akan mengembalikannya. Amira tidak berhenti menangis karena bukan uang itu yang dia inginkan.
Akhirnya kado kaos kaki untuk ayahnya tidak pernah diberikan kepada ayahnya.
Sepuluh tahun berlalu, Ayahnya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ibunya menangis terisak-isak. meratapi kepergian suami tercintanya. meskipun dia hanya bisa menghasilkan sedikit uang untuk kebutuhan sehari-hari, meskipun dia cuma suami yang selalu membuat masalah dengan kebiasaannya berjudi. Ibunya tetap merasa sangat kehilangan.
Namun tidak demikian dengan Amira. Tidak ada satupun air mata yang menetes. Amira sendiri tidak mengerti. Apakah karena dia masih belum bisa memaafkan ayahnya? Ataukah sudah tidak tersisa lagi cinta untuk ayahnya?
Suatu hari seorang wanita datang berkunjung ke rumah tak lama setelah kepergian ayahnya. Waanita itu memperkenalkan diri sebagai Agen asuransi. dia bilang ayahnya telah membayar premi asuransi jiwa setiap bulannya. dia ingin memberikan uang santunan kepada keluarganya agar kelak saat dia meninggal kebutuhan keluarganya tetap tercukupi.
"Bukan hanya itu, beliau juga meminta saya memberikan ini."
Wanita itu mengulurkan sebuah kotak hadiah berukuran besar. Saat Amira membuka kotaknya, dia terkejut melihat isinya. Sebuah boneka beruang berbulu coklat yang besar dengan pita di lehernya.
Dia ingat pernah meminta dibelikan boneka beruang itu kepada ayahnya. Tapi sang Ayah tidak pernah membelikannya dan hanya menjanjikannya terus dan terus.
Dan sekarang setelah sepuluh tahun berlalu. Sang ayah mengabulkannya. Tanpa dia bisa mengucapkan terima kasih. Tanpa dia bisa membalasnya. Akhirnya tangisnya yang tak mampu dikeluarkannya saat kematian sang ayah tumpah tanpa bisa dibendung lagi. Sebongkah es yang ada di hatinya selama ini akhirnya mencair menjadi lautan kesedihan.
"Apa yang sudah kau berikan pada ayahmu hingga hari ini? Apa kau sudah menyampaikan bahwa kau menyayanginya?" kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Jawaban dari pertanyaan itu, "Tidak ada." Dia tidak pernah memberikan apapun pada ayahnya sampai saat ayahnya meninggal. Kaos kaki yang ingin dia hadiahkan kepada ayahnya masih tersimpan rapih di lemari. Ayahnya juga tidak pernah tahu bahwa dirinya sangat menyayangi ayahnya karena kata itu tak pernah terucap satu kalipun dari bibirnya. akhirnya semua itu jadi penyesalan sepanjang hidupnya.
Seburuk-buruknya Ayah, ayah tetap lah Ayah. meski sepanjang hidupnya dia menjadi ayah yang tak berguna, meski dia hanya bisa menyusahkan istri dan anaknya saja. Di akhir hidupnya pun dia memikirkan keluarganya. Dan berusaha menjadi ayah yang berguna.
Kau tidak akan pernah tahu seberapa keras usahanya untuk membesarkanmu, dan beliau tidak pernah ingin kau tahu sekeras apa hidupnya untukmu. karena itu cintailah Ayahmu selagi dia masih ada di sisimu. karena berkat beliau lah kau ada di dunia ini.