Aku, Marquise de Bellard, bersumpah atas nama kerajaan! Aku tak akan pernah tunduk kepada siapapun!
===
'Aku Putri Mahkota' adalah judul novel yang tengah naik daun belakangan ini. Mengambil tema umum tentang kerajaan, tetapi menyajikan sebuah cerita yang membuat para pembaca dapat melihat perspektif lain mengenai tokoh antagonis.
Yah, novel itu memang sangat populer di kalangan remaja. Hampir seluruh teman-temanku menggandrungi karya dari penulis baru itu–membuatku penasaran dengan novel yang digadang-gadang dapat menandingi kepopuleran 'Tiba-tiba aku menjadi seorang putri'.
Seingatku, malam itu aku sedang terbaring rileks di atas kasur sembari menatap barisan kata yang ada pada halaman novel. Aku terlarut dalam cerita, sampai-sampai tidak menyadari bahwa hari telah semakin gelap.
Rasa kantuk mulai menyerbak–mataku pun tak dapat lagi bertahan. Aku tertidur di atas halaman novel yang terbuka.
Namun, masalahnya bukan itu...
Aku terbangun di pagi hari. Dengan mata yang masih sedikit lengket, aku mulai bangkit di atas tempat tidur ini. Fokus mata perlahan mulai kembali. Hingga tiba saat di mana aku dapat melihat sepenuhnya.
"Ngg ... HAH?!" Dan di sanalah, aku terkejut.
Bukan pemandangan kamar berantakan seperti biasanya, aku justru melihat berbagai macam properti mewah di sekeliling. Ornamen serta aksara aneh yang terukir di atas emas mendominasi ruangan besar ini.
"A-Apa ini?!" Aku bertanya-tanya.
Sejak kapan kamarku jadi kelas bangsawan seperti ini?!
Krieet...
Suara menyeret terdengar, atensiku pun lantas tertarik pada bunyi itu. Pintu ruangan luas ini terbuka. Menyisakan seorang wanita berpakaian maid di sana.
Wanita itu lekas mendekatiku setelah beberapa saat hanya terdiam di sana. "Tu-Tuan Putri sudah bangun?"
Eh? Telingaku tidak salah dengar, kan?
"Tuan Putri?"
"Syukurlah. Tunggu sebentar, Tuan Putri, Hamba akan panggilkan Tuan Muda Aster." Wanita maid itu berlari lagi keluar.
Meninggalkan aku dengan rasa bingungku sendiri di sini.
Tuan Putri? Apa maksudnya itu? Dan... Aster?
Tak lama kemudian, wanita muda tadi kembali dengan seorang pria tampan di sebelahnya. "Putri Marquise!" teriak pria dengan busana mewah khas bangsawan tersebut.
Dia siapa lagi? Dan ... Putri Marquise?!
"Ah, saya sangat khawatir karena Putri tak kunjung sadarkan diri selama tujuh hari," ucap laki-laki itu sembari menggenggam kedua tanganku. "Apa Anda masih merasa kurang enak badan?"
"Ah." Mulutku seolah membeku. Wajah pria ini seperti tidak asing, tetapi aku masih berupaya meyakinkan diriku bahwa itu hanya salah sangka.
Jika memang aku tidak salah dengar, maka itu artinya pria ini bernama Aster. Dan juga, pupil mata biru serta rambut putih, kalau mataku masih berfungsi dengan baik maka itu berarti...
Dia, Asteria an Therosa?!
Salah satu karakter penting dalam novel 'Aku Putri Mahkota'. Dia adalah teman satu-satunya sang Tokoh Utama–Marquise de Bellard.
Seorang pria yang telah ditempa oleh kehidupan, ayah dan ibunya meninggal dunia saat perang dingin berlangsung. Karena ketamakan para petinggi kerajaan, dia pun harus merelakan statusnya sebagai Putra Bangsawan dan hidup sebagai gelandangan.
Namun, semua berubah saat Marquise hadir dalam hidupnya. Putri itu mulai membantunya bangkit secara perlahan. Hingga ia berhasil merebut takhtanya kembali saat sudah menginjak usia dewasa.
Dan... itu artinya, aku adalah Putri Marquise?
Sekilas, bayangan pantulan dari cermin yang ada di depanku, menjawab seluruh rasa bingung yang menyelimuti ini.
Aku berpindah ke novel itu?!
"Yah, tubuhku masih terasa sakit. Tapi, ini masih bisa ku atasi," jawabku dengan garis lengkung yang menghiasi bibir.
Apa seperti ini gaya bicara Putri Marquise?
Aster mematri tatapan mata padaku.
Sepertinya... tidak?
"Tidak biasanya Anda tersenyum seperti itu. Apa Anda sedang bahagia hari ini? Mimpi indah?" Ia bertanya sekali lagi.
"Haha! I-Iya begitulah. Tapi, apa yang kau lakukan di sini?" Pada saat bersamaan, otakku mengirim sebuah pemikiran yang sangat amat membantu.
Aku mengikuti pertanyaan Marquise pada novel!
"Itu karena Tuan Putri tidak pernah membalas suratku lagi sejak tiga tahun terakhir. Berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Anda, maka saya pun memutuskan untuk kemari." Aster menghela napas. "Hah ... saya tau Anda adalah Putri yang kuat, tapi tetap saja. Jangan mengatasi para berengs*k itu sendirian."
Para Berengs*k?
"Nggak perlu sampai segitunya, Aster. Tapi, makasih."
"Aster?" Ia kembali memamerkan tatapan mata ambigu itu.
Apa ada yang salah dengan ucapanku?
"Tuan Putri, Anda biasanya memanggil saya dengan panggilan 'Astrid'." Dia mengangkat kedua alisnya. Tampak jelas bahwa laki-laki ini sedang menunggu penjelasanku.
Oh, Dewa! Kenapa harus seperti ini? Aku lupa tentang satu hal!
"A-Ah. Apa kau tidak ingin aku memanggilmu dengan namamu yang sebenarnya?" Tapi, lagi-lagi, otakku memberi jalan keluar saat terdesak.
Jawaban itu cukup untuk membuat kecurigaan Aster berkurang. "Maaf, Tuan Putri." Ia tersenyum padaku. "Tentu saya sangat bersedia."
Aku menanggapinya dengan senyuman tipis pula.
Aster lalu berjalan keluar dari ruangan. Ia ingin membiarkanku istirahat lagi. Juga, dia mengucapkan sesuatu tentang 'Jamuan kerajaan?'.
Lambat laun, aku mulai bisa beradaptasi dengan kehidupan baru ini. Ternyata, hidup sebagai Putri Marquise tidak seburuk yang dijabarkan dalam novel.
Meski kadang harus berhadapan dengan para musuh yang iri kepada Putri Marquise–tapi, asalkan aku tidak memancing mereka untuk beradu fisik, semua pasti berjalan lancar.
Aku akui, aku tak sekuat Marquise.
Beberapa bulan kemudian...
Tempo hari, Aster mengirim surat kepadaku melalui burung merpati. Ia mengatakan bahwa dia ingin bertemu denganku dan mengadakan pesta kecil. Jauh dari pikiranku, Aster yang ditulis sebagai tokoh yang kejam itu justru takluk oleh pesta putri kerajaan?
Aneh, tapi aku suka perubahan ini!
Aku sedang duduk di depan meja rias sembari membiarkan para maid merapikan penampilanku.
"Tuan Putri, Apa Anda ingin mencoba model rambut kepang?" tanya salah satu maid. Ia tersenyum lebar, kentara sekali bahwa mereka sudah tak lagi takut kepada sosok Putri Marquise.
Aku benar-benar mengubah citranya!
"Jika itu bagus, lakukan saja!" perintahku menyetujuinya.
Selepas tampil cantik berkat keterampilan tangan para pelayan, aku pun berjalan menuju ke halaman depan sembari menunggu kedatangan Sang Pangeran.
Maaf, Marquise, tapi cerita novel ini kini menjadi milikku.
Selang beberapa menit, terdengar suara riuh dari kejauhan. Seorang pria menunggangi kuda putih terlihat mendekat ke arahku. "Hormat saya, Tuan Putri Marquise!"
"Aster!" Aku tersenyum senang sebagai wujud sambutan.
Pria itu tersenyum, tapi tidak mengucap apapun. Laki-laki itu turun dari kendaraan hidupnya terlebih dahulu dan baru melakukan gerakan penghormatan khas bangsawan.
Aster membungkuk sopan lalu kembali bangkit. "Saya tidak tahu ternyata Putri Marquise menyukai gaya rambut kepang. Ternyata, ada sisi yang tidak kuketahui, ya ...."
Aku mengibas-ibaskan tangan di depan dada. "Heei ... mau bagaimanapun aku ini seorang putri, tau~!"
"Ah?" Aster terdiam sejenak.
"Apa?" tanyaku.
Namun, Aster menggelengkan kepala. "Maaf, pikiran saya teralihkan," jawabnya.
Hum?
Prok! Prok!
Aster lalu menepuk kedua tangannya secara tiba-tiba. Ia seperti memberi isyarat kepada seseorang.
Mungkin?
"Kau sedang apa, Aster?" Ingin meminta kejelasan, aku pun memberanikan diri untuk bertanya.
Namun, seharusnya aku tak melakukan hal itu...
"Ini adalah isyarat yang biasa Anda lakukan, Tuan Putri," ujar Aster dengan kedua alis terangkat. "Isyarat untuk memulai pesta kecil yang hanya diketahui oleh kita berdua. Saya tak yakin, Kau akan melupakan hal semacam itu?"
Deg!
Bagai tersetrum petir di telinga, aku mematung tatkala Aster mengucap hal tersebut.
Tidak, aku tidak salah lihat. Tatapan matanya saat itu, tampak sarat akan rasa keraguan.
Aku harus segera bertindak!
"Hei, apa maksudmu?" Aku mengubah ekspresi wajahku 180 derajat. "Apa kau baru saja memanggilku dengan sebutan 'Kau'?"
Pasang wajah dingin, bersikap layaknya Marquise!
Aster membisu. "Maafkan kelancangan saya, Tuan Putri." Pria itu membungkuk sekali lagi sebagai bentuk permintaan maaf.
"Huh! Lain kali, jangan bersikap seperti itu! Dasar tidak kenang budi!"
"Maaf."
Aku menghela napas. "Hahh ... yah, akan kumaklumi untuk kali ini, tapi jangan mengulanginya lagi!" perintahku. "Lalu, kapan pesta kita akan dimulai?" sambungku bertanya.
Aster menatapku. "Menunggu Tuan Putri siap. Sekarang?"
"Baiklah." Kepalaku mengangguk meng-iya-kannya.
"Dengan penuh hormat, Nona Marquise."
Aster mempersilakanku untuk berjalan lebih dulu. Akhirnya, setelah melalui perdebatan kecil, pesta kecil antara aku dan Aster akan dimulai!
Yah, rasa antusiasku tak bertahan lama. Semua ekspetasi bahagia yang terpikir langsung lenyap saat aku mengetahui fakta bahwa pesta yang dimaksud Aster bukanlah pesta minum teh.
Melainkan... bertarung!
"Pedang? Kau bilang kita akan mengadakan pesta?" tuntutku tak terima.
Jika tahu akan berakhir seperti ini, aku tak perlu repot-repot berdandan!
"Kenapa Anda terlihat tidak senang, Tuan Putri? Ini bukan yang pertama kalinya kita mengadakan 'Pesta', iya, kan?"
Pesta? Bertarung seperti ini kau sebut pesta?
Dasar! Marquise dan Aster memang dua karakter yang di luar nalar!
"Wah! Tuan Putri dan Tuan Muda akan bertarung! Sudah lama kita tidak melihat mereka beradu pedang!" Samar-samar, aku mendengar suara para pelayan kerajaan yang diam-diam mengintip.
Mereka membicarakanku.
Hei, tolong! Aku bukan Marquise, kau tahu...
"Anda boleh menyerang saya lebih dulu. Tapi, tolong pelan-pelan saja, Tuan Putri."
Aku meneguk saliva. Pandangan mataku melirik ke segala arah. Aku benar-benar tidak bisa fokus kepada manusia yang berada di depanku itu.
Aku masih tak percaya, saat ini tanganku menggenggam pedang berat ini.
Tolong!
"Tuan Putri? Apa ada yang salah?" Aster membuyarkan lamunanku.
Reflek, tanganku mengangkat pedang yang tadi masih menyentuh tanah.
Aku bisa mengangkat pedang ini! Ah, mungkinkah karena kekuatan Marquise?
"Hei, siap atau tidak! Aku akan maju menyerang!" Dengan kepercayaan diri penuh. Aku menatap lurus manusia berjakun itu. Bersiap untuk menyerang kapanpun.
Tapi, reaksi Aster... lagi-lagi menggangguku.
Dia tidak berkedip sejak tanganku berhasil mengangkat pedang.
"Hei." Aster menegur. "Tuan Putri Marquise lah yang mengajarkanku bagaimana cara memegang pedang yang benar. Lucu sekali, wanita yang mengajarkanku menginjak orang lain demi kejayaan–justru salah memegang senjata."
Hei, tiba-tiba atmosfernya terasa berubah.
Pria berambut putih itu mendekat ke arahku. "Aku sudah menduga semuanya sejak kau sadar. Perilakumu bukan seperti Tuan Putri Marquise yang terhormat," bisiknya, "siapa kau sebenarnya?"
Suaranya terdengar semakin mengintimidasi. Meski wujud wanita yang ada di depannya itu adalah Sang Marquise, ia tetap bisa tahu?!
"Aku ..."
Aku harus jawab apa?!
~Tamat~