Bulan tidak pernah mengkhianati malam. Dimana pekat menyapa, disitulah bulan berada. Namun bintang tidak sedikitpun terlibat di dalamnya. Dia memiliki kelompok yang saling berhubungan membentuk suatu konfigurasi dalam ruangan tiga dimensi.
Mereka tidak sendiri, tapi menjadi saksi atas insan yang nampak menyendiri. Dia tulus mencintai, tapi hanya dianggap sebatas ilusi.
Nata terbangun saat sorot mentari menembus kelopak matanya. Semilir angin mmulaimenyapu wajah juga anak rambut yang tergerai lembut. Nata mulai membuka mata, tapi kecewa saat tidak mendapati siapapun di sampingnya.
Ingatan semalam masih terngiang jelas di benaknya. Tentang sosok laki-laki yang hadir memberi pelukan, kecupan, dan berakhir dengan dekapan.
Sekali lagi Nata mengamati ruang kosong di sampingnya. Wanita itu tidak mungkin lupa. Di sana ada sisa penyatuan mereka. Bahkan sprei berwarna putih masih terlihat sangat berantakan.
Sekelebat bayangan kembali melintas. Wanita bernama Nata menangis di tengah kegelapan. Dia tidak sendirian, tapi berteman sepi.
Menyesal tidak bisa membuatmu bertahan, lalu apa alasan yang memaksamu melupakan? Cinta tidak akan membuatmu kecewa. Dia selalu menjadi alasan kenapa kamu tertawa.
Putaran memori ribuan detik yang lalu terlihat sangat nyata. Nata melihat sosok wanita yang tengah rapuh di dalam kesendirian. Tanpa ada bahu untuk bersandar.
Wanita itu menangis, sesekali mengeluarkan suara serak nya untuk mendesah. Dia kecewa karena luka yang telah diciptakan oleh seseorang. Namun dia tidak punya alasan untuk suatu pembuktian.
Nata terdiam, wajahnya teramat sembab. Malam dimana harusnya dia bersama pasangannya hanyalah ilusi semata. Nyatanya laki-laki yang sela ini menemani justru berpaling ke lain hati.
Tepat saat di depan mata, Nata melihat Reyhan mencium wanita yang asing menurut Nata. Keduanya tersenyum, saling membelai, lalu berlangsung memulai.
"Cup" Nata bahkan masih ingat seperti apa suara kecupan mereka.
"Apakah cinta akan berakhir dengan pengkhiatanan? Aku mencintaimu, tapi tidak dengan cintamu. Apakah sulit untukmu menunggu kita bersatu? Aku sedang berjuang untuk mempersiapkan diri sebelum kita memulai semuanya. Kamu berusaha, akupun sama."
"Apa nafsu telah mengubahmu menjadi ambigu?" bulir bening mencelos tanpa permisi.
Semakin seseorang berusaha melupakan, ternyata bayang itu semakin kuat untuk disalahkan. Ketika cinta akan bicara, tapi nafsu lebih dulu menyela.