Banyak hari sudah berlalu, banyak tempat sudah ia kunjungi, melihat ketinggian dari atas langit sudah jadi hal biasa baginya.
Hari ini, udara Tokyo terasa sangat sejuk, musim semi telah tiba. Ia hanya pendatang di sini, berkunjung sebentar lalu pergi untuk mengunjungi tempat selanjutnya.
Bukan ingin jalan-jalan, namun itu memang perkerjaannya. Hari ini ia dengan sengaja ia keluar dari tempat tinggalnya, Yaitu Hotel. Mencari sesuatu yang dapat ia lakukan.
Di jalan kota Tokyo ini terasa sangat ramai. Apalagi langit yang menandakan bahwa waktu sudah tak lagi siang. Ia mengencangkan jacket tebalnya. Meski sudah memakai baju berlapis, tapi tetap terasa sejuk menusuk tulangnya. Ia mengeluarkan ponselnya, mengecek suhu udara di kota ini. 10°c cukup dingin Sore ini.
Wajar saja suhu sudah menurun, karena sebentar lagi akan tiba malam. Ia memilih waktu yang saah untuk jalan-jalan, dan sekarang juga merupakan waktunya orang kerja untuk pulang.
Matanya dengan sengaja terus menjelajahi seisi kota ini, gedung-gedung yang tinggi, tulisan-tulisan yang tidak ia mengerti, layar-layar besar yang merupakan papan iklan.
Meski ini bukan pertama kali baginya kesini, namun entah kenapa musim semi ini terasa special baginya.
Sibuk dengan aktivitas sendiri, semua orang berlalu lalang, membawa tas, memakai jacket yang tebal, seolah mereka tak saling perduli, tak jarang ada yang saling bertabrakan karena ramainya jalanan ini.
Seperti dirinya, "Aduh!" Ringisnya,
"Maaf," ucapnya. Setelah itu dengan Reflek ia menepuk pelan keningnya. Dasar goblok!
Ia melupakan di mana dirinya berada saat ini, di tokyo jepang.
"iya gak papa," jawab seorang gadis cantik, pipinya memerah karena dinginnya udara, kulitnya seputih salju, dan rambutnya sangat hitam, wajahnya cantik, namun ada yang beda. Sudut matanya yang indah itu mengalirkan air mata.
"Kamu orang indonesia?" tanya Devan.
"Ah, kamu juga!" keduanya saling menyadari bawa mereka tadi menggunakan bahasa indonesia di negara orang.
Devan tersenyum, menampilkan lubang di pipinya, membuat dirinya bertambah manis. "Gak nyangka bisa ketemu orang indonesia di jepang," ujarnya dengan nada jenaka.
Gadis itu terkekeh, ia segera mengelap air matanya meskipun ia sedang sedih, bukan berarti ia harus menunjukannya kesemua orang.
"Ya, aku juga gak nyangka bisa ketemu orang indonesia," jawabnya sambil tersenyum ramah, menampakan gigi gingsulnya.
"ah, Kenalin Aku Devan, kalau kamu?" Devan segera mengukurkan tangannya. Ia lupa belum mengenalkan dirinya.
"Saya Raina Akisame," jawabnya, tangannya yang begitu kurus dan putih membalas uluran tangan milik Devan. Terasa sejuk, seperti salju.
Devan melihat ke arah Raina, dia terlihat aneh, kenapa menggunakan baju berlengan pendek di musim semi, dan Devan juga baru menyadari penampilan gadis itu benar-benar berantakan. Rambutnya yang terlihat tak tersisir, Wajahnya yang pucat, bibirnya yang membiru, ada air di sudut matanya, menandakan ia baru saja menangis, serta pipinya yang memerah. Bukan karena sejuknya udara, Namun seperti bekas tamparan.
"Kamu kenapa pakai baju lengan pendek di musim semi?" tanya Devan. Dia menyesali pertanyaannya, ah kenapa dia begitu penasaran dengan urusan orang lain.
"saya," Raina gelagapan, tubuhnya terlihat gemetaran. Sejak tadi matanya tak berhenti melihat sekeliling, seperti sedang di intai orang lain gerak-geriknya.
Tiba-tiba hujan turun, bersama dengan air mata gadis itu. Devan terlihat panik, ia benar-benar tak sanggup menyaksikan seorang wanita menangis. Semua orang berlari menepi, meneduhkan diri. Ada beberapa orang yang sudah sedia payung langsung membuka payung-payung mereka.
Dengan ragu Devan memegang pundak gadis itu, badannya yang kurus semakin bergetar ketika tepukan pelan Devan di bahunya. Tangisnya semakin pecah, sudah lama ia ingun menangis seperti ini. Selama ini ia hanya bisa menahan tangisannya dengan siksaan yang terus saja di berikan kepadanya setiap hari.
Isakannya beradu dengan suara air hujan sejuk yang jatuh menuju aspal, bau air hujan tercium pekat di hidung mereka.
"Hei," suara lembut devan menegurnya, "kenapa?" tanyanya. Raina malu, ia menangis di depan orang tak dia kenal, membuat pria ini kehujanan dan basah kuyup.
"Maafkan saya," ucapnya, tadi ia pura-pura bahagia dengan tersenyum palsu.
"Kamu gak salah, untuk apa minta maaf," tutur Devan.
Tanpa berfikir panjang Raina langsung memeluk Devan, saat ini yang ia butuhkan adalah pelukan. Pria itu sedikit kaget dengan menegangnya tubuhnya. Raina menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria ini. Wangi maskulin menyusup melalui hidungnya, memberikan rasa tenang.
Lima belas menit berlalu, gadis itu tetap memeluk Devan di bawah guyuran hujan. Devan tak membalas pelukannya, namun juga tidak menghalanginya, suara detak jantungnya pasti terdengar oleh Raina. Ini pertama kalinya bagi Devan di peluk seorang wanita.
Sejak tadi Devan mengelus rambut lembab milik Raina, membuat semakin lama gadis itu semakin tenang dan tangisnya mereda, baju milik Devan sudah basah, bukan hanya karena hujan, namun juga karena air mata Raina yang membasahi dadanya.
"maafkan saya," ucap Raina lagi, ia melepaskan pelukannya yang erat, tangisnya sepertinya sudah berhenti, hidungnya memerah, wajahnya benar-benar semakin kacau.
"Kamu gak buat salah kok,"
"Ada apa dengan mu?" tanya Devan, kali ini ia tidak bisa bilang untuk tidak perduli.
"Sa-saya, butuh bantuanmu," ucap gadis itu gugup.
Devan tersenyum, "saya tak mau membantu orang yang cengeng," candanya. Membuat suasana mencengkam di antara mereka berubah perlahan.
"Saya mohon bantu saya," Kali ini Raina terlihat semakin teguh. Terlihat dari wajahnya yang terlihat tegas dan serius, tak di temukan Devan kesedihan di sana.
"Baiklah. aku akan bantu kamu," ucapnya. Masih dengan nada yang lebut seolah itu adalah ciri khasnya.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Devan.
"Bantu saya, saya akan balas dengan apapun. Tapi tolong, bawa saya dari sini." ucapnya menggebu.
Devan ingin menanyakan alasannya. Namun ia tak berani bertanya. Setiap orang punya privasi.
"Baiklah," jawabnya.
"Ikut saya,"Devan menarik tangan gadis itu. Raina menatapnya heran.
"Kamu tak tanya alasannya?" tanya Raina.
"Setiap orang punya privasi."jawabnya sambil tersenyum. Setelah itu melanjutkan jalannya di ikuti oleh Raina di belakangnya.
"Saya tahu kamu orang baik," ucap Raina dengan senyum manisnya. Devan hanya membalasnya dengan senyuman.
Di tengah hujan keduanya berjalan, hujan musim semi, air yang hampir berbentuk salju, Udara yang sejuk, mereka saling bergandengan melewati orang-orang yang jalan dengan payung. Mereka terus melangkah bersama, sambil tersenyum. Entah kenapa terasa akrab seperti sudah mengenal lama.
Manusia tak pernah tahu apa takdir mereka, siapa jodoh mereka, dan apa yang terjadi di masa depan.
Devan dan Raina. Bertemu tanpa tahu apa yang terjadi, bertemu tanpa kesengajaan, bertemu di tengah hujan.
Mungkin mereka takdir, sudah di rencankan oleh tuhan. Dan di pertemukan hari ini, Raina mengeratkan genggamannya dengan Delvin, senyumnya mengembang sempurna.
Mungkin ia sudah jatuh cinta tanpa sengaja, jatuh cinta pandangan pertama. Sungguh indah, akhirnya ia bisa melepaskan diri dari siksaan yang selalu menantinya di rumah. Akhirnya ada seseorang yang mau menolongnya.
***
"Devan!" Teriak Raina, Rambut hitam berkilaunya di gerai indah. Devan yang baru saja pulang dari tugasnya sebagai seorang pilot langsung tersenyum senang, ketika melihat Raina. Raina yang terus melambaikan tangannya ke arahnya.
Ia masih mengenakan pakaian lengkap seorang pilot, wajah tampannya semakin tampan ketika memakai seragam itu. Di tambah baret pilot miliknya
Ia berlari, menyeret kopernya dengan cepat tak sabar untuk memeluk Raina si gadis yang di tolongnya tiga tahun lalu.
"Ah, aku beneran rindu tahu." rajuk Raina pada Devan, Devan terkekeh melihat wajah cemberutnya. Keduanya saling mengeratkan pelukan, melepaskan rasa rindu yang kian tertahan lama.
"Maaf," Raina kembali meminta maaf, seperti tiga tahun lalu, sampai sekarang gadis itu terus saja meminta maaf.
"Untuk apa?" tanya Devan, dan devan selalu tak menerima kata maafnya.
"Entahlah," Raina tak tahu kenapa ia selalu meminta maaf.
Selama tiga tahun hubungan mereka semakin membaik, Raina yang sudah menjadi desainer terkenal, dan Devan yang sudah naik pangkan menjadi captain pilot.
Setiap ia bertugas selalu saja Raina mengantarnya, setiap ia pulang selalu saja Raina yang menjemputnya. Hubungan keduanya berubah special.
"Bolehkan aku meminta sesuatu?" tanya Devan tiba-tiba. Wajahnya yang terlihat selalu tersenyum berubah serius.
"Apa?" tanya Raina. Jarang ia melihat ekspresi Devan berubah serius.
"Bolehkah aku memintanya? meminta balasan ketika aku menolongmu waktu itu?" tanya Devan.
Raina mengerutkan dahinya, selama tiga tahun. pria ini tak pernah membahas hal itu. namun tiba-tiba saja ia ingin memintanya.
"Tentu saja boleh, hutangku akan selalu ku balals." jawab Raina dengan tersenyum.
Devan merogoh saku bajunya, setelah itu mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah. Raina tampak kaget melihatnya, apalagi ketika pria itu membukuk di depannya.
"Raina, di musim semi tiga tahun yang lalu aku membantumu," ucap Devan. Sekarang mereka menjadi pusat perhatian. Seorang pilot tampan yang sedang melamar seorang wanita cantik. Sungguh romantis, di tempat ramai seperti ini.
Jantung Raina berdegup kencang tanpa henti, "bolehkan aku meminta balasannya. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-ana kita, aku ingin kamu selalu menjemput dan mengantarku di bandara. Aku ingin melihat kamu ada menemani tidurku, dan aku ingin di setiap musim Kau selalu menemaniku."
Raina menegang, matanya merasa memanas ketika melihat pria itu berlutut deminya. Tak pernah ia sangka pertemuan tiga tahun lalu membawakanya seorang jodoh seperti Devan, Senyum semuringah terpancar di wajahnya. Bersamaan air mata bahagiannya yang mengalir deras.
"Aku mau, Aku mau kita bersama selamanya."
"Will you marrie me?" tanyanya dengan senyumnya. Menampakan sebuah cicin permata di dalam kotak tadi yang tengah ia tunjukan kepada wanita sepecial di depanya. Raina.
"Yes, I do," jawabnya membuat tepukan meriah dari para penonton bersorak ria. Devan memasangkan cicin di jari Raina. Tak tahu betapa bahagianya ia saat ini. Ia segera memeluk Raina, mengecup dahinya sebentar.
Keduanya menangis bahagia, tak tahu berapa banyak saksi kisah cinta mereka, banyak masalah yang mereka hadapi. Akhirnya mereka di satukan oleh ikatan sakral pernikahan.
"Raina i love you!" teriak Devan menggelegar seisi Bandara. Ia sungguh senang. Raina terkekeh mendegar jawabanya.
"masa kamu gak jawab!" rajuknya ketika Raina hanya terkekeh.
"oke baiklah,"
"Aku juga cinta kamu," bisik Raina sambil mengecup pipi Devan. Wajahnya terasa memanas karena malu.
Merasa tak puas Devan segera menarik wajah Raina dan mencium bibirnya. seluruh bandara hanya menyaksikan keromantisan mereka yang membuat banyak pasang mata iri.
Bukan hanya membawa sejuk, hujan di musim semi juga membawa cinta, menyatukan Raina dan Devan dalam indah nya cinta.
Memang takdir tak bisa di bohongi.
Selama tiga tahun Raina menunggu ungkapan ini dari Devan. Dan akhirnya ia mendengarnya dengan bahagia.
TAMAT
*Pertama kali buat cerpen. nanti kalau gak puas pesan aja suruh buat novelnya. Arigathanks:)
Terima kasih untuk yang membaca cerita 'Hujan di musim semi,' semoga bahagia selalu.*