"Apa benar? Keputusanmu sudah bulat, untuk bercerai dengan istrimu?!"
"Sudah, Ma! Rumah tangga kami, memang sudah tidak bisa lagi dipertahankan!"
"Istrimu itu, wanita yang baik Jef?!"
"Yang lebih baik dari dia, bisa Jefri cari, Ma!"
"Ya, udah. Semua keputusan, ada di tanganmu. Mama tidak bisa memaksakan kehendak Mama ke kamu, Jef!"
Malam yang dingin itu, sedikit terasa memanas, disebabkan perbincangan antara Jefri dan Mama di meja makan.
Bahtera rumah tangga yang telah dia arungi selama sepuluh tahun bersama Selvi, harus kandas.
"Selvi, kamu ..., menangis?" terdengar suara Dewi, membuyarkan lamunan Selvi.
"Nggak, kok, Wi." Selvi membalas dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
"Kamu, yang sabar ya, Vi! Semoga ada hikmah dari keputusan yang diambil oleh Jefri."
"Aku merasa gagal sebagai seorang istri, Wi! Aku gagal ..., Wi!" ucap Selvi yang diiringi deraian air mata.
Dewi memeluk sahabatnya itu.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir Dewi, hanya tangannya terus mengelus-ngelus punggung wanita berambut panjang, yang sedang memeluknya.
Teringat kejadian tadi pagi, yang menjadi puncak permasalahan dalam rumah wanita berambut hitam legam tersebut.
"Istri macam apa kamu? Menyiapkan sarapan buat suami aja, gak becus! Kamu, tahu, kan? Kalau aku berangkat kerja jam tujuh, seharusnya sebelum jam segitu, kamu udah mempersiapkan semuanya!"
Ayah dari anaknya marah, hanya karena wanita itu terlambat menyiapkan sarapannya.
"Maaf, Mas ...."
"Itu kata maaf kesekian kalinya, yang kau ucapkan dalam minggu ini! Aku sudah tidak sanggup lagi. Kita cerai ...!!"
Seketika air mata luruh di kedua pipinya.
Lelakinya itu pergi sambil menghempaskan pintu. Wajahnya penuh dengan kekesalan.
***
"Besok hari terakhir persidangan perceraian kamu, Vi! Apapun keputusannya, semoga itu menjadi jalan yang terbaik buat kamu dan Mas Jefri." Dewi mencoba memberikan semangat kepada Selvi.
"Terima kasih, Wi. Apapun keputusan pengadilan, aku sudah siap kok!"
Panggilan masuk terdengar dari seluler.
"Hallo, Mas!"
"Ya, hallo ..."
"Ada keperluan apa! Mas menghubungi saya?"
"Dasi kerjaku, apa kamu bawa bersama-sama barang-barangmu semuanya?"
"Tidak kok, Mas. Ada di lemari baju kamu di kamar."
"Baiklah, nanti biar aku cek sendiri. Oh, iya. Masalah harta gono-gini kamu jangan cemas. Kamu tidak akan hidup susah kok setelah perceraian kita. Soal hak asuh Kartika, itu semua aku serahkan keputusannya ke kamu."
"Terserah sama pengadilan aja. Aku ngikut kok. Apapun keputusannya."
"Mas jangan lupa jaga kesehatan, jangan sering-sering begadang!"
"Sudah, kamu jangan sok perhatian, sebagai istri, kamu itu sudah gagal!"
Wanita bermata coklat itu terdiam tidak menjawab. Binar matanya mengeruh. Ada sisa air mata yang masih terbendung di sana.
***
Semenjak pertengkaran pagi itu, mereka tidak lagi tinggal serumah.
Jefri memilih tinggal di rumah Mama-nya. Sementara, Selvi yang yatim-piatu itu memilih tinggal sementara di rumah Dewi sahabatnya.
Malamnya, Lelaki berambut ikal itu datang ke rumah yang sudah beberapa hari dikosongkan itu.
"Selamat malam, Pak!" ucap Security menyapa, sambil membukakan pagar rumah.
Jefri hanya membalas dengan anggukan, sambil mengarahkan stir mobil ke garasi.
Setelah membuka kunci rumah, Pria maskulin itu melangkah menuju kamar.
Kemudian membuka lemari pakaian, mengambil beberapa buah dasi kesayangannya.
Keningnya mengernyit melihat ada sebuah buku diary yang tergeletak di samping dasi yang diambilnya tadi.
"Diary ...! Sejak kapan dia bikin diary?" ucapnya penasaran.
Dengan rasa penasaran, tangannya meraih diary tersebut.
Kemudian, dia membuka lembaran pertama buku catatan harian istrinya tersebut.
[Tahun pertama.
tanggal 7 januari 2010.
Hari ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Hari pernikahanku dengan pangeran tampan yang bernama Jefri. Tiga tahun aku menolaknya, tapi karna kegigihan cintanya, akhirnya aku luluh juga. Semoga kami berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.]
Lelaki gagah brewokan itu tersenyum, terbayang bagaimana begitu ngebet, dulunya dia mengejar cinta wanita pujaannya itu.
Seakan semakin penasaran, jarinya membalikkan lembar demi lembar cacatan yang terlihat sudah sedikit usang tersebut.
[Tanggal 12 Juli 2010. Baru tujuh bulan pernikahan, rumah tangga kami harus menerima cobaan, Mas Jefri terkena PHK. Semoga saja secepatnya ada pekerjaan yang baru untuk suamiku tercinta.]
[Tanggal 31 Desember 2010. Sudah lima bulan hari-hari yang kami lewati semakin berat dan berliku. Aku harus menguras isi tabunganku untuk kebutuhan sehari-hari. Mas Jefri belum menemukan pekerjaan yang tetap. Tetap semangat ya sayang! Apapun yang terjadi padamu, aku akan slalu berada di sampingmu. Walaupun kita harus tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit sekalipun, aku takkan pernah meninggalkanmu. Love u suamiku.]
Ada rasa sesak memenuhi rongga dadanya, Dia seperti mendapatkan tamparan keras.
Kali ini matanya coklatnya tertuju pada sebuah tulisan.
[Tanggal 28 April 2011. Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Kenapa harus suamiku yang mengalami kecelakaan ini. Aku harus bolak balik ke PMI untuk mencari kantung darah, untuk transfusi. Stok yang ada tidak mencukupi, untung saja golongan darahku sama dengan Lelakiku. Berapa kantung darahpun siap aku berikan untuk keselamatanmu Mas. Cepat sembuh sayangku. Aku gak bisa hidup tanpamu, Mas!]
Seketika jatuh airmata di sudut bibir Lelaki berambut ikal tersebut. Ada suatu kesalahan yang terjadi pada dirinya, yang dia rasakan.
Bahunya bergetar memompakan butiran bening di sudut matanya.
Selama ini, Banyak hal yang disembunyikan oleh Perempuannya dan itu semua untuk kebaikan Jefri.
Kali ini tubuhnya seakan melemah. Lututnya terhempas ke lantai, airmatanya tak henti-hentinya mengalir.
Tangannya yang masih bergetar itu kembali meraih diari yang seakan menjadi cambuk bagi dirinya.
Dengan mata yang masih tergenang oleh bulir-bulir kesedihan. Dia melanjutkan bacaannya.
[Tanggal 19 September 2012. Mas Jefri ingin membuka usaha sendiri. Semangatnya untuk maju membuatku percaya, semua akan baik-baik saja. Aku harus merelakan perhiasan-perhiasan hasil kerjaku ketika masih gadis untuk dijadikan modal usaha. Apapun keinginanmu sayang, aku akan selalu mendukungnya.]
[Tanggal 5 Oktober 2012. Setelah melewati perjuangan yang berat, akhirnya gadis mungil yang kami nanti-nantikan. Akhirnya lahir ke dunia ini. Walau tanpa kehadiran Mas Jefri yang sedang bertemu klien bisnisnya. Kata Mas Jefri ini peluang besar bagi usaha kecil kami untuk berkembang menjadi besar. Ya Allah, lindungi slalu suami hamba Ya Allah. Semoga apa yang dicita-citakannya terwujud. Aamin ....]
Di saat mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan putrinya tercinta, Bahkan Istrinya, masih saja memikirkan dan mendoakan yang terbaik untuknya.
Semakin pecah tangisan di ruangan itu. ada rasa bersalah saat ini yang dirasakan lelaki beralis tebal tersebut.
Jemarinya masih membalikkan lembaran diary itu.
[Tanggal 28 Februari 2014. Hari ini, untuk kesekian kalinya wanita yang mengaku pacarnya Mas Jefri itu mengancamku. Aku gak mau Mas Jefri mengetahui ini semua. Aku takut, ntar ini menjadi beban pikirannya. Biarkan saja perempuan gila itu dengan keisengannya.]
Genangan air mata sudah jatuh menimpa di beberapa tulisan di dalam diary itu. Suara sedu sedan tak beraturan terdengar di kamar tersebut.
Saat ini, pikirannya yang sudah berkecamuk tersebut, ingin mengetahui catatan terakhir pada diary tersebut.
Dengan cepat jemarinya menuju pada lembar tulisan terakhir.
[Tanggal 9 Januari 2020. Hari ini, Suamiku tercinta mengucapkan kata cerai. Seakan runtuh langit kurasakan saat ini. Airmata mengalir tak berhenti. Aku merasa gagal menjadi istri yang terbaik untuknya. Sebenarnya, hari ini aku kecapekan, setelah seharian kemarin berjalan di pusat perbelanjaan mencari kado ulang tahun untuk suamiku. Paginya, aku bangun telat. Setelah mengantar Kartika ke sekolah dengan buru-buru, aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku. Karena harus menunggu lima belas menit, Mas Jefry murka. Dia memakiku, hingga membanting pintu. Ya Allah, aku gagal ... aku gagal menjadi istri yang baik. Maafkan aku, Mas Jefri! Jika perceraian ini bisa membuatmu menemukan kebahagiaan itu, aku rela, Mas ... aku rela.]
Runtuh sudah keangkuhan yang melekat di hati Jefry. Air matanya mengalir bagaikan tak bermuara. Suara tangisannya semakin kuat terdengar. Seakan menjadi penghukuman bagi lelaki itu.
***
Persidangan pagi itu menentukan hasil keputusan kasus perceraian mereka.
Wanita cantik berwajah teduh itu, sudah siap menerima apapun keputusan pengadilan.
Jefri datang sedikit terlambat, dengan mata yang sembab dia melangkah sambil menunduk, tanpa berani melihat ke wajah wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantannya itu.
"Setelah melewati beberapa kali persidangan. Maka pengadilan, mengesahkan tuntutan pemohon untuk mengajukan permohonan perceraian. Kepada kedua belah pihak, agar bisa menanda tangani surat keputusan tersebut." suara hakim terdengar di ruangan itu.
Pengacara menyodorkan surat kepada Jefri, untuk ditanda tangani.
Jarinya menggenggam keras kertas tersebut. Kemudian Jefri melirik ke arah Selvi. Pandangannya kali ini lain, tidak seperti biasanya yang penuh kekesalan.
Matanya yang tadinya berbinar, sekarang mengalirkan bulir air mata ke sudut bibir.
Bibir dan giginya yang merapat, bergetar beraturan.
"Selama ini, aku telah menjadi orang yang bodoh. Hanya karna kilauan emas, aku tergoda. Padahal di sana, di dalam diri wanita yang dipanggil ibu oleh anakku itu. Ada kilauan indah yang tak ternilai harganya." ucap Jefri dengan deraian air mata.
Kemudian tangannya merobek kertas tersebut menjadi beberapa bagian.
Kakinya melangkah menuju istrinya.
Tangannya merangkul, memeluk istrinya. Pecah tangisan yang tak tertahankan lagi itu.
"Maafkan aku sayang ... maafkan ... maafkan ...." kata itu terus terucap dengan deraian airmata.
Bersambung ....
"Jika kamu berpikir untuk berpisah, maka ingatlah, bahwa kamu pernah bersungguh-sungguh ingin memilikinya."
By: Fanno Bagaskara.