hari ini adalah hari pertama Reline pindah sekolah. seharusnya dia naik ke kelas 8, namun keisengannya membantu anak wali kelasnya membuat sekolah langsung mendaftarkannya ke Dexter High School. bagaimana bisa? karna anak wali kelas Reline adalah siswi kelas 12 yang sedang belajar untuk UTS. gila kan?
Reline turun dari motor sepupunya. kebetulan sepupunya juga siswa DHS kelas 12. Ervan, sepupu Reline melepaskan helm yang dipakai Reline lalu mengacak rambut sepupunya itu. keduanya berjalan menuju kelas 10 IPA 1, kelas baru Reline. "nanti ke kantin bareng abang ya." ucap Ervan saat sampai depan pintu kelas Reline membuat Reline mengerucut kan bibirnya.
"ihh abang, Reline udah tahu kali. kan kemarin udah dikasih tahu denah nya." jawab Reline membuat Ervan terkekeh lalu mencubit pipi Reline. "kamu tu masih bocil, nanti diganggu sama kakak kelas kamu. nurut ya, abang ke kelas dulu." pamit Ervan. Reline pun masuk ke dalam kelasnya dan betapa terkejutnya dia melihat pemandangan di depannya.
sekelompok siswa kelas 12 membully seorang siswa di kelasnya. tanpa pikir panjang Reline melepaskan sepatunya lalu melemparkannya ke seorang siswa yang ia tebak sebagai pemimpin kelompok itu. lemparan itu tepat mengenai bahu sasaran.
"SIAPA YANG LEMPAR SEPATU KE GUE HAH!" teriak siswa ber-name tag Gabriel Reinhard A. "Reline yang lempar. kenapa? sakit?" ucap Reline santai dengan nada mengejek.
"huaa, dedek gemesh"
"anjir, murid barunya bocil"
"cecan sih, tapi bocil"
"adek siapa kesasar disini woy"
Reline berjalan mengambil sepatunya dan menolong siswa yang di bully tadi tanpa menghiraukan teriakan disekitarnya. "kakak nggak papa?" tanya Reline pada siswa yang di bully tadi. siswa itu hanya menggeleng.
"disegani karna takut akan menjadi bumerang suatu hari nanti, sedangkan disegani karna dihormati akan tetap begitu walau kita berada dibawah." ucap Reline membelakangi Gabriel membuat pemuda itu marah lalu membalik kasar tubuh Reline. ia mencengkram kuat kedua lengan Reline dan melihat name tag Reline.
"awsss, sakit" ringis Reline.
"apa mau lo?" tanya Gabriel dingin. "j-jangan m-membully orang untuk mendapat pengakuan." ucap Reline menahan sakit. Gabriel mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu ke telinga Reline.
"be mine Reline Zea, and i stop bullying."
"if i say no?" ucapan Reline membuat Gabriel tersenyum miring.
"i will kill Ervan." ucapan Gabriel membuat Reline membulatkan matanya. "NGGAK, JANGAN SAKITI ERVAN." teriak Reline membuat Gabriel senang. ia tak tahu apa hubungan Reline dengan musuh bebuyutan nya, namun kedekatan mereka membuat Gabriel yakin bahwa keduanya ada hubungan.
"so, you are mine baby." ucap Gabriel sambil tersenyum miring lalu meninggalkan kelas Reline.
__________________
bel istirahat berbunyi sejak beberapa menit yang lalu
Reline dan Ervan tengah bercanda di sepanjang koridor menuju kantin. mereka tak hanya berdua, ada 3 orang lain teman Ervan. hingga tiba-tiba
bugh
Ervan terpelanting membuat Reline dan semua siswa yang lewat terkejut. Reline pun menatap orang yang memukul sepupunya.
"KENAPA KAMU PUKUL BANG ERVAN?" sentak Reline pada lelaki yang memukul sepupunya. lelaki itu tak menjawab, dia malah menarik tangan Reline. Ervan yang sudah berdiri tak tinggal diam. ia menarik tangan Reline yang satunya.
"lepasin Reline ban-Gabriel." Ervan hampir kelepasan mengumpat. Ervan tidak mau Reline mendengar dia mengumpat.
"don't touch my mine." ucap Gabriel sambil menyentak tangan Ervan lalu menarik Reline menjauh. Ervan ingin menyusul, namun anak buah Gabriel menghalangi nya.
"lepasin Reline kak, tangan Reline sakit." ucap Reline dengan mata berkaca-kaca. Gabriel tak menghiraukan ucapan Reline, ia menarik Reline ke lab sains yang ada di lantai 2 (kelas Reline di lantai 1). Reline yang melihat tangan Gabriel menyentuh knop pintu langsung memberontak.
"NGGAK! JANGAN MASUKIN RELINE KE SANA!! RELINE NGGAK MAU DIPUKUL LAGI!! LEPASIN RELINE!!" teriakan Reline tak hanya mengejutkan para siswa yang tak sengaja melintas, namun juga mengejutkan Gabriel. sebandel bandel nya Gabriel, ia tak akan memukul perempuan. satu hal yang melintas di otaknya,
apa Reline punya trauma?
lengahnya Gabriel menjadi peluang bagi Reline untuk melarikan diri. dengan langkah terseok-seok dan nafas yang memburu, Reline berusaha turun ke lantai 1. namun saat sampai di tangga, Reline sudah limbung. beruntung Ervan datang tepat waktu, jika tidak mungkin dia akan melihat tubuh sepupunya bersimbah darah.
Gabriel yang sadar dari lamunannya tersentak kaget saat tak melihat Reline disekitarnya. ia terkejut melihat gadisnya sudah digendong ala bridal style oleh Ervan.
tapi apa ini?
Ervan bukannya membawa Reline ke UKS tapi malah membawanya ke taman yang jarang didatangi siswa. apa musuhnya itu tidak melihat wajah pucat Reline?
"abang, kejadian 3 tahun 4 bulan 18 hari 2 jam 47 menit lalu akan terulang lagi." adu Reline pada Ervan membuat Gabriel yang hendak menghampiri mereka jadi mengurungkan niatnya.
Ervan memeluk Reline dan menenggelamkan wajah sepupunya itu di dada bidangnya. ia tahu bahwa ia tak akan bisa membuat Reline melupakan kejadian bullying dulu, sekuat apapun ia berusaha. yang bisa ia lakukan hanyalah menjadi tempat gadis itu bercerita.
ketiganya terdiam hingga bel masuk berbunyi
____________________
singkat cerita, 3 bulan berlalu
banyak hal yang telah Reline lalui di sekolah ini. Gabriel yang mulai berekspresi di depan Reline, orang tua Reline yang akhirnya menyerah membujuk Reline agar kembali ke sekolahnya dulu, dan banyak hal lagi. satu lagi, belum ada satu orang pun yang tahu bahwa ia dan Ervan adalah sepupu. baik sahabat Ervan maupun Gabriel.
semua orang hanya mengenalnya sebagai Reline Zea, gadis ajaib yang berprestasi.
kembali ke cerita
Reline hendak menemui Gabriel di rooftop sekolah. semalam mereka berdebat karna Reline yang lebih memilih menonton pertandingan Jonathan Christine daripada mengangkat telfon nya. sepele memang, tapi begitulah sifat Gabriel.
tangan Reline menggantung di knop pintu saat ia mendengar sahabat Gabriel menyebut namanya. ia melihat arloji di tangannya, pukul 06.42 pagi.
"lo nggak mau lepasin Reline? ini dah lebih dari kesepakatan bro." suara sahabat Gabriel yang sangat ia kenali, Arya.
"mungkin dia udah jatuh cinta sama tu bocil." sahut yang lain, Reline yakin itu suara Hendra.
"gue nggak jatuh cinta sama tu bocil. gue cuma pengen hancurin Ervan melalui dia." itu suara Gabriel.
"pantesan lu nerima dare dari gue. dapet mobil baru ples kehancuran Ervan." suara Ken benar-benar menusuk Reline. ia tak masalah jika dirinya hanya dipermainkan, toh selama ini ia tak merasakan apapun pada Gabriel. tapi Ervan? Reline tidak bisa membayangkan seberapa murka nya Ervan jika ia tahu hal ini.
tanpa aba-aba Reline langsung membuka pintu rooftop, membuat Gabriel dkk terkejut.
"Gabriel Reinhard Alexander" panggil Reline dengan nada dingin yang benar-benar membuat Gabriel dkk mati kutu. Reline yang ceria dan polos berganti menjadi dingin menusuk.
"aku diam bukan berarti aku tak tahu." Reline berjalan menuju Gabriel. hawa dingin makin menusuk seiring dengan mendekat nya Reline.
"rabu, 9 Januari 20xx pukul 15.53 di arena balapan DD, jalan peri raya no 18, kamu bertaruh bisa menjadikan murid baru kekasih. imbalannya adalah mobil Lamborghini aventador LP 750-4 Superveloce warna hitam. selamat, kamu sudah berhasil memenangkan taruhan." ucap Reline lalu tersenyum miring. gadis itu membalikkan tubuhnya lalu pergi.
"tapi kamu gagal memenuhi janjimu padaku, kak Rein." sambung Reline saat sudah mencapai pintu. gadis itu lalu melemparkan sesuatu yang kemudian ditangkap oleh Gabriel.
"ingatlah namaku, Reline Zea Mays Dexter." pungkas Reline lalu pergi dari sana, meninggalkan mereka yang cengo mendengar nama asli Reline.
"d-dia si bungsu Dexter yang misterius itu." ucapan Arya membuat semua orang tersadar. mereka bukan hanya memancing amarah Ervan Arsenio Dexter, tapi juga para putra Dexter yang terkenal kejam.
seharusnya dari awal mereka sadar, saat ini Ervan hanya bisa dekat dengan perempuan dari keluarganya. ia sangat menyayangi satu-satunya cucu perempuan Dexter yang baru berusia 13 tahun.
berbeda dengan Gabriel yang masih merenung. Rein, nama panggilan yang lama tak ia dengar lagi. Satu-satunya yang memanggil dia Rein adalah princess Dexter sekaligus cinta pertamanya, yang ia kenal sebagai Zea.
dengan langkah seribu Gabriel pergi dari rooftop. namun saat hendak turun, seseorang terkekeh membuat Gabriel menghentikan langkahnya.
"dah sadar lu Gab?" tanya orang itu dengan nada mengejek. Gabriel berbalik sambil mengepalkan tangannya. orang itu hanya tersenyum miring.
"lo"
"apa? lo kira gue nggak tau kalo lo jadiin adek gue taruhan? gue diem bukan berarti gue nggak tahu. gue cuma ngikutin permainan nya Reline." ucap orang itu, Ervan. Ervan mendekat lalu menepuk bahu Gabriel. Ervan tahu tentang taruhan Gabriel. ia ingin marah, namun dia tahu bahwa Reline hanya ingin Gabriel mengingatnya. Reline hanya ingin Gabriel membuka mata dan menyadari bahwa ia hanyalah alat balas dendam. makanya selama 3 bulan ini Ervan diam.
"lo dendam sama keluarga gue tanpa lo tau masalah sebenernya. dengan kata lain, lo cuma dijadiin alat balas dendam sama nyokap lo." Ervan berlalu. Gabriel masih mencerna ucapan Ervan.
benar
dia membenci Ervan bukan tanpa alasan.
mama nya
ia sering mendengar papa dan mama nya bertengkar. dan setiap bertengkar, keduanya selalu menyebut nama William Dexter dan Anya Serafhine yang tak lain adalah orang tua Ervan. mama Gabriel berkata bahwa Anya Serafhine menggoda papa Gabriel, sehingga papa nya jarang pulang ke rumah. hal inilah yang menyebabkan kebencian tumbuh di hati Gabriel.
namun cinta hadir tanpa diminta
Gabriel jatuh cinta pada princess Dexter, Zea. namun, kepindahan Zea menyebabkan kebencian makin menjadi di hati Gabriel.
kembali ke cerita
Gabriel yang melamun tersentak saat Ken menepuk bahunya. Gabriel segera pergi mencari Reline, namun yang ia temukan hanyalah Ervan yang sedang memandangi mobil hitam yang bergerak menjauhi sekolah.
"mana Zea?" tanya Gabriel dibelakang Ervan.
"dia pergi, lagi"
jawaban Ervan membuat dada Gabriel sesak. "apa maksud lo?" tanya Gabriel dengan sedikit emosi. Ervan berbalik lalu memandang Gabriel sengit.
"lo nggak sadar? Reline bisa inget detail lo jadiin dia taruhan. tanggal, waktu, tempat, bahkan imbalan taruhan itu, dia bisa inget secara detail." sentak Ervan membuat Gabriel berfikir. kenapa ia baru sadar.
"Reline memiliki keistimewaan berupa hyperthymesia, sindrom yang membuat penderitanya mengingat semua hal secara detail. semalam dia mimpi buruk, dan yang bisa keluarga gue lakuin cuma konsul sama psikolog. setidaknya Reline bisa lebih tenang." jelas Ervan dengan nada sendu.
hyperthymesia
keistimewaan inilah yang menyebabkan Reline disembunyikan dari publik. mungkin ini juga yang membuat Reline bisa masuk ke DHS. selama ini Reline tidak pernah diizinkan bermain smartphone dan membaca buku yang tidak sesuai usianya. namun mereka pernah kecolongan saat tanpa sengaja Ervan belajar di kamar Reline. Reline membaca buku catatan Ervan.
mereka mengira itu tidak akan menjadi masalah. namun ternyata dengan polosnya Reline membantu anak wali kelasnya belajar. dan yah, Reline berakhir di DHS.
_________________
sejak hari itu, Reline belum terlihat lagi. sudah seminggu gadis itu tidak masuk sekolah. rumor berkata bahwa gadis itu sedang mengunjungi neneknya di Malaysia. namun Gabriel tahu, Reline sebenarnya dibawa ke Singapura untuk menjalani terapi.
"jadi Gab, akhirnya lu fall in love sama tu bocil." goda Hendra. Gabriel hanya diam tak menanggapi.
"gimana nggak fall in love, Reline kan first love nya si brengsek ini." ejek Ervan. setelah kejadian seminggu lalu, Gabriel dan Ervan berbaikan. tentu saja semua demi Reline.
ting
bunyi notifikasi dari ponsel Ervan mengalihkan perhatian si empunya. Ervan langsung bergegas pergi setelah membaca pesan dari adik kesayangannya, Reline.
"Gab, nyokap lu sama mami gue ketemu di cafe D." ucapan Ervan membuat Gabriel, Hendra, Arya, dan Ken tersentak. mereka tahu bahwa jika kedua ibu itu bertemu, mereka tidak akan baik-baik saja.
kelimanya bolos sekolah.
sesampainya di cafe D, Ervan kembali membuka smartphone nya yang ternyata sudah ada satu pesan dari Reline. "kita ke lantai 2." ucapan Ervan membuat Gabriel langsung pergi meninggalkan temannya.
"tante yang terobsesi sama uncle Will, tapi tante bilang ke kak Rein kalo aunty Anya yang ngegoda suami tante. tante mikir nggak sih, demi obsesi tante, tante korbanin kebahagiaan anak tante. tante korbanin pernikahan tante. bukannya dulu tante yang ninggalin uncle Will?" penjelasan seorang gadis membuat Gabriel terpaku. suara itu, suara pujaan hatinya, suara Reline Zea Mays Dexter.
hati Gabriel sakit
akhirnya ia tahu, kebenaran yang dimaksud Ervan.
"tante, tante bukan cinta sama uncle Will. tante hanya merasa bersalah karna pernah ninggalin uncle. rasa bersalah itu membuat tante merasa harus bisa memiliki uncle Will lagi." ucapan lembut Reline membuat Tiffany, mama Gabriel terdiam.
"sekarang aku tanya Tiff, apa yang kamu rasakan ketika membayangkan aku dan Will berhubungan." tanya Anya pada mantan kekasih suaminya itu. Tiffany diam. selama ini ia tak pernah membayangkan sejauh itu. ketika sekarang membayangkan, dia merasa biasa saja.
"uncle sama aunty kan memang punya hubungan suami istri, itu kan yang di cemburu i tante Tiff." ucapan polos Reline membuat Anya dan Tiff gemas.
"anak kecil nggak boleh kepo." ucap Anya sambil mencubit pipi keponakannya itu. Anya ingin punya anak perempuan, tapi apalah daya. ketiga anaknya terlahir laki-laki semua. ingin nambah satu lagi, ia merasa usianya tidak akan baik untuk pertumbuhan bayi dan dirinya sendiri.
Reline cemberut, membuat semua orang gemas termasuk Gabriel dkk. Gabriel menahan teman-temannya agar ia bisa mendengar kebenaran dari mamanya.
"kamu biasa aja kan? sekarang ku balik, apa yang kamu rasakan jika suami mu bergandengan tangan dengan wanita lain?" pertanyaan Anya membuat Tiffany menegang. dadanya bergemuruh ketika membayangkan suami yang ia acuhkan itu bergandengan tangan dengan wanita lain. tangan Tiffany mengepal dan Anya melihat hal itu. ia segera memegang tangan Tiffany.
"kamu cemburu kan? itu yang sebenarnya terjadi. kamu bukan cemburu melihat aku bersama Will, tapi kamu cemburu saat ada perempuan yang menggoda suami mu." ucapan Anya disertai pelukan dari belakang membuat Tiffany menegang. Anya yang melihat itu tersenyum lalu melepaskan tangan Tiffany.
Tiffany sangat mengenal aroma orang yang memeluknya. ini adalah aroma suaminya, Lucas Alexander.
Tiffany berbalik lalu memeluk suaminya. ia juga melihat putranya berdiri di belakang suaminya. putra yang ia acuhkan dan ia jadikan alat balas dendam."Rein" panggilannya pada sang putra. Gabriel langsung memeluk kedua orangtuanya itu.
Rein, mamanya tak pernah lagi memanggilnya seperti itu sejak ia dendam pada keluarga Dexter.
"aunty, uncle, Reline juga pengen pelukan kayak keluarganya kak Rein." rengekan Reline membuat suasana haru berubah menjadi tawa.
"sini sini sayang nya uncle. kamu cemburu hem." goda Will membuat bibir Reline mengerucut. namun ia tak juga melepaskan pelukannya dari uncle nya itu.
btw, Will datang kesini membawa Lucas karna tahu rencana Reline yang ingin meluruskan hubungan mereka. begitulah Reline, kadang sepolos anak-anak kadang sedewasa orang dewasa. hyperthymesia nya membuat Reline tak bisa melupakan pembelajaran dari lingkungannya. entahlah, keluarga Dexter harus bahagia atau sedih dengan keistimewaan Reline ini.
"jadi ini calon mantu papa." ucapan Lucas membuat Gabriel tersipu. Lucas tertawa melihat anaknya yang malu-malu anjing itu.
"calon mantu apaan, orang Reline dijadiin taruhan om." celetuk Reline dengan watadosnya membuat Lucas menggeplak kepala putranya lalu menjewer telinga putranya.
"siapa yang ngajarin kamu kayak gitu hem." marah Lucas pada putranya. Gabriel hanya bisa meringis kesakitan.
"eh, jangan ditarik om. nanti kalo telinganya kak Rein lepas gimana?" lagi, celetukan polos Reline membuat semua orang gemas. Lucas akhirnya melepaskan telinga Gabriel.
"Zea, telinga kak Rein sakit." rengek Gabriel pada Reline membuat semua orang menjatuhkan rahangnya. Gabriel? merengek pada perempuan? impresif.
Reline mendekat pada Gabriel lalu mengusap telinga Gabriel yang merah. bukannya sembuh malah makin merah telinga Gabriel. "kok tambah merah?" tanya Reline membuat semua orang tertawa.
"jangan kayak gitu ya sayang, cukup sama kak Rein aja." ucap Gabriel mati-matian menahan nafsu nya. bagaimanapun ia pria normal. telinga adalah titik sensitif nya. Reline hanya mengangguk polos. hal itu membuat Gabriel semakin gemas.
"pa, lulus sekolah Rein mau nikah sama Zea." pinta Gabriel membuat Lucas, Will, dan Ervan menjitak kepala Gabriel bergantian.
"Reline masih dibawah umur kali." cibir Ervan yang diangguki semua.
"yaudah, kita tunangan dulu deh. nikahnya kali Zea dah cukup umur." ucap Gabriel enteng yang dibalas tatapan setajam silet oleh Ervan. "minta dulu sama bapaknya." timpal Lucas.
singkat cerita, Gabriel benar-benar datang ke mansion Dexter dan melamar Zea. Gabriel berhasil, walau harus menginap selama 2 minggu di rumah sakit akibat babak belur dihajar kakak kakak Zea.
*end*
by Aktis Dysprositos