Saat ini aku sudah tak bekerja lagi karena terkena PHK akibat pandemic yang membuat perusahaan tempat ku bekerja gulung tikar. Selama tidak bekerja , aku dan Satri , istri ku mencoba untuk membuka usaha . Mulai dari usaha frozen, pabrik tahu , sampai warung semua nya bangkrut . Sehingga uang pesangon yang tidak seberapa itu tak bersisa lagi . Kini aku dan istri ku harus putar otak lagi untuk mencari jalan rejeki lain sehingga kami dapat bertahan hidup sampai ajal menjemput. Karena sudah komitmen ku dan istri ku agar kami tidak membebani anak tunggal kami di hari tua nanti.
Di rumah kecil ku yang berada di tengah kota kami tengah berdiskusi untuk kelangsungan hidup kedepan nya. Hingga sampai lah aku pada sebuah ide , kami sepakat untuk menjual rumah dan mencari kios kecil yang dapat di jadikan tempat usaha sekaligus tempat tinggal .
Mulai lah kami menawarkan rumah tersebut kepada para tetangga dan juga kerabat. Karena lokasi nya yang strategis sehingga tidak perlu waktu lama bagi kami untuk mendapatkan pembeli nya. Setelah proses jual beli ini selesai , aku dan istri ku meminta waktu dua bulan untuk mencari tempat baru kepada si pembeli rumah. Dan si pembeli pun menyetujui nya.
Setiap hari aku dan istri berkeliling pelosok mencari kios-kios murah namun strategis dengan harga yang terjangkau dan sesuai dengan budget. Hampir satu bulan lama nya , akhirnya kami menemukan tempat yang sesuai bahkan ini di luar dari bayangan kami .
Bukan kios kecil yang kami dapatkan , melainkan sebuah ruko . Ruko dua lantai , dengan luas 6 meter x 5 meter . Cukup luas bagi kami berdua, lokasi nya pun tidak terlalu jauh dari jalan raya. Hanya masuk sedikit kira – kira 300 meter. Segera aku menghubungi nomor telepon yang tertera di spanduk depan Ruko tersebut . Aku girang bukan main setelah menghubungi penjual Ruko tersebut. Karena selain harga nya sedikit lebih murah dari budget kami , kami bisa menempati lantai dua ruko tersebut. Hilang sudah bayangan hidup berhimpitan di kios kecil .
Sastri pun berkali-kali mengucapkan alhamdulilah dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah setelah mendapatkan informasi dari ku.
Setelah tiga hari proses pembelian ruko tersebut , pemilik ruko sebelum nya yang bernama Pak Sarman memberikan kunci ruko nya. Aku pun menanyakan rumah pak RT setempat kepada pak Sarman , karena aku bersama istri bermaksud untuk melaporkan dan mendaftarkan kepindahan kami untuk menjadi warga di sana. Setelah mencatat nama serta alamat rumah pak RT , aku pun segera berpamitan kepada pak Sarman . Tak lupa pak Sarman juga mengucapkan terimakasih dan mendoa kan semoga aku beserta istri bisa betah dan sukses di ruko nya nanti.
Kini aku dan Sastri sedang sibuk packing – packing semua barang-barang .Terpancar kebahagiaan di raut wajah istriku. Kami hanya membawa tempat tidur, lemari , peralatan dapur ,TV, mesin cuci dan baju-baju. Untuk meja makan , kursi tamu , lemari hias, dan lainnya di jual ke pasar loak . Rencana nya memang kami akan gelar tikar atau karpet saja di lantai atas sebagai alas duduk-duduk. Uang dari penjualan barang tersebut di gunakan untuk biaya pindahan. Sehingga kami bisa menghemat uang dari penjualan rumah nya.
Setelah semua barang masuk ke dalam mobil truk yang di sewa , aku dan istri ku pun berpamitan kepada para tetangga tak lupa perangkat RT. Mereka pun mendoakan agar kami selalu di beri kesehatan dan lancar rejeki nya di tempat baru. Mereka akan sangat senang apabila kami mau berkunjung suatu hari nanti . Kami sangat terharu mendengar pesan- pesan dari tetangga-tetangga yang juga customer setia kami. Dulu, apapun yang di jual oleh kami , para tetangga ini lah yang langsung membeli dan menjadi pelanggan nya . Alhamdulilah banyak yang menyukai tahu buatan dari pabrik tahu ku, sayang pabrik tersebut harus tutup karena tidak mampu menyaingi harga kedelai yang terus melambung , demikian juga dengan dagangan Sastri , mulai dari dimsum sampai gorengan pun mereka menyukai nya , tapi lagi-lagi harus gulung tikar .
Akhirnya kami pun saling bersalaman dan berjanji agar tetap saling bersilaturahim meski pun hanya melalui telepon .
Mobil truk tersebut mulai bergerak , lambaian tangan para tetangga mengiringi kepergian ku dan Sastri. kami duduk di sebelah pak Sopir truk. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 6 jam . Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 siang , aku pun meminta sopir truk untuk berhenti sejenak di rumah makan yang sederhana . kami makan siang bersama , dan di lanjutkan dengan sholat zuhur . Sekitar jam 13.30 kami kembali melanjutkan perjalanan. Diperkirakan akan tiba sekitar pukul empat sore. Untuk menghilangkan penat , aku dan Sopir truk tersebut berbincang-bincang . Sesekali kami tertawa bersama , sedangkan Sastri sudah terlelap dengan menyandarkan kepala nya di bahu suami ku.
Beberapa jam kemudian tiba lah di ruko , pak sopir segera memarkirkan truk nya . Setelah mematikan mesin mobil nya, sopir tersebut langsung turun . Aku pun membangunkan istri ku dan mengajak turun.
Sopir truk dan asisten nya yang selama perjalanan duduk di belakang di antara barang-barang , mulai menurunkan barang-barang tersebut satu persatu . Sedangkan Sastri membuka rolling door ruko nya .
Selama kurang lebih satu setengah jam mereka memasukkan barang-barang tersebut ke lantai dua ruko , untuk sementara lantai satu nya di biarkan kosong dulu . Setelah semua selesai , sopir truk dan asisten nya pun berpamitan. Aku memberikan sejumlah uang sebagai biaya sewa nya . Sementara Sastri memberikan beberapa botol air mineral dan juga beberapa bungkus roti sebagai bekal pak sopir dan asisten nya di perjalanan .
Setelah mereka pergi , aku dan Sastri masuk ke dalam ruko, kemudian menutup pintu ruko karena sekarang sudah hampir magrib.
Rasa lelah yang menghinggapi tubuh tak lagi di rasakan . Sastri mulai menata barang-barang nya . Aku pun mendekati istri ku dan mengajak nya untuk sholat magrib berjamaah dulu , karena adzan magrib telah berkumandang melalui aplikasi telepon genggam nya.
Sebagai istri , Sastri pun mengikuti keinginan suami nya. Dia tinggalkan tata menata nya lantas ke kamar mandi untuk ber wudhu . Lantas mereka berjamaah, tak lupa mereka mengucapkan syukur dalam doanya.
Selepas sholat magrib berjamaah, Sastri pun menyiapkan makan malam yang memang sudah ia siapkan. Ketika makan siang tadi Sastri sudah membeli nasi putih dua bungkus beserta lauk pauk nya. Air minum pun sudah ia siapkan dengan membeli dua dus air mineral botol. Di sela-sela makan malam nya, kami pun berbincang-bincang hingga tiba waktu sholat isya .
Sastri merapikan kembali bekas makan nya dan bersiap untuk mengambil wudhu . Sedangkan Ginanjar sudah lebih dulu ke kamar mandi untuk berwudhu. Selepas itu mereka sholat isya berjamaah .
Selesai sholat, aku menyuruh istri ku beristirahat. “Kegiatan tata menata nya di lanjutkan esok lagi,bu” Sastri pun menurut dengan perintah suami nya, dia paham betul bahwa tubuh nya kini sudah tidak muda seperti dulu lagi.
Mereka pun bergantian ke kamar mandi untuk bersih-bersih , yang kemudian langsung beristirahat di kamar. Tak lama berselang kedua nya pun sudah terlelap .
Suara adzan kembali terdengar dari aplikasi telepon genggam Ginanjar. Ginanjar dan Sastri pun segera bangun untuk menunaikan sholat subuh berjamaah bersama -sama . Setelah itu Sastri segera merapikan peralatan dapurnya , ia bermaksud untuk membuat sarapan. Sastri memang sudah menyiapkan dari rumah lama nya beras , telur , mi instan & gas, karena ia belum tahu di mana letak warung yang dekat dengan ruko nya .
Sastri mulai memasak nasi , kemudian ia membuat telur dadar sebagai menu sarapan nya. Sastri dan suami nya memang sudah terbiasa hidup sederhana , makan dengan menu se ada nya. Seperti hal nya pagi ini mereka hanya sarapan dengan telur dadar dan kecap manis. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sastri sudah selesai menata peralatan dapurnya. Kini ia mulai menata pakaian-pakaian nya ke dalam lemari , termasuk pakaian suami nya. Setelah itu, Sastri memasang seprei ke tempat tidur nya. Semalam mereka tidur tidak menggunakan seprei. Terlihat Ginanjar sedang mengelap kaca jendela , pintu-pintu yang berada di lantai dua. Dilantai dua ini terdapat dua kamar tidur , ruang dapur , satu kamar mandi , ruang tengah yang agak luas , dan balkon . Di sebelah dapur ada sebuah pintu , di sana terdapat ruangan kecil dengan atap yang terbuat dari faber glass . Sastri pun memanfaatkan ruangan tersebut sebagai tempat untuk mencuci dan menjemur pakaian.
Kemudian Sastri melanjutkan bersih-bersih di lantai dua ruko nya. Ia mulai menyapu dan mengepel , menyikat kamar mandi. Setelah kegiatan berrsih-bersih di lantai dua selesai , aku mengajak Sastri untuk menemui pak RT.
“Ayo bu , kita ke rumah pak RT dulu , habis itu baru lanjut beres-beres yang di bawah “ ucapku . “Oiya boleh pak , sebentar ibu ganti baju dulu , pak “ aku menggangguk .
Kami berjalan beriringan , sesekali aku melihat ke secarik kertas yang kugenggam . Aku mencoba mengikuti arahan dari pak Sarman , pemilik ruko yang dulu. Aku mencari rumah ber cat kuning , karena menurut pak Sarman rumah pak RT cat nya berwarna kuning .
Setelah berjalan sekitar 400 meter kearah barat , terlihat lah rumah bercat kuning tersebut . Aku semakin mempercepat langkah nya . “Nah itu dia bu , rumah pak RT” Sastri pun menatap dari jauh yang di tunjuk oleh suami nya. Ternyata rumah pak RT cukup besar , tak jauh dari rumah nya terdapat sebuah mushola . Di sekeliling rumah pak RT terdapat beberapa rumah juga , dengan beragam warna cat nya . Sebelum rumah pak RT terdapat sebuah tanah lapang yang mirip kebun, karena tertanam beragam pepohonan, seperti pohon pisang , pohon papaya , pohon singkong yang lumayan tinggi ,dan pohon lain nya. Ada rasa sejuk di hati Sastri ketika melewati nya ,sudah lama ia tidak melihat lingkungan yang asri seperti ini. Di tempat tinggal nya yang dulu, padat dengan bangunan rumah-rumah dan gedung-gedung. Tidak ada lagi tanah kebun. Akhir nya mereka sampai di rumah pak RT. Aku pun mulai memberi salam.
“ Assalamualaikum ..” tak terdengar jawaban dari dalam rumah . Kembali aku memberi salam , kali ini ia sedikit meningkat kan volume suara nya. “ Assalamualaikum..” kami menunggu beberapa saat. Aku dan Sastri masih berdiri di luar gerbang rumah pak RT. Tak berapa lama terdengar suara dari dalam rumah. Suara seorang wanita.
“Waalaikumsalam..” sambil membuka pintu rumah nya. Dengan tatapan sedikit bingung, wanita itu berjalan menuju gerbang di mana aku dan Sastri berdiri. Aku dan Sastri pun langsung menyunggingkan senyum . Lalu aku pun bertanya kepada wanita itu “ Mohon maaf mengganggu bu , apa benar ini rumah nya pak RT Marwan ? “
Wanita tersebut pun menjawab “Oiya benar pak , maap bapak dan ibu ini siapa ya … Saya istri nya pak Marwan , nama saya Nurul “ Kali ini Sastri ikut menjawab sambil tersenyum“ Alhamdulilah ..” aku menjelaskan maksud kedatangan ku kepada bu RT “ Saya Ginanjar , dan ini istri saya, nama nya Sastri , bu RT.. Maksud kedatangan kami ini ingin melaporkan dan mendaftarkan diri sebagai warga baru di sini.
Kami baru saja pindah ke ruko yang di seberang sana, bu ..” ucap Sastri . Bu RT segera membuka pintu gerbang nya dan mempersilahkan Ginanjar dan Sastri untuk masuk ke rumah nya dengan ramah. “Silahkan duduk dulu ya pak ,bu .. saya panggilkan suami saya dulu sebentar ya” ucap bu RT dengan sopan. Ginanjar dan Sastri pun hanya menggangguk sambil tersenyum ramah.
Tak berapa lama terdengar suara langkah menuju ke Ginanjar dan Sastri . Terlihat seorang pria berumur 40 tahunan, tersenyum ramah ke Ginanjar dan Sastri . Untuk menghormati pria tersebut aku dan Sastri pun langsung berdiri dan tersenyum. “Assalamualaikum pak.. maap kami sudah mengganggu pagi-pagi” Sapa Ginanjar ramah . “Tidak apa-apa pak, santai aja.. kebetulan saya masih kerja dari rumah . Saya dengan Marwan, pak..” Pria tersebut memperkenalkan diri nya . Setelah menyalami pasangan suami istri tersebut, Marwan mempersilahkan kedua nya untuk duduk kembali , dan memulai perbincangan nya .
“Begini pak RT, kenalkan saya dengan Ginanjar dan ini Sastri, istri saya. Maksud kedatangan kami ke rumah pak RT yaitu ingin mendaftarkan diri kami menjadi warga sini, pak… Kami baru pindahan kemarin ke ruko yang di seberang sana , yang berwarna abu-abu “ Marwan pun mengangguk-angguk. “Ooh ruko yang berdiri sendiri itu ya pak ..kalau begitu selamat datang dan selamat bergabung di kampung kami , pak Ginanjar dan bu Sastri. Semoga betah dan lancar usaha nya kelak di ruko nya nanti “ lanjut Marwan.
Ketika Marwan sedang memberikan informasi mengenai kelengkapan administrasi , keluarlah istri nya dengan membawa minuman teh manis hangat dan pisang goreng untuk cemilan ngobrol .
“Silahkan di cicip pak,bu.. Cuma ada cemilan seadanya aja ya “ kata Nurul .”Wuaduuhh jadi merepotkan sekali kami ini ya, bu RT” kata Sastri . “Panggil Nurul saja bu , biar lebih terasa seperti anak ibu .. maklum orangtua saya sudah tidak ada ..” jawab Nurul dengan malu-malu. “Ooohh maap kalau kami membuat nak Nurul jadi sedih ,, kami sangat senang sekali kalau di anggap seperti orangtua nak Nurul dan Nak Marwan . Karena anak kami hanya satu dan masih berada di pesantren “Lanjut Sastri .
Marwan pun hanya tersenyum mendengar obrolan istri nya dan Sastri . “iya pak,bu.. kalau nanti ada apa-apa , jangan sungkan untuk bilang ke kami ya.. ini nomer telepon saya “ kata Marwan . Ginanjar pun langsung mencatatnya, setelah saling bertukar nomer telepon , obrolan pun di lanjutkan kembali . Setelah hampir satu jam ngobrol di rumah pak RT Marwan , kami pun pamit .
“Kami pamit dulu ya nak Nurul , nak Marwan.. kalau ada waktu nanti silahkan mampir ke tempat kami ya.. “ kata Ginanjar , dan di angguki oleh Sastri . “ Iya pak,bu .. hati-hati ya “ jawab Marwan dan Nurul . Mereka mengantarkan kedua pasangan ini sampai ke depan rumah nya.
Sementara itu di perjalanan menuju ke ruko nya.. “Alhamdulilah pak RT dan istri nya baik ya pak.. malah mereka sudah mengganggap kita seperti orangtua nya padahal baru pertama bertemu. Aku seneng banget lho pak “ kata Sastri . “iyaa bu .. “ jawab Ginanjar singkat ..
Tak berapa lama, sampailah mereka di ruko nya .
Hari sudah berubah berganti sore . Saat nya Ginanjar dan Sastri beristirahat setelah sibuk bersih-bersih dan beres-beres ruko nya . “Bu , besok bapak mau ke delear motor ya .. mo beli motor buat transportasi kita . Tentu nya yang murah dan masih masuk dengan budget kita “ ucap Ginanjar . “Ya boleh pak, tapi kalau bisa jangan yang bekas. Takut nya malah nge rongrong jadi buang uang banyak untuk bolak balik service . Yang baru tapi terjangkau gitu,pak “ Sastri menambahkan. Ginanjar manggut-manggut mendengar saran dari istri nya . “Ibu besok mau ikut bapak ke dealer atau engga ?” Tanya Ginanjar . “Engga dulu pak, ibu masih ada yang harus di beresin di sini .. oiya nanti kalau sudah dapat motor nya, ibu di antar ke pasar ya pak “ pinta Sastri . “iya bu.. ya sudah serkarang bapak mau tutup ruko nya dulu , sebentar lagi magrib” ucap Ginanjar .
Setelah menutup pintu ruko nya, Ginanjar dan Sastri pun naik ke lantai dua ruko nya . Mereka bersiap untuk sholat magrib berjamaah . Selepas sholat, Sastri menyiapkan menu makan malam nya . Mereka makan malam dengan menu sederhana seperti biasa . Tak berapa lama adzan isya pun berkumandang dari aplikasi telepon genggam milik Ginanjar . “Ayoo bu , kita jamaah sholat isya sebelum ngantuk ..” ajak Ginanjar. Sastri pun hanya menggangguk sambil bersiap untuk ber wudhu .
Selepas sholat isya, mereka kembali ngobrol santai . “Bu , besok bapak sambil lihat-lihat ya kira-kira kita akan buka usaha apa di bawah ini .. “ ucap Ginanjar sambil menerawang . Ia sedang mencari ide untuk jualan .
Belum sempat Sastri menjawab tiba-tiba ia mencium aroma bunga yang sangat menyengat. Sastri pun mengendus-endus ke arah suami nya mencoba mencari arah datangnya aroma tersebut.
“Kamu kenapa sih bu.. kok kayak gitu ..” Tanya Ginanjar heran melihat tingkah istri nya. “Anu pak.. emang bapak ga nyium ?” Tanya Sastri. “Nyium apa bu.. lha wong dari tadi ga ada bau apa-apa “ jawab Ginanjar . “Aaahh sudahlah .. bapak ini , jelas-jelas tadi wangi bunga kok , kuat sekali aroma nya. Aku pikir bapak apa pake parfum.. gitu lho “jawab Sastri ga mau kalah .
Ginanjar terkekeh mendengar ucapan istri nya .
“ Jam segini pake parfum , emang bapak ke centilan banget apa toh bu .. ya sudah, mungkin ibu kecapekan jadi hidung nya aneh ..” seloroh Ginanjar . Sastri yang di becandain hanya diam sambil manyun . Jam sudah menunjukan hampir jam sepuluh malam . Sastri pun beranjak dari duduk nya dan masuk duluan ke dalam kamar tidur nya. Ia ingin merebahkan tubuh nya di Kasur . Sementara Ginanjar masih asik dengan telepon genggamnya. Ia sibuk mencari dealer motor terdekat .
Ketika Sastri hendak memejamkan mata nya, ia kembali mencium aroma bunga itu, kali ini lebih kuat lagi . Aroma bunga melati, batin Sastri . Ia coba mengingat-ingat apakah ia dan suami nya memiliki parfum dengan aroma tersebut. Karena selama ini parfum yang di miliki mereka berdua hanya lah parfum murah, bukan yang mewah. Sastri khawatir ada parfum nya yang bocor atau tumpah . Sebenernya Sastri ingin mengecek nya namun tubuh nya terasa kaku, akhirnya ia tunda sampai besok pagi. Di benak nya mungkin ia benar – benar kecapekan sampai tubuhnya terasa kaku seperti ini . Tak lama pun ia sudah terlelap .
Akhirnya Ginanjar mendapatkan lokasi dealer motor terdekat , setelah ia simpan alamat nya, ia pun bersiap untuk beristirahat. Ginanjar menyusul istri nya masuk ke kamar tidur. Ia tersenyum melihat istri nya yang sudah terlelap. Di benaknya sungguh ia sangat beruntung memiliki istri yang sabar , patuh,dan tidak banyak menuntut terhadap suami nya . Dengan senyum yang masih mengembang , ia geleng-geleng kepala ketika ingat tingkah lucu istri nya yang menuduhnya memakai parfum malam-malam.
Malam pun semakin larut , kini mereka sudah sama-sama terlelap .
Jam sudah menunjukan pukul Sembilan pagi, aku pun bersiap untuk mendatangi dealer motor yang sudah ku simpan alamatnya semalam . Setelah memesan ojek online , aku pun pamit kepada istri nya . “Bu, aku pergi dulu ya .. ibu ga pa pa kan sendiri ?” . “Iya ga pa pa pak , ibu kan bukan anak kecil lagi .. emang ojek bapak sudah datang ?” Tanya Sastri . “ belum , aku nunggu di bawah aja bu .. ini pintu ruko nanti aku buka atau tutup ?” ucap ku . “Tutup aja dulu pak, ibu masih repot di atas. Biar nanti ibu yang buka kalau di atas sudah rapi “ jawab Sastri . “Hati-hati ya pak , ibu ga nemenin bapak ke bawah ya “ ucap Sastri . “ Iya ga pa pa bu .. kalau ada apa-apa, langsung hubungi bapak ya ..”pesan ku . “iya pak..” Sastri pun hanya menjawab dengan singkat .
Aku segera menuruni anak tangga menuju ke lantai satu ruko nya . Ku buka pintu ruko dan duduk di luar sambil menunggu ojek pesenan . Selang lima menit datang lah ojek pesenan ku . Aku pun menutup pintu ruko nya dengan rapat dan langsung naik ke ojek pesenan .
Sementara itu Sastri yang sendirian d lantai dua ruko nya tiba-tiba merasa seperti ada yang mengawasi nya . “Kenapa rasa nya jadi ga enak gini ya .. aneh , seperti ada yang mengawasi ku ..” Batin Sastri. Sastri pun berusaha untuk mengalihkan perasaannya dengan melanjutkan kerjaan nya .
Hari ini Sastri akan membuat semur telur untuk menu makan nya. Di karenakan Sastri masih belum sempat ke pasar terdekat . Dan Sastri pun belum mendengar ada tukang sayur yang lewat depan ruko nya . Ketika Sastri sedang sibuk di dapur tiba-tiba ia melihat bayangan yang bergerak di ruang tengah nya . Refleks Sastri pun menengok , betapa terkejut nya ia ketika melihat kipas angin nya berputar sendiri .
Ia sangat yakin kalau kipas angin itu belum pernah di pakai sejak pindah,hanya di biarkan berdiri dengan kabel yang sudah tercolok . Belum hilang keterkejutan nya , tiba-tiba terdengar suara pintu ruko yang di gedor sangat kencang dan berulang-ulang .
Bruughh .. bruughh ..bruughh..
“Astagfirullah .. siapa ya yang gedor pintu . Apa iya bapak sudah pulang , harusnya tinggal buka saja ga perlu gedor-gedor “Sungut Sastri . Ia pun menajamkan telinga nya , gedoran itu tidak terdengar lagi.
Saat hendak kembali ke dapur, gedoran itu terdengar lagi , dengan jantung berdebar Sastri melangkah ke tangga yang menuju lantai bawah . Ia melangkah pelan, setelah berada di lantai bawah , ia pun berteriak dengan suara bergetar
“ siapa ya .. “ tak ada jawaban , bahkan gedoran pun sudah berhenti. Sesaat Sastri ragu , apakah ia lanjutkan atau kembali ke atas . Namun rasa penasaran membawa nya terus melangkah sampai di deket pintu ruko .
Perlahan ia membuka pintu ruko nya , ia pun kaget karena di depan ruko nya tidak ada siapa – siapa . Aaahh sudahlah mungkin hanya orang iseng aja , nanti aku bicara sama bapak deh buat pasang cctv , batin ku .
Sastri pun menutup pintu nya kembali , lalu kembali ke atas. Sesampai nya di atas ia teringat belum memberi kabar anak nya yang sekarang menjadi pengasuh dan juga ustad di pesantren . Ia pun segera mengambil ponsel nya dan mencari nomer anak nya .
Tuutt.. Tuutt .. Tuutt
“ Assalamualaikum bu .. apa kabar ?” jawab suara di seberang sana .
“ Waalaikumsalam ,alhamdulilah kabar ibu dan bapak mu baik , nak .. Kamu gimana di sana , sehat ?” tanya ku
“Alhamdulilah aku sehat , bu “ ucapnya
“Nak, ibu ingin menyampaikan kalau ibu dan bapak sudah pindah ke ruko . Nanti ibu minta bapak mu untuk kirimkan alamat nya ke kamu ya , ibu masih belum hapal “ ucapku
“Ooohh gitu , baik bu .. Saya tunggu , insyaa allah bulan depan saya akan pulang jenguk bapak dan ibu “ ucapnya
“ Alhamdulilah kalau begitu , ya sudah ibu tidak mau mengganggu terlalu lama .. Kamu lanjutkan kembali kegiatan mu ya nak .. Assalamualaikum “ucap ku .
“Baik , terimakasih bu .. Waalaikumsalam “ tutup nya .
Groompyaaangg ..
“Astagfirullah .. suara apa itu . Seperti dari arah dapur ” Aku pun segera menuju dapur , namun tidak ada satu pun barang yang terjatuh . Duuhh siang – siang begini kok aku merinding ya , pikir ku sambil mengusap tengkuk ku yang terasa dingin . Terlanjur sudah berada di dapur , aku sekalian masak aja deh .
Sekitar satu jam kemudian terdengar suara pintu rolling door di buka , dan suara motor yang masuk .
“ Assalamualaikum bu .. bapak pulang “ ucap ku sambil melangkah kea rah dapur , karena aku mendengar suara memasak . Dan ternyata benar , ku lihat Sastri sedang sibuk memasak .
“ Waalaikumsalam pak , maap ibu lagi tanggung .. sebentar lagi matang “ ucap ku .
“ Iya ga pa –pa , ibu lanjut aja dulu .. “ ucap ku sambil ke kamar mengganti baju . kemudian mengambil minum . Setelah minum aku duduk di ruang tengah , kemudian mengeluarkan sebatang rokok . Kemudian istri ku ikut duduk di sebelah ku .
“ Sudah matang , bapak mau makan sekarang ?” tanya ku
“Nanti saja bu , setelah sholat zuhur “ ucap ku sambil menghembuskan asap rokok .
“ Tadi ibu menelpon Hafiz , anak kita .. dia minta alamat nya , bulan depan mau pulang . Bapak yang kirimin ya “ ucap ku .
“ Iya nanti bapak kirim alamat nya ke Hafiz “ jawab ku
“ Gimana motor nya, pak .. sudah di bawa , terus surat – surat nya bagaimana ?” tanya ku
“ Surat – surat nanti menyusul sekitar dua minggu lagi sekalian sama nomor nya , bu .. motor nya itu ada di bawah “ jawab ku .
“ Alhamdulilah kalau begitu pak “ ucap ku .
Hari berganti malam , setiap habis isya selalu tercium wangi bunga melati . Namun aneh nya hanya aku saja yang dapat mencium nya .
Beberapa hari kemudian kami membuka toko plastic dan bahan – bahan kue .. Alhamdulilah semua berjalan lancar , pembeli semakin bertambah setiap hari nya . Sudah hampir sebulan kami buka toko , hingga pada suatu hari datanglah pelanggan kami untuk berbelanja .
“ Assalamualaikum pak , ini catatan nya ya ..” ucap mamat kepada ku .
“ Siap pak mamat , tunggu sebentar ya ..” aku pun mulai mengumpulkan barang – barang sesuai catatan Mamat . Setelah itu aku susun dan masukkan ke kardus , sementara itu istri ku mulai menghitung dari meja kasir . Setelah selesai , Mamat pun pamit .
Kemudian pelanggan lain pun datang silih berganti . Lusa nya , datang seorang pembeli . Kami baru melihat nya , jadi kami pikir ini pelanggan baru .
“ Mau beli apa ,pak ?” tanya ku ramah .
“ Ini catatannya , pak .. biasa nya alm. Pak mamat yang belanja “ ucap nya . Aku dan Sastri yang mendengar jawaban nya sangat terkejut .
“ Maksud nya alm pak Mamat gimana ya pak .. Dua hari yang lalu beliau masih belanja dalam keadaan sehat wal afiat “ tanya ku dengan hati –hati , karena takut nya beda orang .
“ Oiya pak , tapi sepulang dari sini .. Pak Mamat kecelakaan dan langsung meninggal di tempat “ ucap nya dengan sedih
“ Innalillahi .. bagaimana bisa,pak ?” ucap ku berbarengan dengan istriku , sambil aku menyiapkan pesenan nya .
“ Menurut keterangan saksi yang pertama menemukan pak Mamat , kecelakaan tunggal pak .. Kejadian nya di persimpangan jalan raya yang menuju ke arah pasar . Saat itu wajah nya sulit di kenali karena rusak parah , namun aneh nya tubuh nya tidak kenapa – kenapa bahkan pakaian nya pun tidak ada yang robek , tapi di tubuh nya di temukan baret – baret seperti bekas cakaran . Pihak kepolisian awal nya menyangka itu karena gesekan dengan aspal , tapi kalau bergesekan mesti nya pakaian nya ikut robek . Untung nya pak Mamat membawa KTP jadi kepolisian bisa langsung mendatangi keluarga nya “ ucap nya panjang lebar .
“ Ya Allah , kasian sekali pak Mamat .. Semoga amal ibadah & kebaikan nya di terima Allah SWT “ ucap istri ku sambil berlinang airmata . Sementara aku berusaha menyembunyikan kesedihan ku .
“ Aamiin Yra “ ucap ku , sambil menyerahkan pesenan nya kepada istri ku agar di hitung .
Setelah selesai , pembeli tersebut pun pamit .
“ Hati –hati ya pak “ ucap ku , agar kejadian pak Mamat tak terulang kembali .
Hari berganti , seminggu kemudian aku dan istri ku kembali mendengar kabar dari pelanggan ku yang lain meninggal karena kecelakaan tunggal. Kembali kami bersedih . Kami tidak menyadari nya sampai kepada minggu ke tujuh , sudah terjadi tujuh kecelakaan dan pihak kepolisian mendatangi kami untuk meminta keterangan .
Kami pun memberikan informasi sesuai yang kami ketahui . Dua hari kemudian anak ku , Hafiz menelpon kalau ia akan pulang dan saat ini ia sudah di jalan .
Ketika kami sedang bersiap untuk tutup toko , tiba –tiba “ Assalamualaikum pak , bu ..”
“ Waalaikumsalam “ ucap kami berbarengan , setelah aku menengok ternyata anak ku sudah datang
“ Hafiz , ya Allah nak .. Alhamdulilah kamu akhir nya datang “ ucap ku yang langsung di sambut oleh Hafiz dengan mencium tangan dan memeluk ku . Kemudian ia juga mencium tangan dan memeluk istri ku sambil tersenyum.
Setelah selesai tutup toko , kami pun segera naik ke atas . Setelah makan malam bersama , akhir nya kami beristirahat .
Di sekitar toko mulai tersebar kabar tak sedap , banyak desas desus yang mengatakan kalau toko ku menggunakan tumbal . Lambat laun pembeli mulai berkurang , aku dan istri ku hanya bisa berdoa agar desas desus itu segera hilang dan tidak terbukti .
Hafiz yang mengetahui hal tersebut akhir nya memundur kan kepulangan nya ke pesantren . Ia menghibur istri ku sambil membantu ku di toko .
Suatu malam kembali tercium wangi kembang , kali ini Hafiz pun mencium nya . Ia segera tahu ada yang tidak beres .
“ Pak , bu .. apa sering tercium bau seperti ini ?” tanya nya
“ Iya nak , setelah kami pindah .. ibu mu yang pertama mencium nya bahkan sampai sekarang . Bapak tidak pernah mencium nya. Untung kamu mencium nya nak “ jawab istri ku .
“ Baiklah , ada yang ga beres nih pak , bu .. biar aku selidiki dulu “ ucap Hafiz . Aku dan istri ku hanya mengangguk .
“ Kalau bapak sama ibu mau istirahat, silahkan .. aku mau begadang “ ucap ku kepada kedua orangtua ku . Rencana nya dengan berbekal ilmu dari pesantren aku ingin melihat melalui mata batin ku .
“ Kalau gitu , bapak temani ya .. ibu istirahat aja “ ucapku. Aku tidak tega membiarkan anak ku sendirian . Sebenar nya Sastri khawatir tapi ia juga butuh istirahat agar bisa jaga toko besok . “ Iya pak “ ucapnya .
“ Boleh , tapi kalau bapak lelah jangan di paksa ya pak “ ucapku kepada bapak ku.
Kemudian aku segera berwudhu , lalu sholat sunnah dua rakaat . Aku pun berdoa agar di ridhoi dan di mudahkan usaha ku , lalu ku lanjut kan dengan ber zikir . Semakin lama wangi itu semakin kuat , seolah menyelimuti ku . Aku mulai membuka mata batin ku dan memasuki alam gaib .
Di sana aku melihat ada sekitar tujuh ruh yang sedang di ikat dan di jadikan budak oleh mahkluk berbulu , dengan mata merah menyala , taring yang panjang ,lidah yang selalu menjulur keluar , di kepala terdapat dua tanduk , tubuh nya sangat besar . Mahluk tersebut di damping oleh para pengikut nya dengan berbagai bentuk yang menyeramkan .
Aku pun mencoba berkomunikasi dengan mahkluk tersebut . Sementara bapak ku masih setia menemani ku sambil membaca ayat – ayat suci Al – Qur`an dengan khusyu .
Ketika aku membuka mata , ku lihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah empat dini hari . Keringat membanjiri tubuh ku , ku lihat ayah ku masih khusyu .
Aku pun berdiri , ada sesuatu yang harus aku selesai kan di bagian depan ruko . Baru satu langkah aku berjalan , bapak ku memanggil ku .
“ Hafiz , mau kemana kamu nak ?” tanya Ginanjar
“ Ada yang harus aku ambil di depan ruko , pak ..” jawab ku . Kulihat bapak ku ikut berdiri dan berjalan mendahului ku .
“ Ayo bapak temani “
Aku mengangguk dan mengekor di belakang bapak . Setelah bapak membuka pintu ruko , aku segera berjalan ke arah halaman ruko yang selalu di pakai untuk parkir kendaraan para pelanggan .
“ Pak, tolong bantu doa dan zikir ya “ ucap ku . Ku lihat bapak mengangguk .
Aku pun menghirup napas panjang dan dalam , kemudian ku hentak kan dengan kasar ..
“Bismillahirrohmaanirrohiim ..” Sambil berjongkok di salah satu sudut halaman , ku gerakkan tangan ku seperti sedang menarik sesuatu . Disebelah ku , ku dengar bapak masih berzikir .
Tak lama kemudian aku merasakan sesuatu tertarik ke tangan ku , lalu seettt .. ku tangkap sebuah bungkusan kecil seukuran genggaman tangan anak kecil , berwarna putih dan dekil .
Segera ku buka saat itu juga , bapak pun ikut melihat .
“ Astagfirullah ..apa ini , nak ” ucap bapak ku .
“ Kita bakar dulu , pak .. nanti aku jelasin di dalam “ ucapku. Bapak kemudian mengeluarkan korek api dari saku celana nya .
“ Bismillahirrohmanirrohiimm .. La haula wala quwwata illa billahil `aliyil `aziimm .. Allahumma sholli a`la Muhammad .. Allahu akbar “ ucap ku .
Wuushhh , terbakar sudah semua yang terdapat di bungkusan tersebut , di sertai hembusan angin kencang .
“ Alhamdulilah “ ucap ku, di ikuti oleh bapak .
“ Sudah selesai , pak .. ayo kita masuk “ ajak ku . Kami berdua pun masuk .
Sesampai di dalam , kami duduk berdua . Aku pun menyeduh teh hangat untuk ku dan bapak . Sambil menunggu azan subuh , aku menceritakan yang terjadi ke bapak .
Flashback Hafiz ,
Aku memandang mahkluk – mahkluk yang di hadapan ku , mereka tampak marah melihat ku .
“ Mau apa kau mengganggu kami , bocah tengik “ ucap mahkluk yang berbulu
“ Haii , raja iblis laknat .. hentikan semua ritual mu “ ucap ku
“ Tidak bisa , ini sudah perjanjian ku dengan nya .. “ ucap nya marah
Aku melihat kilas gambaran di mana pada saat ruko ini baru selesai di bangun , seorang lelaki mengadakan perjanjian dengan iblis melalui perantara seorang dukun untuk mengambil tumbal dari para pelanggan di ruko ini . Siapa pun pemilik ruko ini , pelanggan nya lah yang akan di jadikan tumbal . Sehingga pemilik sebelum nya akan tetap kaya tanpa harus mencari tumbal . Dukun tersebut memberikan bungkusan dan harus di tanam di tempat yang di lalui oleh para pelanggan . Dengan menyuruh iblis , dukun tersebut menanam nya di depan ruko .
“ Sungguh biadab .. akan ku hancurkan kau , iblis laknat” ucap ku.
“ Kurang ajar kau , bocah tengik “ ucap iblis tersebut sambil menyerang ku dengan bola – bola api .
Aku pun menangkis bola – bola api nya dengan ayat suci dan juga melakukan serangan balik dengan tenaga dalam . Satu persatu anak buah iblis tersebut hangus dan tumbang , raja iblis tersebut semakin marah , dan menyerang ku dengan membabi buta.
Aku sempat kewalahan , namun akhir nya iblis itu terbakar dan hangus , kemudian berubah menjadi asap dan menghilang . Roh – roh yang menjadi tumbal dan saat ini sedang terikat dan di siksa pun segera aku bebaskan dan ku bacakan ayat –ayat suci Al –Qur`an kembali agar mereka menuju ke alam yang seharus nya .
Flashback end .
“ Begitulah , pak .. untuk kedepan nya insyaa allah udah bersih dan aman , tidak ada lagi korban “ ucap ku.
“ Alhamdulilah , lantas bagaimana dengan pelaku dan dukun nya , Fiz ?” tanya bapak
“ Biarlah itu menjadi urusan mereka dengan Tuhan , pak .. Biasa nya harta yang di dapat oleh pelaku akan habis dengan sendiri nya , pak . Kalau untuk dukun nya , ia pasti tahu kalau suruhan nya udah binasa beserta anak buah nya . Tapi bapak tidak perlu khawatir karena aku sudah memagari ruko ini , sehingga tidak ada yang bisa mengirimkan hal –hal aneh lagi ke sini . Aku akan memantau dari jauh, seandai nya nanti ada yang mengirimkan sesuatu yang goib pun itu akan terasa di aku , pak “ ucap ku .
Tak lama kemudian suara azan berkumandang dar ponsel bapak, kami pun bergantian mengambil wudhu . Ibu pun segera keluar dari kamar untuk bersiap sholat , kami pun sholat subuh berjamaah.
Pagi berganti siang , aku dan bapak bergantian jaga toko . Kami berdoa agar fitnah yang terlanjur menyebar di masyarakat ini segera berakhir dan kami bisa hidup normal kembali. Kini tiba saatnya aku akan kembali ke pesantren , meninggalkan ibu dan bapakku . Namun aku tetap memantau bapak dan ibu ku dari jauh agar aku bisa segera datang jika terjadi sesuatu .
The End