Semilir angin mengibaskan rambut panjang wanita yang berdiri diatas pohon rindang. Melepaskan semua penat dibenaknya, raut wajah yang datar disertai tutupan mata, melihatnya saja membuat roni tenang, entah dari mana wanita itu berasal.
Hampir setiap hari ia akan melakukannya, bahkan aku selalu disuguhkan dengan sikap yang aneh dari wanita itu. Rasanya aku selalu ingin menghampiri dan menanyakan namanya. Namun aku terlalu gugup untuk berhadapan langsung dengannya.
Tak mungkin aku terusan menahan rasa ingin tahu ku tentangnya, melihatnya tersenyum dari jauh saja sudah membuatku tersipu malu. Saat dia pergi aku menyempatkan diri untuk membuntuti wanita berambut panjang itu, bahkan aku seperti orang bodoh yang terus diam menyukai orang yang bahkan tidak kukenal.
Perasaan ini terus tumbuh bagaikan tetesan air yang akan penuh dengan sendirinya. Sampai kapan aku terus begini apakah aku rela jika dia akan pergi dan tak dapat kutemui setiap harinya. Memberanikan diri mendekati wanita itu yang sedang duduk ditaman kampus. Kuhampiri dengan perlahan dan duduk disampingnya sambil membuka makan siang yang baru kubeli dikantin kampus.
Wanita itu hanya menatap heran diriku. Hampir 5 menit kami terdiam dalam lamunan masing masing, satu kata yang ada dibenakku spontan keluar dengan sendirinya dari mulutku yang kaku dari tadi. “Siapa namamu?” lirihku penasaran. Wanita itu terdiam sejenak dan mulai berbicara”Aku raisa” ucapnya sambil mengambil beberap helai rambutnya.
Jantungku berdegup sangat kencang pertama kali memandang dengan dekat wajah cantiknya.”Ku harap kita dapat berteman” ucap roni mengulurkan tangan lebamnya ke raisa. Seketika kedua tangan itu saling bertemu dan itu hari pertama raisa bertemu pria yang deluan menyapa dikampus ini.
Raisa tersenyum pada roni dia berpikir kenapa pria seperti dia mau berteman dengannya, padahal dia bukanlah wanita spesial dan hanya wanita biasa yang orang lain enggan berbicara. Keduanya saling mengobrol dikursi kayu klasik, tertawa ria bersama seakan sudah tak canggung lagi berbicara.
Hampir setengah bulan mereka berteman, namun roni masih belum berani mengatakan perasannya kepada raisa, bukan karena takut tapi waktu yang tidak tepat. raisa begitu bahagia dari sebelumnya, menghabiskan waktu dengan roni benar benar mengasyikkan. Dia begitu beruntung mempunyai teman yang menjaga dan menyanginya dengan sepenuh hati.
Mulut roni hanya terpaku pada penampilan raisa yang menggunakan dres selutut bertabur wajah natural yang dipoles dengan bibir merah muda yang mengajaknya untuk pergi jalan jalan. Dengan senang hati dia segera mengambil motor vespanya menuju raisa yang telah menunggu dipersimpangan kampus.
Dengan segera roni menancapkan gasnya menuju tempat yang indah bersama raisa, hamparan hijau rerumputan ditepi sawah, suara burung yang berdecik mengelilingi patung sawah. Menambah hikmat pelukan yang sudah melingkar dipinggang roni.Seperti mimpi disiang bolong roni tak percaya wanita yang ia cinta berada dekat dengan nya.
Tergambarkan rasa bahagia yang begitu hebat dari ekspresinya yang terlihat jelas dispion. Udara yang hangat tak bisa mengatur jantungnya yang terus berisik seperti guncangan hebat yang dirasakan. Sampailah mereka di salah satu pantai yang menampilkan cahaya senja yang indah.
Desir ombak menyapu pasir putih, kaki raisa yang telanjang menyusuri pantai dengan perasaan gembira yang membuat hidupnya berwarna setelah bertemu roni.
Lamunanya terhenti saat iringan lagu dari gitar membuatnya ikut hanyut dalam irana. raisa menarik pelan tangan roni yang dingin untuk berdansa dikesenjaan yang jingga ini. Roni hanya mengikuti gerakan demi derakan sesuai langkah kaki raisa. Walaupun sebelumnya tak bisa berdansa tak tau mengapa saat berada dekat dengan raisa dia bisa melakukan segala hal.
Tak perlu menunda lagi roni memberanikan diri untuk menyatakan cinta kepada raisa yah alakadarnya saja roni tak ada persiapan sama sekali. Dia berlutut dihadapan raisa dengan perasaan yang gugup memegang tangan raisa”Ra aku tahu selama ini kita temenan, tapi aku nggak bisa lagi nahan perasaan ini lagi ra” menatap raisa dengan harapan.”Maksud kamu apa ron?” menundukkan kepalanya menatap roni.
“Aku suka sama kamu ra, walaupun ini sudah lama, aku akan terima semua keputusan kamu?” ucapnya dengan lemah. Raisa tau kalo roni betul betul tulus mencintainya itu terlihat dari sikap nya selama ini yang selalu mengistimewakannya.
“Apa kamu nggak akan nyesel suka sam aku, walaupun hanya sebentar mnemanimu didunia ini” tanya raisa menahan kesedihannya. Roni hanya menyipitkan kedua matanya bingung dan tak mengerti dengan semua omongan raisa. “aku nggak akan nyesel suka sama kamu ra, karena perasaan ku sudah memilih dirimu sejah awal” meyakinkan raisa. “Tapi kamu jangan sedih dan menyesal atas apa yang terjadi nanti” balasnya dengan memeluk hangat roni. Anggukan pelan roni yang sudah berdekapan dengan raisa.
Tak dapat digambarkan perasaan senang roni, spontan dia mencium bibir raisa untuk menyalurkan begitu cintanya dia kepadanya. Raisa hanya pasrah karena dia juga menginginkannya. Mereka hanyut didalam asmara yang mengebu gebu.
****
Roni menyuguhkan secangkir kopi kepada kekasihnya yang tengah duduk ditaman saat pertama kali mereka bertemu. Aroma kopi membuat raisa merasa lebih tenang dan menegukkan kopi tadi. Dia nggak percaya roni sudah menjadi kekasihnya. Namun disela kebahagiaannya raisa tengah mencari cara agar memberitahu semuannya kepada roni.
“Ron aku mau ngomong sesuatu”
“Ngomong aja ra, emangnya tentang apa sih yang buat pacar aku ini gelisah” mengusapkan tangannya kepuncuk kepala raisa.
“Jadi tuh gini, misalnya kalo aku nda ada, tinggalin kamu gitu aja tanpa ngasihh tau, apakah kamu akan sedih ron?” menatap dingin roni sepertinya begitu banyak pikiran dipacarnya ini.
“Nggak mungkinlah ra, kita akan selalu bersama sampai kepelaminan” tidak menggapi omongan konyol raisa yang terdengar nyata.
Mungkin itu adalah kata kata terakhir yang diucapkan raisa kepada roni. jika roni menaggapinya dengan serius dan menanyakan keadaan pacar nya itu, bisa saja dia masih bertemu dengan raisa.
Karena setelah roni mengantarkan raisa kerumahnya, seakan raisa hilang ditelan bumi. Roni sudah mencari tempat yang biasa dikunjungi pacarnya itu tapi hasilnya tetap nihil.
Bukan main hati roni seperti dijabik jabik saat mendengar raisa pergi.”Kamu dimana ra? Kembali ra aku khawatir sama kamu, jangan tinggalin aku” risakan tangis pria berkulit putih yang bersimpuh dipinggir jalan.
****
Badan kurus yang bersender dibalik pintu, terpaku lemah untuk berjalan, seakan telah kehilangan raga yang telah pergi tanpa perpisahan.namun kadaaan ini hanya memperburuk keadaan karena itu hanya membuang waktu. Dengan sigap roni mengambil jaket hitamnya dan menyalakan motor vespanya kearah jalanan untuk kerumah raisa lagi.
Saat turun dari motornya tetangga raisa mendatangi roni dengan memberikan sebuah surat ditangannya”Ini pesan raisa kepada saya sebelum pergi mas”
“Maksudnya apa yah mba?” bertanya kepada orang yang memberikan surat tadi namun mba tadi segera pergi menjauh dari roni. Tanpa basa basi roni membuka surat merah muda yang berisikan foto foto kegembiraan raisa selama ini.
“Ron kamu pasti khawir banget yah, maaf ngak kasih kabar buat kamu karena aku nggak sanggup buat natap kamu langsung.
Mungkin ini salam perpisahan dari aku ron... makasih banget udah buat kehidupan aku berarti selama ini.
Semenjak ketemu kamu aku merasakan kehangatan dan kepedulian yang luar biasa dari seorang teman dan seorang kekasih. Bahkan perasaan ini masih sekarang nggak bisa aku jelasin pake kata kata. Ron... sebenarnya aku mengidap kanker stadium 4 yang udah lama banget aku sembunyiin, pada saat itu aku tahu aku nggak akan bertahan hidup lama, tapi disela sela kepasrahan ku kamu datang memberikan aku secercah harapan untuk hidup lagi.
Kukira aku akan sembuh! Ternyata nggak ron, kanker ini terus mengerogoti tubuhku yang lemah. Aku tahu kamu akan tersakiti dengan semua ini. Aku harap kamu mengerti dan memulai hidup baru yang bahagia".
Kekasihmu
Raisa
Dengan cepat sekujur roni bergetar hebat menatap isi surat yang usang itu. Tak sanggup berkata kata dengan tersiksa dia menangis pilu dibawah pohon yang mengingatkannya kembali kepada sesosok kekasihnaya itu.
Selama ini dia hanya melihat senyum manis dari raisa. Padahal begitu penuh dengan beban yang berat untuk dipikul. Penyesalan memang tak bisa dipungkiri bagi roni seakan ingin memutar waktu kembali. “Raisa!!” teriaknya mendekap suratnya didada.